Kehormatan

1408 Kata
Seperti malam-malam sebelumnya. Ivan akan selalu menghabiskan waktunya selepas pulang bekerja di club malam. Dan berakhir tak sadar kan diri hingga hampir menjelang pagi. Jika keadaannya sudah seperti itu, Melly yang akan diminta untuk datang menjemputnya. Biasanya, selepas pulang bekerja, Melly akan berdiam diri di rumah. Dia akan tidur dan bangun saat matahari menampakkan diri nya di siang hari. Itu kalau keesokan hari nya dia libur bekerja. Tapi malam ini, Melly di minta oleh Ivan untuk datang menemani lelaki itu untuk memenuhi undangan dari beberapa teman Club mobil. Dengan kata terpaksa dan tak enak hati, akhirnya perempuan itu mengiyakan saja. Toh dia tidak akan menyentuh yang nama nya minuman beralkohol. Melly bertemu dengan seorang perempuan yang tempo hari mengenalkan dirinya sebagai mantan dari Ivan. Melly juga di perkenalkan dengan seorang leleki yang dia ketahui adalah sepupu dari Ivan, yang saat ini tengah menjalin kasih dengan mantan Ivan yang tak lain adalah Franda. Kisah lama kembali berputar saat netra hazel milik Ivan tak sengaja melihat bagaimana kemesraan adik sepupunya dengan mantan tunangan dia terdahulu. Kita tidak bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta dan tidak ada yang salah juga dengan sebuah rasa yang dia miliki. Mati-matian Ivan mencintai perempuan itu. Nyatanya, perempuan itu telah membohonginya bertahun-tahun. Berpura-pura mencintai dia hanya sekadar kesenangan semata. Sebelum akhirnya perempuan itu lebih memilih sepupu dia ketimbang dirinya. Beralaskan Ivan hanyalah seorang kacung di perusahaan lain. Tanpa orang lain tahu, bahkan keluarganya tahu. Ivan membangun kerajaan bisnis dalam bidang property Melly hanya diam, membiarkan Ivan dengan puas menikmati malam ini dengan minuman yang sudah banyak lelaki itu masukkan ke dalam perutnya. "Cukup, Van. Kamu udah minum banyak." Ivan menoleh saat gelas yang akan dia tenguk direbut paksa oleh Melly. Ivan tidak marah juga tak merespon apapun. Dia hanya tersenyum, tangan lelaki itu terulur, mengelus pipi halus milik Melly. Beranjak berdiri dengan setengah tubuh yang sudah limbung. Ivan meninggalkan Melly yang tergugu dalam posisi nya saat itu. Menghela napas beberapa kali sebelum akhirnya Melly bangkit mengejar Ivan dan meninggalkan tempat itu. Terkadang mulut selalu mengatakan gunakan logika. Nyatanya, tidak. Kita malah mengikuti hati pada akhir nya. Padahal kita tahu bahwa itu jelas-jelas salah. Mencintai seseorang yang tidak pernah akan membalas perasaan nya. Itu yang kini Ivan rasakan. "Astaga, kamu itu berat banget..." Keluh perempuan yang tengah memapah sang kekasih yang sudah mabuk dan setengah sadar itu. Bibir nya terus saja menggerutu dengan kesal. "Kan tadi aku udah bilang. Jangan minum! Sekarang aku yang repot." Sambungnya dengan napas yang terengah-engah karena tubuh dia kalah dengan tubuh lelaki itu yang lumayan cukup berat baginya. Mereka berada di dalam kawasan gedung apartment. "Aku bisa sendiri..." Melepas rangkulan pada bahu kekasihnya itu dengan perlahan. "Padahal aku minum hanya sedikit." berjalan sempoyongan, meninggalkan Melly di belakangnya. "Terserah deh, apa kata kamu. Aku antar sampai kamu masuk. Setelahnya aku pulang,” Sahut Melly mengekori Ivan, takutnya lelaki itu tersungkur jatuh. Ivan tidak merespon kembali ucapan Melly, dia terus berjalan beriringan dengan perempaun itu. Sesekali tubuhnya oleng, namun dengan cepat Melly membantunya. Pasangan itu memang baru menjalin hubungan beberapa bulan. Tapi Ivan sama sekali tidak pernah menunjukkan perhatiannya terhadap Melly. Tapi bagi Melly dia sudah sangat bersyukur. Sebab, sudah lama sekali dia mencintai dan mengagumi sosok Ivan dengan sejuta pesonanya. Sampai tiba di unit apartment milik lelaki itu, keduanya pun masuk ke dalam, lalu menutupnya. "Kamu lapar tidak?" tanya Ivan ketika mereka berdua sudah duduk disofa yang berada diruang tamu. "Enggak, sih. Kalau kamu, lapar memangnya?" tanya Melly menatap sang kekasih. "Kamu bisa buatin sesuatu untukku, sementara aku bersih-bersih,” pinta Ivan sembari bangkit berdiri—melangkah memasuki kamar miliknya. Melly tidak merespon kembali ucapan Ivan. Dia langsung berjalan menuju arah Pantry, menyiapkan sesuatu yang bisa di makan untuk kekasihnya. Spaghety menjadi salah satu pilihannya, karena makanan itu cukup Simple. Saat sedang menyiapkan makanan tersebut ke atas piring, karena hidangan itu telah selesai dia buat. Melly terkesiap saat Ivan memeluknya dari arah belakang. Melingkarkan tangan dipinggangnya dengan erat, lalu mengecup lehernya hingga setengah terangkat. Tangan Melly sudah tidak fokus lagi dengan kegiatannya, padahal tinggal setengah lagi pekerjaannya dalam menyajikan hidangan tersebut selesai. Aroma wangi sabun dapat Melly rasakan saat berada sangat dekat tanpa berjarak dengan lelaki itu. Jantungnya pun semakin berdebar-debar tatkala Ivan semakin mengeratkan pelukannya. "Wangi banget… masakannya,” bisik Ivan dengan suaranya yang sudah mulai serak, lalu lelaki itu mengecup cuping telinga Melly sembari memejamkan matanya. Gerakan tangan perempuan itu sudah berhenti sejak tadi. Sesaat setelah mendapat pelukan dari lelaki itu. Melly memiringkan lehernya memberi akses untuk Ivan lebih leluasa mengeksplor leher nan putih itu. Menikmati kecupan-kecupan kecil yang didaratkan Ivan dileher Melly. Gelenyar aneh mulai Melly rasakan seiring hembusan napas lelaki itu. Melly merasa tubuhnya seakan mau limbung, namun dengan segera Ivan mengeratkan kembali pelukannya. Saat dia merasakan jemari lelaki itu menyentuh pinggangnya, Melly memutar tubuhnya agar bisa menghadap dan memandang lekat bola mata kekasihnya. "Cantik," ucap Ivan, sembari mengusap pipi halus Melly menggunakan punggung jarinya. Ivan membawa tubuh Melly semakin dekat, kemudian menunduk. Pandangannya berfokus pada bibir ranum milik perempuan itu. Melly memejamkan mata, menerima sepasang bibir yang melumat membabi buta. Lidah lelaki itu membelit, memaksa Melly untuk membuka mulutnya. Memberikan aksen tak terbatas pada dirinya agar dapat menjelajah bibir Melly. Keduanya sama-sama hanyut akan suasana di dalam kamar apartment milik lelaki itu. Sampai di mana Ivan membawa Melly masuk ke dalam kamar pribadi miliknya. Malam ini, Melly menyerahkan sesuatu yang paling berharga, yang seharusnya dia berikan untuk suaminya kelak. Namum, malam ini dia persembahkan kehormatannya untuk lelaki yang dia cintai. Cinta pertamanya semasa putih abu-abu. Lelaki yang diam-diam dia kagumi sewaktu Sekolah Menengah Atas. Setelah kegiatan panasnya berakhir. Ivan beranjak berdiri berlalu melangkah menuju kamar mandi. Lelaki itu masuk kedalamnya untuk membersihkan diri. Setelah 35 menit aktifitas di dalam kamar mandi tersebut telah usai. Ivan keluar, berjalan menghampiri Melly, kemudian duduk ditepian ranjang. Dengan sudah berpakaian lengkap, kaos yang membentuk tubuh atletis dipadukan celana boxer. Rambut lelaki itu masih terlihat setengah basah. "Maaf,” Ucap Ivan sembari mengelus rambut halus Melly. Perempuan itu masih berbaring di atas kasur dengan tubuh yang berbalut selimut tebal. "Maaf untuk yang baru saja terjadi. Kita sama-sama terbawa suasana dan ya… semua terjadi begitu aja.” “Van… “ Panggil Melly lirih seolah tahu apa yang hendak disampaikan lelaki itu selanjutnya. “Aku hanya lelaki normal, yang bisa terpancing hawa nafsu.” Melly terhenyak. Dia tidak menyangka jika Ivan menyentuhnya karena benar-benar menginginkannya—mengingat bagaimana lembutnya lelaki itu menyentuh setiap inci tubuhnya dengan penuh damba. Dikira cinta sudah mulai tumbuh dalam diri Ivan kepadanya, ternyata Melly salah menduga. Ivan menyentuhnya hanya karena hawa nafsu yang menguasai lelaki itu, bukan cinta? “Ka-mu… belum mencintai aku?” “Maaf.” “Kamu jahat, Van.” Melly memukul-mukul d**a lelaki itu. Hingga Ivan menangkap tangan Melly. “Ini juga nggak sepenuhnya salah aku! Aku nggak maksa. Kamu yang nyerahin diri kamu sendiri.” “Aku pikir karena kita udah punya perasaan yang sama!” Melly mulai menangis terisak. “Gimana kalau nanti aku— “ Ivan mengangkat tangannya. “Cukup, jangan mikir aneh-aneh! Kamu tinggal minum pil setelah ini. Simple, kan? Aku nggak mau sampe kamu hamil dan ngerengek minta aku nikahin. Nggak… aku nggak akan nikahin kamu. Kita berdua ngelakuinnya karena sama-sama suka dan nggak pernah ada pemaksaan atau penolakan di sini. Paham kamu?!” Seperti belati yang langsung menusuk dan menikam tepat direlung hatinya, Melly tak menyangka jika Ivan setega ini kepadanya. "Ka-mu... lelaki paling b******k yang pernah aku kenal." Beranjak berdiri dengan belitan selimut, untuk menutupi seluruh tubuhnya. Melly memunguti pakaian yang berserakan dilantai, kemudian masuk ke dalam kamar mandi, untuk segera berganti pakaian. Sudah tidak dia hiraukan rasa sakit yang berpusat di pangkal paha atas penyatuan pertama kali untuknya beberapa saat lalu. Karena luka hati perempuan itu lebih sakit dari apapun. Dicampakkan setelah lelaki itu puas mereguk manis tubuhnya. Tidak membutuhkan waktu lama, dia sudah selesai dan bersiap pergi dari apartment tersebut, tanpa berpamitan lagi dengan lelaki yang telah menorehkan luka yang sangat dalam dihatinya. Dengan langkah kaki yang terseok-seok Melly pergi dari sana. Dia bersumpah, tidak akan pernah mau menampakkan dirinya, apa lagi bertemu dengan lelaki itu. Perasaan cinta yang ada pada dirinya kini berubah menjadi kebencian terhadap Ivan. Meninggalkan lelaki itu dengan sejuta luka yang teramat sangat di dalam hatinya. Sudah cukup, malam ini dia menyerahkan seluruhnya. Bukan lagi hatinya melainkan kehormatan yang dianggap sebagai sampah bagi lelaki itu. "b******k!" Melly memukul stir mobilnya beberapa kali, meluapkan segala emosi dan kebodohannya malam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN