Berbaikan

1527 Kata
Masih di kantin "Vien...libur dua Minggu nih lumayan lamakan, kamu di jemput nggak nanti?" tanya Kokom kepada Saviena, sambil menunggu Hasan dan sohibnya yang belum selesai makan. *Gue nggak pulang deh kayaknya, sudah bilang juga kok Sama ortu kalau libur semester ini gue mau di pondok aja sambil nyelesaiin hafalan yang diberi ustadzah Kholis, lumayan targetnya dua juz, jawab Saviena sambil menarik napasnya. "Ya tahu sendirilah gue kan dari sekolah negeri SD nya jadi masih banyak ketinggalan dari teman satu angkatan pondok lainnya" keluh Saviena. "Oh.. gitu, semangat ya kamu pasti bisa! jawab Kokom. "Mmm...". gumam Saviena tapi masih bisa di dengar oleh nya yang ada di situ. "Wah keren Saviena" timpal Amiin. "Semangat terus ya Viena" ucap Hasanah memberikan semangat. "Ya kamu pasti bisa" ucap Tati. *Tenang aja Vien, aku jampe-jampe dari jauh ya, pasti kamu bisa dalam waktu seminggu" canda Bariah sambil nyengir. Amiin melirik Hasan, "San...kasih semangat atuh Saviena nya" bisik Amiin ke Hasan. "Naon" (apa)jawab Hasan nggak fokus. "Makasih ya teman-teman, aku jadi semangat nih" kata Saviena sambil tersenyum. "Kokom mau liburan dimana?" tanya Saviena. "Aku besok mau ke Jakarta, biasa dah di jemput sama sopir" jawab Kokom. "Kalau kalian mau liburan dimana nih?" tanya Kokom kepada Hasan dan sohib. "Kalau saya mau ke Jakarta juga, sekalian ngajak nenek liburan" timpal Bariah semangat. "Kalau kita berempat biasa menghabiskan waktu di kampung saja, paling ke sawah bantu bapak" jawab Amiin mewakilkan temannya yang lain. Hasan, Tati dan Hasanah menjawab dengan menganggukkan kepala. "Jangan lupa oleh-olehnya atuh buat kita " ucap Hasanah sambil melirik ke Kokom dan Bariah. "Beres" jawab Kokom dan Bariah kompak. Mereka pun tertawa bersama-sama. ******* Saat teman-teman santriwati sebagian besar liburan pulang ke rumah orang tua masing-masing, walau ada juga yang tetap tinggal di pesantren karena hafalan yang masih kurang. Saviena sibuk mengejar hafalannya dan belajar pelajaran agama yang belum dikuasai agar tak tertinggal dari teman-teman di pesantren dengan bantuan ustadzah Kholis sebagai wali pondoknya. Wanita penyabar yang khusus di tugaskan oleh kepala pesantren untuk membimbing Saviena selama liburan. Ustadzah Kholis adalah santriwati yang mengabdi di pesantren dan masih singel. Karena tidak pulang liburan ini jugalah Saviena jadi dekat sama ukhti Umayah. Kakak kelas yang tidak pernah pulang saat libur pondok. Sedang tempat lain tepatnya di rumah Saviena hari ini ada acara keluarga, keluarga besar Saviena sedang berkumpul karena hari ini ada acara selamatan. "Saviena nggak pulang kak...." tanya Tante Rosita adik perempuan mamah Saviena. "Nggak pulang katanya ada banyak hafalan yang harus dikejar Saviena, mungkin juga dia masih marah sama kakak karena dimasukin pesantren" jawab Bu Ratna sambil menata kue di atas piring. "Emang kakak nggak kasih tahu kalau hari ini ada tasyakuran di sini" tanya Tante Rosita curiga. "Saviena nggak tahu Ros, kalau kakak hamil lagi, kakak takut Saviena tambah marah sama kakak apa lagi selama dia di pondok kakak nggak pernah tengok dia karena kehamilan kakak kali ini cukup payah" jelas Bu Ratna. Rosita pun hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Pada hal Ros kangen banget sama anak tomboy itu" Tante Rosita menarik napas dalam-dalam dan membuangnya secara kasar. Bu Ratna pun hanya menepuk bahu adiknya dengan lembut untuk menenangkan, karena Bu Ratna tahu Saviena adalah keponakan kesayangan adiknya itu. Bukan hanya Rosita yang bertanya tentang Saviena keponakan Bu Ratna pun menanyakan keberadaan Saviena yang tidak ada di rumah Bu Ratna pun sudah menjelaskan keadaan Saviena di pondok yang belum bisa pulang. Sejak Bu Ratna dan suaminya merantau dan keadaan ekonominya membaik lambat Laun saudara Bu Ratna pun sudah bisa menerima keberadaan suaminya. Mereka tidak lagi benci dengan suaminya bahkan mereka tanpa malu memuji-muji kesuksesan pak Jauhari, bahkan mereka mengikuti jejak Bu Ratna dan suaminya merantau ke pulau Jawa. Ada yang tinggal di Jakarta, Serang dan ada juga yang tinggal di Semarang. Sedangkan Bu Ratna dan suaminya merasa bersyukur dengan keadaannya sekarang karena dia tidak di pandang sebelah mata lagi oleh saudaranya. Seperti hari ini mereka diundang yang ada di Jakarta dan di Semarang datang semua kecuali yang di Padang mereka hanya bisa mendoakan semoga Bu Ratna selalu sehat dan lancar dalam melahirkan nanti. Acara tasyakuran nya berjalan dengan lancar, selain keluarga pak Jauhari juga mengundang anak- anak salah satu panti asuhan tempat dia biasa jadi donatur tetap. Selain acara yang dibuat meriah, makanan yang disediakan pun berlimpah karena selain makanan yang di sediakan saudara yang datang juga membawa buah tangan karena tahu ada anak panti yang akan menghadiri acara tasyakuran kehamilan Bu Ratna tersebut. **** Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur dua Minggu. Saviena dan Kokom pun sudah ada di kelas, mereka melepas rindu dengan bercerita sambil bercanda. "Saviena boleh kita bicara" ucap Amiin yang sudah ada di kelas tanpa para sahabatnya. Dia memang sengaja datang pagi ingin bicara dengan Saviena. Saviena yang sedang bercanda dengan Kokom pun berhenti tertawa. "Ada apa Min?" tanya Saviena sambil menoleh ke arah Kokom. Kokom hanya bisa angkat bahu tanda tidak tahu. "Tapi kita Nggak bicara di sini ya" balas Amiin. "Kom...pinjam Saviena sebentar ya" ucap Amiin. "Ok..." jawab Kokom. Saviena hanya mengangguk lalu pamit ke Kokom dan mengikuti Amiin dari belakang. Mereka tiba di kantin Amiin memesan dua es jeruk buat mereka berdua. Amiin adalah sahabat Hasan yang paling mengerti akan Hasan dan orang tua Amiin termasuk orang yang berada di kampungnya. "Viena...saya tahu Hasan dan Vienna sedang tidak akur, saya juga heran biasanya kalian berdua suka bercanda, tapi belakangan ini saya tidak melihat hal itu. Saya senang karena dia mau bergaul selain dengan kami empat sahabat nya, dia orang yang susah bergaul dengan orang baru apa lagi teman perempuan" Amiin mulai bicara. "Hasan bersikap seperti itu karena dia ingin dekat dengan Viena, jadi jangan salah faham, dia tidak bermaksud kurang ajar atau semacamnya" lanjut Amiin. Saviena hanya diam sambil menyimak omongan Amiin kepadanya tanpa mau menyelanya. "Dia tidak pandai bersikap kepada orang lain, tolong maafkan dia, dia sudah cerita semua yang dia lakukan sama Viena, dan dia menyesal atas perbuatannya itu" Amiin meneruskan perkataannya. "Saya atas nama sahabat saya juga minta maaf atas tindakannya yang membuat Viena marah" jelas Amiin lagi. "Kasihan Hasan Vien...! setiap hari uring-uringan, kalau nggak dipaksa dia juga nggak akan cerita, karena dia orangnya pendiam, makasih