Seminggu setelah Dasha melakukan sayembara, ada begitu banyak orang datang, namun yang dibawa bukanlah Kila, tapi Gadis asing. Dasha marah-marah kepada orang yang main-main itu begitu pun Dania.
“Gimana ini? Udah dua bulan Kila sama sekali belum ketemu. Gue khawatir, Sha. Gimana kalau terjadi ap—“
“Gak. Kila nggak apa-apa, Dan.” potong Dasha cepat.
“Lo sadar nggak, sih? Naufal kelihatan lebih kurus, ya, sekarang.” Dania mendadak memperhatikan Naufal sedang memakan, tetapi terlihat tidak berselera sama sekali. Iya, Dania dan Dasha sekarang ada di kantin. Mereka kelelahan usai menghadapi beberapa orang yang mengaku telah menemukan Kila.
“Mungkin dia kebanyakan mikirin pelajaran kali.” tebak Dasha.
“Apa mungkin Naufal suka sama Kila?”
“Hah? Serius?” Dasha berteriak heboh.
“Gue tanya bukan bikin pernyataan.” Tegas Dania dengan raut muka lempeng.
Dasha menggaruk lehernya yang tak gatal. Dia baru sadar akan hal itu. “Ya udah, maaf.”
***
“Jam segini baru pulang. Kamu ke mana aja, Nak?” Yuni mulai menginterogasi saat Naufal tiba-tiba muncul dari balik pintu.
“Mampir ke rumah temen sebentar kok,” bohong Naufal padahal dirinya habis berusaha menjadi Kila lagi.
“Ya udah masuk.” Yuni memberi jalan. “kamu rambut depannya udah gondrong kaya gitu. Gak ada niatan ke salon buat potong?”
“Biarin, Ma.” respons Naufal cuek.
“Ih, kamu, kok, kaya gitu? Biasanya langsung nurut kalau diajak potong rambut.”
Naufal tidak menjawab. Dia beringsut masuk ke kamarnya. Yuni geleng-geleng kepala. Sifat anaknya berbeda sekali.
***
“Putri kita hilang, Mas! Kamu malah santai dan seolah-olah nggak terjadi apa-apa!” gertak Yana. Selama dua bulan lebih ini, dia menunggu suaminya bertindak mencari Kila, tapi dugaannya salah. Suaminya itu malah bersikap tidak peduli.
“Mas, kamu masih waras nggak sih?! Putri kamu satu-satunya hilang! Kamu harus sadar, Mas! Kila hilang dua bulan ini!” bentak Yana sekali lagi pada Edwin.
Edwin tetap tidak bergeming. Pandangannya terus menuju pada koran yang dia pegang. Entah benar-benar membaca surat kabar itu atau tidak.
“Mas!” Yana sudah muak. Dia merebut koran dari jari Edwin begitu saja, kemudian membanting dan menginjak-injak cukup keras.
“YANA!” dengking Edwin lebih keras sekaligus berat.
Nyali Yana tidak terganggu. Dia malah semakin berani. “Apa?! Kamu mau nampar aku? Kamu mau pukul aku? Kamu mau marahin aku? Silahkan, Mas! Silahkan! Asal, kamu harus mencari Kila setelah kamu kasarin aku.”
Edwin membeku. Niatnya untuk menampar, dia urungkan.
“Kita udah kehilangan satu anak kita, Mas. Jangan biarin anak kita yang satunya lagi hilang.” Suara Yana gemetar. Dadanya terasa sesak. Air mata mendadak meluncur deras turun ke pipinya.
“Alden meninggal gara-gara ulah anak itu! Kamu mau terima pembunuh di rumah kita?!”
Yana langsung menampar rahang tegas Edwin cukup kencang hingga pria paruh baya itu terhuyung.
“Dia bukan pembunuh! Dia putri aku! Kata siapa Kila yang bunuh Alden, Mas? Kata siapa?! Aku liat dengan mataku, Kila nggak dorong Alden! Aku liat sendiri! Alden lari turun tanpa memperhatikan jalan! Ini sudah takdir, Mas!” Yana berdengking sekeras mungkin. Tidak membiarkan suaminya untuk berbicara.
