"Kamu benar-benar datang… kupikir perkataan Paul hanya sekadar bualan."
Casey yang sebelumnya duduk di pinggir lapangan segera berdiri dan menghampirinya, raut wajahnya terlihat gembira sekaligus tidak percaya ketika melihat Julius di depan mata. Dia juga terlihat ingin menyentuh cowok itu untuk memastikan kebenaran matanya, tapi ragu dan segera menahan diri karena melihat keengganan darinya.
“Maaf, aku pasti membuatmu tidak nyaman.”
“Tidak apa-apa.” Julius melihat ke sekeliling untuk mencari seorang cowok berambut keriting dan berkulit lebih gelap darinya. Seharusnya pemuda itu sudah ada di sini. "Di mana Paul?"
"Paul memintaku untuk menemanimu sebelum dia datang, orang itu kena masalah lagi sebelum mendapatkan kabar darimu. Dasar cowok bego." Casey terlihat kesal. "Untung saja aku bisa datang tepat waktu untuk menunggumu di sini."
Cowok itu mengangguk, kembali melihat ke sekeliling untuk melihat lapangan yang selama beberapa waktu hanya bisa dipandangi dari jauh. Sekarang dia bisa kembali berdiri di atas tempat ini dan merasakan sedikit kerinduan untuk kembali bertanding.
“Apa kamu merindukan ini? Berdiri di lapangan.” Casey tidak menatapnya saat mengatakan itu, tapi ikut memperhatikan lapangan seperti dirinya.
“Tentu saja.”
Cewek itu menyentuh ujung pakaiannya untuk menarik perhatiannya dan menatapnya dengan pandangan yang seperti ingin menangis. “Maaf, aku dan Paul tidak membantumu saat kamu kesulitan. Aku… aku mengetahui apa yang terjadi padamu dan juga melihatnya saat pertama kali, Paul awalnya ingin membantu, tapi aku mencegahnya agar tidak ikut terlibat.”
Julius terdiam. Dia tahu kejadian mana yang dimaksud oleh cewek itu, tindakan yang melibatkan banyak orang yang memiliki dendam maupun hal buruk padanya dan akhirnya berhasil melampiaskan sebagian besarnya pada cowok itu. Kabar itu tersebar di antara mahasiswa lain dan membuat kehidupan kampusnya seperti sekarang.
“Sebelum kejadian itu, kamu memang agak b******k karena perbuatan yang kamu lakukan terhadap orang lain, latihanmu juga tidak kenal ampun hingga Paul selalu tidur begitu sampai di rumah, tapi hasil dari penderitaan itu membuat daya tahan tubuhnya menjadi lebih baik, sekarang dia bahkan bisa membuat beberapa trik bermanfaat di pertandingan, tapi… kami malah membalas semua itu dengan mengabaikan dan malah meminta bantuanmu.”
“Aku tidak menyalahkan kalian.” Cowok itu mengatakannya dengan menghela napas. “Aku hanya ingin agar kalian tidak membahas itu lagi saat aku berniat untuk melatih para anggota baru dan membantu kalian di sini.”
Casey mengangguk dan menundukkan kepala, menghapus air mata yang mengalir. “Maaf, aku benar-benar sudah bertindak egois padamu.”
“Berhenti meminta maaf, aku sama sekali tidak menyalahkanmu maupun Paul. Itu terjadi karena kesalahanku, seperti yang kamu bilang.”
“Tapi—”
Julius sudah melangkah menjauh dan duduk di tempat Casey sebelumnya. Terdapat kotak pendingin di samping tempat duduk, berisi beberapa minuman untuk para anggota yang berlatih. Cowok itu mengambil satu dan meminumnya. “Di mana anggotanya?"
“Apa kamu sedang mengalihkan pembicaraan?”
“Tidak, aku begini karena pembicaraan kita mengenai itu sudah selesai. Aku tidak ingin memperpanjangnya.”
Casey yang awalnya terlihat murung mengangkat wajahnya. “Terima kasih.”
“Aku belum melakukan apa-apa.” Julius menatap dua sosok yang duduk berdampingan di bangku penonton, salah satunya terlihat tidak asing. “Jadi, di mana para anggota baru itu?”
Casey duduk di sebelahnya dan ikut mengambil minuman. "Mereka masih ada kelas, sepertinya sebentar lagi mereka akan datang… tunggu saja."
“Baiklah.”
Julius masih melihat ke arah yang sama. Sosok yang tidak asing itu terlihat membuka topinya dan menunjukkan rambut berwarna pirang pasir. Sam. Dia melambai ke arah Julius sambil tersenyum lebar. 'Semangat, Julius. Semangat!' Sam menggerakkan mulutnya dengan jelas hingga Julius dapat melihatnya dengan baik.
Casey sepertinya juga melihat Sam. “Siapa itu? Pacarmu?”
Julius menggeleng. “Dia hanya orang aneh, jangan dipedulikan.”
Walaupun berkata begitu, cowok itu kembali melihat ke arah Sam dan melihatnya sedang berbicara dengan akrab dengan cowok lain di sebelahnya, bahkan lebih dekat dari orang-orang yang pernah berbicara pada cewek itu.
Perasaannya menjadi aneh. Julius tidak pernah melihat sosok itu sebelumnya, tapi dia langsung tidak menyukainya.
.
Julius segera memulai latihannya begitu para anggota baru sudah berkumpul. Mereka terlihat tidak mempunyai masalah dengan kehadirannya dan hanya mengikuti instruksinya dengan baik.
Paul baru datang ketika cowok itu selesai menyuruh para anggota untuk berlari keliling lapangan. Pacar Casey selama beberapa tahun itu terlihat sangat gembira ketika melihatnya, seakan hukuman dari dosen pembimbingnya yang terkenal kejam adalah hal yang biasa baginya.
"Hei, kamu benar-benar datang!" Pemuda itu sedikit terengah ketika berhenti di hadapan Julius dan Casey. "Aku berhasil kabur ketika iblis itu ke kamar mandi, beruntung sekali, padahal dia tidak akan pernah meninggalkan ruangannya jika berurusan denganku sebelumnya."
Julius hanya menatapnya tanpa berbicara dan dengan isyarat menyuruh para anggota baru agar melanjutkan pemanasan dengan push-up dan sit-up.
"Dasar, bukannya malu malah bangga." Casey yang berada di sebelahnya menepuk punggung Paul dengan keras dan mengacak rambut keritingnya gemas sampai laki-laki itu mengaduh, memintanya untuk berhenti.
Wajah Paul terlihat merengut ketika tangannya berhasil menghentikan gerakan gadis itu. “Kamu sendiri kenapa tidak membantuku saat Mrs. York mengusirku dari kelas?" tanyanya menuduh. “Kamu kan tahu kalau akhirnya aku terpaksa mendengar ceramah orang tua itu dan menulis 'aku menyesal dan tidak akan terlambat lagi' lima puluh lembar bolak-balik kalau tidak ingin di skors."
Gadis beriris coklat itu mengangkat bahunya tak acuh. "Itu salahmu, kenapa aku harus membantu permasalahan yang disebabkan oleh dirimu sendiri?"
“Sebagian juga kesalahanmu. Aku sudah meminta tolong untuk membangunkanku kan? tapi coba tebak, kamu kesiangan dan baru ingat membangunkanku saat sudah sampai di sekolah, lima belas menit sebelum kelas dimulai,” ujar Paul terdengar emosi. “Kamu pikir aku punya kemampuan teleportasi?!”
“Yang penting aku sudah membangunkanmu kan? lagipula itu salahmu sendiri karena begadang menonton bola—“
"Hentikan," ujar Julius, angkat bicara, tidak tahan mendengar pertengkaran konyol dari dua orang di hadapannya. "Kalian masih menginginkan bantuanku atau tidak?"
Pasangan berisik itu langsung menutup mulut. "Maaf."
Paul berdeham dan mulai menjelaskan perencanaan program latihan yang sudah disusunnya. Ketika mendengarnya, Julius merasa kalau strategi yang diberikannya sudah bagus dan sesuai dengan posisi masing-masing, hanya saja, dari pemanasan selama beberapa saat ini, para anggota terlihat mudah lelah dan kurang koordinasi antar sesama anggota.
Mereka belum berlatih dengan cukup untuk bisa mencapai hasil yang diinginkan Julius dan Paul dalam pertandingan yang akan datang.
Kedua orang itu kembali berdiskusi dengan suara pelan. Casey terkadang ikut menambahkan walaupun lebih sering mencatat serta menggambarkan rancangan strategi di kertas yang selalu dibawanya. Dalam waktu beberapa menit, kertas di atas papan itu sudah penuh dengan diagram dan beberapa catatan kecil untuk melengkapi.
Paul menepuk tangannya tiga kali untuk menghentikan pemanasan para adik kelasnya dan menyuruh mereka untuk segera berkumpul, mendengarkan Julius yang akan menjelaskan program latihan mereka.
"Karena pelatih tidak ada, siapa yang melatih kalian selama ini?" tanya Julius kepada para cowok yang sedang duduk beristirahat itu.
"Paul, terkadang Tyler dan Dean," jawab salah satu dari mereka.
"Tyler sudah sangat jarang melatih kami."
"Dean hanya ikut melatih jika Tyler datang."
"Nick," ujar seseorang pendek.
Cowok yang berada di sebelah orang yang berbicara sebelumnya menyikut dadanya, melihat ekspresi Julius yang seketika tampak tidak terbaca. "Dia hanya datang untuk menertawakan latihan kami."
"Paling tidak dia datang untuk mengawasi," balas orang itu tidak mau dibantah.
"Paul lebih sering melatih kami dibanding mereka bertiga," sela cowok lain terdengar menengahi.
"Sudah beberapa hari mereka bertiga tidak datang melatih lagi."
Julius melirik ke arah Paul yang tersenyum miring sambil mengangkat bahunya, terlihat bangga dengan para anggota yang secara tidak langsung memberinya poin tambah pada keterlibatannya dalam kelangsungan perkembangan tim.
“Tapi dari semua itu, latihan kalian belum cukup."
"Belum."
Hampir semua anggota menyetujui pernyataan Julius. Mereka terlihat cukup serius dengan ucapannya hingga dia akhirnya mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu, tambahkan porsi latihan kalian menjadi dua kali lipat dari sebelumnya. Tidak ada yang boleh mengurangi secara sadar, kecuali kalian mempunyai masalah kesehatan atau ingin berdiskusi dengan aku atau Paul untuk sedikit keringanan dalam program latihan yang sudah disusun. Untuk yang kedua, kalau hanya satu atau dua orang saja, kami tidak akan menganggap pembicaraan itu ada.”
Semua anggota baru itu tidak menunggu untuk berpikir. “Baik!”
“Bagus, lakukan sisa latihannya sekarang selama aku dan Paul menyiapkan ban-ban khusus."
Mereka segera memulai latihan seiring dengan Paul dan Casey yang menyiapkan alat bersamanya. Dia tidak sempat memikirkan kejadian yang sempat dibahas cewek mungil itu sebelumnya dan malah menantikan perkembangan sesi latihan para anggota ke depannya.
Tanpa sadar, Julius mengulas senyumnya.