sudah mau mendengarkan saya" ucap Amiin meminum es jeruknya dan berdiri untuk pergi. "Tunggu ..." ucap Saviena Amiin pun kembali duduk di depan SaViena. " Aku nggak marah kok Min sama dia, cuma waktu itu kesel aja" kata Saviena sambil tarik napas. " Makasih juga karena kalian sudah mau jadi teman aku" ucap Saviena sambil tersenyum. Amiin pun tersenyum. " Sama-sama" ucap Amiin. "Gitu dong Vien... mending senyum dari pada canggung nggak jelas kayak yang kemaren-kemaren itu, kan aku tambah cinta" canda Amiin. "Ih Amiin mah becanda nya nggak asik" ucap Saviena sambil cemberut. "Maaf....!" balas Amiin. Amiin tahu Hasan ada rasa sama Saviena. Makanya dia menyimpan rasanya untuk Saviena dan diungkapkannya dengan cara becanda. "Ayok ke kelas kasihan Kokom kehilangan sahabatnya" canda Amiin lagi. Saviena menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Tidak lupa dia meminum es jeruknya sambil menunggu Amiin membayar es jeruk tersebut. Belum sempat mereka keluar dari kantin Hasan pun datang. "Vien....boleh ngomong sebentar nggak? tanya Hasan ke Saviena. Saviena pun melihat ke Amiin dan Amiin pun menganggukkan kepalanya. "San ....Vien...saya duluan ya, selesaikan masalah kalian jangan kayak anak kecil" kata Amiin sambil tersenyum kemudian berjalan keluar dari kantin. Hasan dan Saviena pun duduk di tempat yang tadi di duduki oleh Amiin dan Saviena. "Mau minum apa? tanya Hasan ke Saviena. "Nggak usah... aku baru minum, takut kembung!" kata Saviena menolak tawaran Hasan. "Vien ....!" Hasan mulai membuka obrolan "Saya minta maaf atas semua kata-kata yang pernah saya ucapkan ke kamu" kata Hasan hati-hati takut Saviena marah. Saviena pun hanya diam. "Saya nggak bermaksud ngatain atau pun meledek kamu, saya cuma bercanda supaya lebih dekat sama kamu, ya mungkin caranya yang salah" ucap Hasan lega bisa juga dia ngomong ke Saviena. "Sekali lagi saya minta maaf' lanjut Hasan. Hasan takut Saviena nggak akan memaafkan dirinya karena Saviena diam aja. Hasan pun menarik napas dan berdiri dari duduknya berniat untuk pergi "Aku minta maaf" ucap Saviena cepat takut Hasan pergi. "Apa" kata Hasan nggak percaya. "Aku juga minta maaf karena bersikap egois dan nggak mau dengar penjelasan dan permintaan maaf dari kamu" kata Saviena. "Berarti saya sudah dimaafin nih?" tanya Hasan nggak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Ya ... asal jangan diulangi lagi" jawab Saviena sambil tersenyum. "Makasih ya Vien ..., Saya nggak akan ulangi lagi janji" kata Hasan sambil mengangkat jari telunjuk dan tengah tanda damai. Saviena hanya tersenyum melihat tingkah Hasan. "Kita berteman lagi ya Vien....kita mulai lagi dari awal" kata Hasan. "Kenapa nggak dari nol?* canda Saviena. "Itu kalau isi bensin" Saviena pun tersenyum dengar jawaban Hasan. "Jadi kita dah baikan ya Vien ..." kata Hasan sambil menatap Saviena. "Ya..." jawab Saviena sambil mengangguk sebagai jawaban setuju. ***** Sejak saat itu Saviena dan Hasan sudah seperti biasa lagi, tidak ada lagi sikap acuh Saviena saat disapa Hasan. Walau tidak menjawab sapaan Hasan dia akan tersenyum. Itu juga sudah cukup buat Hasan. Para sahabat mereka berdua pun senang akan hal itu. Apa lagi Yusuf, dia tidak melihat wajah murung Hasan lagi. Sekarang Saviena, Kokom, Yusuf, Hasan dan para sahabatnya semakin dekat seperti satu Genk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN