PART 39

1244 Kata
Bendera kuning terpasang di sekitar rumah megah itu. Beberapa orang datang ke rumah tersebut sembari membawa karangan bunga. Tidak ada yang menyangka Alden pergi secepat ini. Jenazah Alden sudah sampai ke rumah 30 menit lalu dan akan dimakamkan sekarang juga. Yana tidak berhentinya menangis hingga pingsan. Sedangkan Edwin menyaksikan putranya dikubur dengan lapang d**a walaupun dia belum sepenuhnya menerima kenyataan ini. Beberapa menit kemudian, acara pemakaman selesai. Orang-orang menaburkan berbagai macam bunga ke atas gundukan tanah masih berwarna merah itu. Tidak lama setelah itu, semua orang pergi. Hanya menyisakan Edwin, sekretaris dan bodyguard yang ditugaskan menjaga Edwin. “Turut berduka,” ujar Heri—sekretaris Edwin. Ia menepuk pundak Edwin sekilas. Edwin mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari makam anaknya. “Putramu sudah sakit-sakitan sejak lama?” tanya Heri. “Dia gak pernah sakit.” Edwin menjeda. “Dia jatuh dari tangga.” Melihat bos nya makin sedih, Heri terdiam. Dia tidak mau mengajukan pertanyaan menyangkut Alden. Di balik pohon besar yang terletak tidak jauh dari makam Alden, seorang wanita bertopi menyaksikan gerak-gerik Edwin. Dia menutupi wajahnya dengan masker sekaligus topi supaya tidak dikenali. “Sebentar lagi mau gelap, Pak. Apa Anda nggak mau pulang?” tegur Heri. Waktu berlalu begitu cepat sampai-sampai dia tidak sadar jika adzan ashar sudah berkumandang. “Sebentar.” tolak Edwin. Heri menghela nafas panjang. Ia menilik jam tangannya, “Tapi, ini sudah pukul setengah enam loh, Pak.” Edwin mengangguk lemah, kemudian berbalik badan. Dia perlahan berjalan meninggalkan makam. Sungguh, ini sangat berat. Edwin belum pernah menghabiskan waktu dengan Alden walaupun hanya sebentar. Namun, semuanya sudah terlanjur. Dia tidak bisa melihat putranya lagi di dunia. Selamanya. Sampai kapan pun tidak akan pernah bisa. Menyaksikan Edwin sudah pergi dan pemakaman sudah sepi, wanita yang tadi bersembunyi langsung keluar. Dia mendekati makam Alden, kemudian menaruh sebuket bunga di depan lisan itu. *** Esoknya, beberapa perwakilan dari SMA Sebum melayat ke rumah Kila. Kabar meninggalnya Alden tersebar tadi malam di grup chat SMA itu. Naufal melepas sepatu, lalu masuk ke dalam rumah bersama 2 teman yang menjadi perwakilan dari kelas 10, 11 dan 12. Iya, Naufal ditunjuk menjadi perwakilan kelas 11. Hampa. Kosong. Suasananya amat sepi. Ayu—anak kelas 10, dan Wendy—anak kelas 12 saling memandang penuh kebimbangan. Sedangkan Naufal lanjut melangkah hingga dia sampai di ruang tamu. Tidak ada sofa atau pun TV. Ruangan ini sangat berbeda ketika Naufal menginjakkan kaki terakhir kalinya waktu itu. “Assalamualaikum,” Ayu memecah keheningan. “Wa’alaikumsalam.” sahut Naufal. “Ih. Bukan ke Kakak.” cibir Ayu. “Kan, wajib dijawab.” Respons Naufal tak mau kalah. “Ini gak ada orang sama sekali? Apa Mereka semua pada pergi?” cecar Wendy. “Nggak tau.” jawab Naufal. “Mungkin iya, Kak.” timpal Ayu. Wendy mencebik. “Yakin lo enggak tau, Fal? Lo, kan, guru privatnya si Kila.” “Gue udah berhenti.” Naufal ogah-ogahan menjawab. “Hah? Kapan?” bukan Wendy yang terkejut, melainkan Ayu. Matanya melotot seperti akan meloncat keluar. “Se—“ “Kalian sejak kapan ada di sini?” Suara itu suara Yana. Naufal cukup mengenalnya. Kontan Mereka berbalik badan, melihat ke arah pintu. Ada seorang wanita di sana. Siapa lagi kalau bukan ibu Kila. “Baru sebentar kok, Tan,” ujar Wendy. Ia menyalami tangan Yana disusul oleh Naufal dan Ayu. “Masuk dulu,” Yana mempersilahkan. Keempatnya lalu duduk di lantai beralaskan tikar cukup tebal. “Kalian mau minum apa?” tanya Yana berusaha menampilkan senyum. “Nggak usah, Tan. Kami udah minum tadi.” Jawab Wendy ramah. “kami turut berduka, Tan.” Yana tersenyum tipis. Matanya berkaca-kaca. Merasa Cuma dirinya yang berbicara, Wendy menyenggol lengan Naufal dan Ayu secara bersamaan. Posisi Wendy berada di antara Ayu dan Naufal. “Alden disayang banget sama Tuhan, makanya diambil duluan. Tante harus ikhlas, tetap senyum dan semangat!” seru Ayu. Energi positif dari Gadis itu membuat Yana teringat pada Kila. “Iya,” Yana tersenyum lebar dengan tatapan sendu. Naufal terdiam. Dia ingin mengucapkan turut berduka cita, tetapi Kakak kelasnya sudah mewakilkan tadi. “Naufal, Kila mana?” tanya Yana tiba-tiba. Naufal tersentak. Beberapa hari ini dia tidak bertemu Kila dan hubungannya dengan Gadis itu juga sedang renggang, tapi mengapa Ibunya bertanya seperti itu? “Ng-nggak tau, Tan.” Naufal terbata-bata. Dia terkejut mendengar pertanyaan tidak terduga dilontarkan kepadanya. “Loh, bukannya kamu sering bareng sama Kila?” “Kak Kila sama Kak Naufal lagi berantem, Tan. Mereka lagi berantem. Ayu aja gak pernah liat Mereka jalan berdua kaya dulu.” celetuk Ayu. “Kalian ada masalah apa sama Kila, Fal?” Yana benar-benar tidak percaya. Apa ini sebabnya Kila mengunci diri seharian di kamar 2 hari lalu? “Cuma masalah kecil, Tan. Tante gak perlu khawatir,” Naufal mencoba menenangkan. “Kalau gitu, kami pamit dulu, Tan. Makasih udah sambut kami dengan baik.” Kata Wendy monoton. Ketiganya berdiri. Disusul oleh Yana. Ketika Mereka hendak menuju pintu, “Tante boleh minta tolong ke kalian gak?” “Ada apa, Tan?” sahut Ayu, Naufal dan Wendy bersamaan. “Tolong bilang ke Kila, dia harus pulang ke rumah malam ini. Jangan nginep di rumah Dania lagi.” Wendy, Ayu dan Naufal saling menatap kebingungan. Ayu mengalihkan pandangan, kemudian berkata, “Tapi, Kak Kila nggak berangkat hari ini, Tan. Bukannya Kak Kila lagi di rumah, ya?” “Dia gak ada di rumah. Kemarin nggak pulang sama sekali. Tante terakhir liat Kila di rumah sakit.” Ujar Yana. “Tan, Kila nggak hadir hari ini. Wendy kira dia ada di rumah sekarang. “ tambah Wendi terheran-heran. “Kalau ada di rumah, nggak mungkin Tante ngomong kaya gini ke kalian.” Yana memijit keningnya. “Nanti Ayu sama Kak Naufal nanya ke Dania. Siapa tau, Kila di rumah Dania. Tante tenang aja, ya.” Ayu memegang pundak Yana. Senyum lebarnya dia tampakkan. *** “Kila sama sekali nggak ke rumah gue. Suwer! Gue udah telefon dia berkali-kali bahkan udah spam chat juga. Tapi sampai saat ini, gak dibalas sama sekali.” Jawab Dania seadanya setelah ditanyai oleh Naufal. Sedangkan Ayu? Adik kelasnya itu malah lupa dan tidak bertanya apa pun pada Dania. “Berarti dia hilang?” tanya Naufal memastikan. Dania menghembuskan nafas kasar. “Dia anak manja. Nggak bakal bisa hidup sendiri. Gue yakin, Kila bakal balik lagi.” Ucap Dania. “Kalau dia nggak balik?” “Jangan bilang kaya gitu!” “Ya udah. Kita cari dia. Lo nggak mau kehilangan teman, kan?” Naufal menanya balik. Mereka hening selama beberapa saat. “Ini semua gara-gara lo.” Dania menatap tajam Naufal. “coba kalau lo nggak jauhin Kila dan gak marahin dia pasti Kila nggak menghilang kaya gini. Lo kenapa jauhin Kila, hah? Apa alasan lo? Pagi itu, dia curhat ke gue tentang lo. Dia nangis, Fal! Dan setelah pagi itu, dia gak ada kabar lagi.” Naufal mematung. Apa benar ini salahnya? Padahal dia Cuma menjauh. Tidak menyakiti Kila. Tapi, atas alasan apa Gadis itu pergi darinya. *** Jam pulang sekolah. Dania sengaja berdiri di depan gerbang untuk mencegat Dasha. Menit demi menit berlalu. Akhirnya Dasha melintas di sampingnya. Dania merasa Dasha benar-benar beda kali ini. Cewek itu sama sekali tidak menyapa dirinya. Terpaksa Dania berlari, menghadang jalan Dasha. “Dasha tunggu!” “Mau apa lo?” sinis Dasha. “Kila ke rumah lo? Lo liat dia? Lo tau di mana dia?” cecar Dania. “Dih. Buat apa gue ngeliat dia.” ketus Dasha. “Udah, ah. Minggir. Hari ini gue nggak mood ribut.” “Dasha. Gue tanya serius. Gue butuh respons baik lo. Please...” Dania meraih lengan Dasha. Yang dipegang kontan menghempaskan lengan Dania. “Jangan pegang-pegang gue!” teriak Dasha cukup keras membuat mata murid yang ada di sana terpusat pada kedua makhluk betina tersebut. “Gue nggak tau di mana dia!” “Lo jangan deket-deket gue lagi!” “Gue gak ada hubungannya sama Kila! Gue benci dengar nama dia! Benci! Benci! Benci! Gue benci teman lo yang jalang itu.” Plak! Dania terbelalak. Abian menampar Dasha begitu keras hingga tertoleh ke samping. Semua murid yang menyaksikannya ikut merasa ngilu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN