Melihat rencananya gagal, Gadis itu mengepalkan tangan kuat-kuat. Ia memukul tembok cukup keras membuat dirinya meringis kesakitan, tapi merutuki Kila yang sama sekali tak bersalah.
“Cewek s****n!” geramnya lirih, tapi penuh penekanan dan juga amarah.
Kaki jenjangnya itu melenggang pergi.
***
2 hari berlalu. Kila akhirnya diperbolehkan pulang. Kursi rodanya didorong oleh Yuni. Ya, Kila sebenarnya belum bisa berjalan akibat koma yang ia lalui 2 bulan lamanya. Dokter berkata kemungkinan Kila mengalami lumpuh permanen, tapi Yuni berjanji tak akan membiarkan itu terjadi. Ia akan merawat Kila dan memberi kasih sayang agar Gadis itu bisa berjalan lagi.
“Ya ampun! Kak Kila kenapa pakai kursi roda? Dan kenapa kepalanya diperban kaya gitu? Kakak enggakpapa kan?” heboh Reni saat Kila dibawa masuk ke rumah Mereka.
“Gak apa-apa kok.” Kila menyunggingkan senyum.
“Gue denger, lo menghilang ya? Lo pergi ke mana? Gue, Reni sama si matahari khawatir tau.” Ujar Hani—kakak Naufal yang sedari tadi menyimak. Naufal melirik tajam kala dipanggil dengan sebutan matahari.
“Kila akan tinggal di sini selama beberapa bulan. Kalian enggak keberatan kan?” tanya Yuni pada Reni dan juga Hani.
“Keringanan malah. Reni suka Kak Kila tinggal di sini kok. Hitung-hitung, Reni bisa nanya tips cara memikat cogan.” ujarnya terus terang.
Kila terkekeh pelan. “Siap,” sahutnya.
Hani menjitak kening adiknya. “Pikirannya cowok mulu. Belajar yang bener woy!”
Reni merengek kesakitan pada Yuni. Ia berhambur memeluk Ibunya untuk mendapatkan perlindungan.
“Jangan nangis. Malu sama tamu.” ucap Yuni. “Naufal, kamu antar Kila ke kamar di sebelah kamar kamu.”
“Siap, Bu.” Naufal mendorong kursi roda. Tidak memakan waktu lama karena jaraknya tak jauh. Ia membuka pintu begitu sampai di depan kamar. Seketika dia dibuat terkejut. Keadaan kamarnya begitu berbeda sekali. Dinding-dinding kamar itu dicat dengan warna biru langit membuat kesan menenangkan.
“Kamarnya bagus banget.” Kila terkagum-kagum. “Kamu yang siapin ini?” padahal Kila sendiri yang menolak memanggil dengan sebutan aku-kamu, tapi sekarang malah dirinya memanggil menggunakan sebutan itu. Sudah lah! Lupakan! Kila sedang merasa bahagia sekarang.
“Bukan. Mungkin Ibu kalau enggak Kak Hani.”
Naufal menghentikan dorongan kursi rodanya di tepi ranjang. Tanpa aba-aba, dia menggendong tubuh Kila menggunakan tangannya, kemudian meletakkan Gadis itu di ranjang.
Pipi Kila merah merona. Ia malu sekaligus senang. Jantungnya juga tidak berhenti berdegup kencang.
“Kamu tidur. Jangan begadang. Kalau butuh apa-apa, kamu tinggal telefon aku.” Naufal memberikan ponsel milik Kila yang sudah lama Kila tak memegangnya.
“Ponsel gue kenapa ada di lo?”
“Tukang bengkel kasih uang, ponsel sama barang-barang kamu waktu kejadian kecelakaan itu.” jelas Naufal. “oh iya, gue udah buat rekening buat simpan uang lo. Jadi tenang aja.”
“Kalau mobil gue?”
“Di bengkel. Ibu katanya mau ambil mobil itu sekarang juga,” jawab Naufal. “udah jam sembilan malam nih. Kamu tidur ya. Jangan lupa, baca doa dulu,” lanjutnya.
Kila merebahkan tubuhnya. Sedangkan Naufal menyelimutinya dengan selimut tebal sampai sebatas leher.
Setelah Naufal pergi, Kila tidak bisa memejamkan matanya sekarang. Ia rindu Mamanya. Sungguh, saat ini dia ingin tidur di pelukan wanita yang sudah melahirkannya.
“Kila kangen Mama,” perlahan, matanya menjadi berat untuk dibuka. Pandangan yang tadinya jelas kini samar-samar. Perlahan kedua netra itu tertidur.
***
Demi sejuta cogan! Kila merasa mual sekali pagi ini. Untung saja dia bisa naik kursi roda sendiri jadi tak perlu memanggil Naufal. Cairan bening ia muntahkan. Kepalanya juga terasa pusing. Kila menjadi tak nyaman untuk melakukan sesuatu.
“Kamu kenapa? Masuk angin?” tanya Yuni saat sampai di belakang Gadis itu. Ia turut mengelus-elus punggung Kila.
“Enggak, Kila Cuma—“
“Dia gak enak badan, Bu.” timpal Naufal berbohong. Ia masih belum berani untuk mengungkapkan kehamilan itu.
“Ya udah. Bunda beliin obat masuk angin buat kamu ya,” Yuni menatap Kila.
Kila tersentak. Ia yakin, obat masuk angin tidak baik untuk janinnya. “Ja-jangan, Mah. Aku enggak perlu obat. Paling nanti sore juga sembuh kok.”
“Beneran nih?”
“Iya, Bun.” Kila tersenyum kikuk.
***
Siangnya, Kila sedang menikmati pemandangan indah di halaman rumah Naufal. Banyak tanaman hias di sana. Rumput-rumput hijau yang terpotong rapi membuat sangat nyaman sekali jika dipandang. Siang hari ini tidak begitu terik. Mungkin karena akan hujan.
“Yang tanam tanaman ini Naufal. Dia hobi banget memperhias halaman. Mirip almarhumah ayahnya.” ujar Yuni tiba-tiba sudah ada di belakang Kila.
“Tanaman kesukaannya Naufal apa, Bunda?” tanya Kila.
“Dia sukanya bunga melati bahkan waktu kecil dia pernah makan bunga itu mentah-mentah.”
Jawaban Yuni membuat Kila terbelalak sekaligus panik. “Tapi Naufal gak apa-apa kan? Apa dia masuk rumah sakit waktu itu?”
“Dia tidak apa-apa. Bunga itu belum ditelan, jadi Bunda membantu mengeluarkan bunga melati itu.”
“Bunda, Kila mau tanya lagi boleh?”
“Boleh, sayang.” tangan Yuni terulur mengusap rambut Kila.
“Kenapa Naufal selalu pakai kacamata? Padahal dia keliatan lebih keren kalau gak pake kacamata loh, Bun.” Entah Kila diberi keberanian oleh siapa untuk berkata seperti itu.
“Dia rabun jauh, sayang. Makanya dia pakai kacamata lensa minus.”
“Tapi, apa bisa di operasi, Bun?” tanya Kila. Mendadak ide cemerlang muncul di kepalanya.
***
Hari ini, Kila meminta untuk makan di luar. Naufal menuruti daripada anaknya ileran nanti. Untung saja Yuni mengizinkan Naufal untuk pergi.
Suasana restoran begitu ramai, tapi Mereka berdua mendapatkan tempat duduk. Keduanya duduk berhadapan. Saling menatap satu sama lain.
“Ini menu makanan di sini. Silahkan kalian pilih. Khusus hari ini kami memberi diskon 40% untuk menu terbaik kami.” Mendengar tidak ada respons, wanita pelayan restoran itu menghela nafas.
“Permisi,” tegurnya sekali lagi.
“Kalian mau pesan makanan apa?”
Mereka sangat khusyuk sekali bertatap-tatapan hingga tak menyadari ada orang di dekat keduanya. Pelayan wanita itu menyentuh pundak Kila.
“Eh, kenapa?” tanya Kila. Lamunannya telah buyar begitu juga Naufal.
Naufal memilih makanan sesuai pilihan Kila. Mereka berdua makan bersama. Sesekali Naufal menyuapi Kila membuat orang di sekitar mereka iri sebab wajah Naufal sungguh tampan.
Namun, di tengah-tengah acara makan Mereka, seorang Gadis tiba-tiba datang.
“Kursinya enggak dipakai kan? Aku duduk di sini ya.” ujar Gadis itu tanpa menunggu jawaban Kila, ia duduk begitu saja.
“Lo ngapain di sini?” Naufal menatap dengan tatapan tak suka ke arah Cewek itu.
“Buat makan lah. Aku enggak boleh gabung sama kalian?” tanya Gadis itu dengan raut muka polos. “Oh ya, kamu ke mana aja, Kila? Kok baru kelihatan hari ini? Kamu tau enggak? Naufal, Dania dan anak se-SMA Sebum khawatir banget sama kamu selama dua bulan ini.” ujar Lusi menyudutkan. Iya, Lusi sengaja datang di antara mereka berdua. Dia sungguh tak terima sekaligus marah melihat Naufal menyuapi Kila.
Kila mengusap lehernya yang tak gatal. “Gu—“
“Jangan ganggu orang lagi makan. Kila, kamu lanjut makan aja.” ucap Naufal dingin.
“Ini enggak dimakan, kan? Buat aku aja ya. Kasihan, makanannya jadi terbuang sia-sia nanti.” Lusi mengambil piring berisi makanan yang seharusnya dimakan Kila. Ia makan begitu saja tanpa rasa bersalah.
“Itu makanan punya Kila. Lo gak bisa pesan makanan sendiri apa.” dongkol Naufal.
“Udah. Gak apa-apa. Gue udah kenyang kok.” Kila berusaha meredamkan emosi Naufal. Kemudian Naufal memberi makanannya yang tersisa lumayan banyak ke Kila. Mereka bertiga larut dalam kegiatan masing-masing.
Lusi melirik ke arah Naufal dan Kila secara bergantian. Seketika senyum licik terbit di bibirnya. Jari jemari lentik Lusi menyentuh gelas berisi cokelat panas. Alhasil gelas itu menumpahkan isinya menyiram telapak tangan Lusi.
“Aakkh! Naufal! Tangan aku!” teriak Lusi histeris.
Pandangan Naufal teralih. Ia begitu panik melihat telapak tangan Lusi memerah akibat terkena air panas. Tangan Naufal tergerak mengusap-usap lengan Lusi sekaligus meniupinya.
“Kenapa gelas itu bisa jatuh?” tanya Kila heran. Perasaan, letak gelas itu di tengah bukan di tepi. Masa iya, gelas itu bergeser sendiri untuk menyiram lengan Lusi. Sangat tidak masuk akal.
“Kamu pelakunya. Kamu jangan pura-pura enggak tau, Kila! Kamu marah ke aku karena aku udah ganggu kencan kamu ini kan?” todong Lusi. Air matanya sudah menetes sebab tangan yang tersiram air itu terasa sangat perih sekaligus panas.
Kila tersentak. Tuduhan Lusi benar-benar kejam. “Gue dari tadi makan. Gak menoleh sama sekali apalagi jatuhin gelas itu.”
“Aku tau, aku salah karena aku udah ke sini dan main ambil aja makanan kamu. Tapi enggak gini caranya kalau mau balas dendam. Kamu bisa maki-maki aku. Jangan nyakitin fisik aku.” Lusi bergetar mengucapkannya.
“Diem. Jangan bikin keributan di sini.” Peringat Naufal.
Kedua netra Kila berkaca-kaca. Ia baru saja difitnah, tapi Naufal tak membelanya sama sekali. Sembari menangis tersedu-sedu, Kila mendorong kursi rodanya sendiri keluar restoran.
Saat sudah sampai di pintu restoran, Kila menoleh ke belakang. Naufal ternyata tak mengejarnya dan hanya fokus pada Lusi.