Melly menepikan mobil di ujung jalan rumah peninggalan sang Ayah. Sudah sejak beberapa tahun belakangan itu, Richard memberikan satu buah mobil keluaran terbaru untuk fasilitas Melly sebagai sekertaris. Karena rumah dia berada dalam gang yang sempit dan tidak memungkinkan perempuan itu memarkirkan kendaraan di depan rumah. Untuk itu Melly menyewa lahan parkir untuk kendaraannya.
Deg!
Jantung Melly terasa berhenti berdetak saat dia melihat Tati tengah menangis terisak dibangku teras rumah. Tati adalah orang yang ditugaskan oleh Melly untuk menjaga sang bunda jika dirinya tengah berada di luar maupun bekerja.Tubuh Melly memantung saat beberapa para tetangga terlihat keluar dari dalam rumahnya.
"Mbak, Melly!" Panggil Tati saat melihat Melly berdiri dalam jarak beberapa meter dari tempat dia duduk.
Tes!
Satu tetes bulir benih itu turun dari dalam kelopak mata Melly. Dia menggelengkan kepala, tidak percaya atas apa yang dia lihat saat ini.
Penyesalan memang selalu datang diakhir cerita. Andai dia tidak mengabaikan panggilan telepon dari Tati beberapa jam yang lalu. Mungkin saja, dia akan mempunyai waktu barang sebentar untuk mendampingi sang bunda disisa hidupnya. Melly berlari masuk ke dalam rumah dengan tangis dan erangan yang menyayat hati bagi siapa saja yang saat itu mendengarnya.
"Bunda...."
Semakin mematung saat melihat jasad sang bunda yang telah terbujur kaku. Melly berhambur memeluk tubuh tak bernyawa itu. Betapa dia sangat kehilangan seseorang yang selama ini menjadi sandaran hidupnya. Kini dia hanya sebatang kara. Tidak ada lagi siapa pun, hidup dia juga telah hancur.
Di atas pusaran gundukan tanah merah yang masih basah. Melly terus saja memeluk di sana. seakan-akan dia tengah memeluk sang Bunda. Air mata Melly terus mengalir membasahi kedua pipi menetes hingga jatuh ke tanah merah itu.
"Maaf..." Isakan tangis Melly dengan suara yang tercekat. "Ma-maaf-in a-aku, Bun!" Lanjutnya dengan terbata, dia menyeka sudut matanya dengan menggunakan punggung tangannya.
Hanya air mata yang mampu mewakili perasaannya saat ini. Hujan pun turun begitu saja membasahi seluruh tubuhnya. Melly tak mempedulikan itu. Dia hanya ingin memeluk sang bunda sampai puas. Tiba-tiba tubuhnya tak lagi terkena air hujan. Dia menatap sepatu seseorang, kepalanya bergerak menelisik siapa lelaki yang tengah memayungi dirinya.
Melly hanya diam tak mau menghindar apa lagi mengusir lelaki itu, yang dia butuhkan saat ini adalah sang bunda. Merebahkan kembali tubuh yang dia biarkan kotor dan basah.
Ivan berjongkok dengan terus memayungi Melly. Mengelus bahu perempuan yang semalam dia sakiti dengan luka yang amat dalam. Saat ini dia hanya ingin ikut merasakan duka perempuan yang sudah beberapa tahun ini ada bersamanya.
"Mel, kita pulang. Nanti kamu sakit," Ucap Ivan masih memayungi Melly.
Melly tak mengidahkan perkataan Ivan. Hingga hampir menjelang sore, dia baru pulang dari pemakaman itu dengan di antar oleh Ivan menuju kediaman Melly. Sepenjang perjalanan keduanya dilanda kebisuan. Baik Ivan maupun Melly sama-sama diam tak ada yang bersuara dari bibir masing-masing.
Mobil yang dikendarai oleh Ivan berhenti. Melly keluar dari sana dan langsung masuk ke dalam rumah. Menatap sekeliling ruangan, sunyi, tidak ada lagi celotehan kecil antara dia dan sang bunda. Kini dia benar-benar hidup sendirian tanpa sanak saudara. Melly menarik napasnya dengan berat, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Dia bingung, apa yang akan dia lakukan sendirian di kota ini? membayangkan itu, rasa-rasanya dia tidak sanggup.
"Bunda... bisa kah, bawa aku bersamamu." Tangisannya kembali pecah, seiring getaran pada tubuhnya. Melly sangat terpukul dan belum siap menerima kenyataan akan kepergian sang bunda.
Di ambang pintu ada Ivan yang tengah memperhatikan Melly. Dia sedikit ragu untuk menghampirinya. Hingga tubuhnya berjingjit kaget saat seseorang menepuk bahunya.
"Pak, nggak masuk?" Tanya Tati yang akan masuk ke dalam rumah Melly, ingin melihat keadaan perempuan itu.
"Oh, nggak terima kasih. Mbak siapa?"
"Saya Tati. Yang biasa menjaga bunda saat mbak Melly nggak ada di rumah," terang Tati yang di respon dengan anggukan oleh Ivan.
"Kalau gitu, saya pamit. Ini kartu nama saya, kalau ada perlu apa-apa bisa hubungi saya di nomor itu. Saya titip Melly, Mbak."
Satu minggu berlalu....
Setelah kepergian sang bunda, Melly sengaja meminta ijin untuk cuti kerja. Beruntung Richard--atasan nya mengerti akan kondisi dia yang kini tengah berduka. Bahkan Richard juga Resti menyempatkan datang untuk menyatakan secara langsung rasa duka cita untuk, Melly.
Kini Melly sudah kembali masuk kerja, dan bersiap menjalani rutinitas yang biasa dia lakukan sebelumnya. Melly masuk ke dalam lift khusus direksi untuk segera menuju lantai tertinggi ruangannya. Saat lift tersebut akan tertutup, tiba-tiba ada tangan seseorang menahan pintu tersebut untuk masuk kedalam bersamanya.
Melly menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari lelaki itu yang tak lain adalah Ivan. Kini di dalam lift hanya ada mereka berdua. Awalnya mereka sama-sama terkejut. Tapi Melly bisa menguasai perasaan nya. Dia hanya ingin menata hati dan hidup nya. Dia kuat, dia juga bisa menyingkirkan lelaki itu dengan perlahan di hatinya.
Melly berpura-pura menyibukkan dirinya dengan manatap gawai yang ada ditangannya. Melihat lelaki itu, sama saja dia melihat lukanya kembali.
"Mel, aku minta maaf."
Melly tak merespon ucapan Ivan dia tetap diam tanpa mau menatapnya.
Ting!
Buru-buru Melly berlalu keluar dari dalam lift, meninggalkan Ivan di sana.
Ivan mengekori langkah kaki, Melly. Kemudian mensejajarkan langkah kakinya dengan perempuan itu. "Mel, aku ingin bicara sebentar." Desaknya memegang pergelangan tangan Melly.
Melly berhenti melangkah. Memutar sedikit tubuhnya, menoleh dan menatap pergelangan tangan yang tengah dipegang oleh Ivan.
"Sorry!" Buru-buru Ivan melepas tangannya
"Mau bicara apa?" Tanya Melly menatap intens manik mata lelaki itu.
Ivan yang di tatap oleh Melly seperti itu membuat dirinya gugup. Dapat Ivan lihat dari sorot mata tajam Melly ada kilat kebencian yang tertuju untuknya.
Inginnya Melly membenci Ivan. Tapi perasaan dia masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Menunggu lelaki itu untuk berbicara. Namun Ivan sama sekali tidak membuka suaranya. Melly kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan dia. Meninggalkan Ivan sendiri di lorong ruangan. Melly sudah tidak peduli lagi dengan Ivan dan dia berjanji akan berusaha sebisa mungkin melupakan lelaki itu.
Suara getaran pada ponsel terasa oleh Melly, saat dia baru saja akan mendaratkan b****g pada bangku kerjanya. Melly merogoh benda itu, kemudian menerima panggilan yang ternyata dari Tati. Tetangga, sekaligus orang yang selama ini banyak membantunya.
"Ya, halo mbak Tati!"
"...."
"Hah, apa?"
"...."
"I-iya, Mbak. Aku usahain pulang sebentar di jam istrirahat. Tolong, Mbak. Bilangin suruh mereka kembali saat aku sudah sampai rumah."
"..."
Melly menghembuskan napasnya, saat panggilan itu terputus. Bagaimana cara dia menyeselaikan masalah itu satu persatu. Rasanya dia tidak sanggup. Kenapa terasa seperti mencekik lehernya. Melly menelungkupkan kepala, sedikit membentur-benturkan kening dia kearah meja kerjanya.
"Mel..." Tidak ada jawaban apapun dari Melly saat Richard memanggil. Lelaki itu mengetuk meja berulang kali hingga Melly tersadar. "Kamu kenapa?" Tanya Richard yang baru saja datang. "Kalau kamu belum bisa kembali bekerja nggak apa-apa. Kamu boleh pulang, saya paham apa yang kamu rasakan saat ini." Sambunganya.
"Nggak, Pak. Saya sudah siap bekerja kembali. Cuma nanti saya ijin pulang sebentar di jam istirahat." Jawab Melly cepat tak enak hati rasanya jika dia harus ijin tidak masuk kerja lagi.
"Apa ada masalah?"
"Nggak, Pak!" Jawab Melly cepat. Yang ditanggapi oleh Richard dengan anggukan kepala, berlalau masuk ke dalam ruangannnya.
"Fokus, Mel. Semua bisa teratasi." Mendesah beberapa kali, tapi perasaan Melly terasa ingin menjerit saja.