Tidak terasa, sudah 3 hari Kila terbaring di ranjang rumah sakit. Tak ada petunjuk atau tanda-tanda Gadis itu akan bangun dari koma.
Naufal bimbang. Dia harus memberitahu orang tua Kila atau tidak. Bahkan Dania pun belum ia beritahu soal keadaan Kila sekarang.
“Sus, saya titip pasien ini ya.” Begitu ucapan Naufal pada suster saat akan pergi ke sekolah.
Sejak Kila berada di rumah sakit, sepulang sekolah Naufal mampir terlebih dahulu ke rumah sakit. Ia juga berangkat pagi-pagi sekali dengan beralasan bahwa dia akan latihan basket padahal tidak. Yuni selalu mempercayai anaknya karena selama 17 tahun anaknya tidak pernah berbohong apalagi membuat masalah.
“Kila udah ketemu?” Dania memegang pundak lebar Naufal sekilas.
Yang dipegang spontan menggeleng, menjawab pertanyaan Dania.
Dania menghela nafas panjang. Dia beringsut duduk di samping Naufal.
“Udah dua bulan lebih. Kita masih belum bisa nemuin dia.” Dania menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan. Detik kemudian, wajahnya menengok Naufal. “ganteng.” celetuknya refleks.
“Apa?”
Dania menggelengkan kepala. Ia menegakkan posisi duduknya kembali. “Ng-nggak. Gue bilang, si Joko ganteng!”
Murid kelas 10 bernama Joko langsung mencari siapa orang yang memanggilnya. Dania memalingkan muka, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Aduh! Kenapa dia menjadi gugup seperti ini!
“Gu-gue mau ke kamar mandi dulu, ya. Bye,” pamit Dania. Jari jemarinya melambai sekilas. Setelah itu, dia pergi dengan ekspresi yang membuat Naufal kebingungan.
“Dia kenapa?” gumam Naufal heran.
“Hah? Siapa? Aku?” cecar Lusi ketika baru saja sampai di dekat Naufal.
“Enggak.”
Lusi tak peduli. Mungkin Naufal berkata seperti itu pada orang lain.
“Fal, aku mau cerita!” seru Lusi ceria.
Naufal menutup buku yang dia baca untuk fokus mendengarkan Lusi. Siapa tahu, cerita dari Lusi bisa memperingan rasa pusing di kepalanya. “Cerita apa?”
“Kak Fardo nanti malam katanya mau nginep di rumah temannya. Aku minta sesuatu enggak?”
“Sesuatu apa?” perasaan Naufal mulai tidak enak. Iya, tidak enak sebab Lusi kalau minta sesuatu pasti makanan manis yang jumlahnya berlebihan sehingga menguras dompet.
“Aku main terus nginep di rumah kamu boleh? Ada kak Heni, Tante Yuni sama Reni juga, kan, di sana? Udah lama aku enggak ketemu mereka. Kangen tau.”
“Aku minta maaf.”
Lusi terkejut. Bukan karena permintaan maaf, tapi karena Naufal menggunakan panggilan aku-kamu.
“Kenapa minta maaf? Kamu enggak salah apa-apa, kok,” Lusi menyungging senyum manis.
“Gue mau ke rumah sepupu gue yang ada di Bandung dan nginep di sana satu hari.” untuk pertama kalinya, dia berbohong. Hari minggu besok, Naufal akan menjenguk Kila ke rumah sakit sekaligus menginap juga.
“Berarti aku nggak jadi ke rumah kamu dong?” Lusi menunduk sedih. Bibir merah mudanya melengkung menggemaskan.
“Lo bisa kok, ke sana. Tapi tanpa gue.”
“Enggak ah. Aku malu. Kalau ke sana enggak ada kamu, apa alasan aku ke rumah kamu?” Lusi terkekeh palsu. Hanya untuk mencairkan suasana saja, tetapi hatinya begitu kecewa. Dia akan mendekatkan diri pada ibu, kakak serta adik Naufal terlebih dahulu. Setelah itu, ia akan mengungkap kan perasaan yang sebenarnya.
“Maaf ya.”
“Iya. Enggak apa-apa,”
***
Cowok itu beringsut duduk di halte bus. Letak rumah sakit cukup jauh mengharuskannya untuk naik kendaraan besar beroda empat tersebut.
Tapi, ada yang janggal di hatinya. Apa dirinya jahat tidak memberitahu kedua orang tua Kila tentang kecelakaan anak mereka tiga hari lalu? Dia dilanda bingung sekarang.
Namun, apa salahnya untuk mencoba?
Bus berhenti tepat di hadapannya. Beberapa orang mulai naik. Naufal menaikkan kacamata yang sudah turun dari kedua mata.
Supir bus menanyakan Naufal yang masih terdiam duduk. Naufal mengibaskan tangannya. Menolak untuk ikut. Alhasil bus itu melesat jauh.
Tak memakan waktu 5 menit, angkutan umum tiba-tiba berhenti. Naufal menaiki kendaraan itu. Di dalamnya orang-orang berdesak-desakan. Naufal mau tidak mau duduk di bangku dekat pintu.
Dahinya mengerut ketika kendaraan itu berhenti. Padahal belum sampai di komplek yang dia tuju.
Ternyata seorang ibu hamil besar hendak masuk, namun mendapat peringatan dari orang-orang bahwa di dalam sudah penuh.
“Tunggu, Mbak.” Naufal menghentikan ibu hamil itu. “Duduk di sini aja,” ia berdiri, keluar dari angkutan tersebut.
“Makasih, tapi kamu gimana?”
“Saya bisa berdiri di sini.” Sahut Naufal menaiki kembali angkutan itu dengan posisi berdiri tepat di pintu. Melihat ibu hamil itu, dia jadi teringat Kila. Bagaimana jika perut pacarnya membesar?
***
Naufal kini berdiri tepat di depan pintu. Di gerbang tak ada satpam sama sekali. Rumah juga tampak sepi sekali bak bangunan kosong.
Jari telunjuknya sudah memencet bel berkali-kali. Tidak ada sahutan.
Jari jemarinya menyeluk saku. Ponsel sudah didapat, dia mencari nomor Edwin—ayah Kila.
Panggilan ke satu. Tidak diangkat.
Panggilan kedua, tak diangkat juga.
Panggilan ketiga, suara operator terdengar, memberitahukan bahwa nomor yang di tuju tidak aktif.
Naufal menarik nafas panjang. Ia berusaha untuk bersabar.
Jadi Mereka sudah pindah ke rumah atau gimana? Ini sungguh tidak benar.
Perginya kedua orang tua Kila tanpa kabar membuat Naufal begitu yakin kalau orang tua Kila sudah tidak menerima putri mereka lagi.
Datang ke rumah kosong ini hanya membuang-buang waktu saja. Tangan Naufal mengepal kuat.
***
Pintu ruang rawat inap, didorong ke dalam. Sosok itu masih saja tertidur. Naufal merasa miris sekaligus kasihan. Kedua orang tua Gadis itu sudah pergi tanpa kabar apa pun berarti Kila hanya mempunyai dirinya sekarang.
“Kikil, gue ke sini lagi.”
“Lo nggak kangen gue?”
“Kalau lo kangen, bangun dong. Lo gak capek tidur mulu?”
“Lo tau nggak? Dania nanyain lo tadi.”
“Kil, gue bingung. Gue harus kasih tau ke orang tua lo apa gak? Gue bingung, Kil.”
Sembari terus mengoceh walaupun tidak dijawab, Naufal membersihkan lengan Kila menggunakan kain yang sudah dibasahi air hangat. Ia lakukan itu perlahan, namun penuh kasih sayang.
Setelah usai, Naufal duduk kembali. Ia duduk di tepi ranjang, mengamati wajah Kila yang terpejam. Dia berdiri, sedikit mencondongkan badan. Tidak lama kemudian, bibirnya mendarat di kening Gadis tersebut cukup lama.
Naufal kembali duduk. Ia akan terus di sini sampai Gadisnya bangun. Jari jemarinya sedari tadi terus menggenggam telapak tangan Kila.
****
“Lo liat si culun?”
Mendengar Naufal dipanggil seperti itu, Lusi mencebik kesal. “Culun itu siapa?”
“Temen lo. Buruan kasih tau. Waktu gue nggak banyak, gue mau lanjut cari Kila.” Jelas Abian.
“Naufal tadi udah pulang duluan. Dia mau ke Bandung.” jawab Lusi singkat. Hendak melanjutkan langkah keluar gerbang, tapi dicegah Abian.
“Apa lo bilang? Bandung?”
“Iya. Di Bandung ada sepupunya. Dia mau ke sana dua hari.” respons Lusi malas. Ia bete berhadapan dengan Cowok menyebalkan itu. Tapi sebisa mungkin, dia tak boleh mengeluarkan emosinya.
Tanpa mengucapkan apa pun, Abian berjalan ke parkiran.
“Ih! Dasar cowok gak tau terima kasih! Udah dikasih info malah kaya gitu!” gerutu Lusi. Kakinya tidak berhenti menghentak ke tanah.
“Sorry ya.”
Lusi tergemap. Seketika segera menengok ke asal suara. “Eh, kamu...”
Dasha mengangkat sudut bibir. “Dia orangnya emang kaya gitu. Ngeselin kan? Sekali lagi, gue minta maaf atas nama dia.”
“Iya. Enggak apa-apa kok,” jawab Lusi tak enak.
“Udah, ya, dah!” Dasha melambaikan tangan.
Lusi balas mengibaskan tangan juga seraya tersenyum canggung.