Zeyn bahkan melempar tubuh Zoya di atas ranjang yang membuat dia meringis sekilas namun tak lama karena Zeyn sudah membuat dia terkejut lagi ketika tubuhnya di bawah kungkungannya.
"Kau salah orang! Aku yakin kau salah orang. Aku tidak mengenalmu sebelumnya. Tolong jangan menyakitiku dan bertindak macam-macam denganku." Zoya bahkan memohon karena dia benar-benar takut sekarang.
Zeyn menatap wajah dan mata Zoya. Semuanya benar-benar terlihat sama. Dia membuka baju Zoya yang melihat tanda lahir di bahunya yang ternyata tidak ada dan membuat dia sebenarnya sedikit kecewa.
Dia baru menyadari jika di depannya memang bukan Zoe, namun hanya wanita yang mirip dengannya.
Zoya sendiri semakin ketakutan ketika Zeyn tiba-tiba saja membuka bajunya dan melihat bahunya yang entah apa yang dia cari.
"Bagaimana bisa wajahmu sangat mirip dengannya?" Ucap Zeyn yang terus memandangi wajah Zoya.
"D-dia? Siapa? Aku tidak memgerti apa maksutmu." Zoya jelas saja tidak mengerti apapun tentang apa yng dikatakan oleh Zeyn
"Jangan tinggalkan aku lagi." Bukannya menjawab, Zeyn malah mengatakan itu dan jelas saja membuat Zoya semakin bingung.
"Dengar! Tolong lepaskan aku, kita tidak saling mengenal, aku benar-benar tidak tau siapa dirimu." Zoya lagi-lagi memohon karena
Zeyn tidak menjawab dan hanya memandangi Zoya sedari tadi yang membuat dia sebenarnya menjadi merinding sendiri.
"Kau benar-benar salah orang, mungkin bukan aku, namaku adalah—
"Azoya Gabriella? Itu namamu bukan?" Zeyn menjawab lebih dulu yang membuat Zoya menelan salivanya dengan susah.
"S-siapa kau?" Zoya mungkin saja melupakan pria yang ada di depannya karena dia mengetahui namanya, tapi sejujurnya, Zeyn adalah pria paling tampan yang pernah dia temui, namun dia benar-benar tidak mengenalnya.
"Calon suamimu, Zeyn Dante." Ucap Zeyn lalu berdiri dari tubuh Zoya yang tadi sempat di kukung olehnya.
"Calon suami? Apa maksutmu? Kita tidak mengenal dan aku tidak mau menikah denganmu." Ucap Zoya.
"Kita akan menikah lusa, Sayang. Persiapkan dirimu."
"Dan jangan pernah mencoba kabur dan lari meninggalkanku, karena aku bisa menemukanmu di manapun kau berada." Ucap Zeyn sebelum pergi dari sana.
"Tidak! Aku tidak mau menikah denganmu. Aku tidak mau." Zoya berteriak namun Zeyn tidak menghiraukannya.
"Dia pria gila! Aku tidak bisa berada di sini." Gumam Zoya yang melihat Zeyn sudah pergi dari sana.
Dia melihat pintu kamar yang di tempati terbuka. Dia langsung pergi dari sana namun dia bersembungi ketika di sana ada Zeyn yang sedang berbicara dengan dua orang yang sepertinya adalah teman-temannya.
Dia melewati jalan lain dan turun ke bawah. Tanpa di sadari oleh Zoya, Zeyn melihat semua kegitannya bahkan sedari keluar dari kamar, dia memandangi Zoya yang turun dari tangganya dan tersenyum tipis.
"Ini terlalu mendadak baginya, kau seharusnya memperkenalkan dirimu terebih dahulu dan mendekatinya dengan normal, bukan dengan perilaku gila seperti ini." Ucap Luca yang sebenarnya tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya.
"Kau tau mendekati seorang wanita buka tipe-ku, jika aku sudah menyukainya. Maka dia harus menjadi milikku." Ucap Zeyn dengan santai dan tetap membiarkan Zoya yang berusaha kabur dari mansion besarnya.
"Dia bukan Zoe." Ucap Ronald memberitahu dan mengingatkan kembali kepada Zeyn.
"Ya, aku tau! Tapi aku hanya ingin wajah itu." Ucap Zeyn lalu nampak berfikir sejenak.
"Cari tau tentangnya, aku curiga jika dulu Zoe memiliki saudara kembar karena namanya hampir mirip." Lanjutnya lalu menyusul Zoya yang sudah jauh dari mansionnya.
Kedua sahabatnya hanya bisa menurut saja jika Zeyn sudah menginginkan sesuatu, maka dia memang harus mendapatkannya.
Sedangkan Zoya masih berlarian yang entah ke mana, dia tidak peduli dengan jalanan yang tidak dia kenal asalkan dia bisa keluar dari sana.
Zoya sejujurnya sangat takut karena diansion Zeyn memiliki banyak anak buah dengan senjata di setiap orang pasti memilikinya.
Dia yang sebelumnya jauh dari orang-orang seperti itu tentu saja merasa ketakutan dan benar-benar tidak mau terlibat di sana.
"Raka. Aku harus menghubunginya." Zoya mengambil ponselnya yang ada di sakunya, beruntung karena Zeyn tidak mengambilnya sehingga dia bisa menghubungi sahabatnya.
"Raka, tolong jemput aku." Zoya terlihat sangat senang karena Raka langsung mengangkatnya.
"Jemput? Jemput ke mana? Bukannya kau sedang bekerja?" Tanya Raka yang bingung sendiri.
"Akan aku ceritakan nanti, sekarang cepat jemput aku. Aku akan memberikan lokasiku." Ucap Zoya langsung mematikan sambungan telefonnya dan memberikan lokasinya.
Dia sedari tadi gelisah dan bahkan menoleh ke segala arah karena takut jika Zeyn atau anak buahnya menemukannya.
Cukup lama Zoya menunggu dan akhirnya terdengar sebuah motor yang ternyata dia adalah Raka. Dia benar-benar senang dan langaung naik ke atas motor.
"Bagaimana kau bisa ada di sini?" Tanya Raka yang sedari tadi saat melewati jalan ini pun dia sangat heran karena ini adalah jalanan pemilik orang-orang kaya.
"Ada orang gila yang menculikku, dia bahkan memaksa untuk menikahiku lusa, sepertinya aku harus sembunyi beberapa hari ini." Ucap Zoya memberitahu yang jelas saja membuat Raka terkejut.
"Siapa? Lalu bagaimana dengan kuliahmu?" Tanya Raka.
"Aku tidak peduli, aku hanya ingin aman terlebih dahulu, mereka menyeramkan." Zoya bahkan rasanya ingin menangis namun terasa tidak bisa krena masih cukup shock dengan apa yang sudah terjadi kepadanya malam ini.
Untuk malam ini dia sangat berayukur bisa kabur dari pria seperti Zeyn, namun entah kenapa dia memiliki filing jika Zeyn tidak akan melepaskannya.
Sedangkan Zeyn mengepalkan tangannya ketika Zoya berboncengan dengan pria lain.
Dia sedari tadi sebenarnya sudah berada di sana dan mengawasi Zoya, hanya saja dia ingin tau apa yang akan dia lakukan untuk lari darinya dan ternyata dia meminta pria lain untuk menjemputnya.
"Aku ingin info selengkapnya tentang Zoya, masa lalunya dan orang tuanya, cari tau juga siapa yang sudah berani dekat dengan wanitaku." Ucap Zeyn yang di angguki saja oleh kedua sahabatnya.
Mereka sedari tadi juga ikut dengan Zeyn ketika Zoya bersembunyi dari mereka.