Bab 10

1111 Kata
"Zeyn sudah benar-benar kehilangan akal semenjak kehilangan Zoe" ucap Luca yang sebenarnya kasihan sendiri melihat Zoya yang dipaksa dan ancam seperti itu oleh Zeyn. "Tapi aku percaya jika Zeyn serius dengannya dan akan membuatnya bahagia, hanya saja dia memang sudah terobsesi dengannya." Ucap Ronald. Dia melihat Zeyn yang menunggu pengantin perempuannya dengan sabar. "Kau yakin dia tidak kabur? Kau menakutinya." Ucap Luca sedikit berbisik. "Di tidak akan bisa kabur, untuk pertama mungkin dia takut, tapi jika kita sudah menikah, aku akan pastikan dia mencintaiku dan tidak bisa lepas dariku." Ucap Zeyn yang akhirnya membuat Luca terdiam. "Sudah waktunya, Tuan." Zeyn menoleh ke arah pintu masuk di mana belum juga terlihat Zoya yang membuat dia menjadi takut sendiri. Namun tak lama dia tersenyum lega ketika melihat Zoya yang akhirnya datang dengan gaun putihnya, dia berjalan dengan anggun meskipun tidak ada senyuman yang menghiasi wajahnya. Zoya kali ini hanya bisa pasrah karena dia sendiri tidak mau siapapun menjadi korban karena dirinya. Zeyn bahkan tidak peduli dengan wajah Zoya yang tidak ada senyuman sama sekali di wajahnya, dia hanya tau jika hari ini Zoya akan menjadi miliknya. Proses pernikahan mereka benar-benar terjadi dan akhirnya mereka sudah resmi menjadi suami istri. Zeyn semakin tersenyum lebar dan merengkuh tubuh Zoya. Zeyn ingin menciumnya namun Zoya memalingkan wajahnya. Zeyn tidak marah dan hanya tersenyum lalu mencium keningnya. Semua sahabat dan anak buah Zeyn bertepuk tangan dengan meriah karena bosnya akhirnya memiliki wanita yang di inginkan olehnya. Setelah pernikahan, Zoya bahkan tidak berselera untuk foto-foto karena pernikahan ini bukan dia inginkan. Dia memilih untuk kembali ke kamarnya saat Zeyn menemui teman-temannya. "Pengantinmu kabur." Ucap Ronald yang membuat Zeyn melihat ke arah punggung Zoya yang memang sudah menjauh. "Dia mungkin mempersiapkan malam pertama kita." Ucap Zeyn dengan santai dan percaya jika Zoya tidak akan pernah ke mana-mana. Mereka akhirnya hanya diam saja dan memilih untuk membahas soal pekerjaannya. Setelahnya barulah Zeyn menghampiri kamar Zoya yang jelas saja membuat dia terkejut karena dia baru keluar dari kamar mandi. "Apa yang kau lakukan di sini?" "Aku hanya mengatakan jika kamarmu tidak di sini, mulai sekrang kau pindah ke kamarku." Ucap Zeyn. "Tidak! Aku tidak mau." "Kau harus mau krena kau sekarang istriku." Ucap Zeyn. "Kau yang memaksaku untuk menjadi istrimu." Zeyn menghela nafas panjangnya karena memang dia harus banyak bersabar untuk menghadapi Zoya. "Dengar, Zoya! Tanpa alasan aku memaksamu dan ingin menikahimu. Aku mencintaimu dan hanya ingin membahagiakanmu," "Bahkan aku sama sekali tidak bahagia saat menikah dengan pria monster sepertimu." Kata-kata Zoya selalu menghina dan menolak Zeyn, jika itu orang lain bahkan mungkin sedari kemaren Zeyn tidak akan membiarkan dia hidup. Namun Zeyn benar-benar tidak bisa marah dengannya. "Kau akan terbiasa nantinya." Ucap Zeyn pada akhirnya lalu memegang tangan Zoya yang membuat dia terkejut dan reflek menariknya agar terlepas. "Aku hanya ingin mengajakmu ke kamar, ini bukan kamarmu lagi. Dan akan lebih baik jika kau menurut kepadaku." Ucap Zeyn. Zoya benar-benar membenci pria yang ada di depannya, dia tidak mau memiliki suami seperti ini dan dalam keadaan seperti ini, bahkan dua hari yang lalu dia masih bisa hidup dengan damai, entah kenapa nasib merubahnya dengan cepat dan akhirnya terjerat dengan obsesi sang mafia ini. "Aku sudah mau menikah denganmu, jadi kau juga harus menghormatiku karena aku ingin mengajukan beberapa syarat untukmu." Ucap Zoya pada akhirnya yang membuat Zeyn tersenyum. "Mintalah apapun." Ucap Zeyn. "Aku tidak mengenalmu dan belum terbiasa denganmu, jadi aku tidak mau satu kamar denganmu." Ucap Zoya "No se-x, no kiss, and no touching, sebelum aku bisa benar-benar menerimamu dan terbiasa denganmu. Untuk gantinya aku akan menuruti semua perkataanmu." Lanjutnya yang membuat Zeyn malah tersenyum. "Lalu bagaimana jika kau yang menginginkanku?" Ucap Zeyn mendekati Zoya yang membuat dia reflek mundur. "Itu tidak akan terjadi." Ucap Zoya dengan yakin namun dia terus mundur karena Zeyn yang terus mendekatinya, Zoya bahkan hampir terjatuh ke belakang jika saja Zeyn tidak menangkapnya. Zoya juga reflek memegang dan mengalungkan tangannya ke leher Zeyn karena takut terjatuh. "Bahkan kau sendiri belum bisa jika tidak bersentuhan fisik denganku." Ucap Zeyn yang membuat Zoya tersadar dan reflek melepaskan tangannya dari leher Zeyn dan bahkan berusaha mendorongnya. Jelas saja Zeyn tidak melepaskannya dan tetap merengkuh tubuh Zoya. "Aku akan mengharrgai mu dengan caraku, tapi aku akan menyetujui jika tidak akan ada se-x di antara kita jika kau tidak mengizinkannya. Tapi untuk tidak satu kamar, tidak berciuman dan tidak saling bersentuhan fisik, aku tidak bisa." Ucap Zeyn tersenyum dan masih merengkuh tubuh Zoya. "Jika tidak ada ciuman dan bahkan tidak ada sentuhan fisik, kita tidak akan bisa dekat satu sama lain, dan kau tidak akan bisa terbiasa denganku jika kita tidak satu kamar." Lanjutnya yang membuat Zoya merasa kesal sendiri. "Baiklah no se-x and kiss, aku tidak suka kau menciumku sembarangan dan secara tiba-tiba, bagiku kau masih orang asing bagiku. Rasanya sangat aneh jika kau menciumku yang bahkan baru dua hari ini aku temui." Ucap Zoya yang masih ingin melakukan negosiasi. "Kau mengatakan akan menuruti apapun perkataanku, jika kau menghargaiku, kau seharusnya menyetujuinya." Ucap Zoya yang membuat Zeyn terdiam. "Sampai kapan?" Tanya Zeyn yang membuat Zoya akhirnya berfikir keras. "Sampai aku bisa menerimamu." Jawabnya. "Itu hal yang tidak pasti," ucap Zeyn yang tidak mau menerimanya. "Aku membutuhkan waktu, aku tidak bisa langsung menyukaimu dan menerimamu jika saja kau selalu memaksaku seperti ini, biarkan aku berasa nyaman denganmu agar aku bisa cepat menerimamu sebagai suamiku," ucap Zoya yang bahkan memohon kepadanya karena dia benar-benar belum siap dengan semua ini. "Baiklah, aku menyetujuinya." Ucap Zeyn pada akhirnya yang jelas saja membuat Zoya merasa lega. "Tapi sebelum itu, biarkan aku menciumu dan aku ingin kau membalasnya." Ucap Zeyn tersenyum namun membuat Zoya melotot. "A-apa? Tidak! Aku tidak mau karena aku belum siap," ucap Zoya yang menolak dan bahkan memberontak untuk di lepaskan oleh Zeyn. "Kita bahkan sebelumnya pernah berciuman. Zoya! Apa kau tidak ingat dan tidak merasakannya?" Ucap Zeyn nakun Zoya hanya menggigit bibir bawahnya. "Tidak sekarang, aku mohon jamgan memaksaku dan akhirnya membuat aku semakin tidak merasa nyaman denganmu." "Kau mengatakan jika ingin menjadikanku ratu di dalam istanamu, kalau begitu turuti aku agar aku bisa membiasakan diriku nantinya." Ucap Zoya yang akhirnya Zeyn tersenyum tipis. "Baiklah, tidak ada ciuman bibir, tapi aku masih bisa mencium di sini." Ucap Zeyn menunjuk ke arah pipi Zoya dan mencuri ciumannya di pipinya yang membuat Zoya terkejut. "Sekarang bersiaplah dan ayo kita ke kamar," ucap Zeyn tersenyum dan akhirnya melepaskan Zoya dan keluar dari sana. Zoya bisa bernafas dengan lega meskipun dia sedikit kesal dengan Zeyn yang masih saja memaksanya, namun setidaknya dia bisa terbebas dengan Zeyn karena dia berjanji tidak akan memaksanya untuk melayaninya dan menciumnya. "Dia sepertinya pria gila! Nasibku sangat tidak beruntung." Gumamnya dengan wajah sendu namun hanya busa menerimanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN