Jujur Hasan

1395 Kata
Di depan kelas Saviena baru saja membuang sampah yang ada di kelasnya ke tong besar yang ada di depan kelasnya. "Saviena ....!" Saviena pun menoleh ke suara yang memanggilnya. "Boleh bicara sebentar?" kata orang tersebut. Saviena pun menengok ke kiri dan ke kanan. Dia takut ada yang melihatnya bicara dengan Harun. Saviena hanya melihat beberapa orang siswa saja yang sudah datang. Karena ini terbilang masih pagi. Jam di kelas baru menunjukkan pukul 6.30. Sekolah mulai beraktivitas jam 7.00 tepat. "Ada apa ya Kak?" tanya Saviena ke orang tersebut. Ya dia Adalah Harun kakak kelasnya dari kelas 9 Abu Tholib yang selalu mengirimkan salam kepadanya. Karena salam dari dia juga yang membuat dia dan Hasan jadi salah paham. Saviena memang biasa datang pagi kalau tidak ada kegiatan yang mendesak di pondok. "Bagaimana kalau kita ngobrolnya di kantin saja, kebetulan saya belum sarapan?" kata Harun. "Tapi kak...emang penting ya?" cicit Saviena sebenarnya dia enggan berbicara dengan Hasan. Mau menolak takut ga sopan tapi dia juga takut ada yang melihat dia sama Harun secara Harun idola sekolahan, Saviena takut dimusuhin sama fansnya Hasan. "Aduh...gimana nih?" batin Saviena. "Sebentar aja kok... !" kata Harun sambil tersenyum, tapi terdengar memaksa di telinga Saviena. "Ya....udah deh!" jawab Saviena. Dengan terpaksa dia mengikuti Harun dari belakang menuju kantin. ***** Di Kantin Setelah makanannya datang Harun langsung menyantapnya. "Kamu ga makan ...? tanya Harun karena Saviena tidak memesan apa-apa. "Ga kak tadi aku sudah sarapan di pondok." jawab Saviena. "Oh...." jawab Harun. "Maaf.... ! kakak tadi mau ngomong apa ya?" tanya Saviena to the point, karena dia tak ingin lama-lama berdua sama Harun bersama Harun bagi Saviena adalah mengundang malapetaka. "Kamu pasti sering dapat salam dari Harun?" tanya Harun. Saviena hanya mengangguk sebagai jawaban. "Kenalkan nama saya Harun Ar Rasyid?" Harun memperkenalkan dirinya kepada Saviena. "Saya tahu!" kata Saviena. "Intinya dari omongan kakak apa ya?" tanya Saviena, karena dia sudah merasa ga nyaman. "Saviena.. Saya suka sama kamu, kamu mau ga jadi pacar saya?" tembak Harun kepada Saviena tanpa basa-basi. Saviena pun melongo ga percaya dengan apa yang dia dengar. Harun pun menaruh sendok yang dipegangnya dan mencoba meraih tangan Saviena tapi Saviena menarik tangannya reflek ke belakang. "Maaf....." cicit Saviena ga enak hati. "Saya yang seharusnya minta maaf" kata Harun ga enak hati. "Maaf kak.... saya ga bisa me..." kata Saviena. "Kamu boleh memikirkannya dulu, ga usah dijawab sekarang" Harun langsung memotong perkataan Saviena. Saviena tidak mau menerima Harun karena pelampiasan, hanya karena dia patah hati karena Hasan dan Sasqia jadian. "Maaf kak... saya ga mau memikirkan hal yang bisa menggangu konsentrasi belajar saya" kata Saviena. "Maaf saya tidak bisa menerima kakak" kata Saviena mantap. Karena dia takut mengganggu aktivitasnya di pondok, kalau dia punya masalah lagi. Mikirin Hasan aja hampir membuat dia pusing, dia tak ingin menambah beban pikirannya lagi. Ya Saviena tahu Harun Ar-Rasyid kakak kelasnya itu termasuk pria tampan yang banyak penggemarnya.Dia tak ingin kalau menggantung jawaban Harun nanti malah membuat dia punya musuh. "Ga bisa dipertimbangkan dulu Vien...? tanya Harun lesu. Saviena hanya menggeleng sebagai jawaban "Baiklah kalau itu keputusan kamu, terima kasih atas waktunya." kata Harun sambil tersenyum padahal hatinya terasa sakit. "Tapi kalau kamu berubah pikiran, saya selalu ada untuk kamu." kata Hasan. Harun ga percaya Saviena berani menolaknya. Karena hampir semua siswa perempuan di sekolahnya, memujanya dan ingin menjadi kekasihnya. Mereka selalu mengirimkan salam bahkan makanan untuk menarik perhatiannya, tapi seorang Saviena malah menolaknya. "Maaf kak...saya duluan" pamit Saviena menundukkan sedikit kepalanya, kemudian berdiri dan berlalu pergi. Harun hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia memegang dadanya yang terasa sesak. ****** Di Lapangan "Bagaimana tadi Run ... pernyataan cintanya diterima ga?" tanya sahabat Harun yang bernama Aditya "Ditolak man....! kata Harun lesu. "Gila seorang Harun Ar Rasyid yang banyak penggemarnya ditolak sama Saviena" jawab Aditya Hasan, Yusuf dan Amiin yang kebetulan berada di lapangan mendengar nama sahabatnya disebut langsung menajamkan kuping untuk mencuri dengar. "Ya saya ditolak oleh Saviena, puas...! jawab Harun. "Kok bisa ya...!" kata Aditya ga percaya. "Ya bisalah man....!" kata Harun meyakinkan Aditya. "Kayaknya kak Harun baru nyatain cintanya sama Saviena dah" kata Yusuf kepada Amiin dan Hasan. "Wah ..hebat banget kak Harun start duluan" kata Amiin. "Tapi sayang ditolak" kata Yusuf sambil tersenyum. "Kalau sampai Saviena terima Kak Harun, teman kita ada yang patah hati nih" sindir Amiin kepada Hasan. "Siapa ..? kata Yusuf sambil melirik ke arah Amiin. "Tu.... yang di depan kita!" jawab Amiin. "Hah....Hasan? kaget Yusuf. "Yang benar San...?" "Kamu suka Saviena" tanya Yusuf ga percaya. "Ya .." jawab Hasan sambil menarik napas lega karena Saviena tidak menerima kak Harun. "Sejak kapan San...? tanya Yusuf mulai melembut. "Sejak dia marah sama saya waktu itu." jujur Hasan. "Wah gawat nih, kalau benar Saviena sedih karena melihat kamu sama Sasqia kemaren, kayaknya harus diluruskan itu salah pahamnya. Kalau ga, cepat atau lambat Saviena bisa digebet orang duluan nih..." goda Yusuf ke Hasan. "Ya kayaknya santriwati tomboy manis itu banyak penggemarnya dah" goda Amiin ga mau kalah. "Ya ...dia memang banyak penggemarnya" kata Hasan untuk meyakinkan dirinya sendiri. Bahkan cowok sekeren Kak Harun saja mengincar Saviena untuk dijadikan kekasihnya. "Nanti pulang sekolah saya mau ngomong sama dia" cicit Hasan tapi masih bisa di dengar oleh kedua sahabatnya. Yusuf dan Amiin pun tersenyum mendengar jawaban Hasan. Dengan kompak mereka berkata " itu baru sahabat kita". **** Kemaren di sekolah Setelah semua sahabatnya pulang kini tinggal mereka berdua. sambil berjalan menuju lapangan. "San .. jujur .... sebenarnya kamu suka kan sama Saviena?" tanya Amiin to the point kepada Hasan. Sambil mereka duduk di kursi di pinggir lapangan sekolah. "Dari cara mata kamu menatap Saviena saja orang sudah tahu kalau kamu suka