Mata Friska terbelalak sekaligus melotot. Ke mana lagi sahabatnya itu akan pergi? Friska tahu semua masalah Kila karena Kila menceritakan semuanya. Baik tentang Naufal, Alden, kedua orang tua. Semuanya. Tidak ada yang Kila tutup-tutupi dari Sahabatnya. Walaupun sudah bertahun-tahun Mereka tidak bertemu, tetapi persahabatan mereka dijaga dengan baik.
“Lo yakin mau pergi sejauh itu? Berani? Lo kenapa, sih, Kil? Tadi waktu ke rumah sakit lo ketemu siapa? Kenapa lo mendadak mau pergi keluar negeri?” bertubi-tubi pertanyaan Friska lontarkan.
“Maaf kalau dua bulan ini, gue bikin lo repot.” Setelah mengatakan itu, Kila menarik langkah keluar rumah. Dia sudah memiliki uang yang cukup untuk keluar negeri. Iya, sebab Kila menang lotre 1 bulan lalu.
“Tapi, Kil...” Friska merasa berat berpisah dengan Kila.
“Tenang, gue bakal telefon lo, kok,” Kila mengusap pundak Friska sejenak. Senyum manisnya muncul.
“Jaga diri lo baik-baik.”
Kila mengangguk cepat.
“Oh ya, nanti kalau ada orang ke sini nanyain keberadaan lo, gue harus jawab apa?” Friska sebenarnya sudah tahu jawabannya, namun ia tetap tanyakan untuk mengulur waktu. Dia berharap ada orang yang mencegah Kila pergi.
“Bilang aja gue udah mati.”
“Astaga. Kila lo—“
“Udah, gue pergi.” Kila memotong cepat. Dia menyeret koper besar itu ke mobil BMW berwarna putih.
Friska melambaikan tangan. Dia menghela nafas berat. “Semoga lo nemu kebahagiaan di sana.”
Mobil putih tersebut berjalan. Dengan langkah berat, ia masuk ke dalam rumah.
Tapi tunggu.
Sebuah tangan mencegahnya.
Dia Naufal.
“Lo?”
“Jawab gue! Kila pergi ke mana?!”
****
Naufal lari tergesa-gesa di tengah jalanan sepi sekaligus licin karena hujan deras mengguyur tadi sore. Dia tidak peduli dengan dirinya sendiri. Yang dia pedulikan sekarang adalah Kila.
Ia tidak menyangka bahwa Kila akan keluar negeri untuk selamanya. Itu kata Friska. Mengapa Gadis itu begitu nekat? Tidak bisakah Kila memaafkan dan memberi satu kesempatan lagi?
Sorot lampu kendaraan truk menyala menerpa wajahnya di tengah kegelapan malam. Naufal menutup mata. Truk melaju kencang ke arahnya. Biarlah... biar lah jika dia meninggal sekarang. Dia tidak mau hidup diselimuti dengan rasa bersalah, namun tepat sebelum truk menabrak dirinya, ada seseorang mendorong tubuhnya hingga terpental ke tepi. Dia selamat.
Tapi orang yang menyelamatkan Naufal malah tertabrak truk.
Ia membuka mata, tubuhnya tidak ada luka yang cukup parah. Hanya luka lecet di siku. Kedua netra cokelatnya mencari-cari orang yang menyelamatkannya tadi.
Orang itu tergeletak dengan posisi tengkurap. Darah segar mengalir dari kepalnya. Naufal buru-buru menghampiri.
Kala dia membalikkan badan wanita itu ke depan, Naufal terbelalak. “Kila?”
Ya, Kila menyelamatkan nyawanya membuat rasa bersalah di dalam diri Naufal makin meningkat.
Di saat itu juga hujan deras melanda. Seakan-akan ikut menangis melihat Kila kecelakaan.
Naufal membopong Kila. Dia berlari, menerobos lebatnya hujan. Masa bodoh dengan pakaian basahnya.
1 jam sebelumnya...
Kila mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Jujur, dia sebenarnya tidak ingin meninggalkan kota dan negara tempat kelahirannya kini. Namun, mau bagaimana lagi. Kila tidak berani muncul di depan kedua orang tuanya.
Tamparan yang dilayangkan ayahnya membuat Kila kapok sekaligus tidak berani lagi untuk kembali. Apalagi melihat tatapan sendu ibunya. Kila semakin merasa bersalah.
“Maafin aku...” Kila bergumam. Matanya sudah merah. Tanpa disuruh, air matanya lolos begitu saja. Kila dengan cepat mengusap air matanya. “Gue harus kuat! Lo harus pergi biar orang-orang di sekitar lo nggak menderita lagi.”
25 menit perjalanan Kila lalui tanpa halangan. Manik cokelatnya tertuju pada sosok tinggi dan kurus tengah berjalan dengan kepala menunduk.
Kila membersut. Dia memencet klakson cukup keras membuat Cowok itu kontan menoleh.
Naufal.
Kila memalingkan muka. Untuk apa Cowok itu berjalan sendirian? Di tengah gerimis pula.
Tidak, Kila tidak peduli. Dia tetap menjalankan mobilnya kembali.
Tapi...
Kenapa mobilnya tersendat-sendat seolah-olah tidak mau jalan?
“Ah, s**l!” rutuk Kila jengkel.
Dia baru ingat, mobilnya kemarin tidak diisi bensin. Kila tidak henti mengejek dirinya yang pelupa ini. Mana sekarang Naufal berada di dekatnya lagi!
Kila menepikan mobilnya. Dia meraih ponsel. Ia menghubungi bengkel untuk membawa mobilnya. Sedangkan dia nanti akan naik taksi online saja.
Kila mendesau lega saat jarak Naufal sudah agak jauh. Dia turun dari mobil, matanya tidak berhenti mengecek jam tangan.
Tiba-tiba suara klakson truk berbunyi begitu kencang. Kila dibuat mengerjap. Jantungnya berdegup tiga kali lipat usai mengetahui truk itu berjalan ke arah Naufal.
Tubuh Kila gemetar hebat. Untuk kedua kalinya, ia tidak akan membiarkan orang tiada karena dirinya.
Kila mengeluarkan seluruh tenaganya. Dia berlari begitu cepat.
Dia mendorong tubuh Naufal ke samping. Dirinya juga menghindar dari truk.
Kepalanya membentur tepi jalan. Kila meringis kesakitan, tetapi dia lega mengetahui Naufal baik-baik saja di sebelahnya.
Setelah itu, pandangannya menjadi gelap gulita.
***
Naufal mondar-mandir tidak jelas. Baju yang ia kenakan terdapat bercak darah cukup banyak. Tidak heran, bau anyir menyeruak ke hidung Naufal, tetapi ia tak peduli. Mulutnya kini komat-kamit berdoa agar Kila baik-baik saja. Hingga akhirnya, seorang dokter keluar.
“Gimana keadaan dia, Dok? Dia baik-baik aja, kan? Luka dia nggak parah?”
“Ikuti saya.” Dokter ber name tag Ani itu berjalan terlebih dahulu. Naufal mengikuti dari belakang.
Hingga sampai di ruangan Dokter Ani, keduanya duduk saling berhadapan.
“Jadi gimana, Dok? Teman saya enggak apa-apa?” Naufal bertanya lagi. Entah mengapa, perasaannya sudah tak enak sedari tadi.
“Kepalanya mengalami pendarahan hebat, tapi untungnya saya dan para dokter lain bisa menangani. Namun, teman kamu koma selama beberapa hari bahkan bisa beberapa bulan. Kamu lebih banyak berdoa, ya.”
“Ko—koma?” Naufal menatap tidak percaya. Tadi siang dia melihat Kila berlari menghindarinya, tapi sekarang Gadis tersebut terbaring lemah di ranjang rumah sakit dan tidak ada yang tahu kapan kesadarannya kembali.
“Tapi, ada sebuah keajaiban. Bayi di dalam perut teman kamu baik-baik saja.”
Deg
Naufal terbelalak tak percaya. Ia yakin, bayi yang ada diperut itu merupakan hasil dari perlakuan dirinya yang melewati batas.
Lidah Naufal terasa kelu. Tidak bisa mengucapkan apa pun untuk saat ini.
“Di-dia hamil?”
“Iya. Saya sudah melakukan tes darah dan melihat kadar HCG dalam darah teman kamu meningkat. Itu tandanya, dia sedang hamil.” Dokter Ani menjeda. “apa kamu pacarnya?”
Naufal mengangguk cepat.
“Dok, saya boleh minta tolong?” tanya Naufal kemudian.
“Dengan senang hati, boleh.”
“Jangan kasih tau ke siapa pun tentang kehamilan dia. Keluarga dia enggak akan mau nerima kenyataan itu. Saya mohon, Dok. Saya enggak mau pacar saya terbebani pikirannya.” Naufal mengatupkan kedua tangan.
Dokter Ani dengan berat hati mengiyakan.
***
Naufal duduk di tepi ranjang. Ia terus menggenggam erat jari jemari Kila seraya menatap sendu.
“Jangan lama tidurnya,”
“Gue sayang banget sama lo dan...” ucapan Naufal menggantung. Jari tangan kirinya mengelus perut datar Gadis itu. “Dan bayi ini,” lanjutnya.
“Maaf kalau gue bikin lo tertekan karena gue menghindar dari lo waktu itu, Kil...”
“Gue janji, mulai sekarang ini, menit ini, detik ini, gue bakal jagain lo dan buat lo bahagia.”
“Maaf malam itu gue udah merusak masa depan lo,”
Kata-kata penyesalan tidak juga membuat perempuannya ini bangun dari koma. Naufal tertunduk dalam, ia menggenggam telapak tangan Kila. Dia bersumpah pada dirinya sendiri, ia tak akan membuat Kila pergi lagi.