Kila POV
Ternyata benar apa kata pepatah yang berbunyi: penyesalan datang paling akhir. Jujur, aku syok ketika Naufal berkata ada ‘dia’ sambil memegang perutku. Aku tahu apa artinya. Aku benar-benar tidak menyangka sudah hamil seperti ini! Ya, meski pada awalnya aku mengetahui akan mendapat hasil dari kejadian malam lalu.
Tapi, tetap saja! Aku syok mendengarnya. Aku memukul-mukul d**a Naufal bertubi-tubi. Biar lah dia merasakan sakit. Aku sungguh menyesal seharusnya aku tidak ke pesta itu. Seharusnya aku tidak menolong Naufal. Seharusnya, seharusnya dan seharusnya! Nasi sudah menjadi bubur. Hasil dari malam itu sudah tumbuh di perut datarku. Tiba-tiba kepalaku pening sekali. Menit berikutnya, semua gelap gulita.
Aku mengerjapkan mata. Suster berdiri di sampingku seperti mengecek sesuatu. Setelah aku lihat dia sudah selesai, aku bertanya padanya, “Sus, sejak kapan saya dirawat di rumah sakit ini?”
“Sejak dua bulan satu minggu lalu.” Suster itu tersenyum ramah.
“Berarti saya koma selama itu, Sus?”
“Iya. Jangan lupa diminum obatnya ya. Saya permisi dulu,” aku mengangguk. Suster itu pun pergi.
Aku iseng mengelus perut. Ternyata benar, perutku terasa sedikit seperti ada sesuatu di dalam sana. Belum terlalu besar, namun itu membuatku kaget. Aku mencubit lengan sekencang mungkin. Sakit. Berarti ini kenyataan!
Aku termenung sebentar. Mencoba memikirkan masa depanku dengan bayi kecil yang selalu bergerak-gerak ke sana kemari. Tidak bisa diam. Sedangkan aku memakai daster longgar dan oh, tidak! Badanku melebar ke mana-mana. Aku menggelengkan kepala. Mendadak tenggorokanku terasa kering. Aku meraih gelas, meminumnya hingga tersisa habis.
Suara ketukan pintu terdengar. Aku tahu itu Naufal karena Cowok itu berdeham beberapa kali.
Dia membelikanku buah-buahan. Aku sebenarnya lapar, tapi ingat! Aku sedang marah. Sebisa mungkin aku menahan rasa laparku. Naufal berkata manis sekali. Aku tidak tahu, entah ucapannya benar-benar tulus atau tidak. Aku mengeluarkan semua emosi yang ku pendam. Dia malah diam saja. Dasar Cowok aneh!
Perkataan yang dia katakan saat di ambang pintu sebelum pergi, sukses membuatku merasa lega ketika Naufal mengatakan tidak akan meninggalkanku dan bayi ini tak salah. Aku bimbang. Mataku memerah. Detik kemudian, aku menangis. Mengeluarkan semua unek-unekku di sana.
Sudah cukup lama aku menangis, aku mengusap air mata. Aku butuh udara segar sekarang. Seorang suster tiba-tiba masuk lagi.
“Anda sudah meminum obat?” tanya Suster itu.
Aku menggeleng pelan. “Belum, Sus.”
“Anda harus minum obat itu supaya bayi Anda sehat.” Suster itu mengambil obat, membukanya kemudian memberikannya padaku.
Aku mengelak karena belum makan sama sekali. Tapi Suster itu menyuruhku untuk makan. Mau tidak mau aku harus menurut. Selesai makan, aku meminum obat. Suster itu hendak pergi, namun aku mencegahnya.
“Ya, ada apa?” tanya Suster itu setelah aku panggil namanya.
“Saya boleh keluar, Sus? Saya mau cari udara segar.”
Suster membolehkan. Tapi dia keluar dulu untuk mengambil kursi roda. Kata Suster, setelah koma kemungkinan akan terjadi kelumpuhan, namun aku berharap semoga aku lumpuh sementara saja. Jangan selamanya.
Suster mendorong kursi rodaku. Aku meminta berhenti di taman yang berada di samping rumah sakit. Taman itu begitu ramai sekali. Anak-anak kecil berlarian ke sana kemari bermain ayunan, sepeda, dan berbagai macam mainan yang ada di sana. Aku duduk di bangku. Udaranya begitu segar sekali.
“Apa? Aku tidak bisa menjadi ibu? Kamu bohong kan, Mas? Jawab! Kamu bercanda kan? Jawab, Mas! Jangan diam aja!”
“Sabar, Fina. Kamu harus tabah dan kuat, oke? Jangan lemah. Kita masih bisa adopsi anak di panti asuhan.”
