Julius - Hambatan yang Datang

1182 Kata
“Oh iya, bagaimana latihannya kemarin? Aku hanya bisa melihat dari jauh dan tidak tahu apa saja yang kalian bicarakan di lapangan.” Julius menatap lutut Sam yang hanya ditutupi plester, seingatnya luka cewek itu lumayan dalam karena terkena kerikil di jalan. “Lukamu tidak apa-apa?” “Oh, ini?” Dia menunjuk lututnya. “Aku baik-baik saja. Setelah dibersihkan lukanya hanya goresan tipis, darahnya saja yang keluar banyak.” “Begitu…” Sam langsung mengembalikan topik pembicaraan mereka. “Jadi, bagaimana latihannya?” “Baik-baik saja, kamu juga sudah melihatnya kemarin.” “Aku bertanya tentang perasaanmu.” Cewek itu menatapnya. “Kamu baik-baik saja kan? Tidak takut atau bahkan tidak menyukai berada di lapangan lagi? Walaupun hanya sebagai pelatih, bukan pemain.” “Kamu… tahu kalau aku sempat merasa takut berada di lapangan?” Sam mengalihkan pandangannya. “Aku sering mengikuti dan memperhatikanmu walaupun dari jauh, tentu saja aku bisa melihat perasaanmu yang sesungguhnya saat kamu mengira sedang sendirian.” “Kamu seperti penguntit.” “Aku kan memang suka mengikutimu.” Julius menghela napas, tidak bisa membalas perkataan Sam yang selalu apa adanya dan tidak punya celah untuk dibantah. Ponselnya tiba-tiba bergetar di dalam saku celananya. Sebuah notif dengan nama Paul tertulis di sana, adik kelasnya itu bertanya tentang latihan mereka setelah jam kuliah siang nanti. Julius mengirim balasan singkat dan bergegas ke kelasnya bersama Sam yang tetap mengikutinya. . "Di sini," seru seseorang memanggilnya sambil melambaikan tangan. Casey, gadis bertubuh pendek itu terlihat cerah dengan jumpsuit biru dan rambut abu-abunya yang dicepol di atas kepalanya. Paul, di sisi lain, hanya tersenyum kalem dan mengangkat tangannya memberi salam. "Kenapa di sini?" tanyanya, sedikit nada heran terselip di perkataannya. Mereka seharusnya berkumpul di lapangan dan memulai latihan sebelum jadwalnya berakhir. "Beberapa anggota belum selesai kelas. Karena waktunya cukup lama, aku berniat mentraktirmu," ujar Paul nyengir. "Sudah lama kita tidak makan bareng kan?" Casey mengangguk sambil meminum milkshake vanilla yang dipesannya lebih dulu, menyetujui perkataan pacarnya. Julius memperhatikan raut wajah mereka. Sekilas, kedua orang itu terlihat biasa saja, tapi setelah diperhatikan lebih lama, mereka semakin kelihatan gugup. “Ada apa?” “Tidak ada apa-apa.” Cewek mungil itu menyelesaikan minumannya, buru-buru mengalihkan topik. "Oh ya, kamu mau pesan apa?" tanyanya. "Aku akan memesannya untukmu. Kamu sudah menyiapkan dompet kan, Paul?” “Sudah, ini.” Dompet Paul berpindah tangan. Tatapan Casey tetap terarah pada Julius, menunggu pesanannya. “Kamu sudah memutuskan mau pesan apa?” Julius mengubah posisi duduknya, tidak tahan dengan sikap mencurigakan mereka yang sedang berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. Paul sekarang bahkan tidak berusaha menatapnya dan mengalihkan pandangannya ke ponsel, mengetik dengan cepat. “Katakan, apa yang sebenarnya sedang terjadi?” Perubahan raut wajah Casey langsung terlihat, sekarang dia sedang melirikkan matanya pada Paul yang sudah tidak menyentuh ponselnya, bertukar pesan tanpa suara. Mereka terlalu lama berpikir. “Kalau kalian tidak mau mengatakannya, aku akan cari tahu sendiri.” Julius berniat untuk beranjak, tapi berhenti ketika Paul akhirnya membuka suara. “Nick ada di tempat latihan. Tyler, Dean juga para anggota senior juga datang, mereka memberi pengarahan untuk para anggota junior. Aku baru mengetahuinya saat ke lapangan bersama Casey.” "Sebaiknya kita tunggu sampai mereka selesai," tutup Casey, berusaha untuk tidak terlihat canggung, tapi gagal. Julius mengangguk tanpa banyak kata, tangannya mengepal. Walaupun kemarin dia merasa baik-baik saja saat mendengar nama orang-orang itu, tapi ternyata dia masih merasa takut ketika mengetahui bahwa mereka berada di tempat yang sebelumnya menjadi saksi masa kejayaannya dan sekarang kesempatan keduanya. Sesi latihan mereka akan segera berakhir. Orang itu tidak mungkin membiarkannya meraih kesempatan keduanya dengan mudah. “Kamu ingin makan sesuatu? Aku akan—” Paul menghentikan ucapannya ketika Julius bangun dari tempat duduknya dan kembali mencangklong tasnya. "Mau ke mana?" "Aku akan ke perpustakaan, ada yang kulupakan di sana." “Latihannya belum berakhir, jadi jangan lupa kembali, Julius.” Casey berkata sambil mengepalkan tangan, dia terlihat sama frustasinya seperti yang sedang dirasakannya. Adik kelas yang terkenal emosional di timnya itu tidak berubah. Paul menenangkan pacarnya, membiarkan Julius melangkah ke luar dari wilayah kantin menuju ke sebuah tempat yang cukup sering menjadi tempat pelariannya selain halaman sekolah selama beberapa bulan ini, tempat yang tidak akan didatangi oleh orang-orang yang pernah dekat dengannya. Ruang perpustakaan sudah berada di depannya. Julius segera memasukinya dan berjalan menuju tempat tersembunyi yang jauh dari kumpulan anak-anak lain. Penjaga perpustakaan dengan baik hati mengijinkannya untuk menggunakan tempat itu kapanpun dia mau, bahkan memberinya kunci duplikat sehingga dia bisa masuk sendiri tanpa perlu menunggu. “Sial.” Julius melemparkan tasnya di atas meja dan duduk di sebuah sofa yang sangat empuk. Jika situasinya berbeda, dia akan tidur alih-alih duduk sambil melumat muka dengan kedua tangannya, kesal dengan reaksi yang diberikan oleh tubuhnya sendiri. Cowok itu tidak ingin mengakui kalau dia masih terguncang hanya dengan mendengar ketiga nama itu. Orang-orang yang menyebabkan harga dirinya jatuh sedalam-dalamnya di saat dia yang sedang dalam masa pemulihan dari kematian kedua orangtuanya dan harta keluarganya yang tiba-tiba diambil alih, bersamaan dengan hak asuhnya. “Akhirnya, ketemu.” Sam terlihat di depan pintu masuk ruangan yang ditempatinya. Dia menutup pintu dan duduk di sebelah cowok itu. “Kamu tidak apa-apa?” “Aku tidak apa-apa.” Sam kembali menatapnya seakan tidak percaya dengan kata-katanya barusan. Julius mengalihkan pandangan karena tidak ingin bertatapan terlalu lama, lalu mengambil satu majalah untuk menutupi wajahnya. Cewek itu langsung mengambil majalahnya lagi. “Mereka melakukan sesuatu padamu? Kenapa kamu tidak mau memandangku?” Julius menutup matanya. “Tatapanmu terlalu menyelidik, aku tidak menyukainya.” “Maaf, aku hanya ingin memeriksa keadaanmu.” Dia mengambil jarak sambil tetap menatap cowok itu, lalu kembali bertanya. “Kamu benar-benar tidak terluka?” “Sama sekali tidak, aku hanya sedang menata pikiran. Dari mana kamu tahu aku ada di sini?” “Casey memberitahuku saat aku menyusulmu ke kantin.” Sam ikut bersandar meskipun tatapannya masih terarah pada Julius. “Aku melihatnya seperti habis menangis, jadi kukira sesuatu terjadi padamu. Kalian kan janjian ke kantin.” “Kalian sudah saling mengenal ya?” Cewek itu mengedip, terlihat terkejut, tidak seperti biasanya. “Tentu saja, tapi kenapa kamu malah membahas itu? Kamu benar sudah tidak apa-apa?” “Aku sudah menenangkan diri.” “Baiklah… aku mengerti.” Mereka terdiam selama beberapa saat, tidak ada yang berbicara sampai tanda jam kuliah berikutnya berbunyi. “Kamu tidak masuk kelas? Ini jam kuliah dasar kan?” Meskipun mereka sering mengikuti kelas yang sama, tapi karena Sam telat masuk kuliah, dia harus mengikuti beberapa kelas tambahan agar bisa mengejar ketinggalan. Saat itu terjadi, Julius bisa terbebas dari pengawasannya selama beberapa saat. Sam tentu saja tidak langsung mau mengikuti kelas. “Aku sudah belajar sendiri di rumah, tidak apa-apa kan kalau membolos sekali?” Cewek itu menawar padanya, alasan yang berbeda dari terakhir kali. Di sisi lain, Julius memberi balasan yang sama. “Tidak bisa, kecuali kalau kamu tidak ingin mengikutiku lagi.” Sam menghela napas panjang sebelum beranjak. “Hati-hati. Panggil aku kalau kamu butuh sesuatu.” “Iya.” Julius melihat kepergiannya yang enggan lalu menghela napas. Waktu yang sangat tepat untuk menjauhkan cewek itu dari masalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN