PART 38

779 Kata
Kila memalingkan wajah. Dia memilih untuk mengabaikan Abian saja daripada dirinya mendapatkan caci maki lagi. Namun, baru 3 langkah, tangannya dicegat. “Gue tau.” Tatapan kosong Kila meninjau Abian. “Tau apa?" tanyanya parau. “Ikut gue.” Abian memegang erat lengan Kila. Membawa Cewek itu entah ke mana. Kila pasrah, dia pasti akan dimarahi dan dibenci oleh seseorang untuk kesekian kalinya. Rooftop rumah sakit. Di situlah Abian melepaskan genggaman. Dia menghadap Kila. Wajah Gadis itu sungguh memprihatinkan sekali. Tanpa mengatakan sepatah kata apa pun, Abian menarik Kila ke dekapannya. Kila tidak memberontak. Tangisannya malah pecah kala itu juga. Abian ikut terenyuh. Dia menyaksikan pertengkaran tadi. Melihat Kila ditampar, ia jadi merasa iba pada Cewek tersebut. Punggung kecil Kila diusap-usap oleh Abian. Berusaha menenangkan. “Ke—kenapa...se—semua...orang...berubah...?” tanya Kila di sela-sela isak tangisannya. “Takdir.” sahut Abian. Kila balas mendekap erat Abian. Dia butuh ibunya saat ini, namun ibunya kini tidak bisa menjadi sandarannya. Dia yakin, tidak ada yang membelanya sekali pun itu ibunya. Namun, ia menjadi lebih tenang. Mengeluarkan kesedihan pada orang yang dia benci beberapa bulan lalu. Ya, semua orang berubah. Dan, Abian berubah menjadi sandaran untuknya. "Lo bilang, lo bakal jadi mak comblang dan buat Abian suka sama gue, tapi kenapa malah lo yang suka Abian?" Kata-kata Dasha terngiang di telinganya. Kila baru tersadar bahwa dia sedang memeluk milik orang lain. Refleks Kila melepaskan pelukan. Ia mundur menjauh. Abian terheran-heran. "Lo kenapa?" "Jangan deket-deket gue." peringat Kila seraya menggelengkan kepala. "Loh?" "Pergi! Pergi sana!" teriak Kila mengusir. Abian berjalan mendekati Gadis itu, namun Kila melangkah mundur. "Pergi!" "Kil, lo kenapa? Tenang, okay? Gue gak bakal sakitin lo." Abian semakin mendekat. Kila mundur secepat mungkin. Rasa bersalah kian menyiksanya bahkan permintaan maaf tidak diterima lagi oleh Dasha. "Lo pacarnya Dasha! Kenapa lo deketin gue? Lo seharusnya deket sama Dasha aja sana! Pergi, Bian! Pergi! Dasha pasti cari lo sekarang." ucap Kila dengan suara gemetar. Kaki Perempuan itu terus melangkah mundur. Abian mematung. Entah mengapa, dia menjadi jengkel saat mendengar nama 'Dasha'. "Iya, gue salah, tapi please, jangan mundur lagi." Abian begitu panik. Kila semakin menjauh darinya. Sangat fatal jika Gadis itu terus mundur, lalu terjatuh dari lantai 5. Abian berlari mendekati Kila untuk mencegahnya terjatuh. Tangan Kila diraih. Dipegang kuat. Dengan satu tarikan, Abian berhasil menyelamatkan Kila. Untuk kedua kalinya, Kila dipeluk kencang. Abian tidak mau melihat Kila hancur. Dia akan membuat Kila bahagia. Ia tidak ingin Kila meneteskan air mata deras. Abian tidak mengerti perasaan apa ini. Hatinya menjadi getir menyaksikan Kila yang sekarang. *** Hari sudah sore. Kila dan Abian duduk di bangku--terletak di rooftop. Kila menjadi lebih lega kini. Tadi dirinya begitu kalut dan kehilangan kendali. Akhir-akhir ini hidupnya terasa begitu berat. Merasa sudah baik-baik saja, Kila berdiri. Ia mengusap sisa-sisa air mata di pipinya. Abian mendongak dengan raut penuh pertanyaan. "Thanks. Gue mau nengok adik gue dulu." Kila tersenyum tipis. Cepat-cepat dia menuruni tangga untuk ke ruang rawat Adiknya. Kila terhenti. Dia mengernyit ketika Mamanya menangis histeris di depan sebuah ruangan. Tidak tahu ruangan apa itu. Kila belum nama ruangan tersebut. Pikiran Kila semakin menjadi-jadi. Jangan-jangan terjadi apa-apa pada Adiknya. Niatnya untuk menghampiri, segera Kila urungkan. Dia ingin menyaksikan terlebih dahulu, apa yang sebenarnya terjadi sebab Kila tidak mau pipinya ditampar lagi. Dia bersembunyi di balik tembok. Mata Kila terbelalak setelah melihat jenazah tertutupi kain putih sedang dibawa oleh perawat ke suatu ruangan. Mereka berjalan ke arahnya. Kila bergetar tidak karuan. Bahkan ayahnya kini terlihat bersedih sekali sama seperti ibunya. Sebenarnya ada apa ini? Kala para perawat membawa jenazah seseorang dengan ranjang dorong melintas di samping Kila, mendadak angin berhembus kencang sehingga membuka sebagian kain putih tersebut. Tangan kecil jenazah itu terlihat. Badan Kila menjadi lemas. Dia bisa mengenali. Tangan itu tangan Alden. Kila teriak histeris. Dia berlari menuju jenazah Adiknya membuat para perawat refleks berhenti. Tangan tremor Kila membuka kain putih itu. Ternyata benar. Jenazah itu adalah jenazah adiknya. Ini semua salah dirinya. "ALDEN! BANGUN! BANGUN, ALDEN! KAKAK GAK AKAN MARAHIN KAMU LAGI! BANGUN! ALDEENN!" Kila menguncang-guncang raga yang Alden sudah dingin. Mata merah sekaligus berairnya teralih pada perawat di dekatnya. "Sus, jangan bawa dia. Alden... Alden cuma pura-pura tidur. Dia pura-pura. Dia bohong. Jangan bawa dia ke mana-mana, Sus." mohon Kila. Beberapa perawat yang ada di sana menatap prihatin. "Kamu harus ikhlas." ujar perawat paruhbaya itu. "Gak! Alden belum meninggal! Dia cuma tidur. Percaya sama saya, Sus." elak Kila. Dengan terpaksa, Para perawat mendorong kembali ranjang itu ke ruang jenazah. Kila kontan melepaskan pegangan pada ranjang tersebut sembari menangis histeris. "Ini semua salah lo, Kila! Salah lo!" Kila merutuki dirinya sendiri. Tangannya mengacak rambut. Frustasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN