Julius - Seperti tidak Nyata

1118 Kata
Waktu berlalu dengan cepat. Jam kuliah pertama sudah berakhir dan beberapa mahasiswa mulai berjalan ke luar kelas, termasuk Julius. Dia memasang tudung jaketnya dan membiarkan headphone miliknya terkalung di leher, agar bisa mendengarkan lagu saat bosan nanti. Cowok itu membaca sekilas notifikasi pesan masuk dari seseorang yang dikenalnya, adik kelas sekaligus juniornya di tim rugby. Anak itu meminta, atau lebih tepatnya memohon, kepadanya untuk kesekian kali agar Julius melatih para pemain dan membantunya menyusun strategi pertandingan yang akan diadakan sebulan lagi. Biasanya angkatan paling tua seperti Julius sudah tidak berurusan dengan hal-hal semacam ini, entah apa yang dipikirkan oleh adik kelasnya ketika meminta bantuannya, terlebih saat dia bukan lagi anggota tim rugby. Bisa dibilang Julius jatuh sampai ditahap anggota buangan yang tidak dianggap oleh siapapun Julius mendengus pelan dan menghentikan langkahnya di depan lapangan yang tidak asing untuknya. Lapangan luas dengan garis-garis penanda dan layar lebar untuk skor serta babak pertandingan. Di sini, dia pernah menjadi bintang yang disoraki banyak orang dan menerima sapaan hangat dari rekan setimnya. Adrenalin yang tersisa seusai mengejar kemenangan menjadi nafas kehidupan baginya. Terutama jika lawan pertandingannya kuat. Semua kenangan itu terasa semakin jauh ketika Julius membandingkan dengan situasinya sekarang. "Julius!" Sebuah suara memanggilnya dengan keras. Julius tidak menoleh ke arah suara itu, tapi juga tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Suara derap kaki semakin mendekat ke arahnya dan pada akhirnya menunjukkan sesosok gadis mungil dengan rambut hitam pendek. Cewek itu kemudian merentangkan kedua tangannya selebar mungkin seakan mencegahnya untuk kabur. "Apa?" "Kebetulan sekali kita bertemu," balasnya terkekeh pelan. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu istirahat nanti." Julius menatapnya tanpa ekspresi. "Bicara saja sekarang." "Tapi—" "Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan, aku akan pergi sekarang," ujarnya lalu mulai melangkah untuk pergi. Gadis itu bergeser untuk menghalangi jalannya, memejamkan mata dan tampak keberatan saat mengatakan apa yang ingin dibicarakannya di antara orang-orang yang berlalu lalang sekitar mereka. "Aku dan Paul sangat membutuhkan bantuanmu," ucapnya pada akhirnya. Cewek itu terdengar dan terlihat putus asa, karena nada bicara serta sorot matanya yang selaras. "Kamu tahu 'kan kalau teman-temanmu berubah menjadi lebih b******k setelah kamu tidak ada? Mereka tidak peduli lagi dengan urusan rugby dan menyerahkan sepenuhnya kepada kami berdua, tanpa bimbingan maupun pengarahan lagi." "Tahu, tapi apa urusannya denganku? Kalian seharusnya sudah tahu kalau aku sudah dikeluarkan secara tidak hormat dari tim kan? Aku tidak punya urusan lain dengan kalian maupun tim." "Aku tahu... ini memang terdengar seperti alasan, tapi hanya kamu yang terpikirkan oleh kami untuk diminta bantuan." "Sayangnya, itu tetap bukan urusanku." "Tapi, Julius...." Cewek itu mengucapkan dengan lirih, kecewa dengan jawaban yang tidak diharapkannya. Sekilas, Julius dapat melihat wajah gadis itu berubah menjadi gelap, tapi tidak menghentikan langkahnya pergi. Jika keadaannya masih seperti dulu, mungkin saja cewek itu menyergapnya dan pura-pura memukulnya dengan kesal, tapi keadaan sekarang mengubahnya. Julius sebenarnya ingin membantu cewek itu dan pacarnya, tapi dia tidak punya pilihan selain menolak karena tidak ingin mengalami hal fatal yang sudah dihindarinya selama hampir setahun ini dengan sia-sia. Sebelum berbagai peristiwa buruk yang menimpa Julius, dia selalu membimbing latihan mereka bersama beberapa anggota tim seangkatannya. Cowok itu selalu memperhatikan setiap latihan para anggota sehingga ditunjuk pelatih untuk mengembangkan kemampuan para anggota junior. Julius sempat lupa kalau Paul dan gadis mungil itu, Casey, adalah salah satu yang mengikuti pelatihannya. Meski Casey lebih di posisi mengawasi karena tanggungjawabnya sebagai manajer dan merangkap sebagai asisten pelatih. Cewek itu yang mengurus hampir sebagian besar kebutuhan para anggota tim dan terkadang membantu menyusun strategi bersamanya dan pelatih. Dia tiba-tiba menghentikan langkahnya setelah melihat sesuatu, sesosok gadis berambut pirang pasir yang tampak terpesona menatap gedung kampus di hadapannya. Sam terlihat berdiri diam tanpa menyadari kehadiran Julius yang hanya berjarak beberapa meter darinya. Cewek itu masih mengenakan pakaian yang sama sehingga Julius dengan cepat mengenalinya. Sweeter coklat dengan corak ikan-ikan kecil, rok merah berimpel selutut dan tas pinggang hitam yang mengalungi bahunya. Gadis itu seperti tidak pernah puas menatap gedung kampus yang terlihat biasa-biasa saja dan tidak mempedulikan tatapan orang lain setiap ada yang berpapasan dengannya.. Julius tidak tahu apa yang sempat dipikirkannya hingga tiba-tiba berani melangkah mendekat dan memegang bahu Sam. “Kenapa kamu hanya berdiri di sini?” “Oh! Hai, Jules. Gedung kampus kita ternyata cukup antik ya?” Sam menjawabnya dengan riang sambil menebar senyum. “Aku baru saja selesai mengkonfirmasi pendaftaranku dan melihat-lihat, terus saat berkeliling, tahu-tahu saja aku sudah berada di sini lagi. Yah, bagaimana pun, bagian depan kampus ini memang paling unik di antara keseluruhan bangunan. Aku jadi tidak bosan untuk memandanginya terus.... Apa menurutmu aku boleh terus di sini dan tidak ikut kelas?” "Tentu saja tidak boleh, kehadiran adalah poin penilaian penting." "Ah, begitu rupanya... sayang sekali." Pegangan Julius pada bahu gadis itu melonggar, berniat untuk segera masuk ke jam kedua kuliahnya. “Aku duluan." "Ke mana? Kamu tidak menungguku sekalian?" "Tidak, jadwal kelas kita pasti berbeda. Kamu juga seharusnya ke kelasmu sekarang." Sam mengerjapkan matanya, teringat sesuatu. "Ibu itu bilang kalau aku harus mencari letak kelasku sendiri, dia tidak punya waktu untuk mengantarku berkeliling dan menyuruhku untuk meminta bantuan orang lain." "Jadi, maksudmu, aku yang harus mengantarmu?" Dia tersenyum cerah. "Iya, aku kan hanya mengenalmu di sini, jadi aku hanya bisa mengandalkanmu." Julius tidak bisa mengatakan apapun karena terlalu terkejut dengan keterusterangan Sam. Cowok itu dapat merasakan pandangan mahasiswa lain yang mulai penasaran dengan apa yang terjadi dan tahu jika dia lebih lama di sana, hal itu akan menarik perhatian orang-orang yang paling dia hindari. Tanpa mengatakan apapun, Julius melepas pegangan tangan gadis itu dan berjalan menuju kelas. * Julius tidak tahu kesalahan apa yang dilakukannya di masa lalu sehingga mendapat kesialan seperti ini. Cowok itu saat ini sedang mendapati dirinya duduk bersebelahan dengan seseorang yang paling ingin dia hindari. Melihatnya mendengarkan penjelasan dosen dengan tenang, sambil mencatat beberapa poin penting dan terkadang membuat coretan di buku catatannya yang sudah cukup penuh dengan tulisan membuat semuanya terasa tidak nyata. Sam tersenyum cerah saat datang ke kelas dan memperkenalkan diri secara singkat dan riang. Suara bisik-bisik terdengar saat gadis itu duduk di sebelahnya sebelum dosen mengajar mereka. Cewek itu benar-benar kelihatan tenang dan kalem, tidak ribut seperti biasanya, dan membuatnya menjadi bertanya-tanya. Julius berusaha memfokuskan dirinya ke papan tulis, melihat ke arah dosen yang memberi penjelasan dan materi yang bergulir dari layar, tapi tidak ada satupun yang berhasil menarik perhatiannya kecuali sosok yang berada di sebelahnya itu. Berbagai perasaan serta pikiran seakan bergejolak di dalam dirinya tanpa bisa dihentikan. Buku tulis Sam tiba-tiba bergeser ke arahnya, menunjukkan sebuah tulisan bersambung—yang setelah dia baca—segera membuatnya mengalihkan pandangannya ke depan, berusaha memfokuskan dirinya pada materi yang diberikan dosen mereka. Julius dapat merasakan gadis itu berusaha menahan tawa di sebelahnya. Jangan menatapku terus, apa kau sangat menyukaiku, Jules?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN