"Gimana? Kila udah ketemu?" tanya Dasha begitu sampai di dalam kelas.
Dania menggeleng lemah.
Dasha menghembuskan nafas panjang. Dia duduk di samping Dania, menaruh tas, lalu mengambil ponsel untuk memeriksa i********: Kila. Siapa tahu, Kila update postingannya.
Tapi, dugaan Dasha ternyata salah. i********: Kila memperbaharui posingannya 3 mei, hari sebelum Kila menghilang.
Dasha melipat tangan. Menenggelamkan kepalanya di meja.
Mendadak sebuah ide muncul di benaknya! Dasha berubah menjadi semangat. "Gimana kalau kita lakuin sayembara aja!" serunya hingga netra seisi kelas memperhatikan Dasha.
Dasha tidak peduli. Ia menunggu jawaban Dania. "Lo setuju kan?"
"Iya, tapi bilang dulu ke orang tua Kila."
"Nggak usah."
Dasha membersut. "Loh, kenapa?"
"Gue yang ngadain sayembara, ya gue yang tanggung jawab lah." jawab Dasha tanpa beban. Kedua orang tuanya akan menuruti apa saja permintaannya termasuk uang rupiah berjumlah puluhan juta. Dasha tidak ragu akan hal itu.
"Sayembara, kan, mahal. Imbalannya harus gede, Sha."
"Beneran?" Dania memastikan. Siapa tahu, Dasha hanya bergurau.
"Iya. Lo tenang aja oke? Kila bakal balik lagi. Lo serahin semuanya ke gue."
"Makasih, ya. Gue nggak nyangka lo bisa sebaik itu." Dania tersenyum lebar seraya mengusap sejenak bahu Dasha.
"Sama-sama."
"Eh, lo mau ikut gue ke rumah Kila nggak?"
"Kan, udah gue bilang, sayem--"
"Bukan masalah sayembara, Sha. Gue mau tanya aja, Kila udah kembali ke rumah apa belum. Sejak Kila hilang, Mereka gak pernah tanya ke gue sama sekali. Gue jadi curiga, Sha." potong Dania.
"Ya udah, gue ikut."
***
"Tempelin di situ, cupu!" titah Abian nge gas. Naufal memicing tajam.
"Pakai kacamata bukan berarti cupu." Naufal mengambil satu poster, kemudian menempelkannya pada tembok.
"Naufal pasti capek ya? Kamu mau minum?" tanya Lusi khawatir.
"Minum itu haram. Lo mau bikin orang masuk neraka?" sambar Abian nyeleneh. Lusi mencebik kesal.
"Bukan itu maksud aku!" gertak Gadis berambut sebahu itu. Dia berjalan ke arah Naufal sambil membawa botol mineral dan tisu untuk membasuh keringat.
Naufal dengan senang hati menerima. Dia menengguk minuman itu sampai habis tak tersisa. Tadi saat istirahat, dia tidak makan atau pun minum. Bayangan Kila terus melayang membuatnya tidak tenang.
"Makasih,"
"Hu'um." Lusi memajukan langkah, tangan kurusnya mengelap keringat di kening Naufal perlahan. Sampai mata Lusi tertuju pada bibir tipis Naufal. Pikiran Lusi ke mana-mana. Di drama yang dia tonton kemarin, seorang wanita mencium laki-laki sebagai tanda cinta.
"Astaga! Nggak!" Lusi memukul kepalanya. Bisa-bisanya dia berpikir kotor seperti tadi.
"Hah? Kenapa? Ada yang salah sama gue?" Naufal terheran-heran.
Keduanya menoleh kompak ke belakang saat mendengar gelak tawa Abian.
"Gila." misuh Naufal.
"Lusi tadi berpikir mau cium lo." jelas Abian. Lusi terbelalak, daripada Abian tahu pikirannya. Apakah Cowok itu semacam cenayang?
"Apaan, sih! Aku gak kaya gitu!" elak Lusi. Dia memalingkan muka. Kedua tangannya melipat di d**a.
"Dasar. Muka polos, tapi otak mesum." ejek Abian pada Lusi.
"Berisik. Lo jangan fitnah Lusi kaya gitu!" Naufal melemparkan tatapan tajam.
Lusi lega. Naufal lebih mempercayainya.
***
"Assalamualaikum. Shalom. Selamat sore..." sapa Dania komplit. Jari telunjuknya tak berhenti menekan bel.
Detik kemudian, seorang pria berawakan tinggi tegap muncul dari balik pintu.
Edwin, ayah Kila.
Dania seketika merasa tidak enak. Dasha bergerak menyalimi tangan Edwin begitu pun Dania.
"Silahkan masuk dulu." Edwin berbalik badan. Dia beringsut duduk di sofa disusul oleh Dania dan juga Dasha.
Dania melihat ke sekeliling rumah. Begitu sangat berbeda ketika dia terakhir kali datang di sini. Matanya tiba-tiba terpusat pada ruang keluarga. Biasanya foto Kila dipajang di dinding itu, tetapi sekarang tidak ada. Yang ada hanya foto Alden, ibu Kila dan juga ayah Kila.
"Jadi untuk apa kalian ke sini?"
Dania tersentak. Tinjauannya kontan kembali pada pria paruhbaya tersebut.
"Saya sama Dasha mau tanya." Dania menelan saliva susah payah. Sungguh, situasi ini sangat canggung. "Apa Kila udah ketemu?"
Ekspresi Edwin berubah menjadi masam. "Gak tau. Dia yang pergi seenakmya, tapi kok saya malah ditanyain."
Dasha dan Dania kompak memandang satu sama lain. Respons Edwin di luar ekspetasi Mereka.
"Tapi, Om--"
"Saya belum bisa maafin dia. Karena dia, putra saya meninggal. Anak s****n itu udah dorong putra saya dari tangga. Saya menyesal telah membuat cewek itu ada." Mata Edwin memerah pertanda akan menangis.
Dania mengerutkan kening. "Maksud Om, Kila yang buat Alden meninggal?"
"Iya. Dia seenaknya. Mentang-mentang saya menuruti apa pun permintaannya, anak s****n itu malah nelunjak dan jadi gak takut sama saya."
Dasha sangat tidak terkejut. Menurut gosip simpang siur di sekolah, Alden meninggal jatuh dari tangga karena anak itu amat aktif, tidak bisa diam.
Mereka hening. Larut dalam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya, Edwin bersuara.
"Jangan bahas anak itu lagi di depan saya."
***
Setelah jarak mereka cukup jauh dari rumah Kila, Dania dan Dasha menepi di pinggir jalan untuk menghadang bus. Iya, tadi Mereka datang ke rumah Kila menggunakan angkutan umum. Motor Dania sedang dicuci di bengkel, sedangkan mobil Dasha mengalami kecelakaan kecil kemarin gara-gara kelalaian supir pribadinya.
Mereka berdua akhirnya menyetop bus mikro yang lewat. Dasha sih, tidak apa-apa menaiki kendaraan umum yang hawanya panas. Ketika Dasha sudah berada di dalam, Dania menggeleng.
“Loh, kenapa?”
“Gue mau ke supermarket dulu. Lo duluan aja yaa!” teriak Dania agar suaranya tidak kalah dengan deru motor dan mobil yang lewat.
Dasha mengangguk. Dan akhirnya, bus itu jalan.
Dania menengok kanan kiri. Setelah yakin tidak ada kendaraan, Dania menyebrang. Belum sempat masuk ke tempat perbelanjaan itu, Dania bertemu Yana—ibu Kila.
“Loh, Tante?”
***
“Jadi, Kila itu nggak mau keluar rumah. Saya sama Bi Surti berusaha biar Kila keluar dari kamar. Bi Surti saranin, Alden aja yang bujuk Kila dan saya suruh Alden buat bujuk kakaknya itu supaya keluar. Kila ternyata langsung keluar. Kita sempat saling bercanda.” Yana menghela nafas.
“Sampai akhirnya, Alden ngatain kakaknya jelek. Kila teriak, tapi saya yakin, dia gak marah beneran. Respons Alden berlebihan. Dia lari turun ke bawah dan kepalanya terbentur lantai. Darahnya lumayan banyak, Dan. Tante nggak nyangka Alden bakal pergi secepat itu.” Tangis Yana pecah. Dania ikut terenyuh. Dia mengusap punggung Yana, berusaha menguatkan.
Tapi tunggu, kenapa pernyataan Ibu dan Ayahnya Kila berbeda. Dania bingung, mana yang benar mana yang salah. Tapi menurut hatinya, Kila tidak mungkin tega mendorong Alden.