PART 40

1255 Kata
“Lo nampar gue?” Dasha melotot tak terima. Dia menahan air matanya agar tidak keluar. Sungguh memalukan sekali. “Jaga omongan lo!” tandas Abian. Dasha menegakkan tubuh. Tangannya sudah mengepal kuat. “Maksud lo apa? Lo belain Kila? Iya, hah?! Sejak kapan lo suka dia? Sejak kapan?! Lo anggap gue apa, Bian? Kita udah pacaran dan tunangan. Kenapa lo gak pernah buka hati buat gue? Jawab! Gue udah baik dan selalu tersenyum sama lo.” Dasha mendongak agar air matanya tidak keluar. “Jangan kasih gue harapan.” “Gue nggak pernah kasih harapan ke lu.” jawab Abian. Netra cokelatnya beralih pada banyak murid yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran Mereka. “Ini bukan pertunjukan! Sana! Bubar!” gertak Abian cukup keras. Urat-urat lehernya bahkan sudah kelihatan. Rahangnya juga mengeras. Refleks kerumunan Murid itu bubar. Dania menunduk, ia berbalik badan. Kejadian ini di luar perkiraan Dania. Dia begitu tidak percaya, apakah tadi dirinya yang menyebabkan Mereka bertengkar? Dania ingin meminta maaf, tapi nanti. Tidak sekarang sebab dia takut Dasha semakin marah padanya. Abian meraih lengan kurus Dasha. Dia menyeret Gadis itu ke dalam mobilnya. “Jalan, Pak.” titah Abian pada Joko—supirnya. Setelah itu, Abian memalingkan muka ke arah jendela. “Lo mau bawa gue ke mana?! Oh, jangan-jangan lo mau kalau gue buka kedok lo yang sebenarnya di depan banyak orang. I-iya...” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, d**a Dasha terasa sesak. Pasokan oksigen seakan-akan menipis. Mendengar Dasha tidak berbicara lagi, Abian mengerutkan kening. Ekor matanya melirik Dasha. Seketika matanya membulat. Gadis itu terlihat kesulitan bernafas. “Lo kenapa?” “In...in...inhaler...gu...gue...” Dasha berusaha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, namun sangat sulit. Dan juga, lama-kelamaan dadanya terasa penuh. Abian bergeser untuk lebih dekat dengan Dasha. Mengikis jarak di antara Mereka. Perlahan Abian melepaskan tas yang dari tadi masih digendong Dasha. Setelah terlepas, ia merogoh-rogoh tas. Mencari botol inhaler. “Tenang, lo harus tenang,” ujar Abian sembari terus mencari sesuatu di dalam tas Dasha. Tidak membutuhkan waktu begitu lama, akhirnya Abian mendapatkan botol itu. Tangannya merangkul pinggang kecil Dasha agar Gadis itu duduk tegak. Dasha memiringkan kepala sedikit ke belakang, menarik nafas, lalu menghembuskan nafas panjang. Abian memasukkan inhaler ke mulut Dasha, kemudian Cewek itu mengatupkan mulut seraya menekan inhaler dengan cepat. Jantung Abian berpacu cepat. Takut terjadi apa-apa pada Dasha. Abian kembali duduk di posisinya semula. Dasha merasa baikan. Dia melihat ke arah Abian. Dia tersenyum tipis. Abian ternyata masih peduli padanya. Pak Joko yang tadinya ikut khawatir, seketika mendesau lega. Dia mengalihkan tinjauan kembali ke depan. “Udah baikan?” tanya Abian. Jujur, tersisa rasa khawatir di dalam hatinya. “Iya. Makasih,” Dasha memajukan wajah. Cup Bibir merah muda itu mencium rahang Abian. Singkat. Hanya 5 detik. Dasha mematung di tempat. Pipinya bersemu merah walaupun dirinya yang mencum Abian. Bukan sebaliknya. Abian panas-dingin. Jantung yang tadi berdetak cepat karena panik, kini berubah menjadi detakan dan juga perasaan aneh. “Gue minta maaf.” Lirih Dasha. Abian bisa mendengarnya, namun dia tidak bisa menjawab. Detak jantungnya harus dinormalkan terlebih dahulu. “Gue takut kehilangan lo.” Dasha mendekap tubuh Abian secara mendadak membuat si empunya tambah terkejut. “Gue cemburu lo sama cewek lain. Gue cemburu lo dekat sama Kila. Gue cinta mati sama lo. Gua takut kehilangan lo. Maafin gue udah ngatain Kila ‘jalang’ tadi. Gue nyesal.” Abian terpatung. Tidak, ia tidak boleh membiarkan Dasha menangis dan marah lagi. Bisa-bisa penyakit asma Gadis itu kambuh. Abian membalas pelukan Dasha. “Jangan nangis lagi,” ia lalu meelangkup pipi pacarnya. Mengusap air mata yang membasahi pipi Gadis tersebut. “Abian..” “Hm?” “Lo udah suka sama gue?” *** Dasha keluar dari kamar mandi. Sembari mengusap rambutnya menggunakan handuk, Dasha tidak berhenti tersenyum-senyum seperti orang gila. Kejadian tadi sore terlintas terus di pikiran. Sungguh, Dasha serasa sedang terbang ke langit lapisan tujuh! “Hayo, kok, kelihatan bahagia banget? Ada apa? Tolong cerita ke Mamah.” Dewi muncul di balik pintu. Senyumnya jadi ikut-ikutan mengembang. “Gak ada apa-apa, kok, Mah.” “Ayo duduk.” ajak Dewi. Dasha menurut. Dewi mengambil handuk dari tangannya. Dia mengusap-usap rambut basah Gadis itu dengan penuh kasih sayang. “Gimana hubungan kamu dan Abian?” “Baik-baik aja, Mah.” “Kamu beneran cinta Abian, kan?” “Iya, Mah. Dasha mau habisin sisa-sisa hidup Dasha bareng Abian.” Jawabnya semangat. “Kalau kamu jatuh cinta sama orang lain, apa keinginan kamu sama seperti sekarang ini?” “Dasha nggak bakal jatuh cinta. Dasha udah jatuh cinta sama seseorang dan orang itu Abian. Mungkin di kehidupan masa lalu, Dasha sama Abian sepasang kekasih, Mah, makanya dipertemukan kembali di kehidupan ini.” ujar Dasha tetap tenang. Dia tidak tahu maksud Mamahnya sampai-sampai berbicara seperti itu. Dewi tersenyum sendu. Dia terus mengelap rambut Dasha perlahan. Bagaimana cara mengatakan hal ini pada putri kesayangannya ini? 3 jam sebelumnya... Dewi sedang bersantai menonton drama favoritnya yang tayang di TV. Hari ini dia sengaja pulang awal dari kantor. Rasa lelah mengalahkan niatnya itu untuk lembur. Sesekali Dewi tertawa lepas melihat adegan lucu di film tersebut. Fokusnya teralih pada ponsel yang mendadak berdering. Dewi segera menjauh dari TV. Mulutnya yang penuh makanan itu mengucapkan sesuatu pada seseorang di telefon sana. “Saya Abian, Tante.” Dewi tersendak. Dia menilik layar telefonnya ternyata benar, itu nomor tunangan anaknya. “Ada apa, Nak? Kenapa telefon tante? Dasha baik-baik aja di sekolah, kan?” “Dasha baik-baik aja, Tante. Abian mau ngomong sesuatu.” “Ngomong aja. Enggak perlu sungkan.” “Jadi gini, Abian mau....” Dewi setia mendengarkan. Detik demi detik berlalu, suara tunangan putrinya itu tidak muncul. “Halo? Kamu masih ada di sana, kan?” “Abian mau mutusin tunangan. Sebenarnya selama ini Abian sama sekali gak suka Dasha. Abian udah suka Cewek lain, Tan. Lagian juga, kalau hubungan Abian sama Dasha tetap dilanjutin, itu nggak bakal bikin aku sama Dasha bahagia karena gak ada rasa. Abian harap, Tante bisa kasih tau pernyataan ini baik-baik ke Dasha. Sebelumnya Abian minta maaf udah bikin Tante kecewa. Lebih baik, akhiri secepatnya, Tan, daripada terlanjur nanti.” Dewi tersentak. Dia tidak menyangka Abian akan mengucapkan kata barusan. Tapi bagaimana pun juga, perkataan Abian benar. Hubungan tanpa ada rasa apa pun ujung-ujungnya akan hancur lebur. Hanya menyisakan luka saja. Dewi pernah merasakan itu di pernikahan pertamanya dulu. “Boleh Tante tau?” “Tau apa, Tan?” “Cewek mana yang kamu sukai?” Di seberang sana, Abian mengatupkan bibir. “Ada, Tante. Abian mau latihan futsal. Udah, ya, Tan. Aku tutup telefonnya.” Detik kemudian, sambungan ditutup. Dewi terduduk lemas. Bagaimana caranya untuk memberi tahu kabar ini? Putrinya setiap malan tidak berhenti memuji Abian. Hanya saja, sudah dua hari ini Dasha tidak bercerita lagi. Mungkin benar, putri kesayangannya dan juga Abian itu sedang bertengkar. *** Di tempat lain, Naufal sedang berkeliling ke sana kemari untuk mencari Kila. Sudah berpuluh-puluhan orang dia tanya, tetapi jawabannya selalu ‘tidak tahu’. Naufal duduk di bangku taman yang sering dikunjungi para manusia se-usianya. Di tempat ini, banyak sekali sepasang kekasih sedang bermesraan. Naufal melempar asal botolnya. Dia memijit kening, di mana Kila sekarang? Ia sadar, seharusnya dia tidak menjauhi Kila sejak malam ‘di luar batas’ itu. Bagaimana pun juga, Naufal harus bertanggung jawab atas perbuatannya bukan malah semakin menjauh. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundaknya. Naufal segera mengalihkan pandangan. Ternyata orang asing. Ekspresi Naufal berubah menjadi dingin terlebih lagi, orang asing itu adalah perempuan. “Boleh duduk di samping lo?” “Ya,” jawab Naufal ogah-ogahan. “Sendiri aja?” “Hm.” “Pacar kamu mana?” “Hilang.” Secara tidak langsung, Naufal mengakui Kila sebagai pacarnya. “Loh, seharusnya kamu cari dong. Jangan malah duduk di sini.” Sosok itu tampak panik. Naufal diam. Dia bertanya-tanya, siapa Cewek ini? Padahal tidak kenal, tapi sikapnya begitu sok akrab. “Permisi,” Naufal berdiri. “Eh, tunggu...” Terlanjur. Naufal sudah melangkah cukup jauh. Sosok perempuan itu tersenyum miring. Seolah-olah tahu semuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN