PART 49

904 Kata
Lusi: Dania, aku liat Kila di rumah sakit Dania: Hah? Serius? Lo liat dia di rumah sakit mana? Kenapa dia ada di situ? Lusi: Aku nggak tau. Kamu coba ke sana aja Dania: Eh, tunggu. Rumah sakit yang letaknya di jalan mawar no. 11 kan? Lusi: Iya, Dania. Kamu cepat ke rumah sakit itu ya. Aku khawatir kalau Kila kenapa-kenapa. Dania: Ya. Tenang aja. Lusi mematikan handphone nya setelah SMS Dania untuk memberitahu kabar itu. Lihat saja, setelah Dania datang pasti Naufal tidak berani untuk ke rumah sakit lagi. “Gue gak akan biarin kalian berdua!” teriak Lusi. Ia membanting HP nya sendiri ke bawah. Toh, ia bisa membeli HP baru lagi jika rusak. *** Dania tergesa-gesa menghampiri ruang resepsionis. Dengan nafasnya yang masih tersenggal-senggal ia bertanya, “Sus, apa di sini ada pasien yang bernama Kila—eh, maksud saya Alesya Kilata Aurora?” “Sebentar, saya cari dulu.” Dania menggigit bibir bawahnya. Dia begitu gelisah. “Maaf, tidak ada.” Suster itu membuyarkan lamunan Dania. “Apa? Suster yakin? Coba cek yang benar dan teliti dong.” “Saya masih muda. Penglihatan dan pikiran saya belum terganggu. Di sini memang tidak ada pasien bernama Alesya Kilata Aurora.” Respons Suster itu lembut, tetapi menohok. “Baik lah. Terima kasih,” Dania menunduk lesu. Dia sudah capek-capek datang ke rumah sakit, namun sia-sia. Melihat Dania sudah keluar dan tidak terlihat lagi, Naufal mengucapkan terima kasih pada suster itu. Ya, dari awal dia menyuruh para dokter dan suster untuk tidak memberitahu kondisi Kila pada siapa pun kecuali, pada dirinya. *** Tangan Dania yang mengepal terus saja mengetuk pintu rumah Lusi tanpa henti. Si empunya rumah langsung membuka pintu dengan kesal. “Lo bohongin gue ya?!” bentak Dania. “Maksud kamu?” demi apa pun, nyali Lusi menciut ketika melihat ekspresi Dania kala marah. “Temen gue gak ada di rumah sakit?! Lo mau mempermainkan gue, hah?! Iya?! Jawab lo! Lo punya dendam apa ke gue?!” “Eng-enggak kok. Aku ngga—“ “Nye nye nye nye. Jangan sok polos lo! Gue tadi bela-belain naik bus dari Bandung ke rumah sakit itu. Lo kalau benci sama gue ngomong! Tunjukin! Jangan gini caranya!” bentak Dania makin kencang. Coba kalian bayangkan, saat sedang liburan enak-enaknya tiba-tiba ada seseorang menelefon, menyuruh kalian untuk ke suatu tempat. Tapi ternyata kalian dibohongi dan dipermainkan. “Mungkin Kila sembunyi dari kam—aww! Lepas. Sakit.” Lusi merintih ketika rambut indahnya dijambak begitu kencang oleh jari jemari Dania. “Sekali lagi lo mainin gue kaya gini, lo gak baka—“ “WOY!” Dania terkejut, spontan dia melepaskan jambakannya. Tampak Fardo berdiri tak jauh dari Mereka. “Kakak...” Lusi berlari ke arah Fardo. Dia berlindung di balik tubuh besar kakaknya. “LO NGAPAIN KAYA GITU KE ADIK GUE?!” sembari terus membentak dan mengeluarkan makian, Fardo melangkah mendekati Dania. Dania menelan ludah. Gawat! Fardo terkenal bringas, nakal dan ketua tawuran yang menyebabkan korban. Ia salah telah berurusan dengan adik dari Cowok yang kerap kali dijuluki ‘iblis’. “Adik lo udah mempermainkan gue! Masa gue—“ Bugh! Satu tinju melayang ke pipi Dania hingga Dania terhuyung menimpa tembok. Lusi pura-pura terkejut dengan berteriak histeris padahal dirinya sangat senang. Fardo mencengkram kuat kerah Dania. “Sekali lagi lo macem-macem ke adik gue, gue bakal lakuin hal yang lebih kejam dari pada tadi! Ingat kata gue, lo jangan pernah ngusik adik gue kalau lo gak mau diusik gue!” “Kak, udah, Kak. Tenang. Nanti tetangga liat.” Lusi mencoba meredakan emosi kakaknya. Kala Dania menoleh ke arahnya, dia tersenyum miring kemudian memeletkan lidah. **** Naufal melihat ke arah jendela. Pemandangannya begitu indah walaupun sekarang sudah siang. Entah mengapa, wajah Kila yang tersenyum manis selalu terlintas di pikirannya. Setiap hari, ia tidak pernah berhenti berdoa supaya pacarnya itu bangun dari koma. Naufal sangat merindukan Gadisnya. Bus sudah berhenti di halte. Naufal turun tentunya dia membayar terlebih dahulu. Matanya tiba-tiba terpana pada Gadis sedang tertunduk menangis. Itu Dania. Naufal mengenalinya dari pakaian yang dipakai Gadis tersebut. “Dania? Lo kenapa?” Bukannya menjawab, Dania tiba-tiba memeluk Naufal erat. Naufal tidak membalas pelukannya. Ia diam saja terheran-heran. Isakan Dania semakin kencang. Naufal merasa iba. Dia mengelus-elus lembut punggung itu. “Lo kenapa?” “Di—dia... dia...” Naufal semakin khawatir. “Dia siapa? Cerita ke gue.” “Di...dia...mukul....gu...gue...” sahut Dania di tengah tangis tersedu-sedu dan masih di dalam pelukan. “Siapa yang berani mukul lo?” Dania malah menangis lagi. Ia menenggelamkan wajah penuh air mata di dalam d**a Naufal. “Lo tenang dulu, oke? Mana jiwa kuat lo? Kenapa lo jadi selemah ini?” Dania berusaha mengatur nafasnya. Dia mengusap kasar wajahnya, lalu melepaskan pelukan. Naufal terbelalak melihat wajah Dania. Terdapat luka lebam serta ujung bibirnya robek. Mengeluarkan cairan merah. “Muka lo kenapa?” tangan Naufal memegang dagu Dania. Menatap penuh prihatin. “Lo ikut ke rumah gue. Nanti gue obatin di sana.” Naufal memegang lengan kurus Dania. Menuntun ke rumahnya. Dania merasakan perasaan aneh. Rasa ini begitu asing, tetapi nyaman. Degup jantungnya juga tidak normal dan malah berdetak lebih cepat. “Masuk.” Naufal mempersilahkan setelah sampai di depan gapura tempat tinggalnya. Dania menurut. Ia masuk, matanya mengamati ke seluruh sudut rumah. Megah, itu lah kata yang tepat. Dia beringsut duduk di sofa. Tak lama, Naufal datang membawa kotak p3k. Ia bersila di hadapan Dania. Tangannya mengambil tisu, meneteskan obat di sana. Perlahan dia tempelkan tisu itu ke luka Dania. Dania sesekali meringis kesakitan. “Ibu, kakak sama adik gue lagi pergi. Jadi rumahnya sepi deh.” “Ng-nggak apa-apa kok.” Dania menelan ludah. Jika dilihat sedekat ini, ternyata wajah Naufal sangat tampan! “Siapa yang ngelakuin ini ke lo?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN