Hari sudah gelap. Hanya cahaya dari bulan yang menerangi bumi. Sampai sekarang ini, Naufal masih saja mencari Kila. Dia penyebab Kila pergi dan dirinya juga harus membawa Gadis itu kembali.
“Permisi, Tante liat Cewek ini nggak?” Naufal bertanya pada sepasang kekasih yang sepertinya seumuran dengannya.
“Maaf, enggak tau.” Jawab Laki-laki cuek tersebut. Dia malah memegang lengan pacarnya. Takut jika Naufal mendekati Perempuannya.
Naufal menghela nafas. Ia berbalik badan. Wajahnya tambah lesu dan tidak bersemangat.
“Gue minta maaf, Kil.” lirih Naufal. Tangannya mengepal kuat, bukan karena membenci seseorang, tapi karena dia membenci dirinya sendiri.
Gemuruh petir berbunyi cukup keras. Rintik-rintik air hujan juga sudah turun ke bumi. Naufal berlari ke arah halte bus untuk berteduh.
Halte yang kini dipijaknya menjadi sepi. Beberapa orang sudah pergi meninggalkan tempat ini. Naufal duduk, untungnya dia bisa jago bela diri jadi tidak begitu khawatir jika ada penjahat.
“Kila, lo di mana...” gumam Naufal seraya mengusap tangannya. Angin berhembus cukup kencang membuat raganya sesekali menggigil kedinginan.
“Gue minta maaf...”
“Gue minta maaf...”
“Gue minta maaf, sayang...”
“AAAKH!”
Dengkingan itu membuat Naufal menegang sekaligus racauannya terhenti. Ia terperanjat dari duduknya. Mata Naufal menangkap seorang cewek sedang diganggu oleh beberapa preman. Cewek itu, Cewek yang tadi datang dan sok akrab padanya saat di taman. Dia segera berlari menghampiri.
“WOY!” teriak Naufal.
“Pahlawan kemaleman dateng, nih. Mau sok jagoan lo? Masih ingusan aja belagu.” Remeh Pria berkepala botak.
Naufal mendengus. “Berisik lo! Anak ingusan jauh lebih baik daripada orang pengecut!” ujarnya tidak kalah pedas.
“Wah, dia cari gara-gara, Bos.” timbrung pria berkumis tebal pada pria lain.
Cewek itu segera berlari ke belakang Naufal untuk berlindung. Jari-jari cantiknya memegang pundak lebar Naufal.
“Lo jangan macam-macam! Bapak gue polisi. Gue bisa buat kalian berempat membusuk di penjara!” ancam Naufal. Terpaksa dia bohong daripada kehormatan Gadis di belakangnya ini direnggut.
“Gue nggak takut!” pria berkepala botak itu hendak meninju Naufal, namun untungnya Naufal menghindar. Dia menggerakkan kepala ke samping.
Tetapi, malah Cewek itu yang terkena tinju hingga terjatuh ke jalanan aspal basah akibat gerimis mengguyur.
Naufal langsung mengecek keadaan Gadis tersebut. Tidak sadarkan diri. Naufal menepuk-nepuk pipinya seraya berkata, “Cewek sok akrab! Bangun!”
Ya, karena dia tidak tahu namanya, maka tidak ada pilihan lain memanggil Gadis itu seperti tadi.
Mendadak sebuah tendangan mendarat di punggungnya. Naufal refleks jatuh menimpa perut datar Cewek yang tak dikenal itu.
Para preman tertawa terbahak-bahak.
Rahang Naufal mengeras. Sorot matanya berapi-api seperti orang kesetanan. Dia kembali berdiri, menghadapi satu persatu preman itu. Menghajar, meninju, dan menendang tanpa ampun. Tidak ada jeda di antara Mereka. Naufal melampiaskan semua kekesalannya pada para penjahat itu.
Nafasnya begitu memburu setelah pergelutan panjang. Bajunya sudah basah karena hujan yang makin deras. Para preman itu terkapar pingsan. Melihat Cewek itu masih tidak sadarkan diri, Naufal membawa Gadis tersebut ke tempat aman. Jauh dari para preman.
Selepas sampai, Naufal meletakkan raga Gadis itu. Dia melepaskan jaket, kemudian menyelimuti tubuh bagian atas Cewek itu. Naufal tidak berhentinya memanggil-manggil agar Gadis tersebut sadar.
Akhirnya Gadis berambut pendek itu bangun seraya memegangi kepala. Naufal menatap lempeng.
“Udah baikan?”
Perlahan kepala Gadis itu mengangguk. “Makasih,”
“Gue pergi.” Naufal beringsut berdiri. Dia menerobos derasnya hujan. Tidak peduli jika badannya sakit atau apa pun itu, dia membenci dirinya sendiri karena tak bisa menemukan Kila hari ini.
“Tunggu.” Ujar Gadis tersebut sedikit teriak.
Naufal menoleh.
“Gue takut. Nanti kalau preman itu balik lagi gimana? Lo tega ninggalin gue sendirian?” ucap beruntun Cewek itu. Bibir pucatnya bergetar kedinginan.
Naufal menghela nafas panjang. “Di sini, kan, ada banyak orang. Lo bisa minta bantuan mereka buat nganterin pulang.”
Cewek itu beringsut menghampiri Naufal. Jaket yang melekat di tubuhnya, dia pakai rapat di tubuh rampingnya. Hawa di sekitar amat dingin.
“Gue mau pulang sama lo!” teriak Gadis tersebut cukup kencang agar suaranya tidak kalah dengan suara derasnya air hujan.
“Ya.” Sahut Naufal ogah-ogahan.
Mereka berdua pun pergi bersama. Setelah berjalan cukup lama, Mereka memutuskan untuk istirahat di depan supermarket. Akhirnya, Naufal melihat satu bus yang terparkir tidak jauh dari dekat Mereka.
Awalnya supir bus itu menolak, tetapi selepas dibujuk dengan pembayaran 3 kali lipat, supir itu mau. Memang, uang bisa membuat segalanya terjadi.
***
Abian membuang muka ketika melihat Dasha melintas di depannya. Kembali fokus mengobrol bersama teman-temannya.
Dasha mencoba ber positive thinking. Mungkin Abian tidak mau diganggu. Ia melanjutkan langkah ke kelas. Mulutnya tidak berhenti bersenandung riang seakan-akan ini hari paling bahagia untuknya. Bukan, bukan hari ini, tapi kemarin. Walaupun kemarin, kebahagiaannya masih terasa sampai sekarang!
“Dasha, gue minta maaf,” begitu lah ucapan Dania ketika Dasha duduk di depannya. Untung saja tidak ada murid selain mereka berdua. Jika ada, sudah pasti para murid betina menjadikan keduanya sebagai bahan gosip.
Dasha berbalik. Wajah Dania pucat pasi, ketakutan.
Senyum manis terpasang di wajah Dasha. Dania mendesau lega, berarti Dasha sudah memaafkannya! Tapi tunggu, apa Dasha juga memaafkan Kila?
“Iya,” jawab Dasha. Senyumnya tidak pudar.
“Kila juga?”
Dasha mengangguk semangat. Dania menggebrak meja. Heboh. Dia berdiri, disusul oleh Dasha. Mereka berdua saling berpelukan layaknya sahabat yang sudah tidak lama bertemu.
***
Bayangan Kila selalu muncul di benaknya. Terutama saat di perpustakaan, tempat mengajar Kila dulu. Naufal tidak bisa fokus belajar. Dia memilih untuk men scroll social media saja.
Saat men-scroll i********:, postingan Dania muncul. Di postingan itu terdapat foto Dania dan Dasha tersenyum lebar dengan caption di bawahnya: “Best Friend?”
Naufal ikut tersenyum. Jika saja Kila ada di foto sana, pasti Perempuan tersebut sangat bahagia.
***
Naufal memakai helm full face nya. Dia bersiap-siap untuk mencari Kila lagi. Kali ini, metode pencariannya berbeda. Ia membuat poster foto Kila di bawahnya terdapat tulisan ‘Dicari’.
Sudah hari ke-14 Gadis tersebut hilang. Naufal dengan cekatan menempel semua poster itu di setiap sudut komplek, pinggir jalan dan tempat yang sering didatangi banyak orang. Pencariannya itu dibantu oleh Abian. Ya, Mereka melupakan permusuhannya sejenak demi mencari Kila.