Pernyataan.

1501 Kata
Melly memejamkan mata, menunggu kelanjutan apa yang akan lelaki itu lakukan padanya. Sampai di mana, dia membuka kelopak mata saat suara barito itu menyadarkan dia dari pikiran m***m. "Kamu, kenapa bisa ada di sini?" Seketika, kesadaran Melly mulai menyatu dari jiwa nya. Perempuan itu langsung bangkit dari tidur nya, lalu duduk memandang dengan lekat wajah, Ivan. Yang saat itu tengah berdiri menunggu jawaban nya. "Malah bengong. Ck!" Decak Ivan, masih menunggu jawaban atas pertanyaan yang sama sekali belum di jawab oleh Melly. Dia penasaran, kenapa perempuan itu tidak pulang. "Ntar dulu dong, Pak. Saya kan baru bangun, Ssssttt..." Desis Melly memegang perut yang terasa nyeri. "Semalam, saya yang membawa bapak pulang. Sebelumnya, pihak Club itu memberitahu kalau bapak mabuk. Dia meminta saya untuk segera menjemput," Jelasnya di iringi dengan ringisan kembali. "Kamu kenapa?" Menelisik wajah Melly yang seperti menahan rasa sakit. "Nggak apa-apa, ini biasa." Jawab Melly beranjak berdiri, dia ingin segera pulang. Bunda nya pasti di rumah mencari keberadaan dia. "Kalau begitu saya pamit, Pak." Mengangguk sembari berlalu menuju pintu. "Kamu beneran nggak apa-apa?" Tanyanya lagi saat Melly akan meraih Handle pintu. Tanpa menoleh Melly mengangguk saja membuka pintu membalikkan tubuh lalu tersenyum. "Tunggu, Mel... terima kasih, maaf sudah merepotkanmu." "Sama-sama, Pak." Mengangguk kembali, berlalu dari unit apartment itu. Sepanjang perjalanan Melly terus saja mengulas senyum manis. Bagaimana bisa dia mengabaikan lelaki itu. Jantung nya selalu saja berdebar-debar saat berdekatan dengan lelaki itu. Perasaan nya masih sama seperti saat pertama kali bertabrakan dengan lelaki itu. "Duuh... Mel. Lo kayak nya udah nggak waras." Gumam Melly dengan bibir yang selalu mengulas senyuman manis. Dia sendiri masih tidak akan pernah menyangka, jika dia akan sedekat itu dengan cinta pertamanya. *** Satu bulan berlalu... Semenjak kejadian waktu itu, Melly sudah bersikap seperti biasa, sama sekali tidak ada yang pernah berubah. Kegiatan perempuan itu hanya seputar kerjaan dan rumah. Karena memang pada dasar nya dia adalah anak perempuan yang tertutup, hampir tidak pernah mempunyai teman. Kesibukan Melly saat dia punya waktu senggang, dia akan menghabiskan waktu bersama dan mengantar ke dokter untuk cek kesehatan sang bunda. Sekarang adalah hari senin, di mana haru itu Melly cukup di sibukkan dengan setumpuk kegiatan, juga jadwal beberapa pertemuan. Perempaun itu kembali ditugaskan untuk mendampingi, Ivan. Bertemu dengan beberapa kolega anak perusahaan cabang lain untuk bekerja sama diperusahaan tempat dia bekerja. Setelah Meeting hari ini selesai. Mereka akan kembali ke perusahaan. Berada di dalam mobil yang sama, membuat Melly di landa kegugupan. Padahal sudah sering dia berada dalam situasi seperti ini. Tapi, tetap saja, lirikan mata juga perasaan Melly tidak bisa di bohongi. Walau sekeras apapun dia berusaha menormalkan degub jantungnya. Dia tetap mengharapkan agar bisa selalu berdekatan dengan lelaki itu. "Sungguh bodoh memang Melly." Rutukan itu selalu dia gumamkan di dalam hati setiap saat. "Kita singgah sebentar, kita sudah melewatkan jam makan siang." "Iya, Pak." Sahut Melly, walau rasa lapar itu belum dia rasakan. Sebab, sebelum Meeting dia sempat menggigit beberapa potong roti, yang tadi pagi di siapkan oleh sang bunda. Mobil berhenti di lahan parkir Resto yang cukup terbilang asri. Mereka sama-sama turun tanpa ada drama buka pintu oleh si lelaki. Karena mereka tidak ada hubungan Special apa pun. Berjalan bersisian, tiba-tiba tanpa sengaja Melly menabrak seseorang dan hampir terhuyung kebelakang. Beruntung saat itu ada Ivan. Jika tidak ada lelaki itu, sudah bisa dipastikan Melly akan terjatuh. "Eh, Mbak. Hati-hati doong,-" ucapan seorang perempuan terhenti saat melihat lelaki disebalah, Melly. Melly yang sadar akan tatapan perempuan yang bertabrakan dengannya, langsung menjaga jarak dengan Ivan. Anehnya, Ivan malah mengeratkan rangkulan pada pinggul Melly. Bahkan kini, terkesan seperti seolah-olah sedang menjaganya. "Diam," bisik Ivan. Melly hanya bisa memejamkan mata, sembari mengangguk patuh. Saat lelaki itu mendekatkan bibir ditelinga Melly. Yang menimbulkan bulu kuduk Melly seketika merinding. Jantung perempuan itu kini sudah tidak bisa dikatakan normal, sebab kini sudah terdengar seperti genderang berdegub dengan kencang. Melly hanya bisa menatap Ivan dalam diam. "Van.." Panggilan seseorang membuyarkan lamunan Melly, lalu dia menoleh pada perempuan di hadapan nya itu. Mengernyitkan kening tanda bingung. Kenapa perempuan itu bisa kenal degan Ivan? Ah, sudah pasti lelaki yang kini tengah merangkulnya banyak kenalan beberapa perempuan yang cantik-cantik. Pikir Melly. "Hai.." Sapa Ivan, sembari tersenyum. "Kamu apa kabar?" tanpa mempedulikan Melly, perempuan itu langsung mencium pipi kiri dan kanan lelaki, Ivan. Gerakan perempuan itu terlalu cepat. Membuat Ivan tidak bisa menghindarinya. Lelaki itu hanya berdecak sebal melihat tingkah perempuan di hadapan nya itu. "Baik, kenalin. Ini kekasihku." Melly kembali menoleh dengan tatapan tak suka. Lagi-lagi lelaki itu selalu saja membuat pernyataan yang aneh-aneh. Membuat Melly terkejut. Seketika lamunan Melly buyar saat Ivan sedikit mengusap pinggul nya, di susul dengan kedipan mata. "Eh, iya. Aku Melly." Melly mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan perempuan itu. Dia hanya mengikuti drama yang Ivan buat. "Kenalin... Aku Franda. Mantannya, Ivan." Menyambut uluran tangan Melly, dengan senyum mengejek memperhatikan penampilan Melly dari ujung kaki hingga kepala. "Dulu itu, dia bucin sama aku,-" "Itu dulu, tapi tidak untuk saat ini. Ayo sayang, sepertinya, disini kurang cocok dengan kamu. Kita cari makan di tempat lain saja." Potong Ivan ucapan Franda. Rasa nya Ivan sudah muak melihat Franda seperti terlalu percaya diri, jika dirinya masih mencintai perempuan itu. Walau memang pada dasar nya. Ivan, belum bisa dengan cepat melupakan cinta pertama nya. Ivan langsung menggandeng lengan Melly, untuk segera pergi dari tempat itu, tanpa mempedulikan tatapan dari Franda. Mereka kini sudah berada di dalam mobil. Ivan menghembuskan napas perlahan, mengacak-acak rambutnya kesal. Kini, hanya ada keheningan tanpa ada sepatah kata yang keluar dari bibir masing-masing. Sampai di mana ucapan lelaki itu memecah keheningan sesaat. "Maaf untuk yang tadi." "Nggak apa-apa, Pak. Saya tidak masalah," "Kamu mau gak jadi kekasih saya?" "Hah, apa, Pak?" Sontak pernyataan Ivan mengagetkan Melly, sedetik selanjutnya dia tertawa. "Bercanda nih? Minum dulu, Pak. Siapa tau, setelah minum pikiran bapak jadi jernih." Menyodorkan air dalam kemasan botol ke hadapan Ivan. "Ish..." Mengambil botol itu dengan gerakan kasar, lalu menaruhnya di sisi pintu samping tubuh Ivan. "Saya tahu, selama ini kamu suka sama saya." Ivan menatap manik mata sipit milik Melly, yang kini tengah salah tingkah. Karena Ivan sudah tahu akan perasaan yang selama ini Melly pendam. "Gimana? Kamu mau kan jadi pacar saya? Aku nggak mau mendengar penolakan dari kamu." Tuh, kan, lelaki itu selalu saja memaksa dan seenaknya. Melly lantas menggeleng dengan samar. "Jadi kamu nolak saya?' "Bu-kan gitu, Pak." "Terus apa dong? Saya memang belum cinta sama kamu, tapi kamu bisa kan bantu saya? Saya butuh seseorang, untuk bisa melupakan cinta dari masa lalu saya." Melly tidak merespon kembali ucapan dari Ivan. Banyak sekali pemikiran sebagai pertanyaan yang datang tanpa tau jawaban pada diri nya sendiri. Bukan kah memang dia mencinta Ivan sejak dulu. Tapi menerima Ivan yang belum mencintai dia, rasanya tidak mungkin akan bisa dia lalui dengan sangat mudah. Kurang dari satu jam, mereka sampai di gedung perusahaan. Mobil berenti di tempat yang memang telah disediakan untuk Direksi. Ivan turun tanpa mempedulikan Melly, yang saat itu tengah memperhatikannya. "Bagaimana bisa dia menjadi kekasihku. Saat ini saja, dia sama sekali tidak mempedulikan aku. Padahal, baru saja dia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Dasar lelaki aneh." Melly terus saja menggerutu dengan kesal, sembari mencebikkan bibirnya. *** Lima bulan sudah berlalu.... Kini status Melly sudah bukan perempuan jomblo lagi. Melly saat ini tengah menjadi kekasih dari atasan nya. Lebih tepatnya, kekasih yang tidak dianggap. Hubungan mereka harus di rahasiakan atas permintaan Ivan. Dan Melly menyetujui itu. Beruntung Perempuan itu sama sekali tidak mempedulikannya, karena fokusnya saat ini adalah bekerja. Kebiasaan Ivan masih terus belanjut seperti malam-malam sebelumnya. Masuk ke dalam Club malam, dan pulang dengan keadaan sudah mabuk. Kemudian Melly yang akan menjemput Ivan. Mengantar lelaki itu sampai masuk dan tertidur di apartment Ivan. "Menyusahkan, setiap malam selalu seperti ini." Gerutu Melly sembari terus memapah Ivan masuk ke dalam unit aparment milik lelaki itu. "Brisik!" Racau Ivan mengacuhkan gerutuan kekasihnya. Melly membawa tubuh yang sudah limbung dan setengah sadar itu, masuk ke dalam kamar pribadi milik Ivan. Napasnya terengah-engah setelah merebahkan tubuh sang kekasih. "Aduh aku cape banget, bisa nggak sih kamu itu berubah menjadi lebih baik. Jangan seperti ini." "Kamu itu lama-lama cerewet sekali," "Udah kamu istirahat aja. Aku ngantuk banget, aku pulang ya,-" "Jangan pulang, temani saya di sini." Sela, Ivan, mencekal pergelangan tangan Melly. "Tapi, Pak." Dengan gerakan cepat, Ivan menarik cekalan tangannya pada Melly. Membuat perempuan itu menubruk tubuh atletis milik Ivan. Kini posisi Melly berada di atas tubuh Ivan. "Sssttt... kalau lagi berdua jangan panggil seperti panggilan saat di kantor. Paham?" tanya Ivan yang langsung di angguki oleh Melly. Jantung Melly berdegub sangat kencang, ketika jarak mereka terasa sangat intim tanpa berjarak. Ivan menangkup pipi Melly, menggunakan kedua tangan, membabat habis jarak mereka. Menatap lekat dua bola mata sipit Melly. Mengusap bibir ramun milik perempuan itu menggunakan ibu jari, perlahan Ivan mulai mendekatkannya. Merasakan benda kenyal itu, melumat, menyesap dan merasakan, manisnya bibir sang kekasih. Mata Melly membulat, ini adalah kali pertama dia merasakan sesuatu yang belum pernah sama sekali dia rasakan. Awalnya memang kaku, lama kelamaan dia jadi bisa mengimbangi permainan bibir lelaki itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN