Anggun yang sudah berjanji akan bertemu dengan Gino segera menuju cafe tempat dimana mereka akan bertemu dengan menggunakan sepeda motornya
"Siapa yang akan mendonorkan ginjal untuk nenek" Rangga bertanya kepada Gino
"Nanti kamu pasti akan tahu siapa dia" Gino sebenarnya tampak takut,bagaimana caranya menceritakan kepada Rangga,bahwa wanita ini akan dijadikan oleh istrinya bukan sebagai pendonor ginjal untuk neneknya
Selama 10 menit mereka menunggu akhirnya Anggun datang juga, Aggun nampak tergesa-gesa karena dia tidak tahu jika Gino dan Rangga sudah menunggunya
"Maafkan saya terlambat mas" Anggun takut jika Gino marah kepadanya
"Nggak masalah mbak silahkan duduk dulu" Gino memanggil waiters untuk membawakan segelas air untuk Anggun, karena Anggun kelihatan ngos-ngosan mengatur nafasnya.Rangga sibuk dengan hp-nya,dia hanya mendengarkan pembicaraan antara Gino dan anggun tapi tidak ikut campur di dalamnya
"Maaf mbak Anggun,saya sudah mendengar dari Tante saya jika alasan Mbak menjual ginjal untuk biaya operasi orang tua mbak" Gino memastikan ulang
"Ya Mas, kemarin saya sudah menceritakan semuanya kepada salah satu keluarga dari Mas Gino" anggur masih berharap agar Gino tidak berubah pikiran
"Maaf Mbak kami tidak jadi mencari pendonor ginjal" Gino memutuskan harapan terbesar Anggun
"Mas, jangan seperti ini" Anggun tampak hampir menangis karena dia gagal mendapatkan uang
"Kenapa jadi baru dibeli seperti ini Gino" Rangga mulai membuka suara karena menolak ginjal yang akan di donorkan oleh Anggun
"Kita bicara berdua dulu boleh" Gino berdiri dan mengajak Rangga untuk pindah meja sedangkan Anggun sudah tertunduk menahan air matanya
Rangga menarik tangan Gino, tapi Gino mendudukkan Rangga di kursi.
"Aku sudah berpikir semalaman ini Rangga,kenapa kamu tidak menikah saja dengannya? syarat kedua dari Om Niko sudah berhasil kamu jalankan jika kamu menikah bukan" Gino akhirnya memberanikan diri untuk mengatakan tujuannya memanggil Anggun ke cafe
"Apa kamu sudah gila? Aku tidak akan menikahi perempuan sembarangan untuk menjadi istriku!" Rangga tampak sangat emosi kepada Gino
"Terserah kamu saja, aku sudah membukakan jalan untukmu,jika kamu mau ambil kesempatan ini,jika tidak silahkan kamu cari sendiri wanita mana yang akan kamu nikahi demi perusahaan almarhum om Erik" Gino merasa sangat berdosa menumbalkan Anggun untuk menjadi istri Rangga
"Aku tidak akan menikahinya, aku yang akan mencari wanita ku sendiri karena jangan ikut campur dengan urusan pribadiku" tampak mata Rangga sangat marah kepada Gino
"Kau hanya menikahinya dan biarkan dia mengandung anakmu,setelah anak itu lahir kamu ceraikan dia, kemudian kamu pergi dari negara ini kemanapun kamu suka,itu kan tujuan utamanya" Gino juga tampak sangat emosi berdebat dengan Rangga
Disaat ketegangan terjadi Niko menelpon Rangga
"Ada apa" tanya Rangga kepada Niko setelah mengangkat telepon nya
"Say hanya mengingatkan saja, waktumu untuk mencari istri cuman 3 hari lagi,jika kamu tidak membawa wanita ke hadapan saya, maka maaf perusahan ini akan saya pegang sampai waktu yang tidak ditentukan" Niko membuat Rangga semakin tertekan,bagaimana tidak jesslyn juga membantu Niko untuk menekan Rangga agar segera menikahi Anggun
"Anda sudah keterlaluan om Niko, bagaimana mungkin say bisa menikah dalam waktu sesingkat itu" Rangga tampak sangat emosi kepada Niko
"Semua keputusan ada di tanganmu, saya sudah memberikan jalan, tapi jika anda menyia-nyiakan nya,maaf saya tidak akan pernah lagi memberikan perusahaan ini ke tangan kamu" Niko memutuskan sambungan teleponnya
"Apa-apaan kalian semua, kalian sudah bersekongkol untuk menjerumuskan aku" rangga tampak sangat emosi kepada Gino
"Silakan kamu urus selanjutnya dengan Anggun, aku harus segera membawa nenek ke rumah sakit, saran dariku ambil keputusan ini, karena untuk mendapatkan perusahaan om Erick itu sangat susah jika om Niko berubah pikiran!" Gino langsung meninggalkan Rangga tanpa bicara apapun lagi
Setelah lama menunggu akhirnya rangga mengambil keputusan
"Jika kamu masih mau uang untuk mengobati ibumu, menikah kontrak dengan saya, maka saya akan menanggung semua biaya untuk operasi ibu mu" Rangga berbicara sesingkat-singkat mungkin
"Saya kesini untuk menjual ginjal bukan untuk menjual diri saya mas" anggur merasa harga dirinya sangat tidak berharga dimata Rangga
"Kamu tidak punya pilihan, bukankah ibumu lebih berharga daripada pernikahan kontrak" Rangga membuat Anggun keheranan dengan ucapan Rangga
"Kamu hanya menikah dengan saya selama 1 tahun,jika kamu langsung hamil dan segera melahirkan kira-kira waktu ny cukup setahun. saya harus menikah dan memiliki anak agar perusahaan almarhum papa saya jatuh ke tangan saya, setelah perusahaan papa saya di tangan saya Kamu boleh pergi ke mana pun kamu mau, bawa anak itu bersamamu karena saya tidak menginginkannya. Saya hanya mau perusahaan papa saya tidak dengan anak!" Rangga sangat menyakiti hati Anggun
"Anda pikir pernikahan itu sebuah lelucon, anak yang tidak berdosa bahkan akan Anda tinggalkan hanya demi harta, silahkan Anda cari orang lain karena saya tidak akan pernah menerima persyaratan gila ini" anggun berdiri dan segera meninggalkan Rangga sendirian
"Berani sekali kamu menolak" Rangga tampak sangat geram, bagaimana bisa yang menolaknya Wanita yang tidak sepadan dengan nya
Anggun meninggalkan cafe dengan perasaan yang penuh amarah,dia merasa dipermainkan oleh Gino dan Rangga
"Cobaan apalagi ini Tuhan" Anggun menangis di parkiran sepeda motor,dia merutuki nasib nya yang dipermainkan oleh orang yang diharapakan nya
Rangga melihat dari kaca cafe bagaimana Anggun menangis "jangan sok jual mahal jika kamu memang membutuhkan nya, lihat saja aku akan membuat mu mengemis-ngemis kepada ku!" Rangga meninggalkan cafe setelah Anggun pergi dengan sepeda motornya.
Sepanjang jalan Anggun hanya menangis,ada apa dengan nasib nya, sampai dia harus di permainkan oleh orang orang yang memiliki kehidupan yang tinggi daripada mereka
"Kemana lagi aku harus mencari uang" Anggun berhenti di pinggir sungai,dia berteriak sekuat tenaga nya, melepaskan semua beban pikiran nya
"Aaaaaaaaaaaaaa" teriak Anggun
Sementara di rumah Sarah, sudah ada Gino, Niko dan Jeslin
"Gimana Gino, apa Rangga mau untuk menikah dengan Anggun?" Jeslin sudah berharap banyak pada Gino
"Dia ngamuk sama Gino" masih tampak amarah di mata Gino
"Maafin keegoisan Tante nak" Jeslin memeluk Gino,dia merasa sangat bersalah telah memaksa Gino
"Sudahlah Tante,kalau di pikir pikir mungkin Anggun dan Rangga itu cocok,yang satu orang nya sangat sabar, penyayang dan lemah lembut,yang satu lagi keras seperti batu" Gino sebenarnya berharap Anggun menjadi kekasih nya melihat sisi lembut dari Anggun.
"Om yakin, Rangga akan berubah di tangan Anggun" Niko dulu sangat ingat bagaimana dulu akhirnya Jeslin dan Erik bersatu
"Tau darimana mas" tanya Jeslin
"Kamu lupa ya, bagaimana dulu Erick mati matian kejar kamu? Awalnya dia cuekin kamu, setelah itu dia seperti anak kecil nempel terus" Niko tersenyum mengingat bagaimana dulu Erik mengejar cinta Jeslin
"Oh itu" Jeslin tersenyum malu
"Kita kawal mereka sampai jadi" Gino tersenyum pada Niko,dia yakin Rangga akan berubah di tangan Anggun.
"semoga mereka berdua berjodoh ya, Tante suka dan bangga pada anggun,dia pekerja keras dan bertanggung jawab pada keluarga nya" Jeslin tidak mau mempermasalahkan Anggun dari keluarga mana, baginya Rangga berjodoh dengan Anggun itu adalah doa terbesar nya
Rangga sampai di perusahaan nya dengan wajah yang tampak mengerikan, Rangga sangat kesal sekali terhadap penolakan Anggun, baginya ini satu penghinaan terbesar dari gadis yang jelas jelas tidak sepadan dengan dia.
"aku akan mendapatkan mu, lihat saja aku akan membuat mu tersiksa dan hanya ada air mata di pernikahan nanti" Rangga sudah menyumpahi bahwa dia akan memiliki Anggun untuk membalaskan dendam nya, padahal dia belum tahu Anggun mau atau tidak menikah dengannya
Berbeda dengan Anggun yang baru sampai di rumahnya,dia tidak sanggup untuk menemui ibu nya, anggun merasa sangat tidak berguna sekali karena tidak memiliki uang untuk operasi ibu nya
"mbak darimana" tanya caca yang sedang menyetrika pakaian
"kamu nggak sekolah ca, kenapa dirumah? mbak lupa kasih jajan kamu ya" anggun panik,dia melihat jam dinding menunjukkan pukul 11 siang
"nggak Mbak, lagi ada acara di sekolah jadi kami semua diliburkan selama 2 hari" Caca lupa memberitahukan bahwa dia sedang libur kepada Anggun
"ya ampun,mbak kirain kamu nggak sekolah karena uang jajannya lupa mbak kasih,oh ya ca ibu udah makan" tanya Anggun lagi sambil meluruskan kakinya yang lelah.
"udah mbak,ibu lagi tidur" caca terakhir melihat ibunya tertidur setelah dia memberi makan dan memandikan nya
Anggun kembali bersedih mengingat uang nya yang melayang karena Gino batal untuk membeli ginjalnya.
"mbak, makan dulu" Caca tau pasti Anggun baru selesai menangis, karena matanya sembab sekali
"iya ca, mbak ke kamar dulu ya" Anggun berdiri dari tempat duduknya dan masuk ke dalam kamarnya
Anggun mengambil hp nya dan mengirimkan pesan kepada Gino
"mas,tolong pertimbangkan lagi,saya butuh uang mas"
Gino menunjukkan pesannya kepada Jeslin dan Niko
"katakan pada nya, terima saja tawaran Rangga,maka semua akan ditanggung oleh keluarga Rangga termasuk sekolah kedua adiknya" Jeslin sangat berharap jika Anggun melunakkan kepada Rangga,
"pasti wanita itu menolak Rangga,kalau dia mau pasti dia tidak akan mengirim pesan itu" Niko tersenyum ternyata Anggun tidak Wanita sembarangan
"ternyata ketampanan bukan modalnya" Gino tertawa bersama Jeslin dan Niko
"terima saja penawaran Rangga saja mbak,maka semua akan cepat selesai" Gino sebenarnya tidak tega tapi dia juga akan membantu Rangga agar urusan perusahaan cepat selesai.
"jangan kayak gini mas,aku minta tolong banget mas, tolong pertimbangkan dulu mas, demi nyawa ibu saya" Anggun berlinang air mata mengirimkan pesan kepada Gino
"aku nggak tega tante" Gino merasa bersalah sekali telah mempermainkan air mata Anggun
"kamu mau saja Anggun,maka semua masalah kamu akan selesai" Jeslin mulai goyah lagi, tapi Niko sangat yakin semua akan baik baik saja
"Katakan padanya, pikirkan lagi" kata Niko dengan tegas
"tapi om" Gino berpikir akan diam diam membantu Anggun,dia sangat tidak tega, ditambah lagi dia menaruh hati pada Anggun
"pikirkanlah matang matang mbak Anggun,ini demi keselamatan ibu kamu" Gino menyimpan hp nya,dia tidak tau lagi Anggun membalas atau tidak
Anggun terdiam menatap cermin yang ada di lemari nya, ntah keputusan apa yang akan dia ambil nanti, tapi dia masih sangat berharap jika ada yang menolong nya dengan ikhlas tanpa ada iming-iming di belakang nya
sementara ibu Anggun merasakan dadanya sangat sakit sekali, tidak ada yang melihat nya sedang menangis minta tolong. Caca yang mau menyusun baju ke kamar ibunya berteriak melihat ibunya yang terjatuh ke bawah tempat tidur dan tidak sadarkan diri
"ibbbuuuu, mbak anggun" teriak Caca,baju yang tadinya rapi setelah di setrika terjatuh ke lantai dan sudah berantakan
"ibu ibu" Anggun langsung berlari ke kamar ibunya,dia sangat terkejut melihat ibu nya yang pingsan dan wajah nya pucat sekali
"Bu, dengarkan Anggun" Caca dan Anggun berusaha menaikkan ibu nya ke tempat tidurnya lagi
"ca, kamu pesan taxi online" Anggun tak henti-hentinya menangis
"iya mbak" caca mengambil hp nya dan memesan taxi online
"Jangan tinggal kan kami bu" anggun menangis tidak mau kehilangan ibu nya
Anggun sudah panik, apa yang akan dia lakukan dia tidak tau, Anggun sangat sangat hancur,dia mau membawa ibu nya ke rumah sakit tapi uang nya sangat terbatas.