Julius - Perasaan yang Hadir

1400 Kata
Latihan akhirnya selesai setelah semua sesi dilakukan. Julius meminta para anggota junior itu agar tetap mempertahankan kondisi kesehatan mereka, terutama dalam mengatur waktu istirahat. “Mau pulang bersama kami? Aku juga mau mampir ke rumahmu karena sudah lama tidak main.” Casey langsung mencubit pacarnya, membuat Paul mengaduh. “Maaf, dia sepertinya lupa kalau kamu tidak pernah mengundang siapapun ke rumahmu kecuali ada pesta…” “Tidak apa-apa, aku sudah tidak tinggal di sana lagi.” “Oh… benar juga.” Paul terlihat menyadari perkataannya yang kelewat santai sebelumnya. “Maaf. Aku merasa kalau situasi saat ini mirip dengan masa lalu, jadi hahaha. Maaf.” Julius diam-diam tersenyum miris. Kalau dibandingkan dengan masa lalu, tentu saja sekarang tidak bisa dibilang mirip, tapi dia akhirnya tidak mengatakan apapun sebagai balasan dan melanjutkan membereskan peralatan yang tersisa dalam diam. “Ngomong-ngomong, cewek kenalanmu sepertinya masih ada di tempat yang sama. Aku sempat menyapanya tadi, dia menunggumu.” “Sam?” Paul terlihat tertarik dengan pembicaraan mereka. “Oh, apa dia mahasiswa baru yang suka mengikutimu ke mana-mana?” “Iya. Kamu sudah mengetahuinya?” “Kamu mengenalnya?” Casey terlihat terkejut, sama seperti Julius yang tidak menunjukkannya. “Aku baru melihatnya hari ini.” “Aku juga baru-baru ini mengetahuinya setelah bertanya pada beberapa orang. Cewek itu selalu mengikuti Julius ke mana-mana, kalian seperti tidak terpisahkan, kata mereka.” Julius menghela napas. Dia tidak tahu kalau kabar Sam yang selalu mengikutinya sudah sampai pada adik kelasnya. Tinggal menunggu waktu sampai orang-orang itu juga mengetahui hal yang sama dan mendatanginya, memberi peringatan agar dia tidak macam-macam dan memaksa cewek itu agar segera menjauhinya. Mungkin… latihan ini juga akan lebih cepat berakhir dari yang diduganya. Casey menatapnya, sepertinya menyadari hal yang sama dengan apa yang dipikirkannya sekarang. “Kalau mereka tahu…” “Tidak usah khawatir, aku sudah mendapat ijin dari Tyler dan Dean. Mereka tidak masalah asalkan kita tidak memakai lapangan di luar jam latihan yang ditentukan.” “Mereka berkata seperti itu padamu?” tanya Casey, terdengar tidak percaya. Paul mengangguk. “Aku hanya tidak ingin pelatih kepercayaan kita mendapat masalah.” “Kalau Nick, bagaimana? Apa katanya? Dia yang paling sensitif diantara mereka bertiga.” Cewek itu tiba-tiba menoleh pada Julius. “Kamu pasti juga ingin tahu.” Julius tidak menanggapi pernyataan Casey. Walaupun diam-diam menyetujui pendapat cewek itu mengenai Nick, tapi dari sebelum dia memulai latihan hari ini, cowok itu sudah menerima nasibnya bagaimanapun akhir dari hal nekat yang dilakukannya sekarang. “Aku tidak berbicara dengannya, sepertinya sudah beberapa hari dia tidak ada di kampus. Tyler dan Dean juga tidak tahu keberadaannya.” “Mungkin dia sedang liburan, apa yang mungkin dilakukan seseorang sepertinya?” Paul merangkul Casey dan mengecup pipinya. “Kamu selalu kelihatan imut jika sedang kesal begitu.” “Ih, jauh-jauh sana! Kamu seharusnya ingat apa yang sudah dilakukannya pada kita setelah kita sudah menyiapkan kebutuhan tim sepanjang waktu. Makiannya itu seharusnya ditujukan pada dirinya sendiri!” Julius memperhatikan keributan mereka selama beberapa saat sebelum berpamitan. Jika Casey sudah seperti itu, amukannya akan terus berlanjut sampai Paul melakukan sesuatu untuk menghentikannya. Cowok itu lebih memilih untuk pergi sebelum melihat sesuatu yang tidak diinginkannya. Dia melihat ke jajaran bangku penonton dan berjalan menuju tempat duduk yang sebelumnya ditempati Sam. Di sana, Julius dapat melihat cewek itu tertidur dalam posisi miring, tampak nyaman walaupun bersandar pada sudut keras bangku yang ditempatinya. “Kamu benar-benar tidur?” Julius tiba-tiba bertanya setelah memperhatikan cewek itu selama beberapa saat. Melihatnya tetap bertahan dalam posisi tidur itu tanpa bergerak sedikitpun, membuatnya curiga. Dia merasa kalau cewek itu hanya pura-pura tertidur untuk mengerjainya. Sam langsung membuka mata dan meregangkan tubuhnya, raut wajahnya terlihat penasaran, tapi juga senang saat menatapnya. “Bagaimana kamu tahu?” “Aku hanya menebaknya dari tingkah lakumu selama ini.” “Ah, sayang sekali.” Dia terlihat kecewa. “Padahal aku mau digendong olehmu di perjalanan pulang, aku kan jadi tidak perlu berjalan.” Julius menatap cewek itu. Walaupun dia mengaku pura-pura tertidur, tapi cowok itu bisa melihat kalau Sam sudah terlihat mengantuk. Dia tidak mungkin membiarkannya tertidur di sini maupun di jalan saat mereka berjalan pulang bersama. “Kamu bisa memintanya