Tiga bulan sudah semester dua berlalu. Saviena dan teman-temannya juga sudah masuk ekskul yang mereka sukai. Saviena, Hasan, dan para sahabatnya mengikuti ekskul Pramuka karena wajib.
Untuk ekskul tambahan Hasan, Yusuf dan Amiin ikut ekskul voli.
Sedangkan Saviena tidak ikut ekskul tambahan dengan alasan takut mengganggu kegiatan di pondok.
Kata Saviena dia ingin menghemat tenaga untuk kegiatan di pondok yang lumayan padat.
Kegiatan di pondok biasanya dimulai waktu Ashar sampai jam sebelas malam.
Kemudian bangun jam 04.00 pagi atau bahkan kadang bangun jam 03.00 kalau ada jadwal sholat tahajud.
Awalnya kegiatan di pondok sangat menyiksa bagi Saviena dan teman-teman pondoknya.
Tapi lama-lama karena sudah biasa semua terasa menyenangkan
Bagi Saviena sesuatu itu intinya harus dimulai dengan rasa senang dulu
Kalau sudah senang Insya Allah semua yang dikerjakan akan menyenangkan.
Karena Saviena hanya ikut Pramuka maka sahabatnya yang perempuan juga tidak ikut ekskul tambahan.
******
Karena kegiatan Sahabat yang laki-laki dengan yang perempuan tidak sama mereka jadi jarang berkumpul seperti dulu.
Seperti sekarang Saviena, Kokom, Tati, Hasanah dan Bariah sedang makan di kantin.
Sedangkan Hasan, Yusuf, dan Amiin sedang latihan voli dengan teman ekskulnya di lapangan.
Dan mereka akan bersama saat di kelas saja.
Kalaupun pulang sekolah mereka ingin kumpul itu pun hanya sebentar.
Karena Saviena dan Yusuf harus kembali ke pondok sebelum Ashar.
Sebenarnya sampai sore pun sekolah masih ramai dengan siswa yang ikut ekskul.
Ekskul di sekolah berakhir jam 17.00 sore.
*****
Di dalam kelas
"Perhatian sebentar" kata Saviena setengah berteriak meminta perhatian kepada teman-teman sekelasnya.
Saviena baru saja kembali dari kantor guru.
Saviena yang sebagai ketua kelas dipanggil ke kantor guru karena guru matematika yang ada jam di kelasnya sedang izin sakit.
Semuanya pun memperhatikan Saviena yang sedang berdiri di depan kelas.
"Hari ini Bu Rina tidak masuk karena sakit" lanjut Saviena.
"Hore...! Sorak teman-teman Saviena yang tidak terlalu suka pelajaran matematika.
"Tapi.....beliau memberikan kita tugas untuk dikerjakan dan harus dikumpulkan hari ini juga" kata Saviena ga enak hati karena merusak kesenangan temannya yang baru saja bersorak dengan gembiranya karena mendengar guru matematika tidak masuk.
"Yaaaa......Viena ga asyik nih!" celetuk Hendi dan gengnya kecewa karena mereka memang tidak suka pelajaran matematika.
Biasanya kalau ada tugas pun mereka akan mencontek hasil karya teman yang sudah selesai.
"Maaf ya teman-teman" cicit Saviena ga enak hati.
"Tapi yang sudah selesai boleh istirahat duluan kok!" jelas Saviena kemudian.
"Yey...." sorak mereka senang mendengar kata istirahat.
"Teman-teman yang sudah selesai jangan lupa jadi donatur jawaban ya buat kita-kita" kata Hendi tanpa malu.
"Hu......" sorak tema sekelas kepada Hendi dan genknya.
Tapi mereka ga pernah marah dengan teman sekelasnya karena mereka yang rugi ga dapat contekan.
Saviena pun menyerahkan tugas matematika tersebut kepada Bariah selaku sekretaris kelas.
Untuk dituliskan di papan tulis kelas mereka.
Bariah pun mulai menuliskan soal di papan dan teman-temannya pun mulai mengikuti menulis di buku masing-masing.
Mereka menulis dengan semangat karena ingin cepat istirahat.
Ada yang mengerjakan karena memang mereka bisa matematika.
Ada juga yang mengerjakan tugas karena bisa mencontek dari teman sebelahnya.
Setelah lebih dari empat puluh menit satu persatu mereka keluar dari kelas karena tugas yang mereka kerjakan
sudah selesai.
Akhirnya tinggal Saviena dan sahabatnya.
"Kita duluan ya" kata Amiin kepada sahabat perempuannya.
"Biasa mau latihan voli mumpung jam kosong" sambung Yusuf.
"Kalau mau makan duluan nggak pa apa duluan aja" kata Hasan sambil melirik Saviena yang masih mengerjakan soal.
"Ya ... duluan aja" jawab Bariah mewakili.
Mereka bertiga pun keluar kelas menuju lapangan
"Vien....masih lama nggak? lapar nih...! tanya Tati kepada Saviena.
"Nggak... dikit lagi kok....! jawab Saviena sambil tetap menulis jawaban yang tinggal sedikit lagi.
Saviena memang teliti dalam mengerjakan soal matematika karena dia tidak mau nilainya jelek karena matematika adalah pelajaran favoritnya.
Dan teman-temannya paham akan hal itu makanya mereka tidak mau menyuruh Saviena mengerjakannya dengan buru-buru.
"Duluan aja .... nggak apa-apa" kata Saviena tanpa melihat ke arah nya karena masih fokus menghitung jawaban.
"Aku juga mau ke kantor guru dulu mau taruh buku tugas ini di meja Bu Rina" jelas Saviena kepada sahabatnya takut mereka menunggu lama.
"Nggak apa-apa nih ditinggal?" balas Kokom nggak yakin.
"Ya nggak pa apa, tolong pesanin soto ya, biar ntar sampe kantin tinggal suap doang" jawab Saviena meyakinkan sahabatnya.
"Oke....tapi jangan lama-lama ya Vien.... takut kangen!" canda Bariah sok manja dan mengedipkan matanya dengan genit.
"Ya .. Iyah.....sayang.... ! goda Saviena nggak kalah manja.
"Mulai ....dah....! kata Hasanah pura-pura marah melihat sikap manja mereka berdua.
Mereka pun pergi ke kantin berempat minus Saviena.
Saviena pun sudah selesai dan membereskan buku tugas teman-teman sekelasnya dan mengantarkannya ke ruang guru dan menaruhnya di meja Bu Rina.
Kemudian dengan perasaan bahagia Saviena pergi ke kantin menyusul para sahabatnya.
Saat melewati lapangan Saviena melihat Amiin dan Yusuf sedang latihan voli bersama tim volinya.
Tetapi Saviena tidak melihat keberadaan Hasan di lapangan.
"Kemana Hasan ya.... Apa ke toilet?" batin Saviena bertanya pada diri sendiri.
Saviena pun terus berjalan sambil bersenandung sholawat kesukaannya.
"Allahumma shali shalaatan kaamilatan wasallim salaaman taamman 'alaa sayyidina muhammadinil ladzii tanhallu bihil 'uqodu wa tanfariju bihil kurabu wa tuqdhaa bihil hawaa-iju."
Tapi saat masuk ke area kantin Saviena kaget melihat Hasan duduk membelakanginya dan didepannya duduk Sasqia teman sekelasnya yang baru tiga bulan ini menjadi teman sekelasnya.
Sebenarnya Saviena ingin menyapa mereka berdua tapi seketika dia berhenti ketika tidak sengaja mendengar suara Sasqia.
"San ... aku suka sama kamu dari pertama aku lihat kamu di kelas" kata Sasqia menyatakan perasaannya.
Deg!
Seketika d*** Saviena merasa sesak ketika mendengar pernyataan Sasqia kepada Hasan.
Saviena tidak tahu entah apa yang terjadi pada dirinya.
"Kamu mau nggak jadi pacar aku?" lanjut Sasqia.
Saviena sangat jelas mendengar itu semua karena dia berdiri tidak jauh dari mereka hanya terhalang gerobak tukang mie ayam.
Mereka berdua tidak sadar akan keberadaan Saviena yang mencuri dengar obrolan mereka.
Hasan yang dari tadi mendengar pernyataan cinta dari Sasqia hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi.
"Sas ....saya juga suka sama kamu, tapi.... " Kata Hasan menjawab pernyataan Sasqia dan menggantung kalimatnya.
Saviena yang mendengar jawaban Hasan langsung balik kanan dan berlari kembali ke kelas.
Dia tidak mau mendengar jawaban Hasan menerima pernyataan cinta dari Sasqia.
Yang Saviena yakin Hasan pasti akan menerimanya. Dipikiran Saviena pasti Hasan akan menerima Sasqia secara Sasqia mempunyai paras yang cantik, lembut, dan anak orang kaya juga siapa juga yang akan menolak Sasqia..
Sampai di kelas Saviena duduk di bangkunya sambil kepalanya ditidurkan di atas meja dengan beralaskan kedua tangannya yang ditekuk untuk dijadikan bantal.
Tak terasa dia pun meneteskan air matanya.
Saviena juga tidak tahu kenapa dia sampai merasa sedih dan ada yang terasa sakit di dalam dadanya.
Ketika Hasan menjawab pertanyaan Sasqia tadi.
"Mama ...Viena mau pulang!" lirih Saviena.
Sedangkan di kantin.
"Tapi apa San....? tanya Sasqia kepada Hasan penasaran.
"Tapi rasa suka saya hanya sebatas teman nggak lebih" jawab Hasan datar masih tanpa ekspresi.
"Kamu cantik ..pasti banyak yang suka" lanjut Hasan.
"Saya belum ada niat buat punya pacar, jadi jangan tersinggung" kata Hasan dengan tegas ke Sasqia.
"Kalau pun saya ingin punya pacar bukan kamu juga orangnya" lanjut Hasan tidak ingin membuat Sasqia berharap padanya.
"Jadi maaf... saya tidak bisa membalas perasaan kamu" tegas Hasan.
"Nggak pa apa San.... aku ngerti, aku yang harus nya minta maaf" kata Sasqia sedih.
"Saya duluan...sudah ditunggu teman-teman di lapangan" kata Hasan pamit.
"Tunggu San....!., kita masih teman kan?" tanya Sasqia was-was takut Hasan nggak mau jadi temannya lagi.
Hasan pun hanya mengangguk tanpa ekspresi sebagai jawaban dari pertanyaan Sasqia sambil berlalu pergi.