PART 47

915 Kata
“Dikarenakan anak kelas dua belas akan melaksanakan ujian, maka seluruh anak-anak kelas sepuluh dan sebelas belajar di rumah selama dua minggu.” Pengumuman kepala sekolah yang disiarkan melalui speaker sekolah itu membuat murid-murid riuh sekaligus heboh. Kecuali murid kelas 12. Mereka mendengus pasrah. “Fal, kita liburan ke pantai yuk. Di sana pasti seru.” ajak Lusi begitu semangat tanpa mengalihkan pandangannya ke depan. “Fal,” “Naufal,” Lusi mencebik kesal. Orang yang dia panggil sama sekali tak menjawab padahal jelas-jelas berdiri di sebelahnya tadi. “Ya ampun. Kamu kok malah bengong sih?” Tatapan Cowok itu kosong. Dia tetap tidak bergeming. “Naufal!” bentak Lusi sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Cowok tersebut. “Eh, iya? Ada apa?” “Nanti libur dua minggu. Kakak kelas kita ujian.” Jawab Lusi biasa saja. Semoga saja emosinya tidak keluar saat ini! “Ya udah kalau gitu,” “Kita liburan ke pantai yuk!” ulang Lusi. “Maaf. Gak bisa.” “Loh, kenapa lagi, Fal?” “Gue lagi gak enak badan. Mau istirahat.” Tentu saja Naufal bohong. Alasannya untuk bohong hanya satu: menemani Kila sampai Cewek itu bangun dari tidurnya yang panjang. “Kamu sakit?” tangan Lusi meraba kening Naufal berkali-kali, tetapi ia tidak merasakan panas sama sekali. “Sakitnya di dalem bukan di luar.” Singkat Naufal langsung pergi dari hadapan Lusi. Beberapa Cowok bersiul melihat Lusi meletakkan tangan di kening Naufal tadi. Lusi mengabaikan. Perlahan muncul benih-benih kecurigaan di hatinya. *** “Abian! Temenin aku periksa ke dokter habis pulang ya!” teriak Dasha begitu sampai di kursi, tempat duduk Abian sekarang. Abian mengerutkan dahi. Padahal dia sudah memberitahu Dewi kalau dia mau memutuskan pertunangan, tapi mengapa sampai sekarang Dasha masih dekat-dekat dengannya? “Gue sibuk.” “Sibuk apa? Kerja? Abian kan masih sekolah.” ujar Dasha berbicara seperti anak kecil menggemaskan. Perkataan Dasha membuat Abian mati kutu. Dia berdeham beberapa kali. Otaknya terus memikirkan alasan agar terhindar dari Gadis gila di dekatnya kini. “Hayo, pasti bingung mau jawab apa kan? Abian mau nemenin Dasha, ya, please. Mama sama Papa keluar negeri hari ini jadi mereka gak ada di rumah dan nggak bisa nemenin Dasha ke dokter.” “Gue nggak suka gaya bicara lo yang menye-menye.” ujar Abian terus terang membuat hati Dasha tersayat perih. Tapi bagaimana pun juga Dasha akan tetap tersenyum. “Iya udah. Gue harus bicara kaya gini?” suara Dasha kini alami. Tidak dibuat menggemaskan seperti tadi. “Hm.” “Jadi gimana? Lo mau nemenin gue periksa?” “Penting banget gue ikut?” Abian menatap sinis. “Penting. Ini menyangkut nyawa gue.” “Gue gak peduli.” Abian mengalihkan tinjauan. “Lo pengin gue mati?” suara Dasha bergetar. Matanya sudah terasa perih pertanda sebentar lagi akan menangis. Detik kemudian, Dasha tersenyum miring. “Lo pengin perusahaan ayah lo bangkrut?” Abian menggertakkan gigi. Jika menyangkut tentang perusahaan ayah angkatnya, Abian seketika mati kutu. Mau tidak mau, dia menuruti perintah Dasha untuk menemani Gadis itu ke rumah sakit. *** “Ma, Naufal mau ke rumah teman dan nginep di sana.” Kegiatan menyapu Yuni terhenti. Ia mengamati putranya dari bawah sampai atas. “Ke temen siapa? Jangan bilang kalau teman kamu itu cewek. Mama tidak setuju.” “Temennya laki-laki, Ma.” “Alhamdulillah. Tapi kenapa nginep di sana?” Yuni menatap penasaran. “Bosan di rumah. Cuma dua hari aja. Boleh, Ma?” “Iya. Jangan lupa telefon Mama nanti. Update kabar terus di sms. Jangan berhenti.” Ucap Yuni penuh penekanan. “Siap, Ma. Naufal pergi, ya?” tangannya menyalimi telapak lengan Yuni. Setelah itu, dia keluar. Untung saja tidak ada Reni dan Hani. Jika ada, sudah pasti dia akan diserang dengan pertanyaan bertubi-tubi. *** Abian dan Dasha turun dari bus setelah sampai di rumah sakit mekar sari. Dasha melirik Abian, melihat ekspresi Tunangannya seperti tak ikhlas, Dasha berdecak. “Kalau ekspresi lo nekuk kaya gitu, semua orang bakal takut liatnya.” “Berisik lo!” “Lo ikhlas nggak sih?! Sikap lo tuh nggak berubah. Satu tahun kita udah tunangan, tapi lo masih aja kasar ke gue. Lo kenapa sebenarnya? Apa perlu gue bawa lo ke ustadz buat ruqyah?” “Ngaco lo.” Abian melangkah terlebih dahulu. Mengantarkan Gadis itu sudah cukup membuang waktu banyak apalagi jika ribut. “Lo be—aww!” tubuh ramping Dasha tersungkur ke jalanan. Dia mendongak, melihat siapa yang menabraknya. Ternyata Cowok, namun dia tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup masker sekaligus topi. “Jalan pake mata dong!” teriak Dasha sewot. Cowok yang menabraknya malah melanjutkan langkah seakan-akan tidak peduli. Abian memijit kening. Ia malu, Dasha berteriak-teriak layaknya orang gila di tempat umum. Badannya berbalik. Mengulurkan tangan. Dasha menerima uluran tangan itu. Hangat membuat Dasha begitu nyaman. Namun, detik kemudian raut wajah Dasha berubah lempeng selepas Abian melepaskan genggamannya. “Lo nggak bisa romantis gitu?!” sungut Dasha tak terima. “Jangan marah-marah. Nanti penyakit lo kambuh. Gue yang repot.” Mereka berdua sampai di meja administrasi. Tidak lama kemudian, Dasha masuk ke suatu ruangan untuk periksa. Sedangkan Abian duduk di luar. Menunggu. Awalnya dia fokus pada benda pipih yang ia genggam, tetapi fokus Abian mendadak buyar selepas mendengar suara Naufal. “Saya bayar buat beberapa minggu ke depannya. Apa yang dua hari lalu sudah lunas?” “Sudah. Tapi uang ini—“ “Kan udah saya bilang, saya sekalian bayar untuk ke depannya. “ “Baik lah. Terima kasih. Kami akan menjaga dan merawat pasien Kila dengan lebih baik lagi.” Mendengar percakapan itu, Abian tersentak mendengar nama ‘Kila’ disebut. Dan juga, uang yang dibawa Naufal begitu banyak. Naufal melangkah ke suatu tempat. Perlahan Abian mengikuti, tapi dengan berjalan biasa saja agar tidak dicurigai orang sekitar. Merasa dirinya diikuti, Naufal menoleh sekilas. Ia begitu terkejut melihat Abian di belakangnya. Apa dari tadi Cowok itu sudah mengikuti? Mengapa dirinya tidak merasa sama sekali. Naufal berjalan melewati ruangan yang ditempati Kila. Dia akan membuat Abian lebih kebingungan. Lihat saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN