Julius - Tamu tidak Diundang

1091 Kata
Julius sedang mengerjakan tugas kuliah ketika getaran ponsel di atas meja menarik perhatiannya. Dia mengecek layar ponselnya dan melihat nama Paul yang sedang menelepon. “Halo.” “Kamu ada di mana?” ujar Paul, sedikit teredam karena angin. “Kalau masih ada di kampus, para anggota masih menunggu untuk memulai sesi latihan. Kita masih punya setengah dari waktu yang ada di jadwal.” Cowok itu mengecek jam di ponselnya. “Oke, aku akan ke sana. Tunggu sebentar.” Paul menutup teleponnya dengan semangat. Julius membereskan buku-bukunya lalu melangkah ke luar dari ruangan itu, berjalan menuju lapangan. Di sana, adik kelasnya itu terlihat sibuk memberi arahan pada para anggota yang berkumpul. Sekarang mereka sudah terbagi menjadi dua tim dan bersiap untuk bertanding. “Ini yang mereka bicarakan pada tim?” Cowok itu mengangguk. “Mereka hanya memberi tahu soal formasi dan pembagian tim latihan, lalu pergi agar kami mengecek sendiri bagaimana hasilnya. Kalau memang bagus, kita mungkin bisa memasukkan ini dalam formasi pertandingan nanti.” “Oke.” Julius memperhatikan setiap anggota yang sudah mulai sengit mempertahankan bagian lapangan masing-masing. Setiap tim menonjol dengan salah satu aspek yang paling penting dalam permainan olahraga, yaitu menyerang dan bertahan. Kedua tim berjuang untuk kemenangannya dengan mengandalkan salah satu aspek, sekaligus mempelajari secara langsung bagaimana caranya bertahan dan menyerang dari satu sama lain. Dia tidak tahu kalau orang-orang itu bisa membuat formasi seperti ini. Cowok itu hanya perlu mengubah sedikit agar latihan tim mereka menjadi lebih efektif. “Jeremy kuat di bagian pertahanan, larinya juga cukup cepat, daripada di posisi belakang yang memanfaatkan bertahan, sepertinya dia cocok menjadi pelari di tim satu.” Julius mengalihkan pandangannya ke sosok kurus di sebelah Jeremy. “Ress juga, dia sangat lincah dan punya pertahanan yang baik, sepertinya dia akan cocok jika dijadikan pengalih perhatian.” Paul terlihat serius. “Aku setuju. Mereka sudah beberapa kali meminta untuk berganti posisi pada pelatih, tapi ditolak. Saat itu kemampuan mereka belum terlalu menonjol seperti sekarang.” Kedua cowok itu berdiskusi mengenai beberapa anggota lain sambil memperhatikan latih tanding para anggota. Sejauh ini, posisi mereka seimbang, tapi tim penyerang kelihatan bertambah kuat seiring pertandingan berlanjut. Casey tiba-tiba mendatangi mereka dengan ekspresi wajah panik. “Tyler dan Dean, mereka datang, kamu harus pergi!” Julius merasakan dirinya kembali membeku dan kemudian berniat untuk segera pergi, tapi melihat raut wajah Casey yang menatap bagian belakangnya, dia tahu kalau sudah terlambat untuk melakukannya. Cowok itu tiba-tiba tersentak ketika sesuatu menendang bagian belakang lututnya hingga dia jatuh bersimpuh. Teriakan adik kelasnya menjadi satu-satunya suara saat sebuah tendangan lain bersarang di punggungnya dan menahannya dalam posisi menelungkup. Pipi kanannya terasa perih karena mengenai hamparan rumput buatan dengan keras. Julius bersyukur karena memakai pakaian yang lebih tebal dari biasanya sehingga bagian depan tubuhnya tidak terlalu sakit. “Nah, kenapa aku melihat sosok buangan di tempat latihan kita? Tim kita sudah punya aturan soal ini kan?” tanya sebuah suara yang berasal dari atasnya, menginjakkan punggungnya lebih keras. “Apa kalian tidak punya ruang lagi di otak masing-masing untuk mengingat aturan yang semudah itu? Hah!” "Aku sudah minta ijin pada Tyler dan Dean, Nick. Kami sudah mendapat jadwal terpisah untuk latihan karena sudah mendekati pertandingan." jelas Paul terlihat cukup tenang. "Tolong lepaskan dia." “Benar seperti itu? Aku tidak tahu.” Nick