Zoya benar-benar lega ketika dia sudah berada di rumahnya, Raka sendiri sebenarnya khawatir, namun dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya karena dia memiliki tanggung jawab di pekerjaannya.
"Siapa sebenarnya dia? Kenapa dia tau namaku dan tiba-tiba saja ingin menikah denganku." Gumamnya.
"Zeyn Dante? Aku benar-benar tidak mengenalnya."
"Mereka benar-benar menyeramkan, para penjaganya memiliki pistol, apa dia pejabat? Atau orang penting?"
Zoya sedari tadi bertanya-tanya, bahkan dia mengingat keras nama Zeyn Dante yang mungkin saja dia adalah teman sekolahnya dulu, namun dia benar-benar merasa tidak memiliki teman atau mengenal nama itu. Lalu bagaimana bisa dia tiba-tiba menculiknya dan mengajaknya menikah.
Yang lebih aneh adalah semua orang seperti pura-pura tidak melihatnya dan tidak ada yang menolongnya.
"Dia sepertinya bukan orang sembarangan." Gumamnya dan memilih untuk membereskan baju-bajunya. Entah kenapa dia sepertinya harus pindah dari sini untuk sementara waktu.
Setelah membereskannya, dia tidur dan terpaksa untuk kehilangan pekerjaannya terlebih dahulu, dia bahkan juga harus mengambil tabungannya yang seharusnya untuk biaya kuliahnya.
Pagi-pagi, dia membawa motornya dan di ikuti Raka dari belakang.
"Sebenarnya siapa mereka sampai kau ketakutan seperti ini?" Tanya Raka yang bingung sendiri dan sebenarnya sangat penasaran dengan siapa yang di maksut oleh Zoya.
"Aku tidak tau, kau sudah memesankan tempat tinggal untukku sementara ini?" Tanya Zoya yang di angguki oleh Raka.
Mereka melajukan mobilnya menuju tempat di mana Raka sudah menyewakan tempat tinggal baru untuk Zoya.
Perjalanan mereka cukup jauh dan akhirnya sampai di tempat tujuan mereka.
"Jauh sekali, apa tidak ada tempat yang lebih dekat." Zoya bahkan mengomeli Raka karena dia mencarikan tempat tinggalnya lumayan jauh dan membuat dia bahkan la di jalan.
"Kau mengatakan ingin sembunyi, jika sembunyi tapi di dalam kota bukankah sama saja. Luar kota lebih baik." Ucap Raka sebagai alasa yang mmebuat Zoya menghela nafas panjangnya.
"Aku benar-benar penasaran, siapa lelaki asing yang membawamu? Apa kau tidak mengenalnya sebelumnya?" Raka bahkan bertanya lagi yang entah sudah ke berapa kalinya karena merasa penasaran.
"Aku benar-benar tidak tau, tapi dia mengatakan namanya Zeyn Dante." Ucap Zoya yanh membuat Raka mengerutkan dahinya.
"Dante? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu." Ucap Raka yang membuat Zoya mengerutkan dahinya.
"Kau mengenalnya?"
"Ck! Bukan! Maksutku aku pernah mendengar marga itu, dia seperti tidak asing." Ucap Raka namun sayangnya dia tidak bisa mengingatnya.
"Jangan-jangan dia musuhmu dan kau dan dia sedang ada masalah? Dia mengira aku kekasihmu dan balas dendam denganku." Ucap Zoya yang mengada-ngada.
"Enak saja! Jauh sekali pikiranmu." Raka jelas saja membantahnya. Pemikiran Zoya terlalu jauh bahkan dia saja tidak merasa memiliki musuh atau bertengkar dengan siapapun.
"Lalu siapa? Tidak mungkin dia tiba-tiba menculikku dan mengajakku menikah, aku melihat matanya benar-benar seperti tidak mau melepaskanku."
"Sebentar!" Raka akhirnya mengambil laptopnya dan mengetik nama Zeyn Dante karena dia merasa marganya benar-benar familiar untuknya.
Raka melotot ketika ternyata di internet ada yang bernama Zeyn Dante,
"Apa ini orangnya?" Tanya Raka membalikkan laptopnya.
Zoya terkejut dan mengangguk, "Ya, dia orangnya! Bagaimana dia bisa ada di internet?" Tanya Zoya.
"Dia adalah seorang pengusaha muda yang sangat kaya raya, bahkan dia memiliki hotel di berbahai negara. Bagaimana kau bisa mengenalnya?" Tanya Raka terkejut, pantas saja dia tidak asing dengan marga itu.
"A-apa? Aku tidak tau." Zoya bahkan melihat lagi laptop Raka dan melmbacanya dengan jelas dan ternyata pria yang semalam menculiknya memang dia, tapi dia tidak tau kenapa dia menculiknya.
