Gapura berwarna cokelat itu sudah diketuk 3 kali oleh tangan kurus Kila. Ia berusaha menetralkan suaranya yang gemetar.
Detik kemudian, pintu dibuka oleh Hani. Dia sedikit terkejut melihat Kila sendirian. “Naufal mana? Kamu sendirian?”
“Dia lagi di warung buat beli sesuatu. Nanti sebentar lagi bakal ke sini kok.” ucap Kila berusaha untuk tersenyum walaupun hatinya remuk redam karena kejadian tadi.
“Oh. Ya udah. Sini masuk,” Hani beralih berdiri di belakang Kila, lalu mendorong kursi rodanya.
“Di rumah Cuma ada kamu doang, Kak?” tanya Kila.
Hani duduk lagi di sofa setelah mereka sampai di ruang TV. “Iya nih. Ibu sama Reni lagi keluar buat belanja makanan katanya. Tapi untung aja, kamu dateng jadi Kakak enggak kesepian.”
Mereka berdua kini fokus pada TV. Namun, pikiran Kila masih saja terpusat pada kejadian di restoran tadi. Ia tidak menyangka, ternyata Lusi itu Cewek licik.
Suara nada dering telefon terdengar. Kila mencari-cari benda itu. Bukan ponsel Kila yang berbunyi melainkan ponsel Hani.
Hani langsung mengangkat telefonnya. Kila perhatikan, wajah Hani bersemu merah. Ia yakin, pasti pacarnya menelefon.
“Kakak mau keluar sebentar ya. Kamu ditinggal sendiri gak apa-apa kan?” tanya Hani usai selesai mengobrol dengan seseorang.
“Gak apa-apa, Kak.” sahut Kila.
Tidak membutuhkan waktu lama, Hani keluar menggunakan jaket hitamnya. Sekilas terlihat seperti cewek tomboy.
Kila cemberut. Dia sebenarnya keberatan kalau sendirian. Tapi tidak ada pilihan lain. Untuk waspada, Kila menutup pintu rapat-rapat. Jujur, dia takut terlebih lagi belum mengenal lingkungan rumah Naufal.
Matanya mendadak sangat berat untuk dibuka. Masih berada di depan TV menyala, Kila perlahan menutup mata. Menuju alam mimpi.
***
Merasakan hembusan nafas menerpa wajahnya, Kila terkejut. Ia mengerjapkan mata. Pandangannya yang samar-samar menjadi normal kembali. Seketika dia membulatkan mata melihat Naufal berada di depannya. Wajah Mereka berhadap-hadapan. Dan juga ia sekarang sudah berada di kamar. Mungkin kah Naufal yang menggendongnya ke ruangan ini?
Naufal gemas melihat ekspresi Kila seperti itu.
“Se-sejak kapan lo ada di sini?” Kila gugup. Pipinya merah padam.
“Sejak tiga puluh menit lalu.”
“Gue kecewa.” ujar Kila mengungkit kejadian di restoran itu.
“Mau enggak mau, aku harus nolongin Lusi. Aku nggak mau Lusi nyakitin kamu.”
“Maksud lo?”
“Tau Fardo? Dia akan berbuat kasar kalau ada seseorang yang nyakitin adiknya.”
“Dari mana kamu tau hal itu?”
“Dania,”
Naufal menceritakan hari saat Dania tiba-tiba menangis dan menjelaskan peristiwa saat Fardo menampar Dania hanya karena menjambak rambut Lusi. Kila begitu terkejut mendengarnya.
“Seharusnya kamu gak usah sahabatan lagi sama dia. Aku takut suatu hari kamu diapa-apain sama Kakaknya Cewek sok polos itu,” ucap Kila panik. Naufal menggeleng.
“Gak semudah itu mutusin hubungan persahabatan yang udah bertahun-tahun, Yang. Dan juga, aku nggak akan suka sama Lusi. Kamu nggak perlu khawatir.” respons Naufal seakan-akan tahu apa yang dipikirkan Kekasihnya ini.
“Kamu janji gak bakal suka sama Lusi ya?” Kila menyodorkan jari kelingking. Naufal langsung menautkan.
“Aku janji.”
“Janji gak akan deket-deket Lusi lagi?”
“Janji.”
“Janji enggak akan pacaran sama Lusi?”
“Iya, janji.”
Kila melepaskan tautan. “Awas. Kalau kamu ngelanggar janji, aku bakal pindah keluar negeri untuk selamanya.”
“Iya, aku akan tepati janji aku. Aku enggak akan ngelanggar.”
“Bagus lah.” Kila tersenyum. Ia kemudian memeluk tubuh Naufal. Membenamkan wajah di d**a Cowok itu.
***
Tak terasa, masa liburan sudah habis. Kini kelas sepuluh dan sebelas harus masuk untuk pengambilan nilai.
Kila dibuat bingung, ia harus ikut atau tidak. Setelah acara muntah-muntah setiap pagi itu selesai, dia segera membersihkan dirinya. Ia sudah membulatkan tekad. Dirinya harus mengikuti ujian susulan hari ini. Untung saja Naufal kemarin mengajarinya beberapa materi yang tertinggal. Jadi ia tidak begitu kebingungan nanti.
“Kila...” Yuni mencari-cari keberadaan Gadis itu. Ada satu gelas jamu yang ia bawa.
Gadis yang dipanggil akhirnya keluar dari kamar mandi. Wajah Kila begitu cerah bersinar membuat Yuni perlahan tersenyum.
“Ada apa, Bun?” tanya Kila penasaran seraya berjalan menghampiri Yuni. Iya, Kila sudah tidak memakai roda lagi. Ternyata lumpuhnya hanya sementara.
“Ini buat kamu biar masuk anginnya sembuh.” Yuni memberikan satu gelas jamu. Dengan ragu-ragu, Kila menerima gelas itu. Seingatnya, orang hamil tidak boleh meminum jamu. Kila tahu itu saat Yana—ibunya sedang mengandung Alden—adiknya.
“Nanti aku pasti minum kok. Bunda keluar dulu ya. Kila mau ganti baju. Masa iya, aku ganti baju di depan Bunda.” perintah Kila secara halus. Tentunya dia berbohong. Ia akan membuang jamu itu ke toilet agar tak perlu meminumnya. Bukannya dia tak menghargai pemberian Ibu Naufal, tapi ia khawatir jika janinnya kenapa-kenapa.
“Oke. Nanti kalau udah siap, kamu ke ruang makan ya.”
“Siap, Bunda.”
Pintu ditutup oleh Yuni setelah keluar. Kila pelan-pelan mengunci pintu itu. Ia langsung membuang jamu itu ke toilet. Masalah jamu sudah selesai. Kini tinggal seragam! Kila berharap seragam yang ia beli waktu itu pas dengan tubuhnya.
Tidak terlalu menonjol. Kila bersyukur, setidaknya ia bisa menutupi perutnya itu dengan jaket.
Bau parfum menyerbak ketika Kila datang. Hani, Reni dan juga Yuni kompak memuji. Sedangkan Naufal sudah menunggu di luar.
Menit demi menit berlalu. Akhirnya Kila selesai memakan sarapannya. Dia mengucapkan pamit pada ketiga perempuan itu.
“Ayo,” ajak Kila begitu sampai di samping Naufal.
“Seragam kamu eng—“
“Ssstt. Jangan diterusin. Seragamnya muat kok apalagi roknya. Pas banget sama pinggang aku.” ujar Kila lirih.
“Perut kamu gak tertekan, kan?”
Kila menggeleng.
Mereka berdua melesat menuju sekolah menggunakan mobil milik Kila.
Kila tak tahu bagaimana ekspresi teman-temannya nanti. Tapi, Kila lega. Naufal ada di sampingnya.
Mereka sudah sampai di tempat parkir. Kila menoleh ke arah Naufal. “Aku takut,”
“Ada aku.”
“Kalau mereka nanya bertubi-tubi pertanyaan gimana?”
“Aku bakal bantuin kamu buat jawab. Keluar yuk. Udah jam tujuh,” Naufal mengacak pucuk rambut Kila sejenak, lalu keluar terlebih dahulu untuk membukakan pintu.
Kila keluar dari mobil. Matanya menyipit kala sinar matahari menerpa wajahnya. Naufal segera melindungi wajah Kila dengan kedua tangan.
“Aku deg-degan.” cemas Kila seraya memegang d**a. Ia menarik nafas, kemudian menghembuskan perlahan.
“Ayo,” ajak Naufal. Dengan perasaan campur aduk, Kila berjalan di belakang Naufal.
Mata semua murid yang ada di sana kini terpusat pada Mereka berdua. Kila menjadi risih. Entah mengapa, dia tak suka jika diperhatikan banyak orang. Berbeda saat dulu. Waktu ia pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini, Kila begitu bangga menjadi pusat perhatian.
“Semuanya ngeliatin aku, Fal.” Kila berbisik tepat di belakang Kekasihnya. Ia memegang seragam Cowok itu dari belakang bak anak kucing yang takut ditinggal oleh ibunya.
“Tenang. Ada aku. Kamu jalan biasa aja. Jangan kaya gini,” sahut Naufal tanpa memalingkan muka.
“KILAAA! SUMPAH DEMI APA?! LO ADA DI SINI? GUE GAK SALAH LIHAT KAN?! GUE KANGEN BANGET SAMA LO! SUMPAH!”