Author POV
“Lo cemburu?” Naufal menatap lekat Kila. Tatapan itu membuat Kila refleks menunduk. Tidak kuat. Naufal terlalu tampan.
“Eng—enggak!”
“Jangan bohong. Lo takut gue direbut orang lain kan? Lo takut kehilangan gue kan?”
Biasanya, setiap mendengar perkataan itu Kila menjadi mual alias tidak suka. Tapi sekarang, ia malu. Terlihat dari pipinya yang muncul semburat merah.
Jari jemari Naufal mengangkat dagu Kila. Membuat Gadis itu balas menatapnya. “Lo udah benar-benar maafin gue?”
Kila mengangguk pelan. “Tapi gue nggak suka lo deket Dania. Walaupun Dania teman gue, tapi tetap aja. Gue gak like.”
“Tadi kebetulan ketemu. Katanya Tante dia dirawat di rumah sakit ini juga. Dia juga cerita kalau tantenya kritis. Gue enggak tega liat cewek nangis, La.”
“Hah?! Tantenya Dania kritis? Gue mau ke sana. Kasihan Dania pasti sedih banget. Dia butuh sandaran.” Kila menyibak selimut yang menutupi pahanya. Ia perlahan bangkit, tapi Naufal memegang lengannya.
“Gue udah tenangin dia. Lo nggak perlu ke sana. Kondisi lo belum pulih. Nanti dia kenapa-napa.” Mata Naufal terarah pada perut Kila.
Kila mengurungkan niatnya.
“Tadi ada yang nganter lo waktu lo keluar, Yang?”
“Gak. Gue pake itu.” Kila menunjuk kursi roda. Naufal ber ‘oh’ ria. Mereka kembali diam. Terlarut dalam pikiran masing-masing. Naufal memainkan ponsel, sedangkan Kila memikirkan tentang kedua orang tuanya. Ya, sudah 2 bulan lebih dia tak bertemu dengan Mereka. Mama dan ayahnya pasti mengkhawatirkan dirinya.
Tapi tunggu.
Jika Mama dan Ayahnya mencari dirinya, pasti dia mendapatkan telefon atau pesan di HP nya. Namun, lihat. Sampai sekarang Mereka tidak menunjukkan tindakan untuk mencarinya.
“Fal...”
“Hm?” Naufal mendongak. Ia mematikan ponsel agar lebih fokus mendengarkan Kila.
“Orang tua gue, apa Mereka pernah tanya ke lo tentang keberadaan gue?”
Naufal terdiam sejenak. Tidak mungkin jika dirinya bercerita bahwa kedua orang tua Gadis itu menghilang entah ke mana dan juga sudah pindah rumah. Bercerita seperti itu akan membuat pikiran Kila terbebani.
“Pernah. Mereka nanya berkali-kali malah. Tapi sekarang orang tua lo lagi ke luar negeri. Ada urusan bisnis katanya dan nggak tau pulang ke sininya kapan. Gue belum dikasih tau, Yang.”
“Apa Ayah juga nanyain gue? Ayah udah maafin gue?”
“Iya. Om Edwin udah maafin lo.” bohong Naufal. “Suatu saat nanti aku bakal kasih tau yang sebenarnya, Kil.” lanjutnya dalam batin.
“Fal, gue mau pulang. Bosen di sini terus.”
“Sabar. Lusa kita pulang.”
“Anter gue keluar yuk! Kita liat senja di luar. Pasti langitnya indah banget.” Kila begitu bersemangat. Naufal malah menggeleng.
“Enggak boleh. Gak ada senja. Sekarang mau hujan dan anginnya kenceng. Itu bahaya buat lo,”
“Pokoknya gue mau keluar!”
“Kil, tunggu. Kam—“
“Kalian... ada di sini?”
Naufal spontan menoleh ke pintu begitu pun Kila. Naufal tergemap. Bagaimana Ibunya tahu tentang keberadaannya sekarang?
Kila tersenyum. “Halo, Tante. Apa kabar?”
“Naufal! Ibu perlu bicara sama kamu!” Yuni langsung memegang lengan putranya sesampainya di dekat Mereka. Sapaannya tidak dijawab membuat Kila sedikit kecewa.
Usai mereka sampai di tempat yang jauh dari ruangan Kila, Yuni menghempaskan tangan Naufal.
“Ibu kecewa sama kamu! Ternyata kamu selama dua bulan ini bohong. Kamu bilang, kamu main ke rumah temen, tapi apa ini? Kenapa kamu ada di rumah sakit? Kenapa kamu bohong ke Ibu? Dan juga, kenapa kamu tidak kasih tahu kalau Kila sudah ditemukan dan dirawat di sini? Kenapa kamu diam saja?” cecar Yuni tanpa henti membuat Naufal tertekan.
“Siapa yang bilang aku ada di sini, Bu?” tanya Naufal.
Plak!
“Kamu ditanya malah tanya balik! Kamu sadar tidak sih? Kila itu anak gadis orang. Kila anak bos di tempat Ibu kerja. Kamu mau ayahnya Kila memecat Ibu, lalu kita hidup kelaparan?!” begitulah bentakan Yuni setelah menampar putra satu-satunya.
“Dia udah enggak dianggap lagi sama orang tuanya. Waktu itu Naufal ke rumah dia buat bilang kalau anaknya masuk rumah sakit, tapi rumahnya sepi. Nggak ada orang di sana. Itu buat Naufal yakin kalau orangtuanya udah nggak menganggap dia sebagai anak lagi.” Naufal menjeda. “kalau enggak ada Kila waktu itu, mungkin Naufal udah gak ada lagi di dunia ini.”
“Maksud kamu?” Yuni menautkan alis.
“Kila nyelamatin aku dari tabrakan truk, Ibu. Dia bahkan koma dua bulan gara-gara kecelakaan itu.”
Ucapan Naufal sukses membuat mulut Yuni menganga. Ia langsung menutupi mulutnya dengan telapak tangan.
“Tapi kenapa kamu tidak bilang ke Ibu? Setidaknya, Ibu bisa bantu kamu ngerawat Kila.”
“Naufal nggak mau pikiran Ibu terbebani. Jadi Naufal pilih diam aja.”
“Tapi tetap aja. Ibu kecewa sama kamu. Kamu anggap Ibu seperti orang asing. Tidak mau terbuka.” Yuni hampir terjatuh. Naufal segera menahan Ibunya.
“Bawa Ibu ke ruangan itu lagi.” Pinta Yuni seraya menunjuk ruangan yang di tempati Kila.
Naufal menurut. Ia menuntun Ibunya ke dalam. Sesampainya di sana, Yuni langsung mengelus rambut hitam Kila membuat siempunya terkejut.
“Kamu baik-baik aja? Maafin Tante karena tidak menjawab sapaan kamu tadi,” ujar Yuni tersenyum kemudian.
“Gak apa-apa, Tante.”
Yuni mendadak memeluk Kila. “Terima kasih sudah nyelamatin anak Tante dari maut.”
“Iya, Tante.” Kila membalas pelukan. Di posisi saat ini, ia jadi teringat Mamanya—Yana. “Tante...” panggilnya lirih dan masih dalam pelukan.
“Apa, sayang?”
“Boleh aku panggil Tante dengan panggilan Bunda?”
“Boleh,”
Yuni melepaskan pelukan. Senyum manis Gadis di depannya ini seolah membawa energi positif. Bagaimana tidak? Moodnya tadi buruk, tapi sekarang berubah menjadi baik.
“Kamu udah makan, sayang?”
“Udah, Bun. Naufal tadi beliin makanan buat aku.”
Senyum Naufal seketika terbit melihat interaksi manis Ibu dengan kekasihnya. Dia mendesau lega. Tapi, rasa penasaran masih ada di dalam pikirannya. Siapa yang memberi tahu kalau dia ada di sini?