Belajar dengan semangat agar mendapat nilai terbaik saat pembagian raport itulah yang dilakukan Saviena beberapa bulan terakhir ini. Melupakan sejenak hal-hal yang bisa menggangu konsentrasi belajarnya juga dia lakukan. Hal itu tentu saja semata-mata untuk membuktikan kepada orang tuanya bahwa dia mampu menghadapi semuanya sendiri tanpa dukungan orangan tuanya. Ya tentu saja tanpa dukungan orang tuanya.
Hal yang di tunggu pun tiba yaitu pembagian raport.
"Wih... Saviena keren banget dapat peringkat dua" terlihat binar kebahagiaan di mata Kokom saat melihat raport Saviena. Sedangkan yang punya raport juga belum melihat isi raportnya. Karena selesai tanda tangan terima raport Saviena tidak membuka raportnya dan wali kelasnya pun hanya menyuruh Saviena untuk melihat isi raportnya sambil tersenyum.
"Selamat ya Vien .... aku ikut senang!" sorak Kokom bahagia sambil tepuk tangan saking senangnya, Kemudian memeluk Saviena. Ya tentu saja Kokom senang dengan keberhasilan Saviena, bagaimana dia nggak senang karena dia tahu bagaimana perjuangan Saviena dalam belajar agar mendapatkan nilai yang memuaskan tersebut.
Nilai raport Saviena hampir sempurna semua kecuali nilai bahasa Arab diangka delapan puluh.
Ya walaupun Kokom hanya dapat peringkat ketiga tapi dia bahagia dengan prestasi sahabatnya itu.
Semua siswa yang ada di kelas tentu saja memperhatikan mereka karena berisiknya suara Kokom.
"Maaf ya teman-teman .... sengaja !... hehehe ... " kata Kokom salah tingkah sambil menangkupkan kedua tangan di depan d**a dan duduk kembali di bangkunya karena saking senangnya dia tanpa sadar berdiri..
" Makanya pelanin suaranya Kom, kan malu ih dilihatin teman-teman " ucap Saviena nggak enak hati sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada teman-teman sekelas yang masih menatap mereka. Karena teman-teman yang lain masih diliputi perasaan tak menentu karena belum menerima raport.
Saviena nggak habis pikir dengan Kokom, "sudah berisik bilang sengaja lagi" batin Saviena sambil geleng-geleng kepala. Teman-teman sekelas Saviena pun akhirnya bersikap seperti biasa lagi
Dan yang mendapat peringkat pertama di kelas Saviena adalah Abdurrahim, anak TU sekolah dia juga salah seorang santri dari pesantren desa sebelah. Anaknya pendiam tapi dalam hafalan dan bahasa Arab jangan ditanya lagi.
Mereka pun kembali fokus kepada raport masing-masing.
"Ya ... makasih Kokom sayang sudah jadi guru bahasa Arab gue" ucap Saviena sambil memeluk Kokom.
"Ya sama-sama, jangan lupa traktiran nya" ucap Kokom sambil menaik turun kan alis menggoda Saviena.
" Oke.... ! selesai ini kita ke kantin gue yang traktir" balas Saviena dengan semangat.
"Coba lihat raport nya Kom!, nilai apa yang kurang?" gantian Saviena yang melihat raport Kokom.
"Ya biasa Vien...matematika" ucap Kokom sedih.
"Kan tahu sendiri kalau aku nggak jago dalam matematika" jelas Kokom dengan muka dibuat murung.
"Bagaimana kalau aku yang jadi guru les matematikanya" kata Saviena.
"Benar juga ya kok nggak kepikiran sih, kan sahabat aku jago matematika" kata Kokom bahagia.
"Ok setiap pulang sekolah kita belajar di kelas, cukup setengah jam, bagaimana?" balas Saviena antusias.
"Mau...! kata Kokom senang, saking senangnya dia memeluk Saviena kembali.
Mereka pun saling berpelukan bahagia.
Anak sekelas yang lain tak kalah hebohnya dengan mereka setelah mereka melihat nilai raport mereka masing-masing, Tak terkecuali Hasan dan para sahabatnya pun saling melihatkan raport mereka yang telah diberikan oleh guru.
"San .. kamu masuk peringkat sepuluh besar ya, wah selamat ya tidak menyangka kita teh, kamu bisa dapat peringkat keenam" ucap Amiin yang masih memegang raport Hasan tak percaya dengan apa yang dia lihat. Karena teman sekelas mereka kebanyakan dari luar kota yang lumayan pintar-pintar.
Dan sahabat Hasan yang lain pun mengucapkan selamat kepadanya.
"Makasih Min... Tati, Bariah, Hasanah, saya juga tidak menyangka" ucap Hasan masih tak percaya dengan isi raportnya karena kalau bersaingan dengan teman-teman satu kampung dia masih bisa, tapi kalau sudah dengan teman-teman dari seluruh kota penjuru Indonesia dia tidak percaya saja. Karena yang sekolah di sekolah pondok pesantren tempat mereka menimba ilmu sekarang berasal dari berbagai daerah.
Tapi Hasan pun merasa sejak dia ada rasa dengan Saviena, dia tambah semangat dan rajin buat belajar.
Karena satu kelas pun tahu karena selain ketua kelas Saviena juga pintar dalam semua pelajaran kecuali Bahasa Arab..
Makanya Hasan belajar sungguh-sungguh, seakan- akan dia ingin membuktikan bahwa dia bisa bersaingan dengan teman sekelas lainnya dan ingin mendapatkan perhatian dan maaf dari Saviena.
Tapi sampai sekarang pun Saviena belum mau memaafkannya.
"Makasih Saviena" ucap Hasan dalam hati sambil melirik Saviena yang sedang berpelukan dengan Kokom, tapi yang dilirik pastinya tidak merasa.
" Ayuk ka kantin, abdi nu traktir" ajak Hasan. ( Ayo ke kantin, saya yang traktir)
" lamun ditraktir daek atuh ayuk"(kalau ditraktir mau lah ayo) balas Bariah sumringah sedangkan yang lain hanya tersenyum melihat tingkah Bariah.
Setelah guru memberi wejangan kepada siswa dan mengumumkan peringkat sepuluh besar, kelas pun dibubarkan.
Sudah jadi kebiasaan di sekolah mereka, siswa boleh mengambil raport sendiri, kecuali siswa yang bermasalah maka sekolah akan secara khusus mengundang orang tua untuk membicarakan kekurangan anak tersebut dan mencari solusinya
" Yusuf.. saya mau ke kantin sama teman-teman mau ikut tidak?" Ajak Hasan ke Yusuf.
"Nggak deh San....mau balik ke pondok dulu ada ortu jenguk baru datang, maaf ya!" kata Yusuf menolak ajakan Hasan.
"Oh ya sudah kalau gitu saya sama teman-teman duluan yah" balas Hasan lagi kemudian berlalu pergi meninggalkan Yusuf .
" Ayuk Suf kita duluan ya!" kompak sahabat Hasan pamit ke Yusuf.
"Ya...sok atuh! " jawab Yusuf sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah Hasan dan sahabatnya berlalu, Yusuf pun berlalu balik ke pondok untuk melepas rindu kepada orang tuanya yang telah menunggunya di ruang tunggu tamu di pondok.
Sedang Saviena dan Kokom setelah kelas bubar langsung ke kantin, mereka berdua ingin merayakan keberhasilan mereka dalam belajar selama satu semester belakangan ini. Mereka dengan ruang menuju kantin, Saviena ingin menghabiskan waktunya berdua dengan Kokom sebelum beraktivitas kembali dengan kegiatan pondoknya.
Sampai di kantin mereka berdua memesan dua mangkok bakso dan dua gelas jeruk yang satu hangat dan satu lagi dingin.
Selesai memesan sambil menunggu mereka bercerita ngalor- ngidul dan sekali -kali tertawa kalau ada yang lucu terdengar dari dari obrolan mereka.
"Neng punten pesanannya" seru seseorang ngantar makanan dan minuman pesanan mereka.
"Nuhun mang" sahut Kokom sambil tersenyum dan menarik semangkok bakso dan segelas minuman ke depannya yang sesuai dengan pesanannya. Begitu pun dengan Saviena. Mereka makan dengan khusu tanpa ada yang bicara. Saat mereka sedang khusunya makan, Hasan dan sahabatnya memasuki kantin. Dan tentu saja mereka melihat Saviena dan Kokom dan mereka pun mendekati ke meja tempat Saviena dan Kokom. Saviena diam tanpa kata karena tak menyangka Hasan dan sahabatnya ke kantin juga. Dan Bahkan mendekat ke arahnya.