Bab 11. Duka

1204 Kata
"Iya, Ma. Itu karena aku." Tyas melihat ke arah Aurora yang kini terlihat melengos saat anaknya mendekat. Dia seolah mencium ada yang tidak beres di antara pasutri itu. Namun, wanita paruh baya tersebut juga tidak bisa secara gamblang menanyakan tentang masalah yang tengah terjadi. "Kamu baru datang, Lex? Apa kamu membawa pesanan mama?" tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan. "Ada di belakang, lagi dibawa sama Mang Asep," jawab Alex malas. "Lagian mama ngapain, sih, nyuruh aku buat datang ke acara seperti ini? Sumpah, gak banget!" Pandangan pria berkaos hitam dan celana jeans belel itu nampak mencemooh ke area sekitar. "Kamu gak boleh bicara seperti itu, Nak!" Tyas merasa tidak enak hati kepada Aurora. Dia lalu memukul bahu Alex pelan. "Tolong jaga sikap kamu, Nak! Apa kamu mau kakek yang memberimu nasehat, hm?" Ucapan itu terdengar pelan, tetapi mengandung ancaman. "Ckckck. Mama kenapa bisanya ngancem mulu, sih?" Alex terlihat menghela napas pasrah. Selalu saja kakek yang digunakan mama, ataupun papa ketika ingin membuatnya jera. “Tak bisakah mama menggunakan alasan lain agar aku tidak bosan,” lanjutnya. "Kamu kalau gak diancam seperti itu pasti akan bertingkah terus, Nak!" Wanita paruh baya itu menggeleng setengah kesal karena sudah hafal betul sifat Alex yang entah menurun dari siapa sifat degilnya. "Ya, terserah Mama ajalah!" Alex langsung berlalu pergi meninggalkan kedua wanita berbeda usia itu. Namun, sebelum pergi dia memberikan seringai kepada Aurora yang dibalas istrinya dengan acungan jari tengah dan senyum meremehkan. "Ma, liat kelakuan mantu Mama!" tunjuknya heboh kepada sang istri. Aurora sendiri langsung memasang ekspresi tak bersalah. “Ara kenapa?” tanyanya polos. “Wah, daebak!” Alex bertepuk tangan heboh saat melihat sikap Aurora yang begitu pandai berakting. “Gila!” serunya seperti orang yang baru saja melihat hal-hal di luar nulur. “Kamu apa-apoaan, sih, Lex? Jangan bikin malu keluarga kita, dong!” Tyas segera menarik lengan anaknya agar bersikap sopan, apalagi beberapa donatur baru saja lewat di depan mereka, termasuk Prabu dan Dadu. Kedua pria Sasongko itu melihat sekilas, lalu kembali melangkah dengan para donatur yang ditemani oleh pemilik panti untuk berkeliling. Meninggalkan Tyas yang bernapas lega karena tidak membuat mereka terkena masalah. Setelahnya, ditepuk keras punggung Alex hingga membuat sang putra tercinta memekik. “Sakit, Ma!” “Biarin! Suruh siapa bandel kalau diberitahu. Lagian kamu itu ngapain, sih, kayak gitu? Apa kamu emang udah bosen dikasih tahu sama mama dan papa begitu? Kalau emang udah gak bisa dibilangin lagi sama kami, ok. Kamu bisa tinggal bersama kakek kamu saja sana!” “Ma!” Alex langsung panik saat melihat ibunya merajuk dan mengatakan akan membiarkannya tinggal di rumah kakeknya. Membayangkan saja sudah membuat bulu kuduk meremang. Bukan karena angker, melainkan sikap Prabu yang begitu kolot dan serba tidak boleh membuatnya sebisa mungkin untuk menjauh dari rumah itu. “Aku janji bakalan nurut. Tapi, please! Jangan biarkan alex tinggal di rumah kakek!” “Gak. Mama udah merasa kamu ini semakin hari tidak bisa dibilangin. Selalu saja bertingkah hingga membuat papamu pusing.” “Ma, tolong jangan begini! Alex janji gak akan melakukan hal yang membuat kalian pusing lagi,” bujuknya. “Alex akan melakukan apa pun agar Mama dan papa mau membatalkan niat kalian untuk membuangku ke rumah kakek!” Diam-diam Tyas menyeringai. Aurora sendiri juga ikut tersenyum kala mengetahui jika kartu As seorang Alex Sasongko kini ada di tangannya. Jadi, jika suaminya bertingkah maka bisa dengan mudah menggunakan nama Prabu uantuk membuat pria tersebut menurut. “Tenang, Mas. Ke mana pun Mas Alex tinggal, aku juga akan ikut denganmu,” celetuk Aurora. “Diam kamu!” “Alex!” “Maaf, Ma!” Pria itu langsung mengatupkan bibir dan menurunkan pandangan tajamnya. Namun, dalam hati kini tengah mengumpat. Diam-diam dia melirik ke arah sang istri yang kini tengah tersenyum meledeknya. “Awas aja itu bocah nanti kalau di rumah. Bakal habis dia!” batinnya jahat. Akan tetapi, ternyata harapan jahat Alex tidak terkabul karena Aurora kembali menginap di panti untuk mengurus sesuatu. Jadi, malam ini dia harus kembali memendam kesal karena tidak bisa melampiaskan semua rasa kesalnya pada sosok gadis ingusan tersebut. “Argh! Kenapa aku jadi gak bisa tidur begini, sih!” Alex sudah seperti cacing kepanasan saat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tetapi dirinya masih terjaga. “Ah, aku punya rencana,” lanjutnya senang saat menemukan sebuah ide. Pria tampan itu kini menuruni anak tangga sambil memakai jaket jenasnya. Keadaan ruang tengah dan ruang tamu terlihat lengang karena semua orang kini sudah berada di dalam kamar beristirahat. Jadi, Alex begitu leluasa melenggang pergi tanpa takut ketahuan oleh penghuni rumah. “Akhirnya, aku bisa juga keluar dari rumah ini!” Alex menyeringai saat sudah berada di mobil sportnya. Tujuannya sekarang adalah Sirkuit Flowres yang ada di kota tetangga yang berjarak 1 jam dari rumah. "Kania! Tunggu aku!" serunya dengan wajah berbinar bahagia. *** Sementara itu, Aurora kini tengah berada di dalam kamar Bunda. Perempuan cantik dan juga pandai memasak tersebut terlihat menunduk. Ada kesedihan saat melihat orang yang selama ini merawatnya tergeletak tak berdaya di atas ranjang. Leukimia stadium akhir adalah penyakit yang tengah mendera sosok Bunda Aurora. Namanya Basiyah berusia 54 tahun. Wanita yang selama ini begitu kuat dan baik-baik saja, tiba-tiba divonis menderita penyakit mematikan. "Sudah jangan menangis Ara! Bunda gak apa-apa, kok," ucap Basiyah lemah. "Bagaimana bisa Bunda tidak memberitahukan soal penyakit ini pada kami? Kenapa, Bun?" Aurora semakin terisak melihat rambut Basiyah yang ternyata sudah banyak mengalami kerontokan. Wanita paruh baya itu terlihat tersenyum lemah di atas ranjang kevilnya. "Namanya manusia pasti akan kembali kepada Allah, Mbak. Tinggal caranya saja yang berbeda-beda. Mungkin, inilah cara Allah melunturkan semua dosa-dosa yang sudah Bunda perbuat di dunia ini. Jadi, Mbak gak boleh sedih. Yang harus Mbak lakukan sekarang adalah bahagia. Sudah cukup Mbak menderita selama ini. Jadi, tolong hiduplah dengan senyuman. Apa pun masalah yang kamu hadapi, kamu harus tetap ingat siapa Penciptamu, Mbak," ucap Basiyah lemah. Aurora menggeleng. Wajahnya sudah basah bersimbah air mata. "Bunda gak boleh ngomong begitu! Bunda harus temani kita semua! Jika Bunda pergi, kami sama siapa, Bun?" Tangisnya sambil memeluk tubuh Basiyah, sedangkan anak-anak yang lain juga ikut menangis. Mereka semua takut kehilangan sosok Bunda yang selama ini telah menjaga dan merawatnya. Basiyah adalah wanita yang baik dan penyabar. Tentu semua orang merasa kaget karena ternyata dibalik senyumnya, diam-diam menyimpan luka dan sakit yang begitu kronis. "Kami sayang Bunda," koor anak-anak tersebut di antara kesedihannya. Basiyah merasa senang dan juga sedih melihat semua anak asuh menangisinya. Namun, dia juga sudah tidak bisa menahan rasa sakit yang selama ini menggerogotinya. Hingga akhirnya, wanita itu mengembuskan napas terakhir tepat dalam pangkuan Aurora. Sontak, semua orang ikut histeris saat mendengar teriakan Aurora yang memanggil Bundanya yang sudah tak bernapas lagi. Basiyah meninggal karena sakit leukimia hingga membuat 20 anak di sana merasa kehilangan, terutama Aurora. Dia yang paling besar di antara anak-anak yang lain. Bersamaan dengan kabar duka yang kini tengah menyelimuti panti asuhan yang ditempati oleh Aurora. Ternyata di kota sebelah kini tengah ramai pula mengerubungi sebuah mobil yang terbalik. Si pemilik terlihat tak sadarkan diri dengan banyak darah merembes dari kepala, sedangkan bagian kakinya masih terjepit badan mobil. Semua orang menatapnya iba. "Bukankah itu Alex?" tanya salah satu orang di sana. "Iya. Gak tau dia bakalan hidup apa gak. Soalnya keadaannya parah banget!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN