Rahang Abian mengeras. Dia merasa dipermainkan. Dari tadi, ia berjalan ke tempat yang pernah dia lalui sebelumnya. Ia menahan mulut untuk menegur apalagi membentak. Bisa-bisa rencananya gagal. Bahkan Naufal tadi berhenti di kamar mandi dan masuk ke dalam. Sekitar 15 menit, barulah Naufal keluar. Kejadian tadi benar-benar menguji kesabaran Naufal.
“Sayang, kamu udah sampai? Kok lama banget?”
Langkah Naufal berhenti begitu pun Abian. Tampak seorang wanita bertubuh ramping dan mungil melingkarkan tangannya di leher Naufal.
Abian bersembunyi di balik tembok. Ia terus menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya.
“Maaf aku telat,” ucap Naufal. Ia mendekatkan wajahnya pada Cewek itu agar lebih dekat. Abian langsung mengalihkan pandangan. Tangannya mengepal kuat. Maksudnya apa ini, dia sudah mengikuti selama 20 menit, tapi lihat apa yang ia dapat sekarang. Tapi dia sekarang tahu sifat asli Naufal ternyata Cowok yang suka ia katai minus itu sedang bermain bersama wanita sekarang. Abian langsung menarik langkah pergi.
Naufal menjauhkan wajahnya padahal yang dia lakukan bersama wanita itu hanya menempelkan hidung saja agar terlihat seperti sedang ciuman. Naufal senang ternyata Abian mudah sekali tertipu.
“Makasih lo udah tolong gue.” Naufal menyimpulkan senyum yang membuat para kaum hawa jatuh cinta.
“Sama-sama.” Gea balas tersenyum.
“Ini buat lo.” Naufal menyerahkan 2 lembar uang berwarna merah. Bisa kalian tebak, berapa jumlah uang itu.
“Sekali lagi makasih. Gue cabut dulu ya. Kalau lo butuh bantuan gue, jangan sungkan telefon.”
“Hm.”
***
Setibanya di depan ruang pemeriksaan Dasha, Abian langsung dihujani makian serta sumpah serapah dari mulut tunangannya karena kesal telah dibuat menunggu selama hampir 40 menit. Bayangkan coba! Bagi Dasha, waktu 40 menit sangat lah panjang!
Abian malah tidak menjawab. Tubuhnya sedang berada di sebelah Dasha, tapi pikirannya melalang buana entah ke mana.
***
Lusi mengecek kalender yang terpasang di dindingnya. Sudah 1 minggu libur, di rumah ia hanya menggulung tubuh dalam selimut. Kadang-kadang dia maraton anime atau drama China kesukaannya untuk menghabiskan waktu.
Hari-hari Lusi lalui dengan perasaan jenuh dan juga kesepian. Bagaimana tidak? Dia tak mempunyai teman selain Naufal. Sebenarnya banyak yang ingin berteman dengannya, tetapi Lusi bersikap seakan-akan tidak mau.
“Apa gue ke rumah Naufal aja, ya?” monolog Lusi. Kalian jangan kaget Lusi berbicara lo-gue. Itu sudah menjadi kebiasaannya selama bertahun-tahun. Aku-kamu di depan Naufal, lo-gue saat sendiri di rumah. Tidak ada yang bisa menebak apalagi mengetahui sifat manusia sebenarnya. Di dunia ini, pasti ada manusia bertopeng agar mereka terlihat baik di depan orang lain.
Lusi berjalan ke kamar mandi. Setelahnya dia berpakaian sopan dan berdandan secantik mungkin. Tidak ada yang boleh menyaingi dirinya! Ia harus menjadi nomor satu di mata Naufal!
Tanpa mengabari Naufal terlebih dahulu, ia pergi ke rumah cowok yang ia sukai menggunakan angkutan umum.
“Nih, Bang.” Lusi menyerahkan uang 20.000 ke sopir angkot.
Kendaraan itu berjalan kembali. Lusi meraih kaca, dia mengecek apakah sudah cantik atau belum.
“Perfect!” kagum Lusi pada dirinya sendiri. Segera dia memasukkan kaca mini ke sakunya kembali.
Baru dia berjalan 2 langkah, Lusi terhenti. Dia melihat Naufal akan pergi dan pakaian Cowok itu sangat rapi.
“Hati-hati, Nak!”
Ketika Naufal akan melintas di sampingnya, Lusi bersembunyi di belakang pos ronda. Beruntung ada pohon besar yang menghalangi dia, jadi tubuh Lusi terhalang sehingga tidak terlihat oleh Yuni—ibu Naufal.
Lusi mengurungkan niat. Dia lebih memilih untuk mengikuti Naufal. Pandangannya teralih pada pintu cokelat di rumah Naufal. Yuni sudah tidak ada. Situasi sudah aman, Lusi keluar dari tempat persembunyiannya. Ia berjalan cepat mencari-cari Naufal.
Seketika Lusi mendesau lega. Naufal melangkah belum terlalu jauh. Dia melangkah perlahan. Semoga saja tidak ketahuan! Jantungnya sudah berdegup kencang sedari tadi!
Halte bus.
Lusi membersut. Tumben sekali Naufal berhenti di halte bus, biasanya menghadang di tepian jalan. Lagian juga, naik ke halte bus kan hanya untuk perjalanan jauh seperti ke rumah sakit, kebun binatang dan pantai.
Tidak memakan waktu banyak, bus akhirnya datang. Naufal langsung menaiki. Sedangkan Lusi tergemap. Tidak mungkin jika dirinya ikut naik juga. Bisa-bisa ketahuan. Lebih parahnya, dia tak membawa topi atau pun masker. Alhasil Lusi membiarkan bus itu pergi.
Raut muka Lusi kembali sumringah melihat angkot melintas di depannya. Dia segera menaiki itu.
“Pak, ikutin bus di depan itu ya. Nanti saya bayar bapak tiga kali lipat.” Perkataan Lusi langsung dibalas anggukan oleh pak sopir. Tidak ada penumpang selain dirinya, hal itu lah yang membuat Lusi berani berbicara seperti tadi.
Tepat di pengisian bensin, Angkut itu berhenti, sedangkan bus yang dinaiki Naufal tetap saja berjalan.
“Kok berhenti, Pak?” tanya Lusi jengkel.
“Maaf, bensin saya habis dan saya hanya bisa mengantar sampai ke sini.”
Lusi mendengus kesal. Dia keluar dari kendaraan itu. Tidak lupa memberikan uang. “Aduh, gawat ini. Gue gak boleh kehilangan jejak.”
“Butuh ojek, Mbak?”
***
Aneh! Itu lah yang Lusi rasakan sekarang. Naufal ke rumah sakit. Siapa yang sakit? Untuk apa Naufal di sini? Perasaan Naufal tidak mempunyai penyakit apa pun.
Lusi tetap setia mengikuti. Sampai akhirnya, Naufal terlihat berbicara dengan suster kemudian masuk ke sebuah ruangan.
Dia mengintip di celah pintu yang terbuka sedikit.
Tangan Lusi bergerak menutupi mulutnya yang menganga. Kedua netra hitamnya membulat bak akan keluar. Dia melihat Kila terbaring dengan alat medis terpasang di seluruh tubuh Gadis itu.
Dan Naufal menangis. Lusi tidak tahu apa penyebabnya, namun hatinya ikut tersentuh.
“Maafin aku. Kamu bangun dong.”
Sifat Naufal berbeda sekali. Dari sorot mata Cowok itu, tersirat kesedihan mendalam. Sebenarnya apa yang terjadi? Jika ada cenayang di sini, maka Lusi akan bertanya.
Tangan Naufal mengelus-elus perut Kila membuat Lusi tergemap. Ia mulai berpikir yang tidak-tidak. Tak hanya itu saja, bibir Naufal menciumi punggung tangan Kila sekaligus menggenggam erat. d**a Lusi tiba-tiba terasa sesak, penuh. Lusi memukul-mukul dadanya sekuat mungkin. Rasanya begitu menyakitkan sekali melihat Cowok yang ia sukai dekat dengan Cewek lain! Lusi menahan dirinya agar tidak menegur Naufal saat itu juga.
“Gue benci lo, Kila!” sungutnya dalam batin. Dengan mata yang berderai air mata, Lusi pergi begitu saja. Tidak sanggup menyaksikan lebih lama lagi. Hatinya sudah remuk mengakibatkan luka amat dalam.