Bab 12. Koma

1382 Kata
Aurora berlari di lorong rumah sakit yang sunyi dan sepi. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam dan dia bagaikan Cinderella yang sedang dikejar waktu. Jika biasanya, Cinderella akan menghindari Pangeran karena dirinya akan berubah wujud dan tidak sengaja menjatuhkan sepatu kacanya, sedangkan Aurora justru sedang menghampiri Pangerannya, alias Alex–suaminya. Sebab, Aurora baru saja mendapatkan kabar jika suaminya kecelakaan saat mengikuti balapan liar di Sirkuit Flowres. Belum usai kesedihannya kehilangan bunda, dirinya kembali dihadapkan dengan kabar duka lainnya. "Mah," panggil Aurora dengan wajah basahnya. "Sayang, akhirnya kamu datang juga, Nak. Maaf, udah manggil kamu malam-malam buat ke sini. Mama beneran nggak tahu harus bagaimana menghadapi semua ini, Ra!" Tyas memeluk tubuh menantunya sambil berlinang air mata. Aurora ikut menangis, walau dengan alasan yang berbeda. "Sabar, Ma. Mas Alex pasti kuat, kok. Dia pasti bisa keluar dari masa kritisnya. Mama gak usah khawatir, yah!" Gadis yang tengah berduka itu kini tengah menghibur ibu mertuanya, padahal dia juga butuh seseorang yang menguatkan hatinya. "Bunda, Maaf," batinnya pedih. "Biarkan saja. Anggap saja Ini adalah sebuah teguran dari Allah agar Alex jera, kemudian sadar jika apa yang selama ini dilakukan itu berbahaya," celetuk Prabu yang hari ini memakai pakaian lebih tebal. "Kakek harap setelah ini dia tidak akan berulah lagi!" "Tapi, Pah–" "Mah!" Dadu langsung memegang bahu istrinya. Menggeleng agar tidak menyahut ucapan dari Prabu. "Lagian benar apa kata Papa. Alex memang sesekali harus diberikan pelajaran," sambungnya. Aurora hanya diam saja sambil tetap memeluk Tyas dan menangis. Dia benar-benar tidak mengerti harus berekspresi seperti apa. Keluarga suaminya memang belum tahu kondisi ibu panti yang telah meninggal dunia. Mungkin jika tahu mereka akan menyuruhnya pulang. "Ara, kamu tidak perlu sedih seperti itu. Aku yakin bocah itu pasti akan cepat bangun, jadi kamu tidak perlu menangis, Sayang!" Prabu berusaha menenangkan Aurora. Aurora mengangguk, tetapi tetap tidak bisa menahan laju air matanya. "Maaf, Ma, Pa, Kek, air mata ini tidak mau berhenti," katanya di sela tangis. "Biarlah mereka mengira jika aku menangis karena suamiku, karena untuk saat ini … aku sedang tidak bisa berbagi akan kesedihanku. Bunda, tolong maafkan Ara karena tidak bisa menemanimu!" lanjutnya dalam hati. Sungguh, dia pun tidak ingin terlihat cengeng, tetapi kebersamaan bersama ibu panti selama ini sudah membuatnya dicintai. Terlalu banyak kenangan di antara mereka hingga sulit rasanya menerima kepergian itu. Namun, di sisi lain Aurora juga seorang istri yang harus menemani suaminya yang sedang dalam keadaan kritis. Ini adalah sebuah pilihan yang sulit. Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang operasi dan langsung dicecar banyak pertanyaan oleh anggota keluarga. Pria paruh baya itu terlihat lelah, tetapi harus profesional. "Jadi, bagaimana keadaan cucu saya, Dok!" Prabu tidak bisa berbohong sekarang. Dirinya yang kalut bahkan sampai menitikkan air mata saat tak mendengar jawaban apa pun dari dokter yang menangani Alex. Aurora sendiri kini tengah mengusap lengan Prabu agar bisa lebih tenang. Namun, pikirannya tidak 100% ada di sana, masih terbagi dua antara panti dan suaminya. "Kakek pelan-pelan saja, kita dengarkan dulu penjelasan dari dokter," ujarnya di antara tangisnya. "Bagaimana aku bisa tenang, Nak. Cucuku ada di dalam, bahkan sampai sekarang aku belum mendengar kabar apa pun. Nak, suami kamu akan baik-baik saja, 'kan?" Prabu sangat menyayangi cucu satu-satunya itu. Walaupun selama ini dia bersikap keras kepada Alex, tetapi dibalik itu semua ada kasih sayang yang tulus padanya. Aurora hanya mengangguk dan tetap berusaha menenangkan Prabu yang tengah bersedih. "Iya, Kek. Semoga Mas Alex baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin," doanya. Dokter yang bertugas pun berdeham untuk meminta keluarga korban mendengarkan penjelasannya. "Jadi begini, Pa, Bu, untuk pasien sendiri kini baru saja melewati masa kritisnya karena kehilangan banyak darah. Tapi, ada beberapa hal yang mungkin akan dialami oleh si pasien akibat benturan keras itu. "Apa, Dok? Tolong jangan ada yang disembunyikan dari kita!" Prabu langsung menodong sang dokter dengan penuh permohonan. "Baik, Pak. Jadi, karena kecelakaan itu pasien mengalami cedera otak, tetapi kami belum bisa menjelaskan secara detail karena kami perlu melihat perkembangan si pasien ketika sadar," jelas dokter. "Lalu, apa ada lagi, Dokter?" "Kemungkinan, pasien juga akan mengalami kelumpuhan karena bagian tulang belakangnya mengalami benturan yang cukup keras," imbuh si dokter menyesal. "Apa, lumpuh?" Seketika tubuh Tyas terkulai tak sadarkan diri. "Ma!" Dadu dengan cepat mengangkat tubuh Tyas menuju kursi tunggu dan menaruhnya di sana. Semua orang panik, juga shock atas kejadian yang menimpa putra keluarga Sasongko, termasuk Aurora. Gadis itu terlihat semakin menangis pilu saat mendapatkan dua kabar menyedihkan dalam satu waktu. Dia merasa jika tubuhnya ikut melemah saat gelap tiba-tiba menyelimuti pandangannya. Yang terakhir dia dengar adalah suara teriakan Prabu, kemudian Aurora tak ingat apa pun lagi. Berita tentang kecelakaan yang dialami oleh Alex ternyata sudah tersebar luas. Banyak relasi bisnis dan juga beberapa pejabat yang datang menjenguk di rumah sakit. Namun, ada banyak pula yang mensyukuri kejadian tersebut, apalagi setelah mengetahui bagaimana sifat asli dari si Tuan Muda Angkuh tersebut. Akan tetapi, selama di rumah sakit tidak ada satu pun teman nongkrong yang menjenguk Alex. Mereka semua seolah hilang bak ditelan bumi, menghilang tanpa jejak tanpa ada yang tahu di mana keberadaan orang-orang yang mengaku sebagai sohib. Selama di rumah sakit, Aurora sama sekali belum kembali ke panti. Dia bahkan melewatkan acara pemakaman ibu panti karena kondisi yang sangat tidak memungkinkan. Namun, semua anggota keluarga yang ada di panti juga mengerti akan kondisi Auror sehingga memaklumi. Kini, sudah lebih dari 14 hari mata pria itu belum juga terbuka hingga membuat semua orang masih harap-harap cemas. "Nak, makanlah! Tubuhmu bisa tumbang jika hanya makan sehari sekali, Ra." Dadu berjalan menuju di mana Aurora kini tengah membersihkan kulit tubuh Alex yang masih belum sadarkan diri. Alat-alat bantu yang cukup banyak itu masih terpasang di tubuh Alex. Masa kritis memang sudah terlewati, tetapi pria tersebut belum juga bangun dari komanya. Entah apa yang membelenggunya sehingga sampai saat ini belum juga sadar. "Iya, Pa. Nanti setelah ini Ara makan. Papa dan Mama makan dulu aja," ujarnya sambil tersenyum kecil. "Udah, ini biar Mama yang selesaikan. Kamu sekarang makan, ok!" Tyas mengusap kepala Aurora dengan sayang. Dia merasa sangat bersyukur karena menantunya masih tetap bertahan di sisi Alex hingga saat ini. "Makan, yah?" Aurora pun mengangguk dan menyerahkan handuk kecil yang memang dipakai untuk membersihkan tubuh Alex. Dia kemudian menatap wajah suaminya sebentar, lalu setelah itu berjalan menuju sofa di mana ada Dadu yang sudah menunggunya untuk sarapan. "Makan bubur tidak apa, 'kan?" tanya Dadu sambil menyerahkan mangkuk berisi bubur ayam. Aurora mengangguk. "Iya, Pa. Ara mau, kok." Setelah itu, dia pun makan bersama dengan papa mertuanya, sedangkan Tyas sesekali memberikan pertanyaan dan dijawab dengan polos olehnya. "Jadi, Mas Alex dulu juga pernah kecelakaan, Ma?" "Iya, Ra. Tapi, tidak sampai seperti ini. Emang itu anak sudah sedari dulu pecicilan dan susah banget diatur. Udah tau di depan ada banyak motor, eh, Alex malah tetap berlarian, akhirnya tubuhnya yang kecil terpental beberapa meter karena diseruduk oleh motor," kenang Tyas yang saat itu tengah mengunjungi sanak saudaranya yang ada di kota lain. "Tapi, apa kamu tau, Nak? Sehari kemudian suamimu itu malah udah pecicilan lagi. Heuhhhh, pokoknya dia itu selalu saja membuat kamu khawatir," sambungnya tersenyum pedih. "Mungkin Mas Alex punya nyawa 9 kali ya, Ma?" "Dua puluh, Ra," celetuk dadu sambil tersenyum. Aurora pun menjadi ikut tersenyum bersama dengan Dadu dan juga Tyas. Mereka melakukan hal tersebut hanya untuk menghibur diri di antara rasa cemas karena melihat Alex yang tidak kunjung siuman. *** Sementara itu, di alam lain. Alex yang memakai baju putih kini tengah duduk diam di sebuah taman dengan banyak anak-anak yang tengah bermain, sedangkan dirinya hanya melihat saja tanpa ada niatan untuk ikut bergabung. Pria itu masih merasa bingung kenapa dirinya ada di tempat tersebut. "Bangun, Mas. Bangun! Apa kamu tidak ingin berdebat denganku lagi? Bangunlah! Aku lelah melihatmu seperti ini." Suara itu terdengar begitu sedih dan pilu. "Siapa itu?" tanyanya sambil melihat ke arah sekitar. "Ini semua gara-gara kamu, Mas, aku tidak bisa melihat bunda dimakamkan. Ini semua gara-gara kamu yang ceroboh! Tak bisakah kamu bertindak dewasa? Tak bisakah kau gunakan otakmu untuk berpikir dan memilah mana hal yang baik dan buruk? Tak bisak–" Suara penuh emosi kini terdengar di telinga Alex sehingga membuat pria tersebut menutup telinganya. "Diam!" teriaknya. "Kamu siapa? Kenapa kamu berani memakiku? Dan, sebenarnya aku ada di mana? Aku mau pulang. Ma, Pa, Kek, tolongin Alex! Aku mau pulang!" teriaknya di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN