Kenyataan yang diucapkan Naufal membuat Kila tercengang. Kenyataan itu bisa merubah hidupnya. Memperpendek jalannya menuju masa depan yang cerah dan juga menghancurkan segalanya.
“Kil?” tegur Naufal kala menyaksikan Kila tak bergeming sama sekali.
Kila begitu syok. Dia akhirnya pingsan.
Naufal menahan kepala Gadis itu supaya tak terbentur tembok. “Kil? Lo kenapa?” telapak lengannya menepuk-nepuk pipi Kila secara beruntun. Tidak ada respons sama sekali Gadis itu.
Naufal memanggil Dokter Ani. Tak lama kemudian, Sang Dokter datang memeriksa Gadis tersebut.
“Dia tidak apa-apa kan, Dok? Dia tidak koma lagi kan? Apa kepalanya terluka parah, itu sebabnya dia pingsan?” tanya Naufal menggunakan kata baku agar lebih sopan.
“Tenang. Dia hanya pingsan karena syok. Kamu jangan membuat pikirannya terbebani untuk sekarang. Kondisinya belum benar-benar pulih dari koma. Dia masih perlu beradaptasi. Selama masa beradaptasi, kamu harus support dia. Jangan bikin dia down. Terlebih lagi, dia sedang hamil muda. Kalau pacarmu stres, bayinya akan terkena dampak.” Jelas Dokter Ani panjang lebar.
“Baik, Dok.”
“Suster saya nanti akan memberi obat untuk ibu hamil. Kamu jangan lupa buat dia minum obat itu sesuai anjuran.” peringat Dokter Ani.
Selepas Dokter Ani pergi, Naufal melangkah keluar juga untuk membeli makanan supaya Gadis itu tidak lapar jika sudah sadar nanti. Tidak lupa, dia menitipkan Kila ke suster.
Jalanan begitu ramai kendaraan sedang berlalu lalang. Naufal menengok ke kanan-kiri. Dirasa aman, dia menyebrang jalan. Letak toko buah tak jauh, hanya berjarak beberapa meter saja.
“Buk, buah-buahan untuk orang hamil muda bagusnya apa?” tanya Naufal begitu sampai di toko buah.
“Mangga, alpukat, pepaya sama jeruk, Mas.”
“Bungkus semua. Masing-masing 5 buah aja.” Sembari menunggu pesanannya dikemas, Naufal memutuskan untuk bermain ponsel sejenak.
“Aku pesan buah apelnya 3 biji,”
Mendengar suara tidak asing, Naufal mendongak. Seketika ia terbelalak melihat Lusi ada di dekatnya.
“Eh, kamu kok di sini?” bukan Naufal yang bertanya, tapi Lusi.
Lusi menghadapkan badannya di depan Naufal. “Kamu beli buah buat apa?”
“Buat makan.” sahut Naufal ogah-ogahan.
“Aku ngerti, maksud aku, kamu beli itu buat si—“
“Mas, ini.” Wanita paruhbaya itu memberikan sekantung plastik hitam berisi buah tentunya.
“Terima kasih.” ujar Naufal sambil menyerahkan uang. Dengan cepat tanpa mengatakan apa pun pada Lusi, ia pergi begitu saja. Meninggalkan Lusi sendirian.
Tangan Lusi mengepal erat. Salah apa dirinya sampai diperlakukan dingin seperti tadi. “Cepet! Lama banget sih!” gertaknya pada si penjual.
Wanita paruh baya itu terbelalak kaget. Ia kira, Gadis tadi cewek manis dan sopan, tapi malah kebalikannya.
Lusi merebut plastik itu seraya merengut kesal.
***
Naufal mendesau lega saat melihat Kila terduduk di tepi ranjang.
Ia mengetuk pintu 3 kali agar Kila tidak begitu kaget dengan kehadirannya. Tanpa mengatakan apa pun, ia mendatangi Kila. Meletakkan plastik itu di meja makan yang sudah disediakan.
“Aku bawa buah-buahan.”
“Mau dimakan yang mana dulu? Alpukat? Mangga? Jeruk?”
“Jangan ngelamun. Gak baik.”
“Kamu respons dong. Kaya patung aja. Diem mulu.”
Naufal terus saja berbicara meskipun perempuan di hadapannya ini tak bergeming bak patung hidup.
“Gue mau gugurin kandungan ini.”
Deg
Hati Naufal terkoyak seperti telah dihunus pedang amat tajam. Sungguh, ia tak menyangka Kila akan berbicara sekejam itu.
Naufal mengatur dirinya agar tidak emosi saat itu juga. “Kamu liat or—“
“Gue mau gugurin kandungan ini!”
“Gue benci! Gara-gara bayi ini, hidup gue dan masa depan gue hancur!”
“Semuanya pasti bakal benci gue! Semuanya pasti akan menjauh dari gue! Semuanya pasti bakal jijik liat perut gue!”
Kila meremas perutnya. Khawatir, ia segera menjauhkan lengan Kila dari perut Gadis tersebut.
“Gue gak akan ninggalin lo! Gue gak benci lo sekali pun perut lo membesar suatu saat nanti! Gue bakal lihat perut lo dengan penuh kasih sayang! Lo gak akan sendirian. Ada gue,” ucap Naufal melemah di akhir. Ia kembali menarik Gadis itu ke dekapannya.
“Jangan bunuh dia. Dia hasil kesalahan kita malam itu,” ujar Naufal lagi. Suaranya terdengar gemetar.
Kila menjauhkan badannya dari Naufal hingga pelukan mereka terlepas.
Plak!
“Lo berengsek!”
“Gue benci lo!”
“Gue benci bayi ini!”
“Seharusnya malam itu gue nggak dateng ke pesta!”
“Seharusnya gue gak nolongin lo waktu lo mabuk!”
Kila dengan sisa tenaganya memukul d**a bidang Naufal secara bertubi-tubi. Naufal pasrah.
“Lo boleh pukul gue sepuas yang lo mau, tapi jangan sakiti bayi gak berdosa itu. Dia berhak hidup.”
“Gue nyesel.” Kila tertunduk lemas. Ia berhenti memukuli d**a Naufal. “Seharusnya... kita nggak ketemu.” Lanjutnya melemah.
"Lo harus terima ini. Jangan lari dari kenyataan, Kil. Jangan juga jadi pembunuh. Bayi itu anugerah. Kita enggak boleh sia-siain pemberian Tuhan. Lo mau kena karma setelah lo gugurin bayi itu?"
"Gue nggak mau denger perkataan lo. Pergi."
Naufal mematung. Ia hendak mengelus rambut hitam Kila, namun segera ditampik oleh lengan Gadis itu.
"Gue bilang pergi!"
"Lo jangan berbuat ceroboh."
Kila geram. "Pergi atau gue bakal gugurin kandungan ini!"
Naufal menurut. Ia menarik langkah ke pintu. Namun, sebelum di ambang pintu, ia berhenti. “Dia nggak salah apa-apa dan gue enggak akan ninggalin lo kaya cowok b******k dan gak bertanggung jawab.” Itulah kata terakhir yang Naufal ucapkan sebelum pergi.
Kila menutup wajahnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Tidak peduli jika ada orang di luar ruangan.
Mama.
Kila sangat merindukan sosok itu. Dia butuh sandaran untuk menceritakan semua kesedihan dan penyesalan saat ini.
Namun, kondisinya yang lemah membuat ia tak bisa berjalan normal seperti biasa.