padaku setelah kita turun dari sini.” “Benarkah? Aku lumayan berat walaupun terlihat langsing lho.” “Kamu sedang meremehkan kekuatanku?” Sam menelengkan kepalanya. “Oh, kamu tersinggung? Aku hanya mengatakan apa yang aku tahu setelah mengikutimu selama ini.” “Kalau tidak mau, ya sudah.” Julius hendak beranjak dari posisinya sebelum cewek itu merangkul leher dan memeluknya, membuatnya membungkuk dalam posisi yang tidak nyaman, lalu dengan cepat melepasnya. “Tuh, kamu belum sekuat itu. Aku saja bisa menyergapmu seperti ini.” Cowok itu menjauh beberapa langkah, memegang dadanya yang terasa nyaris berhenti karena berjarak terlalu dekat dengan Sam. “Kamu membuatku terkejut.” “Maaf, tapi raut wajahmu terlihat lucu sekali.” Tanpa berbicara, Julius berjalan turun dan langsung menuju ke arah halte bis, tidak menunggu Sam yang mengikutinya dengan langkah cepat hingga sampai di sebelahnya. “Hei, apa kamu tersinggung dengan ucapanku? Aku minta maaf.” Dia tidak menanggapi pertanyaan dari cewek itu dan hanya diam selama perjalanan mereka menuju rumah. Julius tidak bisa jujur kalau sebenarnya dia hanya merasa malu dengan kedekatan mereka yang masih terlalu berlebihan untuknya tadi. “Aduh!” Sebuah suara jatuh terdengar dari belakang cowok itu. Julius menoleh dan melihat Sam yang sedang terduduk sambil memeluk salah satu lututnya, dia langsung berjalan mendekatinya. “Kamu tidak apa-apa?” “Sakit…” “Kamu bisa berdiri? Aku akan membantumu berjalan.” Sam menggeleng, dia terlihat meringis saat berusaha meluruskan kakinya yang terluka. Air matanya keluar. “Tidak bisa.” “Baiklah…” Julius memperhatikan luka di lutut cewek itu selama beberapa saat sebelum berbalik membelakangi Sam dan menunjukkan punggungnya. “Ayo naik.” “Oke.” Cowok itu memastikan Sam sudah berada dalam posisi yang aman untuk dia gendong, sebelum bangun secara perlahan. Cewek itu tidak berbohong soal berat tubuhnya. Julius nyaris goyah jika tidak menjaga keseimbangannya selama dia berjalan menuju apartemen mereka. “Berat kan?” Sam tahu-tahu bertanya setelah diam saja selama cowok itu menggendongnya. Dia terdengar baik-baik saja setelah hampir menangis tadi. Julius mengangguk. “Sebenarnya apa saja yang kamu makan sehingga bisa seberat ini?” “Pfft, kamu… sama sekali gak ada manis-manisnya ya?” Cewek itu tertawa, membuat telinga Julius sedikit geli karena terkena napasnya yang berhembus. “Aku makan seperti biasanya, tidak berlebihan seperti saat kita sarapan waktu itu.” “Kenapa kamu menungguku sampai selesai latihan?” “Karena aku memang mau menunggumu. Di rumah bakalan terasa sepi kalau kamu tidak ada.” Julius tanpa sadar mendengus. Apartemen mereka terletak di kawasan yang ramai dengan berandalan, sepi bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkan lingkungan tempat tinggal mereka. Sesekali tempat mereka didatangi polisi karena keributan oleh beberapa kelompok yang berkumpul di dekat sana. “Aku tidak bohong, aku kan hanya mengenalmu di sekitar sini…” Cowok itu menoleh untuk sedikit menangkap siluet wajah Sam. “Kalau begitu main saja dengan teman-teman barumu. Kamu selalu mengobrol dengan banyak orang kan?” “Tidak bisa, aku harus selalu mengawasimu. Aku kan sudah berjanji untuk melindungimu dari orang-orang yang membuatmu seperti ini.” Julius terdiam. Dia memang tidak ingin menghadapi penghinaan dari para orang-orang itu lagi, tapi jika dia sampai harus melibatkan orang lain dalam urusan pribadinya terutama seseorang yang sudah menyelamatkannya, cowok itu tidak tahu di mana dia harus meletakkan harga dirinya. “Kamu tidak harus selalu melindungiku, aku bisa melakukannya sendiri.” Sam mendengus. “Aku menolak. Aku kan sudah berjanji lebih dulu, jadi keputusannya ada padaku.” “Memang kamu sudah tahu siapa yang membuatku seperti ini?” tanya Julius. “Kalau kamu belum tahu, bagaimana kamu bisa melindungiku nanti?” “Memang belum, karena itu aku akan tetap menempel padamu sampai mengetahui siapa saja yang membuatmu seperti ini. Setelahnya, aku akan membalas perbuatan mereka sampai mereka merasa menyesal.” Cewek itu terdengar bersemangat saat mengatakannya, seakan tidak sabar untuk menghajar orang-orang itu untuknya. “Benarkah?” “Tentu saja, kamu masih belum mempercayai ucapanku? Aku kan sudah pernah mengatakan ini sebelumnya.” Julius kembali meliriknya sambil tersenyum. “Kalau kamu ada di posisiku, mungkin kamu juga tidak akan mudah mempercayainya.” “Baiklah, kalau begitu aku tinggal membuatmu percaya nanti.” Cowok itu tidak menanggapinya sambil tetap berjalan. Dia berharap kalau Sam tidak harus membuktikan ucapannya dan membuat cewek itu terluka karenanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN