Terlena.

1195 Kata
Awan hitam telah berubah menjadi rintik hujan. Menciptakan suasana malam yang terasa semakin sendu. Kesunyian akhirnya menyapa, selepas kepergian Melly dari apartemen. Ivan mendesah beberapa kali untuk menetralkan kegelisahannya. Saat ini dia dilanda oleh perasaan yang tidak menentu. Namun, lagi-lagi ego lelaki itu mengalahkan segalanya, kalau di sini dia tidak sepenuhnya bersalah. Dia melakukannya atas dasar suka sama suka, dalam keadaan sadar dan tidak ada pemaksaan. Melly sama sekali tidak menolaknya. Tapi kenapa saat Ivan menatap mata Melly yang penuh luka. Dia terus saja merasakan seolah-olah dirinya adalah lelaki paling b******k yang ada di dunia ini. Harusnya Melly tahu itu, kalau memang dirinya belum mencintai perempuan itu. Waktu kini telah menunjukkan pukul 12.30 malam. Ivan masih ditempat yang sama, berdiri diperbatasan balkon kamar menatap lampu jalanan Ibu Kota juga gedung-gedung yang menjulang tinggi. Rintik hujan yang halus dia biarkan menyentuh tubuhnya hingga menciptakan hawa dingin meresap di sana. Malam gelap dijadikannya tempat memupuk rasa, entah apa yang terjadi selama ini pada dirinya? hatinya terasa sangat tidak tenang, khususnya malam ini. Ivan sulut rokoknya sangat dalam, bersama hembusan nafas yang mengepulkan asap nikotin itu. Sebetulnya dia sama sekali tidak sering merokok, hanya sesekali saat pikirannnya kalut dia akan bersahabat dengan benda tersebut. Kembali Ivan kepulkan asap itu hingga terbang menyentuh kegelapan. Ivan mengusap wajah dengan gerakan kasar. Menggelengkan kepala, mengenyahkan pikirannya agar tidak perlu memikirkan apapun yang sama sekali tidak perlu untuk dia pikirkan. Sial, ada apa dengan dirinya? Ini sama sekali bukan dirinya. Dia tidak seharusnya merasa khawatir seperti saat ini terhadap Melly. Membuang puntung rokoknya ke lantai lalu diinjaknya hingga melebur. Ivan masuk ke dalam kamar mencoba untuk memejamkan mata, merebahkan dirinya di atas ranjang, hingga hampir menjelang pagi barulah dia dapat terlelap. Pagi mulai menyingsing, matahari pun mulai merangkak dengan perlahan. Suara ponsel milik lelaki itu yang berada di atas nakas mengusik tidurnya. Mata Ivan menyipit, mengintip gawainya yang menyala dan terus bersuara nyaring. Meraba nakas mencarinya, lalu megangkat panggilan tersebut sembari beranjak bangun dari tidurnya. Duduk di tepian ranjang, sedikit memberikan pijatan kecil pada pelipisnya yang berdenyut nyeri. Bergegas dia bersiap sesaat setelah mendapat panggilan telepon dari Richard. Memberi kabar kalau perempuan yang semalam dia sakiti kini tengah berduka atas kepergian orang tuanya. **** "Hai, Mel. Udah masuk lo?" sapa seorang perempuan dengan dandanan menor juga pakaian sexy. "Iya, Mbak." Sahut Melly dengan senyuman. Hampir diperusahaan itu dia tidak mempunyai teman dekat, karena memang pada dasarnya, Melly adalah perempuan yang tertutup. Melly juga terlalu sibuk jika harus banyak membuang waktu untuk hal-hal di luar pekerjaannya. Hidupnya dia gunakan untuk kerja dan menemani sang bunda. Yang sudah sejak empat tahun belakangan ini sering sakit-sakitan. Melly harus menjaga jarak dengan perempuan yang kini ada di hadapannya. Dan bukan dia sombong, tapi, dia lebih ke mawas diri dari perempuan itu yang terkenal bermulut besar. Sudah cukup Melly dulu digosipkan oleh perempuan itu, tentang kedekatannya dengan Richard yang jelas-jelas lelaki itu adalah atasan dia. Lagi pula, Melly juga sudah sangat dekat dengan Resti. Entah gosip dari mana, tiba-tiba saja dia di fitnah mempunyai skandal dengan sang Bos. "Pak, Ivan ada?" Melly terperangah saat perempuan yang ada di hadapannya sekarang ini tengah bertanya keberadaan atasannya. Otak dia langsung melanglang buana saat menelisik penampilan perempuan itu. "Biasa aja liatin gue. Nih, gue mau kasih ini." Seakan-akan paham dengan tatapan Melly, perempuan yang bernama Riska itu memperlihatkan satu buah map yang tengah dia pegang. "Tadinya gue mau titip ini sama lo. Tapi masuk aja deh, dadah..." dengan senyuman nakal dia berlalu masuk ke dalam ruangan, Ivan. Melly mendesah beberapa kali. Menggelengkan kepala, agar menyenyahkan pikiran dia dari lelaki itu untuk kembali fokus pada pekerjaan selepas kepergian Riska. Hari ini, Melly benar-benar menyibukkan diri. Dengan begitu, dia bisa melupakan perasaan sedih pasca ditinggal pergi oleh sang bunda. Biasanya dia akan bolak balik terus ke dalam ruangan, Ivan. Melirik sekilas ke arah daun pintu. Meletakkan pulpen di atas meja dengan gerakan kasar sembari merutukki kebodohannya. Kenapa dia masih peduli dengan lelaki itu. "Ngapain aja mereka berdua di dalam?" Gerutuan terus saja dia dengungkan di dalam hatinya. Sudah hampir setengah jam lebih Riska belum juga keluar dari ruangan Ivan. Beberapa saat berlalu, daun pintu itu terbuka seiring keluarnya seorang perempuan dari dalam sana. Mendengus sebal saat mata Melly sedikit melirik pada Riska yang tengah membenahi rok mininya. "Hai, Mel..." *** Dua bulan berlalu... Melly bekerja dengan profesional. Interaksi terhadap Ivan, bisa dikatakan sesuai pekerjaan mereka masing-masing. Tak henti-hentinya Ivan selalu meminta waktu untuk berbicara. Selama itu juga, Melly memberikan banyak alasan dan tidak mau memberikan waktu lelaki itu berbicara di luar pekerjaannya. Telepon yang ada di atas meja Melly berkedip seiring suara panggilan memintanya untuk diangkat. Melly tahu siapa saat ini yang tengah memanggilnya. Mendesah beberapa kali akhirnya dia mengangkatnya. "Ya, halo, Pak." "Keruanganku..." Melly beranjak berdiri dan tidak lupa dia membawa satu map berisikan berkas-berkas yang sudah selesai dia kerjakan untuk diserahkan kepada Ivan. Mengetuk pintu kemudian masuk ke dalam setelah mendengar suara yang mempersilahkan dia untuk masuk. "Permisi... bapak memanggil saya." "Hemm..." Ivan hanya berdehem dengan masih terus berfokus pada layar monitor yang ada dihadapannnya. Melly terus saja berdiri menunggu apa yang diinginkan atasannnya itu. Hingga tak sabar, akhirnya perempuan itu menghampiri Ivan kemudian memberikan satu buah map di atas meja. "Ini berkas yang bapak perlukan untuk besok pagi. Tolong di cek kembali, agar saya bisa merevisi ulang jika memang ada yang salah." Terang Melly mencoba berdamai dengan keadaannya saat ini. Ivan menghentikan jemari pada Keyboard menoleh menatap penuh dan mengunci mata Melly. Mendesah sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku yang tengah dia duduki. "Taruh saja di situ." "Baik, Pak..." Mengangguk hormat ingin berlalu pergi, namun tangannya di cekal oleh Ivan. "Tunggu, Mel..." Ivan beranjak berdiri "Maaf, Pak. Jika tidak ada lagi yang dibutuhkan, saya permisi." Melepas dengan perlahan pada tangannya yang dicekal oleh Ivan. "Mel, saya mau minta maaf,-" "Sudah saya maafkan sebelum bapak meminta maaf. Dan lupakan. Anggap saja kemarin adalah kebodohan saya." Potong Melly cepat ucapan Ivan, ingin berbalik badan, tapi lagi-lagi tangannya di cekal dengan sedikit tarikan hingga tubuh Melly menubruk d**a bidang Ivan. Pandangan mereka saling bertemu dengan jarak yang lumayan tipis. Seketika itu juga Melly merasa gugup. Kedua matanya mengerjap kaku, dan tenggorokannya terasa tercekat. Debar jantung Melly semakin terpompa cepat, aliran darahnya memanas seketika. Melly sempat terpaku akan tatapan Ivan yang mengunci. Apa lagi Ivan memiliki wajah yang sangat tampan, membuat Melly sedikit terlena. "Mulai sekarang jangan abaikan aku. Lagian, kalau kita lagi berdua nggak usah seformal itu. Kan, kita sepasang kekasih." "Apa?" Melly mengerjapkan bulu matanya berulang-ulang, menyadarkan dirinya dari keterkejutannya. "Apa maksud kamu? Memangnya aku mau?" "Kamu harus mau, aku tidak mau ada penolakan,-" "Dasar pemaksa." Potong Melly dengan wajah kesal. "Aku nggak mau. Jangan ngaco kamu,-" Kalimat Melly terputus kala Ivan menyatukan bibir mereka. Butuh beberapa detik untuk Melly sadar bahwa Ivan sedang mencium bibirnya. Melly melenguh, ciuman itu benar-benar terasa penuh dengan paksaan dan tuntutan. Melly berusaha agar dia tidak membuka bibirnya, tapi saat satu tangan Ivan menyentuh buah dadanya, saat itu juga bibir Melly terbuka. Membiarkan lidah Ivan masuk membelai rongga mulutnya. Ivan melepas perpagutan itu sembari tersenyum miring. Dengan lembut Ivan membelai bibir Melly yang merah dan sedikit membengkak sambil berbisik. "I know, you still love me!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN