Hari itu juga, Zoya terpksa harus pindah ke kamar Zeyn karena kesepakatannya.
Zoya yang sebelumnya hkan tidak pernah berduaan dengan pria seperti ini dikamar, jelas saja merasa canggung meskipun Zeyn kini berstatus suaminya.
Zeyn hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan karena tingkah Zoya yang seperti bingung harus berbuat apa ketika berada di kamarnya.
Dia membuka bajunya yang membuat Zoya terkejut dan reflek memalingkan wajahnya.
"Aku membutuhkan ponsel dan laptopku, aku masih kuliah dan tidak mau berhenti ataupun cuti." Ucap Zoya memulai pembicaraan dan mwmbuat Zeyn tersenyum.
Zeyn mengambil ponsel baru di lemari penyimpanannya beserta laptop baru.
"Ini, semua data dari ponsel dan laptop lamamu sudah aku salin di sini," ucap Seyn yang akhirnya membuat Zoya menoleh.
"Di mana ponsel lamaku? Aku masih nyaman dan suka dengan ponsel lamaku, bagaimanapun aku membelinya dari hasil jerih payahku." Ucap Zoya yang tidak suka dengan ponsel dan laptop barunya.
"Kau adalah istri dari seorang pengusaha, Zoya! Bahkan namamu sudah bukan Azoya Gabriella, tapi berganti menjadi Azoya Dante. Kau harus membiasakan diri memakai barang-barang mewah sesuai dengan statusmu, Nyonya Dante." Ucap Zeyn memberitahu.
"Setiap ke manapun akan ada supir yang mengawalmu dan ini." Zeyn memberikan benerapa kartu untuk Zoya.
"Kau boleh membeli apapun yang kau inginkan," ucap Zeyn tersenyum yang membuat Zoya malah merasa aneh dan seperti berlebihan.
"Ini terlalu berlebihan, aku sudah biasa—
"Kau tidak boleh menggunakan kebiasaan lamamu mulai hari ini, kau harus membiasakan dirimu bukan lagi Azoya Gabriella." Ucap Zeyn yang membuat Zoya menghela nafas panjangnya.
"Terserah padamu saja." Ucap Zoya akhirnya mengalah,
"Dan satu lagi, Sayang." Ucap Zeyn namun membuat Zoya terkejut karena Zeyn mengukungnya sehingga mereka kini sangat dekat.
"Jangan terlalu dekat denganku." Zoya memegang tubuh Zeyn dan mendorongnya namun Zeyn tidak bergerak sama sekali.
"Ingat perjanjiam kita." Zoya malah mengingatkan Zeyn tentang perjanjiamnya yang bahkan baru saja dia sepakati.
"Hm, aku selalu mengingatnya, dan tidak ada larangan ketika aku mendekatimu seperti ini." Ucap Zeyn tersenyum yang membuat Zoya memalingkan wajahnya.
Sejujurnya wajah tampan Zeyn membuat Zoya sedikit gugup jika posisinya sangat dekat seperti ini.
"Kau harus ingat jika kini kau adalah istriku, kau milikku dan aku harap kau bisa membatasi jarak antara kau dengan pria lain saat di kampus, jika saja aku tau ada yang mendekatimu, Maka aku akan—
"Aku tau dan sebaiknya kau jangan terlalu mengekangku karena aku akan merasa tidak nyaman denganmu, biarkan aku dekat dengan teman kampusku dengan sewajarnya." Ucap Zoya yang mengerti apa yang ingin dikatakan oleh Zeyn kepadanya soal batasannya terhadap lelaki di luaran sana.
Zeyn tersenyum dan akhirnya membiarkan saja. Dia mencium sekilas pipi Zoya karena dia memalingkan wajahnya dan tidak menatapnya, jelas saja membuat Zoya tadinya terkejut dan mendorong Zeyn.
"Bersiaplah untuk makan siang, aku menunggumu di bawah." Ucap Zeyn yang mengganti sebentar pakaiannya lalu keluar dari sana.
Melihat Zeyn keluar dari kamarnya membuat Zoya benar-benar lega. Berduaan dengan Zeyn di satu ruangan membuat Zoya seperti merasakan sesak nafas.
Zoya keluar dari kamar dan turun ke bawah, memang pernikahannya hari ini di adakan di mansion saja. Untuk itu dia tadi langaung kabur ke kamarnya ketika Zeyn mengobrol dengan temannya.
Zeyn tersenyum melihat istrinya yang berpakaian santai turun ke bawah.
Zoya sendiri melihat-lihat sekitar karena mansion Zeyn termasuk sangat luas.
"Aku akan mengajakmu jalan-jalan di sekitar mansion jika kau ingin." Tawar Zeyn yang mungkin saja Zoya ingin jalan-jalan fi sekitar mansionnya.
"Tidak! Jikapun akh ingin. Aku akan pergi sendiri." Zoya jelas saja menolak dan tidak mau berduaan dengan Zeyn meskipun itu berkeliling mansion.
"Mansion ini milikmu, kau boleh melakukan apapun yang kau suka," ucap Zeyn.
"Apa kau memiliki istri lain selain aku? Aku melihat banyak pakaian dan barang-barang perempuan di lemarimu, dan aku tau jika itu sidah pernah di pakai." Ucap Zoya yang membuat Zeyn terdiam.
Itu semua memang milik Zoe, namun dia tidak memiliki pemikiran untuk memindahkanmya.
"Aku bukan pecinta sembarangan wanita, dalam hidupku aku hanya akan menikahi satu wanita." Jawab Zeyn.
"Untuk baju itu, kau bisa menggunakannya." Lanjutnya.
"Aku tidak mau! Akan lebih baik jika aku menggunakan baju-baju lamaku." Ucap Zoya yang akhirnya Zeyn tidak menanggapi lagi krena dia pun tidak mau memindahkan barang-barang Zoe dari kamarnya.
Zoya melihat Zeyn yang hanya diam saja dan sejujurnya membuat dia muak sendiri karena mengira jika pakaian itu adalah milik mantan kekasihnya namun dia ingin tetap mengenangnya. Untuk itu Zeyn hanya diam saja dan tidak mau memindahkannya.
"Seharusnya dia menikahi mantannya saja, kenapa aku yang jadi korban." Batinnya.
Mereka berdua benar-benar hanya terdiam dan menikmati makanan mereka, setelahnya, Zoya bahkan langsung ke kamarnya lagi.
"Aku ada pekerjaan, kau istirahat saja." Ucap Zeyn karena memang dia memiliki pekerjaan lain.
"Ya, akan lebih baik jika kau sibuk terus dan tidak perlu kembali, itu akan membuatku senang." Ucap Zoya yang membuat Zeyn tersenyum tipis.
"Sepertinya kau marah aku sibuk, baiklah aku akan cepat menyelesaikan pekerjaanku dan kembali dengan cepat." Ucap Zeyn tersenyum miring lalu pergi dari sana.
Zoya tidak pesuli dan masuk ke dalam kamarnya. Dia sedari tadi ingin menghubungi Raka, sahabatnya karena penasaran bagaimana kabarnya.
"Raka? Astaga. Syukurlah kau mengangkat telefon dariku, aku sangat menghawatirkanmu." Ucap Zoya yang senang karena Raka mengangkat telefon darinya.
"Aku baik-baik saja! Bagaimana denganmu? Apa yang Zeyn lakukan denganmu? Dia mengatakan jika hari ini kalian akan menikah?" Raka bahkan mencecar banyak pertanyaan karena dia sendiri jauh lebih khawatir dibandingkan dengan Zoya.
"Dia memberitahumu?" Tanya Zoya terkejut.
"Ya, kemaren saat dia membawaku jauh darimu, dia mengatakan akan menikahimu hari ini."
"Sebenarnya apa yang terjadi, Zoy? Dia terlihat benar-benar ingin memilikimu. Bagaimana bisa?" Tanya Raka yang bahkan membuqt Zoya terdiam karena dia sendiri sepertinya tidak bisa menceritakannya di telefon.
"Besok saat kuliah aku akan menceritakannya." Ucap Zoya pada akhirnya
"Aku menghubungimu hanya memastikan kau tidak apa-apa. Dia tidak menyakitimu kan?" Tanyanya.
"Tidak! Bahkan aku di beri makan enak dan diberi uang,"
"Lebih terkejutnya lagi, dia melunasi uang kuliahku." Jawabnya yang jelas saja membuat Zoya terkejut.
Zoya bahkan terdiam, dia masih bingung kenapa Zeyn melakukan semua itu, dia saja tadinya menyangka jika Zeyn tidak akan melepaskan Raka karena dia kemaren sudah berani kabur dengannya.
"Baiklah, kita bertemu besok." Zoya memilih untuk cepat mengakhiri sambungan telefonnya.
"Apa sebenarnya maksut semua ini? Ini memang sangat aneh jika Zeyn tiba-tiba saja mencintaiku dan langsung menikah denganku, dia seperti sangat terobsesi denganku tapi aku merasa ada yang tidak beres." Gumam Zoya.