Sasqia memperhatikan punggung Hasan sampai hilang dari pandangnya. Kemudian dia pun tertawa, lebih tepatnya menertawakan diri sendiri. Ternyata ada juga orang yang menolak seorang Sasqia.
Kalau dibilang sedih pasti Sasqia sedih. Kalau di bilang patah hati tentu saja dia juga patah hati. Kalau ada yang tanya apakah Sasqia malu ya tentu saja dia juga merasa malu.
Antara sedih, patah dan malu semua campur aduk menjadi satu itulah yang dirasakan oleh Sasqia saat ini.
Dia tidak menyangka kalau Hasan akan menolaknya dengan tegas tanpa pertimbangannya terlebih dahulu.
Awalnya Sasqia yakin seratus persen kalau Hasan akan menerima pernyataan cinta darinya. Secara Sasqia adalah gadis yang berparas cantik dan berasal dari keluarga kaya pula. Dan banyak yang mengejarnya untuk dijadikan tambatan hati. Tapi kenyataannya malah sebaliknya dia ditolak oleh Hasan. Pria yang dia sukai pada pandangan pertama saat dia di pindahkan ke sekolah ini.
Walaupun begitu Sasqia tidak boleh egois. Dia juga tidak mau memaksa Hasan yang tidak mencintainya untuk dijadikan tambatan hatinya.
Setidaknya dia sudah lega karena sudah mengungkapkan perasaannya kepada Hasan. Dan setidaknya dia sudah tidak penasaran lagi sama Hasan.
Sasqia sadar dia hidup di dunia nyata bukan di dunia sinetron yang biasa ditonton maminya atau seperti kisah-kisah dalam novel online yang biasa dibaca oleh kakaknya. Kedua dunia tersebut kisah cinta bisa direkayasa, bahkan banyak para tokoh dalam cerita novel apabila cinta ditolak akan mati-matian memperjuangkan bahkan memaksa dan dengan berbagai cara akan melakukan apapun agar mendapatkan orang yang dicintai.
Dan Sasqia juga masih punya akal sehat dan harga diri untuk tidak melakukan hal tersebut.
Sedangkan Hasan tidak menyangka kalau Sasqia menyatakan perasaan kepadanya.
Dimata Hasan Sasqia adalah gadis yang cantik dan baik. Hasan pun tahu kalau banyak yang suka dengan Sasqia dan ingin Sasqia menjadi tambatan hatinya.
Tapi Hasan tetaplah Hasan, hatinya telah memilih tambatannya sendiri.
Dulu Hasan mengira bahwa hatinya tidak akan suka dengan Saviena gadis tomboy, cuek dan nggak ada jaim-jaimnya sebagai perempuan. Ternyata dia salah Saviena yang awalnya menurut Hasan nyebelin tapi lama-lama malah ngangenin kalau tidak melihatnya. Gadis manis dengan lesung pipi itu sungguh sudah mencuri hatinya. Benar kata para sahabatnya kalau Saviena itu menarik dan unik.
Sedang di pojok kantin terdapat empat orang anak perempuan yang dari tadi menunggu sahabatnya.
Ya mereka adalah sahabat Saviena mereka duduk di paling ujung kantin tempat biasa mereka duduk. Mereka menunggu Saviena sampai makanan yang mereka pesan habis dan soto pesanan Saviena pun sudah keburu dingin. Setelah membayar makanan dan minuman yang mereka pesan, mereka pun pergi meninggalkan kantin dan menuju kelas untuk melihat keadaan Saviena yang tak kunjung datang.
*****
Di kelas
Keempat sahabat Saviena masuk kelas dengan wajah khawatir saat melihat Saviena menidurkan kepalanya di atas meja. Dan saat mereka masuk ke kelas hanya Saviena seorang di dalam kelas.
"Vien....kok nggak jadi ke kantin?
"Viena sakit?" tanya Kokom kepada Saviena sambil memegang kening sahabatnya itu.
"Viena sakit?"
"Sakit apa...?"
"Bilang sama kita?" cerocos Bariah nggak mau kalah sambil mendekat ke arah Saviena.
"Aku nggak apa-apa kok....cuma kangen sama mama aja ...! jawab Saviena asal sambil mengusap sudut matanya.
"Serius cuma kangen sama mama aja Vien....? balas Hasanah nggak kalah khawatirnya dengan nada lembut sambil duduk di bangku sebelah kanan Saviena.
"Nggak ada yang gangguin Viena kan...? kata Tati penuh selidik karena dia takut ada yang mengganggu sahabatnya itu.
"Vien ....kalau ada apa-apa cerita sama kita, kita kan sahabat jadi nggak usah sungkan atuh sama kita" kata Kokom.
Saviena pun hanya mengangguk sebagai jawaban. Kokom pun berdiri di sebelah kiri Saviena. Kemudian dia memeluk sahabatnya tersebut dari samping untuk mengurangi kesedihannya.
Mereka pun terdiam dengan pemikiran masing-masing. Mereka yakin ada yang disembunyikan oleh Saviena sehingga membuatnya sedih. Karena Saviena adalah anak yang kuat nggak akan mudah menangis hanya masalah sepele. Mereka pun membiarkan Saviena tenang dulu karena mereka yakin suatu saat pasti Saviena akan menceritakannya kepada mereka.
Setelah tenang Saviena pun bersikap seperti biasa. Tidak tampak kalau dia sedang sedih.
Tak lama berselang bel pun berbunyi tanda istirahat telah usai. Semua siswa masuk ke kelas masing-masing begitu pun teman sekelas mereka.
"Assalamualaikum..... "
"Selamat siang anak-anak!" sapa Pak Salim guru Bahasa Indonesia yang masuk ke kelas tanda pelajaran akan segera dimulai.
"Waalaikum salam...."
"Siang....Pak....! jawab mereka sekelas kompak.
"Baik anak-anak keluarkan buku Bahasa Indonesia kalian, kita mulai pelajaran kita." lanjut Pak Salim.
Mereka pun mengeluarkan buku masing-masing dan fokus kepada guru yang sedang menjelaskan pelajaran. Tak terasa dua jam pun berlalu bel pulang sekolah pun memanggil-manggil siswa untuk segera pulang. Pak Salim pun mengakhiri pelajaran yang diajarkannya tidak lupa dia memberikan tugas terlebih dahulu, menutup pelajaran dengan doa bersama dan beliau pun keluar dari kelas.
Satu persatu siswa pun dengan gembira meninggalkan kelas. Karena hari ini tidak ada jadwal ekskul Saviena pun berniat langsung pulang ke pondok untuk istirahat.
"Teman-teman aku duluan ya, mau istirahat karena hari ini di pondok banyak hafalan" alasan Saviena kepada teman-temannya.
"Ya udah hati-hati ya Vien....! balas Kokom cepat karena dia tahu itu alasan Saviena saja. Karena Kokom tahu Saviena lagi badmood.
Saviena pun mengangguk sambil tersenyum kemudian berlalu dari hadapan teman-temannya.
"Saviena kenapa ya....? tanya Amiin bingung melihat sikap Saviena yang tidak seperti biasanya itu.
"Kita berempat juga tidak tahu!" jawab Bariah sambil mengangkat bahunya.
"Waktu istirahat kita berempat ke kantin duluan ninggalin Saviena di kelas sendirian, itu juga Saviena yang suruh kita duluan karena dia belum selesai dan mau ke kantor guru juga." jelas Tati.
"Pada hal nih....tadi Saviena dengan semangat minta dipesanin soto juga, tapi kita tunggu-tunggu sampai makanan kita habis dia nggak datang-datang" lanjut Hasanah dengan muka murung.
" Nah ...pas balik ke kelas kita lihat dia lagi di kelas sendirian kayak nangis gitu" kata Kokom.
"Kita tanya jawabnya cuma kangen sama mama" lanjut Kokom.
"Atau mungkin Saviena sudah sampai di kantin, dan melihat sesuatu yang membuat dia sedih" ujar Yusuf berasumsi.
"Bisa jadi sih....! jawab Amiin.
"Atau jangan-jangan.....! kata Hasan menggantung kalimatnya.
"Atau jangan-jangan apa San....? tanya Kokom pada Hasan penuh rasa penasaran.
Hasan pun menceritakan kejadian di kantin ketika Sasqia menyatakan perasaannya dan jawaban darinya untuk Sasqia. Semuanya dia ceritakan tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Dan mungkin Saviena mendengarnya tapi tidak semuanya sehingga timbul salah paham" duga Amiin.
Amiin pun yakin penyebabnya pasti itu. Karena dia tahu walau pun Saviena tidak pernah mengungkapkan perasaannya tapi dia tahu Saviena sama Hasan sama-sama memiliki perasaan yang sama. Yaitu sama-sama memendam rasa suka.
"Tapi apa hubungannya dengan semua itu? tanya Kokom penasaran.
"Nanti juga tahu...! jawab Amiin sambil mengedip genit kepada Kokom.
"Ih....bikin penasaran aja!" dumel Kokom sambil cemberut.
Semuanya pun tertawa melihat tingkah Amiin dan Kokom.
"San .... mungkin besok sebaiknya kamu sama Saviena menyelesaikan masalah ini, kasihan Saviena menduga yang tidak-tidak tentang kamu dan Sasqia, takutnya merusak suasana hati Saviena dan juga kamu" kata Amiin kepada Hasan.
Yang lain pun setuju dengan yang dikatakan Amiin. Mereka takut merusak persahabatan mereka juga.
Karena sudah tidak ada yang dibahas lagi Yusuf pun pamit kepada sahabatnya untuk pulang ke pondok.
"Kalian berempat duluan saja, kita berdua masih ada urusan, nggak apa-apakan?" tanya Amiin kepada keempat sahabatnya.
"Ya...!".jawab mereka kompak
""Kalian berdua hati-hati! " kata Kokom.
"Cie yang khawatir...!" goda Amiin.
"Ih....kesel ! jawab Kokom marah sambil berlalu.
Yang lain pun menyusul Kokom yang sudah terlanjur kesal.
"Kom....tunggu....! panggil Bariah. tapi tak dihiraukan oleh Kokom.
Amiin pun tertawa terbahak-bahak melihat tingkah sahabatnya itu. Sedangkan Hasan hanya menggeleng kan kepala melihat ulah para sahabatnya.
Diantara para sahabatnya Amiin memang yang paling bisa mencairkan suasana, memberi masukkan yang masuk akal untuk setiap masalah dan juga yang bisa membuat dia geleng-geleng kepala kalau sudah usil sama para teman perempuannya.