"Sebelumnya kau benar-benar tidak pernah bertemu dengannya?" Tanya Raka yang meminta Zoya untuk mengingatnya.
"Aku benar-benar tidak pernah melihatnya dan bertemu dengannya." Zoya sangat yakin jika memang dia tidak pernah bertemu dengannya dan merasa tidak memiliki urusan dengannya.
"Lalu bagaimana bisa dia—
Belum Raka meneruskan perkataannya, pintu ruangan Zoya terbuka yang ternyata pria yang baru saja di bahas oleh mereka datang.
Zoya bahkan juga terkejut karena Zeyn bisa menemukannya.
Zeyn tersenyum tipis dengan Zoya yang terlihat ketakutan.
Zoya lebih terkejut saat anak buah dari Zeyn memegangi Raka.
"Seharusnya kau tidak membirkan siapapun bersamamu kecuali denganku." Ucap Zeyn.
"Jangan menyakitinya!" Raka bingung namun dia benar-benar takut jika sahabatnya akan di sakiti olehnya.
"Dia calon istriku, tentu saja aku tidak akan menyakitinya." Ucap Zeyn lalu mengkode anak buahnya untuk membawa Raka sedangkan dia mendekati Zoya dan ingin membawanya.
"T-tunggu! Jangan menyakitinya." Ucap Zoya yang melihat Raka sang sahabat di bawa olehnya.
"Tidak. Jika kau menurut kepadaku." Ucap Zeyn yang membuat Zoya bahkan mengeluarkan air matanya, ekspresinya benar-benar terlihat ketakutan dengan Zeyn yang semakin mendekatinya.
"Apa sebenarnya maumu dariku? Kita tidak saling mengenal. Aku tidak mengenalmu. Aku yakin kau salah paham dan salah orang." Zoya masih meyakinkan Zeyn yang sepertinya dia salah orang.
Raka ingin memberontak namun anak buah Zeyn terpaksa memukul punggungnya sehingga dia jatuh pingsan.
"Raka!" Zoya ingin menghampiri sahabatnya namun Zeyn menangkapnya dan bahkan memeluknya.
Zeyn lagi-lagi menggendongnya seperti karung beras yang membuat Zoya kembali memberontak.
"Turunkan aku, tolong!" Zoya bahkan berteriak hanya saja Zeyn terpaksa menurunkannya namun bukan untuk melepaskannya, tapi dia memukul tengkuk belakangnya sehingga Zoya pun jatuh pingsan.
"Kau benar-benar gila, Zeyn!" Cibir Ronald yang tidak menyangka sahabatnya akan melakukan hal seperti ini kepada wanita untuk yang pertama kalinya hanya karena dia mirip dengan mendiang kekasihnya.
Zeyn tidak memperdulikan perkataan sahabatnya dan hanya melewatinya,
Dia kini tidak peduli apapun karena yang dia tau kini hanya ingin menjadikan Zoya miliknya.
*****
Saat hampir sore, Zoya terbangun dari pingsannya, dia melihat sekitar dan terkejut jika dia berada di kamar kemaren.
"Sudah bangun?" Zoya lebih terkejut mendengar suara Zeyn yang ternyata dia di sana sedang duduk di sofa dengan bertelanjang da da dan menikmati minumannya.
Zoya benar-benar ketakutan dan reflek berdiri karena takut dengan Zeyn.
"Aku tidak mau menikah denganmu. Kenapa kau melakukan ini padaku." Ucap Zoya yang bahkan lagi-lagi menangis.
"Kau milikku, Zoya!"
"Aku tidak mengenalmu, bagaimana bisa kau mengatakan aku milikmu di mana aku tidak pernah bertemu denganmu." Ucap Zoya lalu mengambil pisau yang ada di sampingnya.
Dia mengatahkan pisau itu kepada Zeyn namun dia malah tersenyum tipis.
"Bukan seperti itu cara menggunakannya, Sayang." Zeyn bisa melihat tangan Zoya gemetar ketika memegang pisau itu.
"Jangan mendekat atau aku akan menusukmu." Ucap Zoya yang bahkan kini sudah sangat terpojok di tembok namun Zeyn tetap mendekat.
Zoya terkejut ketika Zeyn bahkan tidak takut dengan pisaunya yang sudah menempel di da danya.
"Jangan mendekat." Zoya semakin terkejut ketika Zeyn malah menekan pisau itu sehingga da danya berdarah karena pisaunya.
Zoya reflek mendorong tubuh Zeyn agar menjauh darinya lalu melepaskan pisau yang ada di tangannya karena dia bahkan tidak pernah melukai orang sebelumnya.