Zoya hanya bisa berdiam diri di kamar besar yang dia tempati saat ini, dia bahkan tidak bisa menggunakan ponsel karena ponselnya tertinggal di rumah yang baru dia sewa olehnya.
Malam harinya, pintu kamarnya di ketuk dari luar yang membuat Zoya terkejut.
"Maaf, Nona. Ini makan malam anda. Sedari tadi anda belum makan." Ucap salah satu pelayan yang ada di sana.
Zoya melihat pelayan tersebut membawa troli makanan dan di sana ada berbahai macam makanan yang sejujurnya dia juga merasa lapar.
"Tuan Zeyn sedang ada urusan, Nona. Jadi dia tida bisa menemani anda makan malam." Pelayan itu juga memberitahu sebelum Zoya mungkin akan menanyakan keberadaan Zeyn .
"Ya, biarkan saja dia memiliki urusan lebih lama." Ucap Zoya lalu menghampiri pelayan itu.
"Biar saya siapkan, Nona."
"Tidak-tidak. Kau pergi saja, aku ingin makan sendiri." Zoya menolak dan lebih baik mengusir pelayan itu agar dia bisa makan tanpa malu.
Pelayan sendiri tidak berani membantah dan menurut, dia adalah calon istri dari bosnya dan dia juga sangat tau wajah itu, untuk itu dia menghormati dan tidak mau membuat Zoya marah.
Zoya mengambil makanan itu dan langsung memakannya, bagaimanapun sedari siang dia belum makan karena pingsannya dan karena ketakutannya. Untuk itu dia memanfaatkan dirinya makan sepuasnya malam ini.
Sedangkan di layar laptop, Zeyn tersenyum tipis melihat Zoya makan dengan lahapnya. Dia memang malam ini ada urusan di markasnya karena ada transaksi besar yang harus dia lakukan bersama teman-temannya.
"Dia memang sudah gila! Jika seperti ini, aku tidak yakin Zoya akan mau dengannya." Ucap Luca kepada Ronald.
"Dia akan melakukan segala cara agar Zoya menjadi miliknya dan mau dengannya." Ucap Ronald yang membuat Luca menghela nafas panjangnya.
Setelah urusan Zeyn selesai, dia memutuskan langsung pulang ke mansion karena ingin melihat Zoya terlebih dahulu sebelum besok pagi dia menikahinya.
Zeyn membuka pintu kamar Zoya dan tersenyum ketika melihat wanitanya ini ternyata sudah tertidur pulas.
Dia memandangi wajah Zoya cukup lama karena dia memang sangat persis dengan Zoe saat tertidur.
"Apa kau ada hubungannya dengan Zoe?" Gumam Zeyn pelan lalu akhirnya meninggalkan kamar Zoya.
Zoya membuka matanya dan bisa bernafas dengan lega ketika Zeyn pergi dari kamarnya.
Sebenarnya Zoya belum tertidur saat Zeyn masuk, namun dia berpura-pura tidur agar tidak menganggunya.
"Bicara apa dia tadi?" Gumam Zoya yang tidak mendengar gumaman Zeyn namun Zoya lega karena Zeyn tidak bertindak apapun dengannya.
Sedangkan Zeyn pergi ke kamar Zoe, dia penasaran dan mungkin saja ada petunjuk tentang diri Zoe yang memiliki saudara kembar atau tidak.
Dia mencari sesuatu di lemari Zoe dan benar-benar penasaran karena wajah mereka dan nama mereka hampir mirip.
Cukup lama Zeyn mencari dan akhirnya menemukan beberapa kalung milik Zoe.
"Sial! Kalung yang mana? Apa salah satu dari kalung ini seperti milik Zoya?" Gumamnya namun dia akhirnya menutup perhiasan itu karena tidak tau.
Dia memang harus menanyakan ini kepada ayahnya jika ingin tau tentang Zoe yang sebenarnya.
*****
Keesokkan paginya. Zoya yang sudah bangun dikejutkan oleh beberapa pelayan yang membawakan dia gaun pengantin yang itu aetinya memang perkataan Zeyn tidak main-main.
"Tidak! Aku tidak mau di rias." Zoya menolak saat ingin di rias namun para perias malah menjadi takut sendiri.
"Anda akan menikah, Nona. Jadi anda harus di rias."
"Aku tidak mau menikah dengannya, tolong bantu aku kabur dari sini." Ucap Zoya yang memohon namun para perias dan pelayan terkejut.
"Tahukan anda jika kami membantu anda, maka nyawa kami menjadi taruhannya. Sebaiknya anda juga tidak kabur dan membuat Tuan Zeyn marah, Nona. Jika Tuan Zeyn menginginkan anda, meskipun anda kabur ke manapun, dia akan bisa menemui anda," ucap salah satu dari mereka yang membuat Zoya semakin lemas.
"Siapa dia sebenarnya? Aku tidak mau menikah dengan pria pembunuh. Dia sangat kejam dan pemaksa. Aku membencinya." Ucap Zoya bahkan menangis terduduk di atas ranjang.
Sedangkan Zeyn malah masih sibuk dengan laptopnya pagi-pagi ini, namun dia sudah berganti baju dan rapi, hanya perlu menggunakan jas maka dia sudah siap.
Zeyn melihat ke arah pintu di mana Zoya berdiri di sana.
"A-aku tidak mau menikah denganmu." Ucap Zoya namun tidak masuk ke dalam.
"Kita akan tetap menikah meskipun kau tidak mau." Ucap Zeyn yang tidak peduli dengan perkataan Zoya.
Zoya menggigit bibir bawahnya karena merasa bingung dan takut.
"Baiklah, aku setuju tapi aku akan mengajukan syarat untukmu dan menanyakan bberapa hal kepadamu." Ucap Zoya pada akhirnya yang membuat Zeyn tersenyum tipis lalu akhirnya menutup laptopnya.
"Kemarilah, Baby." Zeyn meminta Zoya untuk masuk dan mendekat karena mereka tidak mungkin berbicara berjauhan seperti ini dan bahkan Zoya masih berada di pintu bahkan diluar dari pintu.
Zoya sedikit ragu namun akhirnya tetap masuk ke dalam karena dia juga membutuhkan mengobrol dengan Zeyn.
"Apa yang ingin kau ketahui? Kau tidak memerlukan izin untuk bertanya dan mengatakan hal apapun padaku karena aku milikmu," ucap Zeyn tersenyum yang membuat Zoya rasanya ingin sekali mencubit bibirnya karena sudah mengatakan seenaknya.
"Dengar! Aku bahkan tidak tau siapa dirimu, aku tidak mengenalmu, yang aku tau kau— kau pembunuh. Dan aku tidak mau memiliki pendamping hidup seorang pembunuh."
"Kau juga memaksa, aku tidak mau memiliki suami pemaksa." Ucap Zoya pada akhirnya yang membuat Zeyn tersenyum.
"Tidak masalah. Aku akan memperkenalkan diri jika kau tidak tau tentangku." Ucap Zeyn lalu berdiri dan mendekati Zoya yang membuat Zoya terkejut.
"D-duduk saja." Ucap Zoya yang malah memerintah Zeyn untuk duduk saja.
"Aku ingin melihatmu lebih dekat."
"Tidak! Akan lebih baik jika kau tidak mendekatiku karena aku belum tau dirimu." Ucap Zoya yang akhirnya Zeyn duduk kembali.
Zoya bernafas lega karena Zeyn menurut padahal dia tadi sudah di ceritakan oleh pelayannya jika tidak ada yang bisa memerintah Zeyn.
"Zeyn Dante, aku rasa kau sudah melihatku di internet bersama sahabatmu itu." Ucap Zeyn namun Zoya masih diam saja.
Dia juga berniat nantinya bertanya tentang bagaimana keadaan Raka karena dia tidak mau terjadi apapun kepadanya.
"Jadi aku tidak perlu mengatakan apapun lagi, aku akan membuatmu bahagia dan menjadi ratu satu-satunya di keluarga Dante." Ucap Zeyn.
"Kau bukan hanya pembisnis, tapi kau juga pembunuh." Ucap Zoya yang di angguki oleh Zeyn dan mengakui itu.
"Aku bukan membunuh sembarangan orang, Sayang. Aku akan membunuh orang-orang yang sudah melakukan kesalahan, dan kau harus terbiasa dengan itu." Ucap Zeyn yang membuat Zoya tidak menyangka.
"Bagaimana kau bisa mengatakan itu? Aku harus terbiasa dengan seorang pembunuh sepertimu dan akan terbiasa melihatmu membunuh orang? Tidak! Aku tidak bisa." Ucap Zoya.
"Perlu kau ketahui jika aku memiliki sebuah kelompok yang menggeluti dunia bawah, dan aku pimpinannya." Ucap Zeyn yang membuat Zoya terkejut dan tentu saja mengerti.
"K-kau mafia?" Tanya Zoya yang di senyumi oleh Zeyn.
"T-tidak! Aku tidak bisa menikah dan hidup denganmu, aku tidak bisa." Ucap Zoya yang bersiri dan menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak memiliki pilihan, kau milikku dan aku tidak akan pernah membiarkan orang lain memilikimu." Ucap Zeyn.
"Kau tidak memiliki hak atas diriku, aku bisa memilih siapapun yang akan menjadi pendampingku dan itu bukan dirimu." Ucap Zoya yang benar-benar menolak Zeyn.
"Maka aku akan membunuh semua yang mendekatimu." Ucap Zeyn yang mendekati Zoya yang ketakutan dengannya.
Zoya bahkan sampai terjatuh di atas sofa yang membuat Zeyn langsung mengukungnya.
"Tolong lepaskan aku. Aku tidak mau menikah denganmu dan bersamamu." Ucap Zoya menangis.
"Kau harus mau dan kita menikah hari ini, jika tidak! Mungkin kau mau jika sahabatmu—
Zoya terkejut ketika Zeyn menyebut sahabat dan jelas saja itu Raka.
"Apa yang kau lakukan padanya." Ucap Zoya yang khawatir.
"Jangan menyakitinya." Mohonya namun membuat Zeyn tersenyum tipis.
"Tidak akan jika kau menurut denganku dan mau menikah denganku. Atau mungkin kau juga ingin aku menghancurkan tempat ini?" Ucap Zeyn lalu memperlihatkan sebuah gambar di mana itu adalah panti di mana dia dibesarkan.
Zoya jelas saja terkejut karena Zeyn bahkan tau di mana dia berasal.
"Tidak! Jangan lakukan apapun." Ucap Zoya yang semakin menangis. Dia memalingkan wajahnya karena Zeyn sangat dekat dengannya.
Zeyn melihat wajah Zoya dan akhirnya menegakkan tubuhnya.
"Kalau begitu akan lebih baik jika kau kembali ke kamarmu dan mengganti pakaianmu, Azoya! Sebentar lagi kita akan menikah, dan tidak akan ada yang bisa menghentikannya termasuk dirimu." Ucap Zeyn dengan tegas yang membuat Zoya rasanya semakin lemas.
"Bunuh saja aku, aku tidak mau menikah denganmu." Ucap Zoya yang membuat Zeyn mengepalkan tangannya.
"Kau tidak memiliki pilihan meskipun mati sekalipun karena jika itu terjadi, aku akan membakar panti di mana kau berasal dan membunuh sahabatmu itu." Ucap Zeyn yang membuat Zoya akhirnya semakin menangis.
Dia akhirnya keluar dari sana dan kembali ke kamarnya, dia merasa hidupnya sekarang seperti di neraka di mana harus memulai kehidupan baru dengan monster seperti Zeyn.
Sedangkan Zeyn mengepalkan tangannya karena bahkan Zoya menolak bersamanya dan memilih mati di bandingkan hidup bersamanya, suatu penghinaan karena selama ini bahkan tidak ada yang bisa menolaknya, semua orang selalu ingin menjadi wanitanya dan menginginkan tidur dengannya, namun Zoya berbeda.
Sialnya lagi meskipun Zoya menghinanya, namun dia tidak bisa marah dengannya atupun tidak memiliki keberanian menyakitinya.
"Jika kau meninggalkanku, maka aku akan menghancurkan dunia ini, Zoya!"