mengubah nada suaranya menjadi sinis. “Kalian pikir aku akan berkata begitu? Aku sama sekali tidak peduli jika berkaitan dengan sampah di bawah kakiku. Aturan tetaplah aturan.” “Harusnya kamu bicarakan itu pada anak buahmu, kenapa menyalahkan kami?” Julius mengangkat kepalanya sedikit agar bisa melihat Paul yang merangkul Casey. Tyler dan Dean tidak terlihat, sehingga dia kembali mengangkat kepalanya, tapi kaki Nick kemudian beralih menginjak kepalanya agar dia tidak bisa melihat apapun. “Aku tidak berniat untuk menyakiti orang lain, jadi sebaiknya kalian pergi,” ujar Nick dingin. Dia mengangkat kakinya agar bisa berbalik pada para anggota lain. “Kalian juga, pergi dari sini.” "Maaf, Julius," bisik Paul terdengar, disusul dengan langkah kaki mereka dan para anggota lain yang pergi tanpa suara. “Bangun, sampai kapan kamu mau berbaring?” Julius bangun secara perlahan, memperhatikan kaki Nick yang masih diam di tempat, berjaga kalau saja dia akan kembali ditendang. Saat akhirnya bisa berdiri, dia dapat menatap sosok yang sebelum ini adalah seseorang yang paling dekat dengannya, tapi sekarang adalah ketua dari orang-orang yang membencinya. Cowok itu kembali menendangnya. “Siapa bilang kamu boleh menatapku? Menunduk. Sepertinya kamu sudah melupakan pelajaran terakhir kali sehingga mulai berani.” Nick mulai menamparnya sambil terus berkata. “Apa aku perlu mengingatkan semua dosa-dosamu lagi?” Julius tidak melakukan apapun dan hanya tetap menunduk. “Aku bertanya, kamu harusnya menjawab. Apa aku perlu mengingatkanmu lagi?” Dia menggeleng. “Aku masih mengingatnya.” “Lalu, kenapa kamu masih berani untuk datang ke sini? Kita sudah sepakat. Para adik kelas tidak akan mengubah kesepakatan waktu itu.” Suara langkah kaki terdengar dari belakang Julius. Tanpa dikomando, dua sosok segera menahan masing-masing tangannya, memegangnya dengan erat agar dia tidak bisa kabur. Dean melemparkan alat pemukul ke Nick yang menerimanya dengan mudah. Cowok itu menatap sosok di hadapannya memainkan pemukul itu dengan ringan. “Kita sudah sepakat.” ujar Nick lagi, menyentuh pelipisnya dengan ujung pemukul, lalu ke sisi perutnya dan ke bagian lain selama dia berbicara. "Apa kamu sudah lupa? Atau kamu masih menganggap remeh kami?" "Tidak." Nick mulai menggunakan pemukulnya. “Lalu kenapa? Kamu berusaha memperbaiki nasibmu dengan melatih para anggota junior? Atau kamu hanya ingin merasakan sedikit kekuasaan dan berdiri di lapangan lagi?” Jika Julius masih sama dengan dirinya yang dulu, dia akan mengiyakan semua pertanyaannya. Tidak. Dia bahkan masih berpikir seperti itu sekarang walaupun tidak berani membayangkan untuk melakukannya dengan niat berkuasa kembali. Sekarang dia hanya ingin berdiri di lapangan untuk melatih para anggota junior dan mendapat sedikit cahayanya kembali, bersama orang lain, bukan sendirian. Tapi, dia tidak punya kesempatan mengatakan itu pada orang-orang yang tidak akan mau mendengarnya, terutama pada Nick yang masih mengayunkan pemukul bisbol ke tubuhnya, melampiaskan kebenciannya yang ternyata belum habis. Pemukul bisbol itu akhirnya berhenti, lalu menekan keras memar yang masih segar di perutnya, membuat Julius tidak bisa menahan erangan dan menggertakan gigi karena rasa sakitnya. “Kamu tidak menjawab lagi. Katakan, apa alasanmu?” “Kalau aku mengatakannya, kalian hanya mencari celah agar bisa memukul lagi.” Wajah Nick mengeras. “Tidak mengatakannya juga akan membuatmu dipukul.” “Berarti sama saja.” Julius kembali menutup mulutnya, sementara Nick sudah menarik kerah bajunya, berniat untuk memukulnya dengan tangan kosong sebelum seruan dengan suara famililiar mengejutkan mereka. “Berhenti!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN