Suara ketukan pintu yang keras dan berulang kali terdengar menggema di kamar apartemen, bunyinya yang panjang menyusup ke balik pintu kamar tidur dan sampai di telinga seseorang yang sedang tertidur lelap. Dahinya sedikit berkerut ketika ketukan itu kembali terdengar dan bertambah berkerut ketika suara itu berubah menjadi serentetan bunyi serupa tembakan beruntun.
Sosok yang sebelumnya tidur itu mengerang pelan dan dengan langkah berat meraih kaosnya, berjalan tersaruk-saruk menuju pintu apartemen.
"Selamat pagi, Jules!" Sebuah suara ceria segera menyentak separuh kesadarannya. "Apa keadaanmu sudah lebih baik?"
Pemuda itu menyipitkan matanya, merasakan pening secara tiba-tiba dan berusaha memfokuskan pandangannya pada tampilan gadis yang tampak kabur di hadapannya. Butuh beberapa saat yang cukup lama sebelum dia sadar sepenuhnya dan dapat mengenali gadis yang masih menunggunya itu. Sam. Dia mengerjapkan matanya tidak percaya. “Kamu ... apa yang sedang kamu lakukan di sini? Kenapa baru muncul sekarang?”
“Wah, wah, wah, kamu bertanya padaku seakan kita tidak bertemu beberapa tahun. Ini baru tiga bulan semenjak kita bertemu terakhir kali kan?” ujarnya terkekeh pelan, tidak menyembunyikan raut wajahnya yang terlihat senang. “Apa kamu sekangen itu padaku?”
Juius menghela napas, tepat tiga bulan yang lalu—setelah dia keluar dari rumah sakit—orang yang tersenyum tanpa rasa bersalah di depannya itu tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Cewek itu tidak meninggalkan pesan atau apapun yang bisa dipakai untuk menghubunginya sehingga cowok itu hanya bisa bertanya-tanya sampai akhirnya tidak memedulikan hal itu lagi.
Sekarang, saat akhirnya Sam kembali muncul, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa lagi padanya.
Sam masih tersenyum tanpa rasa bersalah, tapi sebuah kerutan samar di keningnya mulai muncul dan dia berusaha untuk melihat ke dalam rumahnya. "Hei, Jules, apa ada makanan di rumahmu? Aku baru pindah kemarin malam dan tidak sempat membeli persediaan makanan."
"Apa?" Kali ini pemuda itu membuka suara, tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh gadis itu dan tersadar bahwa langit masih terlihat gelap tanpa matahari. “Tunggu dulu, aku masih tidak mengerti. Kenapa kamu tiba-tiba pindah ke sini? Kamu dapat uang dari mana? Aku ingat kalau selama ini kamu hanya bisa bergantung pada orang-orang yang meminjamkanmu tempat untuk tidur selama beberapa hari.”
Sam mengangkat alisnya, merasa terhina dengan pertanyaan terakhir yang diucapkan Julius dengan penuh penekanan. “Apartemen ini adalah apartemen termurah dengan fasilitas yang masih terjamin diantara apartemen lain yang sempat kudatangi, jadi tentu saja aku pindah kesini. Uangnya aku dapat setelah bekerja paruh waktu di beberapa tempat. Apa kamu kira aku mencuri uang?”
Cowok itu menyetujui semua itu dalam hati, bahkan menyangka kalau gadis itu merayu salah satu orang baik agar dapat membelikannya apartemen. “Aku tidak tahu kalau pola hidup seseorang bisa tiba-tiba berubah.”
Cewek itu mengangkat bahunya dengan cuek. “Kamu memberiku inspirasi,” ujarnya, lalu berusaha mendorongnya ke samping agar bisa melangkah masuk. “Aku lapar sekali, tolong ijinkan aku masuk agar bisa memakan apapun yang kamu punya agar tidak kelaparan, ya?”
Pemuda itu menggeleng, tidak membiarkan pertahanannya mengendur walaupun dorongan Sam semakin kuat dan mendesak untuk segera masuk. Walaupun dia sudah cukup mengenal gadis itu, dia tidak mengijinkan siapa pun berlaku seenaknya ketika sudah mengganggu saat-saat pribadinya.
"Kamu bisa ke minimarket di seberang apartemen untuk membeli makanan—biasanya toko itu buka 24 jam. Tolong jangan tersinggung karena aku masih sangat mengantuk, Sam. Sampai jumpa."
Pintu terbanting menutup di hadapan gadis itu. Belum lama suara ketukan kembali terdengar dan pemuda itu harus membuka pintunya lagi untuk menemukan Sam dengan ekspresi murung. "Aku sudah menghabiskan uangku untuk membayar sewa dan membeli beberapa peralatan rumah,” ujarnya mengiba. “Aku tidak punya uang untuk membeli makanan."
Julius menatap gadis yang kini berstatus tetangganya itu dengan tatapan tidak percaya. "Sama sekali tidak ada?"
Sam mengangguk, wajahnya tiba-tiba saja terlihat sangat murung dan kusam, seperti orang yang belum makan selama beberapa hari, hingga cowok itu mau tidak mau memercayai ucapannya. Entah apa yang terjadi padanya hingga kembali terjatuh pada tatapan gadis itu yang seketika menarik simpatinya.
