Anggun datang dengan membawa makanan yang dipesan oleh Rangga, Dia berjalan menuju meja keluarganya tempat dimana rangga duduk
"Ini mas makanan nya" Anggun meletakkan makanan Rangga di atas meja
"Terimakasih" Rangga meminum kopinya terlebih dahulu
Anggun duduk di dekat Caca yang tengah asyik membaca buku bisnis yang di berikan oleh Rangga
"Belum selesai juga membaca nya Cha" anggun menggelengkan kepalanya melihat adiknya selalu membaca buku itu
"Belum Mbak,buku ini sangat menarik,Caca harus membaca sampai habis,nanti kalau Mas Rangga minta bukunya Caca nggak bisa membaca lagi" caca sangat tertarik dengan buku di tangannya
"Tidak usah dipaksakan untuk dibaca sekarang, kamu bisa memakai buku itu sampai kamu puas membacanya, saya tidak akan meminta nya sekarang" Rangga melihat antusias Caca sangat tinggi terhadap dunia bisnis
"Serius mas" mata caca membulat sempurna
"Iya" jawab Rangga sambil tersenyum sambil menikmati cake yang dibawakan anggun
"Nak, kebetulan kita bertemu di sini. ini hasil dari penjualan di toko" ayah Anggun mengeluarkan uang dari sakunya
"Tidak usah, ayah putarkan saja uang itu untuk menambahkan barang-barang baru di toko Rangga tidak mungkin menerima uang itu
"Tapi ini sangat banyak nak" Ayah Anggun tidak merasa layak menerimanya
"jika uang nya di diamkan begini maka toko ayah akan kehabisan barang, ayah beli lagi barang barang untuk mengisi toko" Rangga mengajarkan ayah anggun untuk mengelola toko nya
Anggun sesekali bersyukur jika kenaikan Rangga seperti ini, tapi dia tidak yakin Rangga akan sebaik ini pada keluarga nya,dia memiliki tujuan tertentu makanya Rangga sangat sopan
"Caca, kamu bisa belajar bisnis dari toko bangunan dulu milik ayah dulu,bantu ayah mengelola uang dan barang" Rangga ingin melihat kemampuan Caca dulu
"Waaahhh, terima kasih ya mas" caca akhirnya bisa menunjukan kemampuan nya melalui toko kecil yang diberikan rangga kepada ayah Anggun
Tawa canda di meja keluarga Anggun membuat jelita iri, dia juga ingin bergabung di meja Anggun,tapi si anak manja ini harus dibujuk dahulu agar mau datang ke meja Anggun
"baru juga nikah sehari Mas Rangga sudah lupa sama jelly" jelita tampak kesal sekali melihat oki dan Caca tertawa bersama Rangga, sementara bersama jelita dia tidak pernah tertawa
" Mas Rangga" Jelita memanggil Rangga, tapi Rangga malah asyik berbicara dengan oki membahas keinginan nya untuk menjadi pembalap
Anggun berdiri dan mendekati jelita,dia duduk bersama di meja keluarga Rangga
"Jelita udah sarapan belum? Mau mbak ambilkan makanan buat kamu" Anggun tersenyum pada jelita
"Mau mbak" jelita sangat senang,dia bisa merasakan punya seorang kakak
"Bentar ya,mbak ambilkan" Anggun berdiri tapi nenek Sarah tampak sedang kesal. Anggun langsung menanyakan apakah Sarah mau sarapan atau tidak, tapi Sarah diam saja tidak mau menjawabnya.
"Sebentar ya nek Anggun ambilkan makanan untuk nenek" Anggun tersenyum pada Sarah dan menuju meja tempat makanan tersedia
"Memang kamu tahu aku mau makan apa" ucap sarah jutek
"Nek, jangan kasar gitu sama Anggun" Gino saja merasa tidak enak mendengar ucapan sarah,apalagi Anggun orang yang baru masuk ke dalam keluarga mereka
"Kamu membela dia" Sarah tanpa tidak suka jika ada yang membela Anggun
"Tidak nek" Gino tidak mau jika sarah sampai marah kepadanya.
Anggun datang membawa makanan untuk Sarah dan Jelita
"Ini buat kamu makan dulu" Anggun memberikan nasi goreng untuk jelita dengan segelas air jeruk panas
"Terima kasih mbak Anggun" Jelita memeluk anggun dengan hangat
"Habiskan makanan nya" Anggun berjalan ke dekat Sarah
"Ini makanan buat nenek" Anggun meletakkan makanan yang berisi sup daging dan segelas air hangat
"Kamu makan aja, saya tidak mau" Sarah menolah makanan dari Anggun
"Coba dulu nek" Anggun mengangkat sendok dan mendekatkan nya ke mulut Sarah
Salah sebenarnya sangat suka dengan sup daging, mulut Sarah terbuka pelan-pelan ia menerima suapan dari Anggun
"Enak kan" anggun senang salah tidak menolak makanannya
"Jelas enak lah, ini kan makanan hotel" jawab sarah dengan juteknya
"Kalau cuma masakan begini, masih kalah jauh dengan masakan Anggun nek" Anggun menyuapi Sarah lagi
"Emang kamu pandai masak" tanya Sarah tak percaya pada Anggun
"Pandai dong nek,kan Anggun pekerja catering" Anggun membuat Sarah malu kemarin telah menyinggungnya di pelaminan
"Kamu harus buktikan kalau kamu pandai memasak, saya akan menunggu masakan kamu" sarah masih belum percaya jika anggun pandai memasak
"Tapi ada syaratnya nek" Anggun tampak berpikir
"Sama orang tua kamu tawar menawar" sarah kesal tdiak mau makan lagi
"Kalau Anggun masak makanan kesukaan nenek, berarti nenek harus berteman dengan anggun, kalau kita musuhan gini pasti Nenek nggak suka sama masakan anggun" Anggun memberikan penawaran kepada Sarah
"Hemmmmm,ok" Sarah setuju dengan Anggun
Jeslin, Niko,dan Gino lega sekali karena Anggun bisa bersikap sangat dewasa kepada Sarah, padahal umur Anggun masih 20 tahun
Pertemuan dua keluarga berpisah di depan hotel, keluarga Anggun pulang ke rumahnya, begitu juga dengan keluarga Rangga yang pulang ke rumahnya. Rangga dan Anggun pulang ke apartemen milik Rangga.
Rangga dan Anggun berada di 1 mobil yang sama, tidak ada pembicaraan antara mereka berdua sampai di apartemen. Rangga berlalu meninggalkan Anggun yang sedang menurunkan barang-barang dari bagasi mobil
"Laki laki macam apa kamu Mas" anggun sangat kesal karena barang-barangnya itu cukup banyak dan berat
Rangga sedang berbicara dengan Satpam penjaga apartemen,dia memberitahukan jika dia sudah menikah jadi Anggun tinggal bersamanya mulai sekarang
"kalau gitu maaf sebentar Pak,saya harus membantu Ibu Anggun untuk mengangkat barangnya"Satpam itu berlari meninggalkan Rangga dan membantu anggun untuk membawa koper dan kardus berisi barang Anggun
"Saya bantu buk" Satpam itu memberikan barang ringan kepada Anggun,
"Maaf saya merepotkan bapak" anggun sangat bersyukur masih ada orang yang mau menolongnya
"Tidak maslahah buk" Anggun mengikuti Satpam itu masuk ke dalam lift di ikuti oleh Rangga, Anggun tampak sangat kesal sekali, suaminya tidak membantunya sama sekali.
Barang diturunkan tepat di depan pintu apartemen Rangga, Satpam itu meninggal kan anggun dan Rangga.
"Ini kunci mu" Rangga memberikan kunci kepada Anggun, dan dia membukakan pintu.
Anggun membawa barang barang nya untuk masuk ke dalam apartemen Rangga
"Kamar kamu di situ" Rangga menunjuk kamar jelita yang lama,dia berlalu meninggalkan Anggun begitu saja
"Terserahlah" Anggun masuk kedalam kamar dan menyusun bajunya di lemari yang telah tersedia di kamar itu
Rangga memanggil anggun untuk segera keluar dari kamar, dia akan membawa anggun untuk menemui dokter kandungan. rangga akan menanyakan perihal rencana bayi tabung yang akan mereka lakukan
"jam 4 kita akan bertemu dengan dokter kandungan di rumah sakit xx, saya akan menunggu kamu di parkiran apartemen ini" Rangga akan berangkat ke kantornya sebentar ada dokumen yang harus segera diselesaikan
"Ini kan masih jam 10 pagi" anggun menunjuk pada jam yang ada di dinding
"Apa susahnya kamu hanya menjawab iya" Rangga membentak anggun dengan sangat keras, anggun terkejut mendengarkan Rangga membentak nya
"Kenapa kamu marah mas" anggun membentak Rangga kembali
Rangga mencengkeram erat dagu Anggun, dia tidak suka di bantah oleh siapapun apalagi sampai anggun membentak juga
"Saya tidak suka pada orang yang banyak bertanya" Rangga melepaskan cengkraman nya hingga dagu anggun merah
Anggun menahan air matanya dan masuk ke dalam kamarnya, dia sangat terkejut Rangga berbuat kasar kepada nya.
Rangga meninggalkan apartemen nya, dan melajukan mobilnya ke perusahaan EBA
"JANGAN BERHARAP ADA KEBAHAGIAAN DI DALAM RUMAH TANGGA INI".
Rangga semakin tamak untuk sampai pada tujuan nya, semua harus menjadi tanggung jawab dari Anggun. Menurut Rangga jika semua kehamilan ini adalah tanggung jawab anggun saja
Anggun tidak mau berlarut-larut dalam kesedihannya,dia segera keluar dari kamarnya. Anggun melihat semua isi apartemen Rangga, rasanya dia sangat gelisah sekali hidup bersama Rangga
"Semoga ini semua cepat berlalu, aku juga ingin bahagia jika pernikahan ini selesai" Anggun melihat jam menunjukkan pukul 12 siang. Anggun memutuskan untuk memasak makan siang untuk suaminya
Anggun membuka kulkas Rangga, tidak ada makanan di dalam kulkas. Anggun menarik nafasnya panjang, dia sama sekali tidak tau dimana letak pasar atau tempat belanja di lingkungan apartemen
"Aku coba ke bawah dulu, siapa tau ada pasar atau tempat belanja di dekat sini" Anggun mengambil kunci apartemen nya,dia memutuskan untuk bertanya pada satpam dimana letak pasar
Anggun turun menggunakan lift,dia segera berjalan ke tempat post satpam
"Maaf mengganggu pak Yono,saya mau tanya,di dekat sini apa ada pasar tradisional" anggun
"Di sini nggak ada buk, karena ini lingkungan apartemen jadi hanya berdekatan dengan perusahaan, kalau mbak mau belanja di supermarket aja buk yang di seberang jalan" Yono menunjuk jalan tempat supermarket
"Jauh juga ya pak" anggun melihat supermarket itu agak jauh juga ditambah lagi panas yang sangat menyengat
"Di sini juga tidak boleh ojek online buk, karena penghuni apartemen tidak suka ada sembarangan orang keluar masuk lingkungan apartemen" Yono harus memberitahukan peraturan di apartemen ini
"Kalau gitu, saya jalan ke depan aja pak, terimakasih" anggun keluar dari halaman apartemen
Gino yang baru pulang dari rumah neneknya, seperti mengenal wanita yang tengah berjalan kaki di terik ya sinar matahari
"Itu kan Anggun" Gino memberhentikan mobilnya dan memanggil Anggun setelah menurunkan kaca mobil
"Anggun"
"Ya" Anggun melihat Gino memanggil nya,dan mendekati mobil
"Mau kemana kamu? Jangan keluar sendirian di tempat seperti ini, bisa bahaya" Gino turun dari mobil
"Aku mau belanja Mas, katanya pasar jauh dari sini, cuma adanya supermarket di seberang jalan sana" anggun menunjuk supermarket
"Kalau mau ke pasar, ayo aku antar saja,mau nggak?" Tanya Gino terlebih dahulu
"Seriusan mas" anggun tampak sangat bahagia sekali, Gino membukakan pintu mobil dan Anggun segera masuk karena terik matahari sangat menyiksa
"Jangan keluar sembarangan lagi Anggun,kamu bisa di jahati orang di sini" Gino memutar balik mobilnya untuk menuju pasar
"Maaf mas, soalnya nggak ada bahan makanan di kulkas,jad aku mau belanja dulu" anggun baru tahu jika lingkungan apartemen juga pasti ada orang jahat
"Lain kali kamu ajak Rangga, jangan keluar sendiri" Gino tidak mau jika Anggun sampai di lukai oleh orang jahat
"Mas, Anggun boleh bawa sepeda motor ke sini nggak" anggun tidak mau bergantung kepada Rangga
"Boleh sih, nggak ada yang larang" Gino tetap fokus pada jalannya
"Mas, Anggun boleh jemput motor anggun nggak,mas bisa antar anggun" Anggun menghadap kepada Gino
"Emmmmm,kalau mau sepeda Motor yang punya kamu nggak bisa Anggun, nanti aku coba Carikan kamu motor baru ya" Gino berniat memberikan sepeda motor yang ada di cafe nya
"Jangan yang mahal mas" Anggun juga harus memikirkan tabungan untuk anaknya kelak
Gino hanya tersenyum,dia tidak akan meminta duit Anggun karena motor itu memang tidak di pakai
sesampai di pasar Gino dan anggun berjalan bersama untuk belanja, anggun memilih sayur-sayuran yang bagus,agar bisa tahan lama, mengingat pasar tradisional ini jauh dari apartemen Rangga. Gino seperti suami Anggun Dia memegang semua belanjaan yang telah dibeli Anggun
"mas kita kebagian ikan ya" anggun melihat banyak ikan segar yang ada di pasar ikan
"kamu mau beli apa aja terserah kamu aku akan mengikuti kamu di belakang" Gino sangat senang bisa berdua dengan Anggun belanja seperti ini
"ikannya segar semua mas" Anggun sangat senang melihat banyak macam ikan
"aku paling suka ikan ini" Gino menunjuk ikan tuna
Anggun membeli ikan gurame,ikan tuna,ikan salmon,dan juga ikan bandeng. puas dengan ikan, anggun membeli daging sapi dan ayam untuk stok makanan nya
Gino sangat bahagia melihat senyum anggun saat berbelanja, anggun memang seperti seorang koki handal, tangannya tampak lihai memilih bahan makanan
"masih ada yang mau kamu beli" Gin memastikan kepada Anggun agar dia mengingat lagi apa saja yang belum dibelinya
"sudah semua mas" anggun terakhir membeli banyak buah buahan untuk suaminya nanti
Gino membawa anggun makan siang terlebih dahulu, mereka memilih untuk memakan steak daging
"mas nggak kerja" Anggun membuka botol air mineralnya karena dia sangat kehausan
"kerja, aku ada cafe sendiri jadi bisa masuk kerja kapan saja" Gino menceritakan tentang perjalanan usaha yang dikelolanya
"Anggun juga sangat berharap bisa memiliki restauran mas" anggun membayangkan akan menjadi orang sukses
"semoga impian kamu tercapai anggun" Gino dan anggun sampai di warung steak, mereka berdua turun dan masuk kedalam
Rangga ternyata ada di warung steak ini bersama seorang Wanita yang bernama Neyla,dia adalah seorang dr spesialis kandungan, dimana Rangga sudah sangat mencintai nya sejak mereka tinggal dan 1 kampus di negara SG
Gino dan Anggun sama sekali tidak tahu jika Rangga juga ada di sini, Anggun dan Gino duduk di dekat kaca. sambil menunggu pesanan datang ,mereka saling bertukar nomor handphone.
"sudah berapa lama kamu di sini" tanya Rangga pada neyla
"aku baru sampai 2 hari yang lalu, aku sedang menggantikan papa ku dulu di rumah sakit xx, katanya dia mau lihat kemampuan aku dulu,baru papa mau mendirikan rumah sakit khusus bersalin untuk ku di negara SG" Neyla menceritakan pada Rangga tujuannya datang ke IN
"saya rasa itu sangat Bagus,kamu bisa menunjukkan kemampuan kamu dan mengembangkan ilmu kamu di sini" Rangga sangat senang karena Neyla tidak jauh lagi dari nya
"bagaimana kerja kamu di sini" neyla juga sangat penasaran bagaimana dengan pekerjaan Rangga di negara IN
"saya harus menunjukkan kemampuan saya dulu untuk bisa memimpin perusahaan papa saya" Rangga tidak menceritakan semuanya pada Neyla termasuk pernikahan nya bersama Anggun
"wah itu sungguh tidak masuk akal,di SG Perusahaan mu sangat terkenal dan begitu maju" neyla heran kenapa Rangga justru mengejar perusahaan EBA yang tidaklah terlalu besar di bandingkan perusahaan Rangga di SG
"hahahah,ini adalah warisan papa saya, tidak akan mudah bagi saya untuk melepaskan nya" Rangga tersenyum penuh arti kepada neyla
"berjuanglah, aku sudah percaya jika kamu sangat lah berkompeten" neyla sudah melihat kemampuan Rangga dalam menjalankan perusahaan di negara SG
makanan Rangga dan neyla sudah ada di atas meja, mereka makan berdua dengan sesekali bercerita.
Gino dan Anggun asyik bercerita tentang kehidupan mereka berdua, tanpa sengaja Rangga melihat Anggun dan Gino, tapi dia tidak memperdulikan nya sama sekali.
Gino dan Anggun menyudahi pembicaraan mereka saat makanan sudah terhidang di atas meja. Rangga menunggu Anggun dan Gino pergi dulu baru dia keluar dari warung steak bersama Neyla
Gino dan satpam Yono membawa barang belanjaan Anggun ke apartemen Rangga. anggun sangat senang banyak bahan makanan, jadi dia tidak akan kesusahan lagi
"terima kasih banyak mas, terimakasih pak Yono" Anggun menutup pintu setelah semua barang belanjaannya di dalam rumah
"terserah dia mau makan atau tidak, yang penting aku tidak kelaparan di sini" Anggun menyusun semua bahan makanan di dalam kulkas
jam menunjukan pukul 3 sore, Anggun bersiap siap untuk segera ke rumah sakit bersama Rangga. dia tidak mau jika nanti Rangga kembali mengamuk jika sampai terlambat
Rangga sudah mengantarkan Neyla ke rumah sakit, tempat dia akan menggantikan papanya. Rangga hanya tau ada 1 orang saja dr kandungan di rumah sakit xx.
"kenapa harus Nayla yang menjadi dokter nya" Rangga kembali kesal sekali
Nayla adalah cinta pertama Rangga tapi mereka belum pacaran karena Rangga hanya bertujuan untuk merebut perusahaan papa nya dulu. setelah dia berhasil maka dia akan mendekati Nayla atau mungkin dia akan mengajak neyla menikah