Waktu 1 minggu begitu cepat berlalu. Hari senin ini, seluruh murid kelas sebelas dan sepuluh menjalankan kembali rutinitasnya sebagai pelajar SMA yang super sibuk. Terlebih lagi, Mereka akan melaksanakan PAT.
“Selama libur kamu ke mana aja, Fal?” tanya Lusi pura-pura tidak tahu.
“Di rumah aja.”
“Aku liat kamu di rumah sakit, loh.” Sindir Lusi dengan tatapan polos, tapi penuh arti.
Naufal membulatkan mata. Sebisa mungkin dia sembunyikan raut terkejutnya. “Masa?”
“Iya. Aku udah panggil-panggil kamu, tapi kamu malah nggak nengok. Ya udah, aku pergi.” Lusi cemberut.
“Maaf.”
“Berarti kamu beneran ke rumah sakit kan?”
“Hm. Gue gak enak badan waktu itu.” bohongnya. “gue kecewa sama lo.”
“Apa? Kecewa?” Lusi bingung.
“Pikir sendiri.” Naufal bangkit. Sesudah mendengarkan cerita Dania, dia merasa jengkel pada Lusi. Tidak menyangka ternyata Lusi sejahat itu sampai benar-benar tega mempermainkan Dania dan membuat Fardo memukul teman pacarnya—Dania.
“Naufal! Tunggu!”
Tak ada respons. Naufal tetap berjalan tanpa mempedulikan Lusi berteriak memanggil namanya.
Tangan Lusi mengepal erat. Satu orang terlintas di pikirannya. Kila. Ya, Gadis itu telah menyebabkan sifat Naufal berubah padanya!
***
Sudah 2 bulan berlalu, Kila sama sekali belum sadar dari koma. Naufal tidak pernah absen menjenguk pacarnya itu. Dia juga selalu berdoa, memohon agar Kila sadar. Bahkan ia baru saja selesai ujian dan sebentar lagi akan naik kelas 12. Masa itu, dia berjanji akan membuat Kila pintar dan mendapatkan nilai tinggi, tapi lihatlah sekarang. Tuhan ternyata tak menghendaki.
Halaman belakang sekolah, tempat itu adalah pelarian Naufal ketika menangisi Kila yang tak kunjung sadar. Biar lah dia dikatai cowok cengeng atau apa pun itu. Yang terpenting, ia bisa mengeluarkan kesedihannya.
Ia menggigit bibir bawah menahan tangis yang akan pecah. Namun pada akhirnya, ia tidak bisa. Isakan tangis pecah begitu saja.
Belasan menit berlalu, Naufal akhirnya bisa mengendalikan diri. Ia mengusap kasar wajahnya kemudian pergi meninggalkan tempat itu untuk ke kamar mandi. Walaupun rupanya kentara habis menangis, ia tetap berjalan saja. Acuh pada omongan semua murid.
Ia masuk ke ruang guru. Seketika para guru yang ada di dalam menatap ke arahnya.
“Ada apa, Naufal?” tanya Pak Rezi selaku guru BK.
“Saya mau izin pulang, Pak. Badan saya gak enak sejak berangkat tadi.”
“Iya sudah. Saya izinkan. Perlu di antar atau tidak?”
Naufal menggeleng. “nggak perlu, Pak.”
“Baik lah. Hati-hati di jalan, ya,”
Dia segera menuju kelas untuk mengambil tas.
Menyaksikan Naufal seperti akan pergi, Lusi buru-buru mendekati. “Kamu mau ke mana? Kok bawa tas kaya gini?” ia berusaha menjejeri langkah. Tapi Naufal malah mempercepat jalannya. Alhasil Lusi tertinggal.
“Tunggu...” percuma. Naufal sudah berjarak jauh. Cowok itu malah menarik langkah ke gerbang.
“Ih!” Lusi mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sorot matanya penuh amarah.
***
Naufal segera berlari ke ruangan Kila. Wajah cantik pacarnya pucat pasi. Kedua netra itu masih saja terpejam rapat.
“Sayang, ini udah dua bulan. Kamu gak bangun?”
Tubuh Naufal bergetar menyaksikan mata Kekasihnya mengeluarkan air mata. Tangisannya lagi-lagi tumpah. Ia menenggelamkan wajah di tepi ranjang tepat di samping badan Kila.
“Fal...”
Naufal menggelengkan kepala. Ia pasti sedang berkhayal.
“Fal...”
Suaranya begitu lemah. Naufal mendongakkan kepala. Senyumnya lama-lama mengembang melihat mata Gadisnya yang sudah 2 bulan terpejam kini terbuka menatapnya. Tatapan itu membuat ia jatuh cinta.
“Fal...” ucap Kila sekali lagi. Kini ia telah terbangun dari tidurnya yang panjang.
“Aku... menyesal...” ujar Kila sebelum kembali memejamkan mata. Naufal buncah. Dengan tergesa-gesa, dia menekan tombol darurat di dinding tak jauh dari ranjang.
Tidak memakan waktu lama, Dokter Ani datang. Naufal menceritakan kejadian tadi, lengkap tanpa ditambahkan atau pun dikurangi.
Dokter Ani tersenyum.
“Kenapa Dokter tersenyum? Apa pacar saya benar-benar telah sadar dari koma?” tanya Naufal memastikan.
“Iya. Selamat. Saya kira dia akan koma dalam jangka waktu yang lama karena kepalanya terluka parah, namun Tuhan berkata lain. Tuhan menunjukkan keajaibannya.”
Naufal tersenyum haru. Akhirnya keinginan yang ia inginkan terkabul.
***
“Gue enggak mau bubur! Gak enak. Hambar.” protes Kila saat Naufal hendak menyuapkan bubur.
“Lo harus makan makanan yang lembut biar mudah dicerna, sayang.”
Bluss!
Pipi Kila merah merona. Kata ‘sayang’ berpengaruh besar pada perasaannya.
“Gak mau ih! Lo maksa banget sih. Sana, beliin gue nasi goreng sekarang!” tangan Kila mendorong pelan pundak Naufal agar pergi.
“Iya-iya.” Dengan terpaksa, Naufal keluar membeli nasi goreng. Entah ada atau tidak karena hari masih sore sedangkan nasi goreng biasanya ada di malam hari.
“Tunggu.”
Naufal yang sudah di ambang pintu seketika terhenti. Ia menghela nafas, kemudian menoleh. “Apa lagi?”
Kila berusaha bangkit, tetapi rasanya lemas sekali.
“Eh, lo mau apa? Jangan bangun. Biar gue aja yang ke sana.” Naufal menghampiri Kila.
“Kenapa lo manggil gue?” tanyanya setelah berada di tepi ranjang.
Kila meraih lengan Naufal, menggenggamnya hangat dengan tatapan tulus. “Maafin gue ya. Gue udah nuduh lo penjahat waktu di mall. Gue menghilang tanpa kabar dan bikin khawatir Mama, ayah, lo sama Dania. Di saat gue koma, gue mimpi lo akan pergi dari gue, Fal. Gue takut hal itu terjadi.”
“Gue juga minta maaf. Gue menghindar dari lo sejak kejadian malam itu. Andaikan waktu di pesta gue nggak minum pasti kehormatan lo masih suci hari ini. Gue khilaf, La.” Naufal menunduk.
“Jujur ya, waktu lo menghindar dari gue, gue merasa lo mau lari dari tanggung jawab. Gue merasa lo udah bosan sama gue. Gue merasa...” ucapan Kila menggantung. Ia meringis, satu air mata lolos turun membasahi pipinya.
“Jangan dilanjutin.” Naufal mengusap air mata itu. Ia memegang dagu Kila agar Gadis itu menatap ke arahnya. “gue gak akan ninggalin lo sendirian lagi. Gue bakal selalu nemenin lo.” ujarnya seakan-akan tahu apa yang akan diucapkan Kila. Ia menarik Gadis itu ke dekapannya. Tangan kanannya mengelus kepala—diperban itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“Fal,” panggil Kila masih berada di dalam dekapan Naufal.
“Hm?”
“Kok perut gue jadi gendut ya? Perasaan waktu gue koma, gue gak makan apa-apa,”
Naufal gelagapan. Ia masih belum bisa memberitahu hal itu. “Udah ya. Gue mau beli nasi goreng dulu.” Dia mengalihkan topik pembicaraan seraya melepaskan pelukannya.
“Jangan. Gue gak mau nasi goreng.”
“Trus mau makan apa?” Naufal berusaha untuk sabar.
“Buah-buahan sama makanan ringan aja. Jangan makanan yang berat. Perut gue udah penuh banget rasanya.”
“Iya udah. Gue beliin,” Naufal kembali berdiri.
“Fal! Tunggu!”
Naufal berbalik badan lagi. “Apa?”
“Ambilin plastik! Cepet!” desak Kila.
Dengan panik, Naufal mengambil plastik di meja di samping ranjang. Kila langsung menutup mulutnya dengan plastik tersebut.
“Hoeekk!”
Tidak hanya muntah satu kali, dia bahkan muntah berkali-kali. Naufal turut mengusap-usap punggung kecil Cewek itu.
Merasa tidak akan muntah lagi, Kila menutup rapat-rapat plastik tersebut.
“Badan gue nggak enak banget. Beliin gue obat masuk angin sana sekalian sama buah-buahan ya,”
“Kamu nggak masuk angin.”
Mendengar Naufal memanggil aku-kamu, Kila heran.
“Maksud kamu?”
Tangan kanan Naufal menyentuh perut Kila yang sedikit menonjol. “Ada dia,”
“Be-berarti a-a-aku... hamil?”