"Hai."
Julius nyaris saja terjengkang dari tempatnya ketika mendengar sapaan itu, sedangkan cewek itu tertawa sambil meraih tangannya, membantu cowok itu mempertahankan keseimbangan. Sam berusaha menghentikan tawanya ketika mereka bertatapan
“Haaa, kamu sepertinya selalu kaget saat melihatku di depan apartemenmu, Jules. Ada apa memangnya? Aku kan tidak terlihat menakutkan.”
Cowok itu menyetujuinya di dalam hati, Sam sama sekali tidak terlihat menakutkan, tapi... dia tidak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkannya. Sekarang cewek itu masih berada di dekatnya dan tidak melepaskan genggaman tangan mereka, mengenakan sweater berwarna merah marun dengan celana jins dan sebuah beanie yang terpasang miring, tersenyum sangat manis hingga membuatnya sedikit terpaku selama beberapa saat.
Dia mendapatkan kesadarannya ketika gadis itu memiringkan kepalanya, terlihat menantikan tanggapan darinya. "Sekarang kamu malah terpaku. Kamu sudah sarapan, Jules?"
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Julius mengalihkan topik, jelas mengabaikan pertanyaan gadis itu.
"Aku berniat untuk mengajakmu berangkat bersama, boleh kan?" tanyanya dengan senyum lebar. "Sepertinya berangkat denganmu akan jauh lebih menyenangkan daripada sendirian."
Julius tidak mengatakan apapun sebagai jawaban dan segera menarik tangannya menjauh untuk menutup pintu apartemennya, langsung berjalan menuruni tangga tanpa mempedulikan Sam yang berusaha menyusul. Tanpa menoleh pun dia tahu kalau cewek itu masih akan tetap mengikutinya jika hanya dengan penolakan tanpa kata.
"Hei! Jules, tunggu aku!" seru gadis itu ketika mereka sampai di lantai bawah apartemen.
Julius mempercepat langkahnya menuju halte bis. Disana, terlihat bis yang biasa dinaikinya sudah menunggu dan lumayan sepi dari penumpang. Tanpa menunggu lebih lama, dia segera berlari dan mendudukkan diri di kursi paling belakang, dekat dengan jendela yang mengalirkan udara segar pada wajahnya. Cowok itu menghela napas lega karena berhasil kabur dari kejaran Sam.
"Segar ya?" tanya seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelahnya.
Sam tersenyum simpul di dekat wajahnya, terlalu dekat dengan bahunya yang terasa ingin mengerut untuk menjauhi gadis itu. Dia menahan napasnya saat kepala Sam bersandar dengan mudah di bahunya, sama sekali tidak merasa keberatan dengan ketegangan yang sedang dirasakannya.
“Hei... kamu tidak membalas ucapanku lagi. Kukira kita sudah mulai akrab kemarin.” ujarnya terdengar muram, dia mengangkat kepala sehingga mereka kembali bertatapan. Julius langsung memberikan jarak, tapi tidak mengalihkan pandangannya. “Apa aku tidak sengaja melakukan kesalahan tanpa kusadari? Kalau iya, katakan saja padaku agar aku bisa memperbaikinya.”
“Kamu tidak melakukan kesalahan. Aku hanya… belum terbiasa dengan keberadaan orang lain.”
Julius mengatakan yang sebenarnya. Setelah dijauhi oleh semua orang, baik teman maupun pacarnya, dia benar-benar sendirian tanpa adanya orang lain selama beberapa waktu. Cowok itu sudah mulai terbiasa dengan kesendirian dan sudah tenggelam di dalamnya ketika Sam menghampirinya. Sekarang, dia sedang berusaha untuk beradaptasi.
“Baiklah, aku mengerti. Aku lega kalau kamu ternyata tidak membenciku.”
“Aku memang tidak membencimu.” Julius membenarkannya. “Jadi... tidak usah khawatir, aku hanya butuh waktu agar kembali terbiasa.”
Cowok itu melihat senyum yang kembali terulas pada bibir Sam. “Barusan, kamu terdengar manis sekali, Jules. Apa kamu melakukan ini untukku?”
“Sama sekali tidak.” Julius sudah tidak tahan sehingga mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Tadi, dia sempat merasakan hal lain ketika melihat wajah cewek itu, terutama pada bibirnya. Bagaimana bisa dia merasakan hal seperti itu di tempat umum?
Sam terdengar kembali tertawa dan bersandar padanya.
Julius tiba-tiba teringat saat Hayley bersandar di bahunya dulu, melakukan beberapa hal yang lebih beberapa kali dan membuatnya dengan mudah mengikuti arus deras bersama mantannya setelah itu, tapi semua hal tersebut tidak bisa dibandingkan dengan perasaannya saat ini.
Perasaan ketika dirinya tertarik pada kedua kutub yang berlawanan dan secara langsung merasakan, dampak dari perlakuan sederhana cewek itu padanya.
Julius membiarkan napasnya menghembus untuk mengurangi rasa tegangnya. "Kamu benar-benar mengganggu ketenanganku."
"Memang," ujar gadis itu masih tersenyum. "Kamu sudah pernah berkata seperti itu sebelumnya."
"Kamu pasti sudah melakukan sesuatu padaku."
"Kalau iya, apa yang akan kamu lakukan padaku?" Sam mengangkat kepalanya untuk menatapnya, terlihat penasaran akan tindakan yang akan diambil cowok itu selanjutnya.
Julius menatapnya lama sebelum menghela napas. Tidak ada gunanya bertanya kalau Sam sudah bersikap seperti itu. "Bukan apa-apa. Ayo, kita harus turun."