"Baiklah, hanya untuk kali ini saja," ujar Julius akhirnya, membuat wajah Sam kembali cerah dan dapat memberikan senyum lebar yang biasa dia tampilkan. "Aku akan ke dalam sebentar, jangan masuk."
Dia berbalik tanpa menunggu tanggapan gadis itu, berjalan cepat menuju kamarnya, meraih dompet di atas meja dan kemudian segera kembali untuk berjalan ke luar dari pintu apartemennya. "Ayo."
Mereka berjalan bersisian, melewati kamar-kamar lain yang masih tertutup rapat dan tidak terdengar suara aktivitas di dalamnya. Menyeberangi jalan menuju tempat nongkrong penghuni apartemen maupun orang yang sengaja lewat di sana untuk bersantai.
Dengan cepat Julius meraih Sam yang nyaris berlari menuju rak cemilan hingga gadis itu mengerang keras, kecewa, lalu menoleh ke arahnya dengan raut wajah terganggu yang tidak disembunyikan. “Ada apa? Kenapa menahanku?”
“Satu makanan, satu cemilan dan satu minuman. Tidak boleh lebih,” ujar cowok itu datar, diam-diam sempat merasa ngeri karena teringat jumlah kudapan yang pernah dibeli Sam saat di rumah sakit. “Aku masih punya banyak kebutuhan untuk dibayar.”
“Satu cemilan besar kan?” tanya gadis itu.
Cowok itu mengangguk. “Pilih yang harganya paling terjangkau.”
Sam kembali mengerang, tanpa berkata-kata melangkah menuju rak makanan sebelum ke rak cemilan untuk memilih kudapan murah yang bisa didapatkannya secara gratis. Di sisi lain, Julius memilih untuk ke bagian minuman untuk membuat kopi lalu mengambil roti yang akan dia makan bersama gadis itu.
Langit masih terlihat gelap saat mereka duduk bersebelahan di kursi tinggi. Hanya segelintir orang yang sudah bangun pada jam seperti ini, kalaupun ada, pasti lebih memilih berada di dalam rumah dibandingkan keluar rumah untuk menemani seorang gadis aneh yang memakan makanannya seperti orang yang belum makan berbulan-bulan. Dia menatap Sam yang memasukkan gigitan burger dan seraup cemilan ke mulutnya secara bergantian—nyaris terlihat tanpa bernapas—bersamaan dengan minuman di sela-sela kunyahan.
“Apa kamu selapar itu?” tanya Julius, dengan cepat kehilangan selera makan setelah memandang pemandangan yang luar biasa di depannya.
Gadis itu mengangguk, akhirnya berhenti memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya yang penuh dan hanya mengunyah. Julius menyodorkan tisu pada Sam yang segera menerimanya, membersihkan serpihan kripik yang berceceran di meja dan sisa makanan yang berada di sekitar mulutnya.
"Terima kasih, aku merasa kenyang sekarang.” Dia terkekeh pelan, menepuk perutnya yang tidak meraung kelaparan lagi. “Selesai pindah kemarin malam aku langsung tidur tanpa sempat makan, kalau sebelumnya sempat makan pasti aku tidak akan selapar ini.”
“Cara makanmu mengerikan.”
Dia mengangkat bahunya tidak peduli. “Yang tadi? Memang, aku kan sudah bilang kalau aku sedang lapar, kalau tidak pasti cara makanku tidak terlalu mengerikan seperti itu.”
Julius menggelengkan kepalanya mendengar tanggapan gadis itu. “Apa saja yang kamu lakukan dari tiga bulan lalu?”
“Bekerja paruh waktu, jalan-jalan, dapat makanan gratis dari supermarket, tinggal di rumah anak yatim-piatu sambil bantu beres-beres. Itu saja kurasa,” ujarnya, terlihat sedikit melamun saat kembali bergumam. “Ibu pemilik rumah anak yatim piatu sempat menahanku saat aku bilang akan pergi, apa dia sudah dapat orang lain untuk membantu pekerjaanku ya?”
Cowok itu meminum kopinya dan akhirnya memutuskan untuk memakan roti yang dibelinya. “Kamu akan pergi ke panti asuhan itu?”
Sam masih tampak berpikir sebelum menjawab. “Kurasa tidak, aku hanya akan membantu ibu itu mencari orang yang tepat. Semoga saja ada.” Dia tiba-tiba menoleh ke arah Julius dengan tatapan berbinar. “Apa kamu bertanya karena ingin membantuku mencari?”
“Tidak, ini hari pertama, semester baru.”
“Astaga, benar, aku lupa.” Gadis itu tampak panik menghabiskan sisa makanannya. “Aku harus konfirmasi ke bagian pendaftaran untuk mengatur jadwal. Kita satu kampus lho!”
Julius terdiam di sampingnya, tidak bereaksi saat Sam tanpa sengaja menumpahkan minumannya dan terciprat pada celana cowok itu serta penjaga kasir yang sampai datang untuk membantu gadis itu membereskan kekacauan yang dia lakukan. Pikirannya mendadak terasa kosong saat menyadari harus menghadapi kenyataannya lagi setelah semua hal yang dilewatinya.