sama dia" lanjut Amiin. "Dulu...pertama kali saya melihat dia, penilaian saya kepadanya, orangnya sok baik, sok akrab dan banyak teman menyukai cara Saviena mengakrabkan diri kepada teman-teman sekelas, dan saya kesel melihatnya, di mata saya semua terkesan caper mungkin karena saya terlalu dini menilainya" Hasan memulai cerita sesi curhatnya kepada Amiin. "Tapi lama-lama semua penilaian itu berubah seiring waktu dan kita berlima dekat dengan dia" lanjut Hasan. "Karena kebaikan dan mudahnya dia bergaul dengan siswa di sekolah ini, apa pun yang guru suruh atau kakak kelas minta tolong pasti dia mau, ga pernah dia menolak sekalipun" kata Hasan menatap tengah lapangan. "Bahkan saat petugas upacara berhalangan hadir , seperti menggantikan petugas pembaca doa, menaikkan bendera, dirijen (pemimpin lagu), saat pemimpin upacara ga ada pun dia mau menggantikannya saat orang lain bilang ga siap karena belum latihan termasuk kita berdua Min...., tapi dia mau melakukannya" kata Hasan setengah emosi, emosi kepada diri sendiri sebetulnya. "Kokom pernah bertanya sama Saviena, kenapa dia mau melakukan itu, jawab dia cuma biar upacara cepat dimulai dan cepat juga selesainya" lanjut Hasan. "Saya memang suka dia Min ..." jujur Hasan. "Semakin saya mau melupakan dia, hati dan pikiran saya selalu ingin mengingat dia, bahkan saat saya solat pun ga bisa hilangin bayangan dia di otak saya, bahkan dalam doa saya meminta agar dia menjadi pribadi yang kuat, karena saya tahu tidak semua orang di sekolah ini suka sama dia, apabila setiap saat kak Harun selalu mengirimkan salam untuknya" Hasan menutup ceritanya dengan wajah sedih. "Saya takut fans Kak Harun menyakiti Saviena" tambah Hasan. "Dah lega sekarang" tanya Amiin. "Sudah ....!" jawab Hasan sambil mengangguk. "Nah gitu dong, jangan dipendam sendiri nanti sakit" nasihat Amiin. "Ya ...makasih sudah mau dengar curhatan saya" jawab Hasan. "Jangan lupa bayarannya" canda Amiin. "Bayaran apa? tanya Hasan heran. "Bayaran dah dengar curhatan kamu atuh" kata Amiin sambil nyengir. "Ih dikirain apaan? perhitungan amat kamu teh sama teman sendiri" sinis Hasan. Amiin pun tertawa terbahak bahak karena sudah mengerjai Hasan. "Jangan lupa besok luruskan sama Saviena, masalah di kantin tadi, jangan sampai nanti dia salah paham, terus jadian dah sama orang lain, bahkan menjauh dari kita sebagai sahabat" kata Amiin. "Kalau kamu mau begitu sih saya mah ga apa-apa" kata Amiin pura-pura pasrah. "Ya pasti besok saya bicara dengan Saviena, saya ga mau dia menjauh dari kita" kata Hasan semangat. "Dari kita atau dari kamu San...?" tanya Amiin. "Ya dua-duanya atuh Amiin" jawab Hasan, dia sudah merasa kalau kejahilan Amiin sudah dimulai. "Ayo pulang dah sore nanti kesorean sampai rumah teh" kata Amiin berdiri mengakhiri sesi curhat Hasan. Hasan pun mengangguk lalu mengikuti Amiin. "Min....tunggu" teriak Hasan melihat Amiin berlari menjauh mengerjai Hasan. "Kejar kalau bisa....!" teriak Amiin sambil tertawa. Ya begitulah cara Amiin mencairkan suasana hati sahabatnya yang galau, ujung-ujungnya pasti bercanda dan tertawa bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN