PART 70

992 Kata
Kila perlahan bangkit. Seharian di kamar begitu membosankan. Dia akan keluar hendak mencari udara segar di halaman depan rumah. Sembari terus memegangi perutnya, ia tetap berjalan. Sampai tibanya di ruang tamu, Kila seketika terhenti. Ada tamu. “Eh, sayang. Kamu udah mendingan sakitnya? Kenapa keluar? Apa kamu butuh sesuatu?” cecar Yuni. Kila jadi tak enak karena terlalu diperhatikan seperti ini. “Enggak, Bun. Aku mau cari udara segar di depan. Kila bosen di kamar terus,” “Tapi sebelum kamu keluar, Bunda mau ngenalin calon mertua kamu,” yuni membantu Kila untuk duduk. Kila menurut saja. Ia menatap pria paruhbaya yang katanya akan menjadi calon mertua itu. Jujur, Kila agak risih dengan tatapan pria itu. “Kenalin dia Om Arya. Arya, ini calon menantu saya,” Arya mengulurkan tangan. Kila langsung menjabat tangan itu. “Alesya Kilatha Aurora. Terserah mau Om panggil apa,” “Panggil sayang boleh gak?” Kila tersenyum kikuk. Sedangkan Yuni terkekeh. “Dia mantu kamu, Mas. Nanti Naufal cemburu loh,” ujar Yuni menganggap pertanyaan tadi adalah candaan. Arya melepaskan jabatan sembari tersenyum lebar. “Bunda mau siapin camilan ya. Kamu boleh tanya apa pun ke calon ayah baru kamu biar lebih akrab.” “Tapi, Bun. Biar Kila aja yang nyiapin camilannya,” ia hendak bangkit, tetapi lengan Yuni menahan. “Biar Bunda aja. Kasihan kamu entar capek,” Kila menurut lagi. Tidak enak jika berdebat di dekat tamu. “Kamu gak sekolah?” “Untuk hari ini, aku gak masuk Om. Enggak enak badan,” jawab Kila ramah sekaligus bohong. Ia belum diberi aba-aba dari Yuni jadi Kila tak berani memberitahu kebenarannya. “Panggilnya Papa aja jangan ‘Om’” Kila mengangguk sambil cengengesan. “Iya Om—eh, Papa.” “Boleh Papa minta nomor kamu? Buat ngabarin kalau ada apa-apa. Dan kamu telefon Papa kalau butuh pertolongan atau sesuatu.” Arya mengeluarkan ponselnya, ia segera memberikan benda pipih itu pada Kila. Kila dengan cepat mengetik nomornya di sana. Ia tidak keberatan karena orang yang meminta nomor adalah calon Papanya. Kila menyerahkan ponsel itu kembali. “Makasih anak Papa,” tanpa aba-aba Aryo mengusak rambut Kila. Kila terkesiap. “Ini, silahkan dimakan, Mas.” Yuni menaruh nampan itu di meja. Mereka bertiga saling mengobrol menceritakan berbagai banyak hal. Lama kelamaan Kila larut dalam obrolan itu meskipun ia sedang berbincang bersama orang yang jauh lebih dewasa darinya. *** “Kamu udah mendingan?" Mata Kila langsung terpusat pada wajah Naufal. "Iya," "Aku takut kamu kenapa-napa." Kila hendak duduk, Naufal membantunya. "Perut kamu...makin besar," "Kamu udah ada rencana mau kasih dia nama apa?" tanya Kila tiba-tiba. "Baru 3 bulan kan? Masih lama, sayang." Naufal menjeda. Lengannya tiba-tiba merogoh tas yang masih ia gendong. "Aku punya sesuatu buat kamu." "Wah, apa? Makanan? Mangga muda? Martabak?" "No," Naufal mengambil satu kardus s**u khusus untuk ibu hamil. Ia membeli itu di supermarket dengan penuh perjuangan. Bisikan demi bisikan gosip, sindiran dan tatapan sinis dia terima hanya untuk membeli s**u itu. "s**u? Ish. Aku gak mau. Gak suka." "Gelay." timpal Naufal membuat tawa Kila hendak pecah. Namun Gadis itu mengatupkan bibir. Berusaha untuk menahan. "Harus diminum." "Gak. Bikin gendut ih." tolak Kila. Melipat tangan di d**a dan memalingkan muka ke arah lain. Cup! Kila terkesiap merasakan pipinya dicium secara mendadak. Ia tetap tidak akan luluh begitu saja. Kila tak bergeming sama sekali. Naufal kira kekasihnya itu akan bertingkah malu-malu padanya. Naufal tersenyum miring. Dia menarik pinggang Kila agar lebih dekat dengannya. Jemari Naufal memegang rahang Kila, kemudian mengarahkan wajah Cewek tersebut supaya menatap dirinya. Hati Kila seketika menjadi luluh. Cowok itu... tanpa aba-aba menyentuh bibir merah muda Kila dengan menggunakan bibirnya sendiri. Ini kedua kalinya. Mereka berdua hanyut dalam suasana. Sampai-sampai tak menyadari kalau ada seseorang di sana. Kedua mata orang itu memerah hingga mengeluarkan air mata. Hatinya benar-benar memanas menyaksikan pemandangan menyakitkan itu. Detik ini. Menit ini. Hari ini. Lusi sudah mengetahui kalau sebenarnya Kila tinggal di rumah Naufal. Tapi, ia tak begitu yakin. Ibunya Naufal saja tidak mengatakan hal itu. Yuni malah mengatakan seperti ini, "Masuk aja. Ada Kila juga lagi main ke sini," begitulah perkataan Yuni yang membuat Lusi ragu akan dugaannya sendiri. Lusi memutuskan untuk pergi dari rumah itu. "Eh, kamu serius mau pulang, Lus? Ada apa? Kamu udah ketemu sama Naufal kan?" "Udah, Tante." jawab Lusi. "Dia lagi bermesraan sama pacarnya," lanjutnya dalam batin. "Lusi ditelefon Kak Fardo. Katanya di rumah ada tamu yang nanyain Lusi jadinya harus pulang deh. Maaf ya, Tan." ia menyalimi telapak tangan Yuni. Setelah itu, dia keluar dari rumah tersebut. Hatinya terasa sesak. Ternyata Naufal benar-benar sudah menjadi milik orang lain. Buktinya Cowok itu mengecup perempuan lain. ****** Kila mendorong tubuh Naufal. Ia sadar Naufal sudah melakukan terlalu jauh. "Ka...kamu keluar dulu. Aku mau tidur." titah Kila. Pipinya sekarang sudah memerah. Malu! Naufal pun sama-sama gugup. Ia meraih kardus kecil berisi s**u bubuk itu, kemudian buru-buru keluar. Kila menutup pintu rapat-rapat. Detak jantungnya sudah berdegup tidak karuan. Tadi itu benar-benar Naufal kan? Tok tok tok Kila terkesiap. Siapa lagi ini yang datang. "Bunda?" "Iya. Ini ibu bawain s**u buat kamu. Jangan lupa minum ya." Yuni menyodorkan satu gelas berisi s**u hangat. Kila dengan senang hati menerima. "Minum sekarang." perintah Yuni. Ia takut s**u itu akan dibuang. "I-iya," Kila menutup hidung. Ia memejamkan mata rapat-rapat kemudian menengguk s**u tersebut. Dari kecil, ia sangat tidak menyukai minuman itu, tapi sekarang dia harus meminumnya! "Makasih, Bun." Yuni mengangguk. Ia membelai rambut Kila. "Kamu harus biasain ini ya. Bunda tinggal dulu. Mau masak buat makan malam nanti," ******* Suara candaan sekaligus tawa mengisi ruangan mewah, namun terkesan hangat dan nyaman itu. Kila bahagia. Walaupun kedua orang tuanya sudah pergi entah kemana, ternyata masih ada yang lebih menyayanginya. "Mama, mau ngomong sesuatu." ujar Yuni mulai serius. "Ngomong apa, Ma?" tanya Reni. "Iya. Ngomong apa?" Hani giliran bertanya. Naufal diam. Menunggu ibunya bersuara. "Bulan depan, Mama nikah. Tapi besok, calon suami Mama mau tinggal di sini. Kalian gak keberatan kan?" "Enggak kok, Bun." Kila menjawab terlebih dahulu. Hani dan Reni terdiam sesaat. Sedangkan Naufal heran, sejak kapan ibunya sudah mulai membuka hati untuk seseorang setelah kepergian ayahnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN