"Sayang, buka pintunya.." untuk kesekian kalinya, Yana mengetuk pintu. Sejak dirinya pulang dari kantor tadi malam, Kila tidak kelihatan keluar kamar sama sekali. Dia cemas, takut terjadi apa-apa.
Yana juga sudah menelefon Dania, namun jawaban teman putrinya itu berkata kalau Kila tidak masalah apa pun.
"Kamu nggak mau berangkat sekolah, Nak? Apa kamu marah karena Mama gak pulang kemarin? Sayang... tolong buka pintunya. Mama jadi khawatir, loh, kalau kamu seperti ini."
"Sayang, jawab pertanyaan Mama."
"Gimana, Nyonya? Non Kila gak mau juga?" tanya Bi Surti yang kebetulan lewat untuk membersihkan kamar Alden.
Yana menggeleng lemas. "Gak tau harus gimana lagi, Bi."
"Mama! Alden belangkat sekolah dulu." ujar Alden mendadak sudah ada di belakang Yana.
"Eh, kamu udah bisa naik tangga?" tanya Yana takjub.
"Iya, dong. Kak Kila mana? Kak Kila gak sekolah?" Alden melirik ke arah pintu.
"Coba suruh Alden aja buat bujuk Kila, Nyonya." saran Bi Surti.
"Iya, Bi." Yana menekuk lutut agar menyamai tinggi Alden. "Sayang, kamu suruh Kak Kila buat buka pintu, ya," titah Yana lemah lembut.
"Kak Kila emang kenapa, Ma?" tanya Alden polos.
"Kak Kila marah. Dia gak mau sekolah. Kamu gak mau Kak Kila jadi orang bodoh, kan?"
"Gak, lah. Kak Kila cantik. Gak pantes jadi orang bodoh."
"Ya udah. Kamu ketuk, ya," Yana berdiri. Mulutnya tak lepas dari senyum supaya putranya tidak tegang.
Alden melangkah ke depan pintu kamar Kila. Tangan kecilnya mengetuk-ngetuk pintu.
Responnya sama. Tidak ada jawaban. Entah sedang apa Kila di dalam sana.
"Kak Kila kayaknya budeg, Ma." tukas Alden memasang wajah kecewa.
"Bukan gitu, De. Kakak lagi ngambek."
"Minggir, Ma." titah Alden dengan muka polosnya.
"Eh, kamu mau apa?"
"Mau buat Kak Kila keluar lah."
Yana menurut saja daripada putranya menangis. Dia bergeser menjauh dari pintu.
Bocah berumur 8 tahun itu mengambil nafas dalam-dalam. Kakinya menendang pintu kamar berwarna cokelat itu.
Brak!
"KAKAK KELUAR! KALAU GAK KELUAR, ALDEN NANTI PAKAI SIKAT GIGI KAKAK LAGI!"
Yana mendelik tidak percaya. Anaknya masih kecil, namun suaranya begitu besar bak toa masjid.
"Uhuk... uhuk..." Alden terbatuk. Sakit sebab tenggorokannya berteriak di luar batas.
"Tuh, kan, sakit." pandangan Yana teralih ke Bi Surti yang mematung. "Bi, ambilin minum."
"Baik, Nyonya." Bi Surti turun tangga.
Yana menghela nafas panjang. Walaupun Alden sudah berdengking cukup keras, Kila tetap saja tidak membukakan pintu.
"Mama nanti panggil om dokter biar Kakak gak budeg lagi, ya," ujar Alden.
Yana tersenyum. "Iya, sayang."
"Alden mau berangkat sekolah sama ayah aja." Bocah itu perlahan menuruni tangga dengan raut kecewa.
"Kakak ikut!" seru Kila mendadak muncul dari balik pintu.
"Sayang, kamu gak apa-apa? Kamu ada masalah? Maafin mama karena nggak merhatiin kamu," kedua mata Yana berkaca-kaca. Yana kemudian memeluk putri tersayangnya.
"Aku baik-baik aja, Ma. Aku lagi males keluar kamar." Kila terkekeh. Ia menampakkan deretan gigi putihnya.
Yana sedikit lega. Dia melepaskan dekapan. "Kalau ada masalah apapun itu, kamu cerita ke Mama."
"Iya, Ma,"
Alden? Bocah itu melongo seperti anak hilang. Dia menatap kakaknya dengan tatapan kosong. Kila jadi gemas ingin mencubit pipi Alden.
"Eh, itu anak kesurupan, Ma?" tanya Kila asal. "Kenapa kamu melongo?"
"Kakak jelek."
"ALDENN!" mata Kila melotot tidak terima. Dia ingin mengejar Alden, tetapi bocah laki-laki itu malah lari tergesa-gesa sembari turun tangga. Alhasil, Alden terpeleset jatuh ke lantai bawah dengan posisi telungkup. Cairan merah berbau anyir mengalir dari kepala Bocah tersebut.
Kila menganga terkejut. Tangannya bergerak menutupi mulutnya yang menganga.
"ALDEN!" teriak Yana histeris.
Yana buru-buru menolong Alden. Kila juga menyusul ibunya.
Setelah Yana sampai di lantai bawah, dia memangku kepala putranya hingga baju putih yang dia pakai berubah menjadi bercak-bercak merah.
Semoga saja, Adiknya baik-baik saja. Jika terjadi sesuatu yang parah, Kila tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
***
Kila mengelus-elus punggung ibunya. Mencoba menguatkan. Sudah 30 menit berlalu, namun dokter belum juga keluar memberi kabar.
"Maafin aku, Ma." sesal Kila. Hidungnya sudah memerah. Matanya tidak berhenti mengeluarkan air mata. "Seharusnya aku gak teriak. Mungkin Alden bakal baik-baik aja. Sekali lagi, maafin aku, Ma. Maafin..."
Yana tidak menjawab. Kila semakin merasa bersalah. Dia terduduk di lantai. Kila menggigit bibir bawah, cemas.
Edwin, ayah Kila tiba-tiba muncul. Kila spontan mendongak. Ia langsung berdiri.
"Alden mana? Jawab! Dia baik-baik aja?" cemas Edwin. Kedua netranya tidak berhenti menatap ke arah jendela ruang UGD. Di mana di dalamnya Alden sedang ditangani.
"Dokter belum keluar." jawab Yana dengan suara parau.
Wajah Edwin berubah menjadi penuh amarah ketika melihat Kila. Kila yang sadar hanya bisa menundukkan kepala. Dia tidak berani berkata apa pun.
"Semua ini gara-gara kamu! Kamu jangan teriak ke Alden!" gertak Edwin. Kila sempat tersentak.
"Ki... Kila minta maaf..." lirih Gadis itu.
"Udah delapan belas tahun Ayah ngerawat kamu. Setiap apa yang kamu minta, Ayah selalu tiurutin, tapi kamu cuma bisa nyusahin keluarga aja! Nilai kamu gak bagus, perilaku kamu seenaknya dan kamu nggak pernah dapat peringkat! Balas budi kamu mana, Kila? Kenapa kamu malah buat Alden celaka?" Edwin mengangkat tangan. Kila memejamkan mata kuat-kuat. Dia tahu, apa yang akan dilakukan Ayahnya.
"Mas, udah. Dia gak salah. Cuma, reaksi Alden yang berlebihan." Yana memegang lengan kekar suaminya.
"Diam." Edwin menoleh tajam. Yana menelan salivanya. Wajah suaminya itu sangat menakutkan jika sedang emosi. Yana melepaskan genggamannya.
Plak!
"Mas!!" Yana kontan memundurkan langkah saat tubuh putrinya terjatuh tepat di hadapannya.
Pipi Kila memanas perih.
Ini penamparan pertama kali.
Dia tidak percaya. Ayahnya tega menamparnya seperti ini.
"Mas, udah, Mas. Gak enak diliatin banyak orang dan buat keributan di sini. Please, Mas. Berhenti." Yana mengatupkan kedua tangan seraya memasang ekspresi memelas.
"Dia harus dikasih pelajaran biar gak hidup seenaknya!" Edwin menyorot Kila penuh kebencian.
Yana membantu Kila untuk berdiri. Kila terus memegang bekas tamparannya. Begitu menyakitkan. Rasanya lebih sakit daripada ditampar oleh Dasha.
"Kamu pergi dulu, ya, Nak." bisik Yana lemah lembut. Kila mengangguk pelan. Dia berjalan menjauh dari kedua orangtuanya. Mata semua orang di sekitar sana tidak lepas mengamati Gadis itu.
Melihat dua kaki berdiri di depannya, Kila seketika terhenti. Dia mendongak.
Abian.
Cowok itu ada di sini. Yang Kila khawatir kan, apa Abian mendengar ocehan ayahnya? Apa Abian melihat dirinya ditampar?
Sungguh, Kila cemas laki-laki itu ikut membencinya.