PART 53

1278 Kata
*Apakah ini petunjuk dari Tuhan?* Kila POV “Mama,” Aku mengerjapkan mata. Aku kira, aku sedang berada di kamar, tapi ternyata salah. Aku sekarang... berada di taman?! Tunggu, ini sungguh tak masuk akal. Tadi kan aku berada di rumah sakit. Atau mungkin saja, Naufal membawaku ke sini? “Mama, temenin aku main, Ma.” seorang anak laki-laki kira-kira usia 6 tahun menarik-narik ujung bajuku. Aku tak mengenalnya, tetapi wajah anak itu persis seperti Naufal. Hidung, mata, bentuk rahang, mulut, semuanya sangat persis. “Kamu siapa?” “Aku legan. Bukan, tapi le... le...” Aku terkekeh melihat ekspresinya yang menurutku lucu. “Regan?” “Nah, itu. Mama sih kasih nama itu jadinya kan Legan susah ngucapin.” “Ibu kamu mana? Kok sendirian? Trus Papa kamu mana?” tanyaku bertubi-tubi. Anak kecil bernama Regan itu menunjuk ke arahku. Aku tergemap, apa maksud anak itu aku ibunya?! “Kamu pasti salah orang. Aku bukan Mama kamu, Nak.” Aku tersenyum seraya mengusap rambut Regan. Jelas aku mengelaknya karena aku tak mungkin mempunyai anak sebesar itu. Regan melengkungkan bibir. Tak lama kemudian, ia menangis. Aku jadi panik. Mata semua orang yang ada di taman itu melirik ke arahku. “Eh, udah dong. Jangan nangis. Kakak enggak ngapa-ngapain kamu padahal.” Jariku terulur ingin mengusap air mata di pipi anak kecil itu, tapi dia malah berlari. Aku mengejarnya untuk meminta maaf. “Nenek, Mama jahat sama Legan. Masa Mama bilang, Legan itu bukan anaknya dia,” Bocah itu mengadu. Entah pada siapa. Aku tak tau karena posisi orang itu membelakangiku. “Tenang, cucuku. Nanti Nenek marahin Mama.” “Jangan marahin, Nek. Kasihan Mama.” “Udah ya. Kanu jangan nangis lagi.” Wanita yang rambutnya sudah terlihat beruban mencium kening Regan. Setelahnya, dia berbalik. Menatap diriku. Ia berdiri. Itu Mama! Ya ampun, sudah lama aku tidak bertemu dengan Mama. Aku hendak menjelaskan sesungguhnya, tapi tanpa aba-aba Mama menamparku hingga aku tertoleh ke samping. Sakit. Tamparan itu mengingatkanku pada saat di rumah sakit. Ya, waktu itu aku ditampar ayah dan dicaci maki karena telah menyebabkan adikku—Alden terjatuh dari tangga dan meninggal. “Mama kenapa nampar aku?” tanyaku dengan suara gemetar. “Sampai kapan kamu tidak mengakui Regan sebagai anakmu, hah?! Dia sudah enam tahun! Bayangkan! Kamu selama enam tahun mengabaikan Regan dan selalu bersikap kasar padanya. Tolong terima Regan di kehidupan kamu, Nak!” “Ma—mama—“ “Jangan panggil saya Mama! Jika kamu tidak menganggap Regan sebagai putramu, maka Mama enggak akan anggap kamu sebagai anak mama!” Aku sangat terkejut mendengarnya sekaligus sakit. Ya, selain pipiku yang sakit dan juga memanas, kini hatiku juga ikut sakit. Terluka. “Mamah dengerin Kila dulu. Kila... Kila masih hamil, Ma. Kila belum melahirkan. Dan anak itu bukan anak aku.” “Jangan mengelak, Nak! Kamu udah lahiran!” Mamah mendekatkan anak laki-laki itu ke hadapanku. “Ini anak kamu! Bisa lihat kan, wajahnya mirip siapa?!” “Dia mirip Naufal,” jawabku lirih. “tapi aku... aku itu masih di rumah sakit. Mama tau? Aku sekarang lagi mengandung dua bulan, Ma.” “Kamu—“ Regan tiba-tiba menangis. Aku merasa bersalah. Sudah kedua kalinya anak itu menangis gara-gara diriku. “Regan kenapa? Uss... ussh.. jangan nangis,” Mama mengusap air mata Regan. Aku jadi mengurungkan niat untuk mengusap air mata itu. “Nenek jangan malahin Mama, nanti Mama sakit. Trus kalau Mama sakit, Legan gak punya Mama,” Kemudian Regan memeluk kakiku. Dia seakan-akan takut kehilanganku. “Legan mau main sama Mamah. Boleh kan, Nek?” Mamah menatapku tajam. Aku menundukkan kepala. Takut. “Boleh. Kalau kamu diapa-apain sama Ibu kamu, kamu harus ngadu ke Nenek.” Ujar Mamah. Aku ingin menampik, tapi ujung-ujungnya pasti ribut jadi aku diam saja. Menuruti permintaan anak itu. Regan kemudian menarikku ke suatu tempat. “Pelan-pelan. Kamu mau ke mana?” tanyaku. Dia melepaskan genggaman. Ternyata berhenti di rumah pohon. Regan dengan mudahnya memanjat. Aku mau tak mau mengikutinya. Sesampainya di atas, aku duduk tepat di depannya. “Ini buat Mamah,” Regan memberiku mahkota terbuat dari bunga-bunga. Indah sekali. Warnanya beragam. Ia memasangkan mahkota itu tepat di kepalaku. “Mamah suka?” tanyanya. Aku mengangguk semangat seraya tersenyum. “Terima kasih.” “Mah, Legan mau ketemu Papa. Papa lagi apa, ya, di atas sana?” Aku tersentak. Perasaanku mulai tak enak. Tidak, yang dimaksud Regan bukan Naufal. Aku yakin itu. “Nama papa kamu siapa?” tanyaku untuk memastikan bahwa dugaanku itu tak benar. “Na... Nau... Naufal. Kata nenek, nama ayah panjang, tapi Legan Cuma tau nama itu doang, Mah.” Aku mengerjap. Apa maksud semua ini? Tadi Naufal sedang bersama Dania, tapi perkataan bocah itu membuat aku ragu pada diriku sendiri. “Tidak, ini pasti hanya persamaan nama.” batinku meyakinkan diri sendiri. “Boleh Kakak lihat foto ayah kamu?” “Sebental,” Regan terlihat menyeluk saku bajunya. Semoga saja Ayahnya bukan Naufal. Ini sangat tak masuk akal menurutku. Ia menyodorkan foto. Aku langsung menerima. Saat aku balik fotonya, betapa terkejutnya aku! Foto itu foto Naufal. Wajah Naufal di sana terlihat lebih dewasa. Aku melempar foto itu hingga mengenai tubuh Regan. “Kamu sebenarnya siapa, hah?!” aku menjauh. Ia mencoba mendekatiku lagi. Aku semakin mundur. “Mamah, ini Legan. Aku anak Mamah. Anak yang pernah ada di rahim Mamah...” “Menjauh kamu!” aku teriak histeris. Regan menatapku dengan tatapan menyeramkan membuat aura menggemaskannya hilang. Aku memalingkan muka. Tak berani menatap wajahnya. “Biarin aku hidup di rahim Mamah selama sembilan bulan. Aku perlu hidup, Mah. Aku ingin Mamah merawatku dengan kasih sayang. Aku ingin Papa mengajariku bersepeda. Jangan bunuh aku, Mah. Aku mau hidup.” “Aku mau hidup bersama kalian...” “Aku ingin ada di antara kalian...” Aku menutup telingaku menggunakan tangan. Regan terus saja bilang perkataan itu berkali-kali. Hingga akhirnya, aku terjatuh ke bawah dari rumah pohon yang amat tinggi. “Enggak! Gak! Aakkhh!” “Kamu kenapa? Hey, sadar.” Aku membuka mata. Ternyata aku tadi bermimpi. Tapi kenapa terasa nyata? Aku menangis haru melihat Naufal ada di depanku. Ia ternyata belum meninggal. Masih ada di sini. Aku mendudukkan diri, kemudian mendekap erat tubuh Naufal. Aku menenggelamkan wajahku di dadanya. Menangis tersedu-sedu. Mimpi yang ku alami tadi membuatku gila dan takut kehilangan. “Jangan ninggalin gue. Lo nggak apa-apa kan? Tubuh lo ada yang terluka? Jawab gue, Fal. Gue takut lo kenapa-kenapa.” panikku seraya melepaskan pelukan. Dia malah menatapku heran. “Aku gakpapa, Yang. Tenangin diri kamu oke?” “Gue... gue tadi mimpi ada anak kecil, dia bilang lo udah meninggal. Gue takut, Fal. Gue takut...” kataku. Tangisanku kembali pecah. Naufal kembali membawaku ke dalam pelukannya. “Mimpi itu Cuma bunga tidur. Kamu lupain mimpi itu. Sampai kapan pun, mimpi itu gak akan terjadi di kehidupan nyata,” ujar Naufal menenangkanku, tapi tetap saja. “Kalau mimpi itu terjadi di kehidupan nyata gimana? Lo mau jadiin gue janda? Gue gak mau lo duluan menghadap Tuhan, Fal. Gue mau kita mati bersam—“ Naufal tiba-tiba melepaskan pelukan. Ia meletakkan jari telunjuknya ke bibirku. “Kamu harus istirahat. Biar aku nemenin kamu sampai tidur.” “Gak mau. Gue takut anak kecil itu dateng lagi ke mimpi gue.” “Iya udah. Kita makan aja ya? Kamu pasti laper kan?” Aku mengangguk menyetujui. Ia mulai menyuapiku dengan buah-buahan. “Apa kamu udah nerima dia?” tanya Naufal tiba-tiba. “Hah?” bukannya aku tak dengar, aku hanya melihat bagaimana reaksi Naufal. “Ng—nggak kok. Lanjut makan aja sana.” Dia mulai terbata-bata. “Gue udah nerima,” ujarku lirih. Aku yakin Naufal mendengarnya karena jarak kami tak terlalu jauh. “Serius? Kamu gak bercanda kan?” Aku menggeleng. Dia tersenyum lebar ke arahku. Sungguh tampan sekali. Aku menundukkan kepala, tak kuat melihat wajahnya bisa-bisa jantung ini meledak karena terlalu cepat berdetak. “Tapi, ada syaratnya.” Raut muka Naufal kembali serius. “Apa?” “Jangan panggil aku-kamu! Lebay tau. Gue gak suka.” Aku bicara jujur. Naufal terkekeh pelan. Ia kemudian mengiyakan. “Tapi kenapa lo tadi sama Dania? Kalian kelihatan deket banget. Dania nyandar di pundak lo seolah-olah lo itu pacarnya. Seharusnya gue nggak nyelamatin lo dari tabrakan truk. Biar lo mati aja sana karena lo bisanya Cuma nyakitin cewek doang!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN