"Sudah, Mamah bilang. Mengalah... ya mengalah. Bukan malah membalas abangmu." Kesal Mamah nya Anton sembari menekan kapas yang sudah dia tetesi dengan obat cairan berwarna merah pada bibir Anton yang robek. Uhuk... uhuk... Anton terbatuk, dengan tetesan darah yang keluar dari dalam mulutnya. Hidung lelaki itu pun sudah di sumpal oleh Mamah nya dengan sebuah kapas yang kini sudah berubah warnanya menjadi merah. "Aww... Mah, kalau nggak ikhlas ngobatin. Mending nggak usah deh." Meringis kembali saat tidak sengaja sang Mamah kembali menekan pelipis nya yang robek. "Kamu ini, habisnya ngeselin. Bikin malu dan buat onar saja. Kita ke Dokter saja deh, Mamah takut kamu kenapa-kenapa." "Nggak perlu, lagian bukan aku yang memulai, Mah. Tapi, Bang Ivan yang nggak jelas main pukul aja." "Sudah