“Aku enggak mau rawat anak orang! Aku mau anak dari rahim aku sendiri!”
“Jangan egois, Na. Keluarga aku butuh keturunan.”
“Aku tau! Tapi aku ingin pewaris harta kamu itu dari rahim aku sendiri! Bukan orang lain!”
“Sadar, Fina! Kamu tidak bisa mengandung. Dokter sudah memberi tahu tadi. Apa kamu tidak dengar?”
Tidak jauh dari tempat duduk ku, sepasang suami istri tengah berdebat. Aku dengan saksama mendengarkan perdebatan mereka. Bisa ku simpulkan, Mereka berdebat soal anak.
“Wanita itu nggak bisa mengandung. Dokter Ani tadi memeriksanya. Aku ikut membantu.”
Aku terkejut ketika suster itu berbicara. Saat aku menoleh, suster itu sudah duduk di sebelahku.
“Jadi, wanita itu sama sekali tidak bisa mempunyai anak? Sama sekali? Apa tidak ada pengobatan?” tanyaku.
“Rahimnya rusak dan akan diangkat beberapa hari lagi.”
Aku turut prihatin mendengarnya.
“Kamu tau? Banyak sekali orang di dunia ini mengharapkan bayi. Mereka melakukan apa pun untuk mendapatkan anak. Tapi di sisi lain, aku lihat berita di TV, banyak kasus aborsi bayi. Mereka yang melakukan aborsi seolah-olah tidak mempunyai belas kasih. Mereka berani melakukan sesuatu di luar batas, tapi enggak mau menuai hasilnya. Jika mereka enggak mau hamil, kenapa mereka melakukan itu? Aku heran dengan orang-orang zaman sekarang. Kamu tau maksudku kan?”
Aku mengangguk pelan. Kata-kata Suster itu seperti menyindirku, tapi benar juga. Aku harus mau menuai hasil dari apa yang aku perbuat bersama Naufal. Dan juga di dunia ini banyak orang yang ingin memiliki anak, tetapi kenapa aku malah membenci bayi di perutku ini?
Aku sudah berniat untuk tidak menyalahkan Naufal lagi. Apa yang terjadi pada hari ini mungkin sudah menjadi takdir dalam hidupku.
“Kamu sering merasa mual? Pusing?”
“Iya. Tadi pagi. Rasanya enggak enak banget, Sus.” Keluhku. Dia malah terkekeh pelan.
“Itu namanya morning sicknees. Wajar kok. Tenang aja. Kamu harus banyakin makan buah-buahan sama yang bergizi ya,”
Aku mengangguk lagi. Setelah itu, kami mengobrol. Baru kali ini aku menemui suster sebaik dan se asik dia. Ternyata nama Suster itu Via. Aku menanyakan langsung.
Tidak memakan waktu 1 jam, aku meminta kembali lagi ke ruanganku.
Aku duduk di kursi roda seraya memakan buah-buahan yang Naufal belikan tadi begitu aku sampai di kamarku. Suster itu pergi, dia bilang ada pasien yang harus dibantu. Aku mengiyakan saja.
“Mama akan belajar nerima kamu, Nak.” Aku mengelus perutku yang sedikit menonjol itu. Setelahnya, aku melanjutkan makan kembali. Tapi belum sampai 30 menit, aku kembali bosan. Naufal di mana? Mengapa dia sampai sekarang belum kembali.
Sebaiknya aku harus mencari. Aku pergi dengan kursi roda. Tidak ada suster yang membantu hari ini. Lumayan susah, tapi akhirnya aku bisa menjalankan kursi roda sendiri.
Sesampainya aku di luar rumah sakit, mataku menangkap Naufal sedang duduk di bangku taman yang aku duduki beberapa puluhan menit lalu. Dia duduk bersama seorang wanita.
Aku menyipitkan mata. Memperhatikan wajah wanita itu dengan saksama. Ternyata itu Dania!
“Ngapain dia di sini?” tanyaku pada diri sendiri. Naufal bercerita padaku kalau tidak ada yang mengetahui keadaanku termasuk Dania.
Lebih anehnya lagi, Dania bersandar di pundak Naufal dan terlihat menangis. Rasanya sangat panas dan jengkel menyaksikan itu. Apa ini yang dinamakan cemburu?
Aku tidak sanggup melihat itu lagi. Aku memilih untuk kembali ke ruanganku. Tapi mendadak kepalaku pening. Terasa pusing sekali. Aneh, kenapa tubuh semua orang menjadi tiga. Aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa pening ini.
Gelap.
Itu lah yang ku rasakan terakhir kali.