“Kamu harus cari Kila, Mas. Kamu harus minta bantuan polisi. Kalau enggak, aku bakal pergi dari sini.” Yana berbalik badan. Jaraknya belum jauh, Yana terhenti. “Aku akan gugat cerai kamu kalau kamu nggak mau cari Kila.”
Ucapan Yana sukses membuat mata Edwin terbelalak. Perkataan Istrinya itu sungguh di luar dugaannya.
***
“Bu,”
Yuni menoleh ke sumber suara. Ekspresinya begitu terkejut saat Naufal sedang berdiri tepat di depannya. Kehadiran putranya itu sama sekali tidak ada tanda-tanda.
“Loh, kamu belum tidur? Ini udah jam setengah dua belas malam loh.”
“Ibu punya makanan nggak? Aku laper.” Jawab Naufal bak anak gadis sedang merengek ke ibunya.
“Mau makan apa? Nasi goreng? Atau pecel?”
“Mangga muda sama rujak ada?” Naufal menanya balik.
Yana membersut. “Mana ada, Nak. Di rumah ini nggak ada makanan seperti itu. Lagian, kamu kenapa, sih, kok tiba-tiba pengin makan itu?”
“Pengin aja, Bu. Berarti nggak ada, ya? Iya udah, Naufal izin keluar buat beli makanan itu.” Naufal berdiri. Tapi segera Yuni mencegahnya.
“Eh, tunggu. Ini udah larut malam. Mana ada yang bikin makanan kaya gitu. Bentar, Ibu tanya ke tetangga sebelah.” Yuni memberi solusi. Naufal mendesau lega.
Kebetulan tetangga Mereka seorang nenek tua yang berdagang makanan tradisional. Yuni menjadi salah satu pelanggan Nenek itu. Tapi, untuk larut malam ini, Yuni berdoa semoga saja Nenek itu belum tidur.
“Assalamualaikum, Nek. Selamat malam...” Yuni mengetuk-ngetuk pintu dengan perasaan tidak enak.
Tidak lama kemudian, pintu cokelat itu dibuka oleh tangan yang sudah keriput. Nenek Asih segera menyambutnya dengan tatapan bingung.
“Maaf. Saya ganggu jam tidur Nenek, ya?”
“Tidak, Cu. Nenek lagi berzikir. Tadi habis sholat tahajud. Ayo masuk,” Nenek Asih mempersilahkan. Yuni masuk, tidak lupa ia menutup pintu.
Dia mendudukkan diri ke sofa yang ukurannya cukup tua. Yuni tahu dari penampilan sofa ini. Kayu sofa itu juga rapuh. Yuni sudah berulang kali menyuruh Nek Asih untuk membeli yang baru, tapi Nek Asih selalu menolak. Untuk kenangan katanya.
“Jadi saya ke sini buat minta tolong ke Nek Asih. Kira-kira Nek Asih mau buatin rujak nggak?” Yuni menjeda. “Oh iya, Nenek punya mangga muda?”
“Kamu ngidam, Cu?”
“Enggak, Nek. Si Naufal tiba-tiba minta makanan itu.”
“Ya udah, Nenek buat rujaknya,”
Sekitar waktu 20 menit, Nek Asih akhirnya menghampiri Yuni dengan sebungkus plastik. Yuni mengucapkan terima kasih berkali-kali. Dia kemudian kembali ke rumahnya.
“Nih,”
Naufal segera membuka plastik itu. Memakannya lahap sampai habis tidak tersisa. Mangga muda dan rujak asam pedas semua dilahap habis oleh putranya tanpa ekspresi orang keasaman setelah memakan mangga mentah tersebut.
Yuni begitu terheran-heran. “Nggak asam?”
“Gak, Bu. Rasanya manis.”
“Hah?” Yuni melotot tidak percaya. Dia mengambil potongan mangga muda tersebut, memasukkan sedikit ke dalam mulutnya. Refleks mata Yuni menyipit. Tangannya mengembalikan mangga muda tersebut ke piring. “Asem kaya gini, kamu bilang manis? Lidah kamu waras kan?”