“Oke!” Sam mengikuti Julius yang sudah beranjak lebih dulu, kemudian berjalan bersebelahan menuju kampus. Butuh beberapa menit sebelum mereka sampai.
Kampus masih terlihat sepi, hanya ada petugas kebersihan dan beberapa mahasiswa yang terlihat memasuki kelas pada pagi hari ini. Julius memang sengaja datang lebih pagi dari biasanya untuk menghindari seseorang, tapi orang yang dia hindari sekarang malah berada di sebelahnya, bersenandung pelan menyusuri lorong kampus bersamanya. Suasana hati cewek itu tetap cerah seperti biasanya.
Julius meraih ponselnya yang terasa bergetar di saku celana dan menatap layarnya. Telepon sekaligus pesan dari adik kelasnya. Cowok itu berniat untuk mengembalikan ponselnya ke tempat semula, mengabaikan panggilan maupun pesan itu, tapi sebuah tangan berhasil menghentikan gerakannya dan berusaha mengintip layar ponselnya yang masih menampilkan notifikasi.
“Dari siapa? Kenapa kamu tidak menjawab?”
"Adik kelas waktu itu. Aku tidak mau terlibat dengan mereka lagi."
Sam masih belum melepaskannya. "Apa mereka berkaitan dengan orang-orang yang mengganggumu?"
"Tidak."
Julius menjawabnya tanpa banyak berpikir, sebagai akibatnya, dia merasakan tatapan cewek itu walaupun tidak bertatapan dan berusaha melepaskan diri. Sam tidak melepasnya. “Mereka ada berapa orang?”
“Kenapa kamu bertanya? Tidak ada gunanya membicarakan mereka sekarang.” Julius mengepalkan tangannya, tapi wajahnya terlihat pasrah. “Aku belum bisa melakukan apapun.”
“Siapa bilang kamu tidak bisa melakukan apapun? Kamu kan bisa melatih para adik kelasmu itu.” Sam langsung melanjutkan ucapannya sebelum dipotong oleh Julius. “Aku yang akan menghadapi mereka kalau mereka berani mengganggumu.”
Cowok itu menghela napas. “Memang apa yang bisa kamu lakukan?”
“Menghabisi mereka, kamu kan tahu bagaimana kekuatanku.”
Julius masih merasa tidak yakin. Walaupun Sam memang lebih kuat dari cewek biasanya, tapi cowok itu tahu kalau menghadapi beberapa atlet sekaligus, hanya dengan modal percaya diri, tidak akan pernah berhasil. Dia sudah pernah mencobanya sendiri sebelumnya.
“Hm, kamu sepertinya tidak percaya pada ucapanku.” Sam terlihat tidak senang karena melihat tatapan Julius.
“Tentu saja tidak, kamu tidak mengenal mereka dengan baik, sementara aku sudah berlatih bersama mereka selama setahun. Aku tahu seberapa kuat mereka sehingga tahu kalau kamu belum mencapai taraf kekuatan mereka.”
“Itu benar, aku tidak akan menyangkal, tapi aku punya cara tersendiri.” Cewek itu tidak terlihat goyah. “Memang kamu pikir selama ini siapa yang melindungi diriku selama ini? Tentu saja aku.”
“Tapi—”
Sam memotong ucapannya lagi. “Kalau aku tidak bisa melawan, aku akan kabur. Janji.”
“Bukan itu masalahnya…” Cowok itu sudah kehabisan cara agar bisa mencegah perbuatan sembrono Sam yang jelas-jelas menantang para orang itu, walaupun belum ketahuan.
“Tenang saja, aku tidak asal berbicara.” Cewek itu menepuk pundaknya, menyemangati. “Ayo, sekarang kamu terima permintaan adik kelasmu.”
Julius kembali menghela napas dan mau tidak mau menuruti ucapan Sam. Walaupun masih tidak yakin akan apa yang mungkin terjadi, tapi dia merasa aman hanya dengan melihat cewek itu tetap percaya diri.
.
"Ngomong-ngomong soal latihan, apa kamu masih mengingat semua hal yang harus dilakukan?" Sam tiba-tiba bertanya saat jam kuliah mereka selesai. "Aku tidak pernah melihatmu di kampus lama-lama."
"Masih, aku hanya perlu melihat beberapa rekaman di ruang audio visual."
Sam berseru dan menepuk tangannya. "Oh? Klubmu menyimpan rekaman latihan di sana? Kupikir rekaman seperti itu akan disimpan pelatih."
"Pelatih kami tidak mau repot, jadi dia selalu menyerahkan rekamannya ke sana dan tidak pernah dibuka lagi kecuali saat pertandingan penting."
"Begitu rupanya...."
Julius menghentikan langkahnya dan menatap cewek itu lekat-lekat. Sam membalas tatapannya, bertanya dengan sorot matanya sambil menunggu ucapannya.
"Kamu tidak usah ikut."
"Tidak, aku harus ikut. Aku kan yang membuatmu mengambil keputusan ini, jadi aku harus tetap bersamamu."
Cowok itu menggeleng. "Aku yang menerimanya, jadi... biarkan aku berkonsentrasi supaya latihan besok berjalan lancar."
Sam terlihat akan membantah, tapi karena suatu hal, dia akhirnya menghembuskan napas dan tersenyum. "Baiklah, kalau begitu aku akan memberimu privasi untuk sementara. Hubungi aku jika kamu bosan ya!"
"Iya."
Julius menatap Sam pergi sebelum kembali melangkah. Dia akan menyiapkan semua hal yang diperlukan agar latihan anggota tim rugby, yang merupakan sekumpulan adik kelas yang baru bergabung, berjalan tanpa hambatan.