Gadis berambut sepunggung itu kini sudah tidak berponi lagi. Dia ingin terlihat dewasa, bukan cewek menye-menye seperti sebelumnya. Parfum semerbak wangi mawar ber merek itu disemprotkan ke leher jenjangnya. Tidak lupa bagian tubuh lainnya.
“Mau ke mana? Tumben rapih,”
“Mau keluar aja. Bosen di rumah terus. Lo nggak mau ikut?”
“Gak ah. Males. Mending nonton anime di laptop.” Friska mengeratkan pelukannya pada bantal guling bermotif teddy bear itu.
“Terserah lo.” Cewek itu berjalan keluar pintu kamar.
“Gue ketemu Naufal, loh,”
Mendengar nama orang itu di sebut, Kila terhenti. Jantungnya berdetak tidak karuan. Cowok itu sudah lama dia tidak temui. Tapi di sisi lain, Cowok itu cowok berengsek yang mencampakkan dirinya begitu saja setelah insiden setelah pesta adik kelasnya 2 bulan 2 minggu lalu. Dia menelan ludah, kemudian berbalik. “Kapan?”
“Udah lama, sih. Ternyata dia baik banget, ya. Gue pura-pura pingsan, tapi dia mudah percaya. Dia nolongin gue, kasih jaket ke gue, sama selamatin gue dari preman. Gue ragu kalau Naufal ‘nyentuh’ lo malam itu.”
“Jangan menilai seseorang dari wajah sama perbuatannya. Dia jago banget bikin orang terkagum-kagum dan puji kebaikannya. Tapi sifat asli dia, gue udah tau. Gue benci! Gue benci dia!” Kila tersulut emosi. Tangannya mengepal membentuk tinju.
“Ya udah, maaf. Santai aja kali. Gue takut kalau lo marah-marah kaya gitu.” Ujar Friska seraya nyengir tak berdosa.
Kila membalikkan badan. Tujuannya sekarang ini adalah rumah sakit. Tidak lupa, dia memakai masker dan juga topi hitam untuk menyembunyikan wajahnya. Belum sampai di pintu, tiba-tiba Friska memanggilnya.
“Ada apa lagi?” sahut Kila malas.
“Lo beneran mau oplas? Padahal wajah lo udah cantik.”
“Gue mau sembunyiin identitas gue, Fris. Gue nggak punya keberanian buat muncul di depan Mama apalagi Ayah. Lagian, selama gue hilang, nggak ada yang cari gue, kan? Untuk apa gue hidup dengan wajah ini? Gue mau reset kehidupan gue dan mulai dari nol.” Jelas Kila dengan perasaan berat. Tidak ada jalan lain kecuali perkataannya tadi.
“Naufal nyari lo. Dia kelihatan berusaha keras banget buat nemuin lo.”
“Cih, paling dia ada maunya. Gue udah tau cowok model kaya gitu.” Kila muak setelah mendengar nama Cowok itu. Dia seketika memasang ekspresi getir.
“Lo bilang, lo mau reset semuanya kan? Berarti lo mau ubah identitas?”
“Iya. Gue mau ubah nama gue. Orang tua, sahabat, semuanya. Gak ada pengecualian. Mulai lusa nanti, gue akan hidup sebagai Natasha Gabriella bukan Kila.”
Friska tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya teman SD, tidak berhak ikut campur dalam keputusan temannya itu.
***
Kila menarik langkah ke luar rumah sakit setelah konsultasi ke dokter tentang operasi plastiknya. Matahari begitu terik membuat Kila mengeratkan topi di kepala agar sinar matahari tidak menerpa di wajah.
Di tambah lagi, debu dan polusi dari kendaraan membuat Kila risih.
Perutnya bergemuruh. Pertanda lapar. Langsung saja Kila berjalan ke tempat perbelanjaan, membeli beberapa makanan.
Kila ke bagian khusus buah-buahan. Dia mengambil apel, jeruk serta manggis. Namun, saat dia akan mengambil mangga, sebuah tangan memegang mangga yang akan dia ambil.
“Punya gue.” ujar Kila sinis.
Laki-laki itu tergemap. Suara Cewek tadi begitu tidak asing di telinga. Manik cokelatnya melirik Gadis tersebut. Sangat rapat sekali menutupi wajahnya sampai-sampai dia hanya melihat mata Cewek itu.
Sungguh, Gadis di sebelahnya sangat mirip dengan Kila. Terutama pada bagian mata.
Ketika Kila meninjau Cowok di sampingnya, dia terkejut setengah mati. Keringat dingin mendadak muncul di keningnya. Penampilan Naufal begitu berbeda. Terlihat lebih berantakan dan juga dewasa.
“Naufal?” batin Kila bertanya-tanya. Tidak, dia tak boleh goyah. Cukup satu kali saja dia dipermainkan. Sekarang tidak lagi. Masa depan Kila sudah direnggut oleh Naufal malam itu.
“Malah bengong!” gertak Kila. Dia merenggut mangga itu begitu saja tanpa menunggu Naufal bersuara.
Buru-buru dia meninggalkan tempat itu. Bisa-bisa identitasnya terbongkar.
“Tunggu!” seru Naufal cukup keras.
Mendadak jantung Kila berpacu cepat. Tiga kali lipat. Dia malah lari meninggalkan keranjang yang ia pegang. Masa bodoh dengan perut laparnya. Yang terpenting sekarang adalah lari.
Para pembeli supermarket memberi jalan seraya berteriak heboh. Dua satpam berkepala botak itu spontan menghadang di pintu keluar. Kila terhenti dengan nafas terengah-engah.
“Kamu kenapa? Kok lari-lari dan buat keributan?” tanya Pria dengan perut buncit.
“Ada orang jahat yang ngejar-ngejar saya, Pak. Tolong saya. Dia mau berbuat macam-macam.” Sahut Kila di tengah nafasnya yang terengah-engah.
“Hah? Orang jahat mana? Apa kamu habis mencuri sesuatu ya?” todong Pak Satpam bertubuh kurus.
“Ya ampun! Enggak, Pak! Periksa aja kalau nggak percaya!”
Kedua satpam itu mengecek tas mini Kila. Tidak ditemukan apa-apa. Hanya dompet yang berisi beberapa lembar uang ratusan, lipstik, dan kartu kredit.
“Enggak ada kan? Pak tolong saya. Saya mohon! Cepet, pak! Penjahat itu udah deket!” Kila tampak begitu panik.
“Berdiri aja di belakang kami, Dek. Nanti saya amankan penjahatnya.”
Kila menurut. Tak lama, Naufal muncul. Kila meremas kuat roknya. Begitu takut, sampai dia menggigit bibir bawahnya sendiri.
“Kila, ayo pu—“
“Ikut saya ke kantor polisi!” pak satpam itu memotong. Mereka memegang kedua tangan Naufal.
“Eh, saya nggak salah apa-apa, Pak.” elak Naufal panik sekaligus terkejut.
“Diam kamu! Penjahat mana mau ngaku.”
“Kil, lo tega sama gue? Gue Naufal. Lo kok kaya gitu?” Naufal menatap sendu. Tersirat kerinduan dari kedua mata Naufal. Kila memalingkan muka. Dia tidak akan terjebak lagi!
“Jangan percaya omongan dia, Pak. Dia tukang bohong. Bawa dia ke kantor polisi!” mulutnya bergetar setelah mengatakan hal tadi. Netra Kila terasa perih. Ia bisa merasakan sebentar lagi air matanya lolos turun ke bawah. Kila menahan sekuat mungkin. Dia akan jadi wanita kuat! Tidak boleh lemah seperti dulu!
Kila pergi menjauh. Meninggalkan Naufal.
Sedangkan Naufal dibawa ke ruang satpam untuk diinterogasi.
***
Melihat wajah Kila pucat pasi seperti orang yang dikejar rentenir, Friska mengerutkan kening. “Kenapa lo?”
Kila tidak menjawab. Kakinya berjalan ke kamar. Friska terus membuntuti Temannya itu. Beribu-ribu pertanyaan memenuhi pikiran Friska.
Kila mengobrak-abrik lemari. Dia mengambil semua pakaiannya. Setelah dapat, dia langsung mengambil koper di kolong meja.
“Eh, lo mau pergi ke mana? Lo mau pulang ke rumah orang tua lo? Syuku—“
“Gue mau keluar negeri.”