Saviena dan Kokom sedang makan bakso ketika Hasan dan para sahabatnya masuk ke dalam kantin sekolah. Ketika melihat Saviena dan Kokom, sahabat Hasan yang perempuan pun mendekati mereka berdua tanpa bertanya kepada Hasan dan Amiin. Dan tentu saja secara otomatis Hasan dan Amiin pun mengikuti mereka.
" Hai Viena, hai Kokom, sapa kompak sahabat Hasan kepada Saviena dan Kokom.
"Hai juga" balas Saviena dan Kokom kompak.
"Kita gabung di sini aja yuk biar rame boleh nggak? " usul Bariah kepada para sahabatnya. Bariah pun menatap sahabatnya itu satu persatu satu minta persetujuan mereka.
"Ayuk atuh ...kenapa nggak!" timpal Amiin. Dia sangat senang ketemu Saviena di kantin sehingga dia menjawab dengan semangat ajakan Bariah.
"Ga usah atuh Amiin takut ganggu mereka berdua! " tolak Hasan canggung.
Karena dia takut membuat Saviena nggak nyaman karena kehadirannya dan para sahabatnya.
Apalagi Saviena belum mau memaafkan kesalahannya yang waktu itu, sehingga membuat dia tidak enak hati sama Saviena.
"Nggak ganggu sama sekali kok, ayuk gabung sini!,...kayak sama siapa aja ya kan Vien?" balas Kokom cepat sambil melihat ke arah Saviena.
Saviena hanya bisa mengangguk sambil tersenyum kemudian menarik napas agar dia tidak merasa canggung di depan Hasan.
Akhirnya Hasan pun tak bisa menolak ajakan dari para sahabatnya untuk bergabung bersama Saviena dan Kokom. Karena dengan tanpa malu para sahabatnya itu sudah duduk di bangku kosong yang ada dekat Saviena dan Kokom. Dengan menarik napas dalam akhirnya Hasan pun duduk di bangku yang tersisa.
"Hai para sahabat abdi, ngeunah na dahar naon nyak kucari?"(hai para sahabatku, enaknya makan apa ya sekarang?) canda Amiin, untuk mencairkan suasana karena melihat canggungnya sikap Hasan.
"Bakso aja Min, biar sama kayak Saviena dan Kokom, minumnya es jeruk oke kan?" jawab Tati semangat empat lima melihat bakso dan es jeruk di depan Saviena dan Kokom..
"Oke kita makan bakso dan minum es jeruk" balas Amiin setuju. Yang lainnya pun mengangguk tanda setuju.
Sebenarnya Hasan sangat senang bergabung dengan Saviena dan Kokom di meja yang sama hanya saja dia merasa sangat canggung. Selain rasa canggung juga ada rasa tidak nyaman di dadanya, seakan kalau dekat Saviena dia punya penyakit jantung dadakan. Jantungnya tidak berhenti berdetak lebih cepat dari pada biasanya bahkan ngalahin genderang mau perang.
Amiin memperhatikan Hasan dengan seksama dan dia merasa ada yang aneh dengan sikap Sahabatnya itu. Hasan sahabatnya terkenal orang yang cuek apa lagi sama lawan jenis. Terlihat jelas oleh Amiin, ada rasa canggung yang dilihatnya pada diri Hasan.
Entah ada masalah apa antara Hasan dan kedua teman sekelasnya itu atau pada salah satunya. Amiin pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Tapi dia tak ingin mengambil kesimpulan sendiri, Amiin pun yakin suatu saat pasti Hasan akan cerita kepadanya dan para sahabatnya tentang masalah yang sedang dialaminya itu. Karena Hasan tipe orang yang tidak bisa memendam masalah terlalu lama.
Begitu pun dengan Kokom, dia merasa ada yang aneh dengan sikap Saviena sejak kedatangan Hasan dan para sahabatnya. Saviena seolah-oleh mendadak jadi pendiam.
Tidak seperti saat mereka masih berdua tadi Saviena tertawa lepas seakan tak ada beban sama sekali, tapi sekarang Saviena malah bersikap sebaliknya dia bersikap seolah-olah bebannya begitu berat.
Hal itu terlihat dari Saviena hanya mengaduk-aduk baksonya tanpa mau memakannya. Pada hal tadi dia yang semangat minta makan bakso.
Karena tidak ingin berada dalam suasana yang tidak enak Kokom pun mulai mencairkan suasana dengan bertanya kepada Bariah.
"Iyah dapat peringkat berapa?" tanya Kokom sambil tersenyum ya walau hanya basa-basi.
"Ga dapat peringkat Kom, cuma nilai lumayan bagus, kan di kelas peringkat ditulis cuma sampe sepuluh besar, tadi wali kelas kita juga sudah ngumumin sampai sepuluh besar juga" balas Bariah tetap antusias karena dia takut Kokom lupa..
"oh iya ya ... hehe, maaf ya Iyah lupa aku nya" ucap Kokom sambil nyengir merasa nggak enak hati dengan Bariah.
"Biasa ajah atuh Kom, saya mah orangnya santai tidak pernah diambil hati, ya paling ngambil ampela doang kalau lapar karena saya nggak suka hati" canda Bariah sambil nyengir.
Mereka pun tertawa mendengar candaan Bariah.
"Yang dapat peringkat teh diantara kita cuma Hasan, Hasan dapat peringkat keenam ya kan San....?" lanjut Bariah lagi sambil melihat ke Hasan dan dia merasa bangga atas prestasi sahabatnya itu.
"Oh iya ... selamat atuh Hasan" ucap Kokom kepada Hasan.
"Makasih Kom..." balas Hasan canggung.
"Pasti kalian berdua lebih hebat daripada sayah" balas Hasan merendah sambil melirik Saviena.
Karena sekelas juga tau kalau Kokom dan Saviena adalah siswa yang pintar dan aktif dalam menjawab pertanyaan yang diajukan guru di kelas dan sering mendapatkan pujian dari para guru.
"Saya kan tadi cuma peringkat ketiga kan kalian dengar sendiri kata pak Satria, Saviena tuh yang dapat peringkat kedua" kata Kokom sambil menyenggol Saviena dengan bahunya.
"Apa sih Kom" jawab Saviena ga enak hati.
"Wah... Saviena memang hebat, selamat ya Vien...!" puji Bariah sekaligus mengucapkan selamat.
"Selain cantik ternyata Saviena juga pintar, balas Hasanah nggak mau kalah memuji Saviena sambil melirik Hasan, karena dia masih ingat omongan Hasan tentang Saviena.
"Jadi tambah cinta sama Viena" canda Amiin sambil nyengir.
Hasan hanya diam mendengar pujian dan pernyataan dari teman-temannya untuk Saviena.
Sebenarnya dia juga ingin memuji Saviena tetapi dia ingat akan omongannya tentang Saviena kepada teman-temannya dulu dia jadi malu sendiri.
"Ya kan San....?" tanya Bariah.
" Y...ya!" jawab Hasan gelagapan.
"maneh kunaon San...?" tanya Amiin (kamu kenapa San)
"Nggak apa apah!" balas Hasan sambil buang muka.
"Ada yang tidak beres nih?" batin Amiin.
Amiin pun menyenggol tangan Tati, sambil berbisik " Hasan kenapa ya, perasaan dia nggak nyambung Kitu diajak ngobrol nya?"
"Ga tahu, emang dia kenapa tuh? tanya Tati pura-pura nggak tahu karena nggak enak dengan Saviena dan kokom
Pada hal Tati, Bariah dan Hasanah tahu dari pandangan mata Hasan ke Saviena menyimpan rasa suka.
Dan mereka bertiga pernah membahasnya.
"Kayak nggak nyaman gitu" balas Amiin.
"Biarin aja dulu nanti pasti Hasan juga cerita" balas Tati.
Amiin pun menjawab dengan menganggukkan kepala menjawab pernyataan Tati.
Sedang Hasanah dan Bariah sudah berada didepan gerobak bakso yang ada di kantin untuk memesan bakso buat makan mereka berlima dan tidak lupa memesan es jeruk minuman favorit mereka.
Setelah bakso dan es jeruk pesanan mereka sampai, mereka pun makan dengan lahap memang karena lapar. Tapi tidak berlaku untuk Saviena dan Hasan. Mereka berdua hanya mengaduk-aduk mangkok bakso bagian mereka.