Zoya terkejut dan merasa takut karena da da Zeyn yang berdarah.
"A-apa sebenarnya maumu."
Namun belum Zeyn menjawab, pintu kamarnya di ketuk dari luar dan terpaksa Zeyn membukanya.
"Ada apa?" Zeyn tadinya marah karena anak buahnya menganggunya namun semakin marah ketika apa yang di sampaikan olehnya.
Zeyn menoleh ke arah Zoya sebentar namun lalu pergi dari sana.
Ternyata ada salah satu anak buah John yang tersisa dan menyusup ke dalam mansionnya namun berhasil di tanggap oleh anak buahnya.
"Berani sekali kau menyusup ke dalam mansionku." Ucap Zeyn karena orang itu sudah berlutut di ruang tamu.
"Saya hanya ingin perlindunganmu, Tuan. Saya ingin bergabung dengan kelompok anda."
Belum Zeyn menanggapi lagi namun anak buah Zeyn sudah menghampiri mereka.
"Bos, dia memasang bom di belakang mansion, tapi sudah kami jinakkan. Dia juga membawa beberapa bom yang di sembunyikan di taman ketika ketahuan oleh kami." Ucap salah satu anak buah Zeyn yang membuat penyusup itu ketakutan.
Sedangkan Zeyn tersenyum mirimg karena ada yang berani masuk ke dalam istananya.
"Kau sangat berani, untuk itu aku akan memberimu hadiah untuk keberanianmu." Ucap Zeyn lalu meminta pistol kepada anak buahnya.
"T-tidak, Tuan! Itu tidak benar! Pasti salah satu anak buah anda menghianati anda dan menjadikanku sebagai kambing hitamnya, di aini aku benar-benar hanya ingin bergabung karena aku tidak memiliki siapapun." Bantahnya.
"Jadi, menurutmu ada anak buahku yang berhianat dan memfitnahmu begitu?" Ucap Zeyn yang di angguki cepat oleh penyusup itu.
"Sayangnya aku sudah melihat kamera cctv-ku jika kau yang melakukan itu semua." Ucap Zeyn lalu menodongkan senjatanya dan menembak kepalanya dengan dua kali tembakan.
Apa yang dilakukan Zeyn membuat Zoya terkejut dan sangat ketakutan, dia tadinya ingin kabur dari sana namun malah melihat tindakan kejam oleh Zeyn yang membunuh orang tanpa ampun.
Semua orang menoleh ketika Zoya menjatuhkan vas milik Zeyn.
"Sial!" Zeyn terkejut dan lupa jika ada Zoya di mansionnya.
"Bawa mayatnya pergi dari sini." Ucap Zeyn kepada anak buahnya lalu pergi dari sana untuk mengejar Zoya.
Zoya berlarian dari mansion Zeyn yang entah ke mana. Dia mengikuti arah jalan dan kakinya dan tidak peduli dia sekarang ada di sebelah mana.
"Zoya!" Panggilan Zeyn semakin membuat Zoya panik dan semakin berlari. Namun langkahnya terhenti dan bahkan menegang ketika ada binatang buas di hadapannya.
Zoya menelan salivanya dengan susah bagaimana bisa ada binatang buas di mansion ini, meskipun dia ada di dalam kandang, namun tetap saja orang gila mana yang memeliharanya.
"Dia tidak akaan menyakitimu." Ucap Zeyn yang membuat Zoya terkejut dan menoleh.
"T-tidak! Tolong lepaskan aku! Aku tidak infin bersamamu." Ucap Zoya namun Zeyn tidak menanggapi dam hanya menarik tangan Zoya untuk kembali ke kamarnya.
"Tolong, jangan seperti ini. Aku akan lakukan apapun asal kau melepaskanku." Zoya memohon namun ridak berani melepaskan tangannya yang di pegang oleh Zeyn.
Zeyn baru melepaskannya ketika dia sudah sampai di kamarnya tadi.
"Lepaskan aku!" Zoya sangat ketakutan dengan Zeyn yang ada di depannya dan bahkan ingin mendekatinya.
"Kau milikku, dan jangan harap bisa lepas dariku. Azoya Gabriella!" Ucap Zeyn dengan tegas dan mutlak lalu merengkuh tubuh Zoya, wanita yang sangat di inginkan olehnya.
Zoya semakin terkejut ketika Zeyn mencium bibirnya dan bahkan melumatnya. Zoya memberontak dan bahkan mendorong tubuh Zeyn dengan keras sehingga ciuman mereka terlepas.
Dia juga reflek menampar keras pipi Zeyn yang membuat wajahnya bahkan sampai menoleh ke samping.
"K-kau lancang." Bahkan tangan Zoya gemetar saat tidak sengaja menampar Zeyn dengan keras.
Bukannya marah, Zeyn malah tersenyum tipis.
"Kau harus membiasakannya, karena mungkin kita akan sering berciuman." Ucap Zeyn namun Zoya hanya diam saja.
Zeyn ingin memegang bibir Zoya yang baru saja dinikmati olehnya namun dia mengalihkan pandangannya.
Zeyn tersenyum miring dan akhirnya tidak jadi memegangnya.
"Persiapkan dirimu besok, Baby. Kita harus menikah besok." Lanjutnya lalu pergi dari sana.
Zoya bahkan masih tidak percaya, siapa sebenarnya pria yang ada di depannya? Bahkan dalam mimpinga dia ridak bisa membayangkan jika hidupnya akan bersama pria kejam dan pembunuh seperti Zeyn.
Dia meratapi nasibnya karena dia merasa memang Zeyn bukanlah orang sembarangan dan dia sepertinya tidak bisa keluar dari sini.
*****
"Sangat susah, karena itu sudah sangat lama, tapi aku mencurigai jika memang Zoe dan Zoya adalah kembar." Ucap Ronald memberitahu yang kini sedang berkumpul bersama Luca dan Zeyn.
"Apa yang kalian temukan?" Tanya Zeyn.
"Panti asuhan yang membesarkan Zoya mengatakan jika dia menemukan Zoya sudah berada di depan yang sedang duduk dan seperti menunggu seseorang, tidak ada identitas lain. Hanya saja saat itu dia hanya mengatakan jika dirinya adalah Azoya Gabriella. Dia memiliki kalung. Hanya saja Zoya yang menyimpannya." Ucap Ronald yang membuat Zeyn terdiam.
"Kalung?" Gumamnya yang nampak di ingat-ingat oleh Zeyn.
"Apa Zoe juga pernah memiliki kalung saat ditemukan oleh paman Reyhan?" Tanya Luca.
"Aku tidak tau. Tapi aku akan mencari tau." Ucap Zeyn karena sepertinya dia memang tidak tau jika Zoe pernah memilikinya atau tidak.
"Lalu bagaimana jika memang mereka saling berhubungan? Mungkin saja memang Zoya dan Zoe adalah saudara kembar." Ucap Luca.
"Kalau begitu ini takdir." Ucap Zeyn dengan santainya.
"Siapapun Zoya, aku akan tetap menikahinya. Wajah itu tidak boleh di miliki siapapun, dan hanya aku yang harus memilikinya." Lanjutnya.
"Kau terobsesi dengannya."
"Aku tidak peduli." Jawabnya dengan santai yang akhirnya membuat kedua sahabatnya terdiam.
"Bagaimana dengan pria itu?" Tanyanya.
"Dia tidak ada hubungan apapun dengan Zoya, mereka bersahabat dan tidak ada perasaan apapun antara mereka, hanya saja mereka memang sangat dekat satu sama lain dan sering bersama, untuk itu banyak yang mengatakan jika mereka memiliki suatu hubungan." Ucap Ronald yang di mengerti oleh Zeyn.
Dia pun sebenarnya sudah tau jika memang Raka tidak memiliki hubungan apapun dengan Zoya, mereka saling sayang dan membela hanya sebatas sahabat saja.
"Kau yakin akan menikahinya dalam keadaan seperti ini?" Tanya Luca meyakinkan lagi agar Zeyn tidak salah langkah karena menurutnya ini adalah pemaksaan.
"Seperti ini apa?" Tanya Zeyn yang nampak tidak peduli.
"Kau memaksanya, dan menurutku kau akan membuatnya takut dan semakin ingin pergi darimu."
"Justru itu aku menikahinya, saat dia menjadi milikku dan menjadi istriku, maka dia akan terbiasa denganku."
Namun sebelum Luca berkata lagi, terlihat di depan pintu ada Zoya yang sedang memandangi mereka.
"Pergilah." Zeyn mengusir teman-temannya karena tau jika Zoya ingin berbicara dengannya.
Ronald dan Luca yang mengerti akhirnya pergi dari sana namun sebelumnya mereka tersenyum tipis kepada Zoya.
"Masuklah, Sayang." Zeyn menyalakan benda nikotin yang sedari tadi ada di tangannya hanya saja belum dia nyalakan.
Zoya berjalan ingin masuk namun entah kenapa dia menjadi ragu dan akhirnya tidak jadi masuk ke dalam ketika mengingat bagaimana kekejamannya dan bagaimana dia memaksa menciumnya.
Zoya membalikkan tubuhnya dan memilih untuk kembali ke kamarnya, sedangkan Zeyn tersenyum tipis dan mengerti jika memang Zoya masih takut dengannya.
"Kau akan terbiasa denganku, Zoya, kau adalah milikku." Gumam Zeyn yang menyesap rokoknya dan menghembuskannya.
Dia melihat foto Zoe yang ada di depannya.
"Jika dia pemberani dan tidak takut denganku, mungkin dia akan semakin sempurna seperti dirimu, Zoe." Gumamnya.