Pergi Kepesta

566 Kata
Siang berganti malam. Ketika rintik hujan mengguyur menyapa cakrawala dunia yang memberi kesejukan kepada segenap mahluk ciptaannya. Tanah yang gersang subur kembali setelah menerima air hujan yang membasahi bumi Pertiwi. Vielo dan Angga sedang berada di dalam sebuah mobil mewah. Mereka hendak menghadiri sebuah pesta kenalan Erlangga. Keduanya hanya terdiam tak sepatah katapun dari mereka yang memulai pembicaraan. Hanya tangan mereka yang saling menggenggam, sedang Vielonica menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih. Seolah nyenyalurkan rasa rindu yang sudah setahun. erlangga meremas-remas jari jemari Vielonica, sambil menghirup puncak kepalanya dalam-dalam. Setelah setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah hotel bintang lima. Erlangga turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu untuk sang pujaan hati. Mobil mewah mereka berhenti tepat di samping red carped yang sudah di sediakan. Di rangkuhnya pinggal kecil sang kekasih yang memakai dress selutut berwarna putih cocok dengan kemija putih yang di kenakan Erlangga. Vielonica memakai high heels yang memiliki tali panjang meliliti betisnya. Dan sebuah liontin cantik menghiasi leher jenjangnya yang semakin menaikan levelnya. Belum lagi hiasan wajah yang natural, rambut bergelombang ya tergerai dengan indah dan sebuah anting sederhana yang menjadi paduan yang memperlihatkan betapa dia sangat berkelas untuk berada di samping seorang Erlangga. Dengan gagah Erlangga terus berjalan melewati beberapa pasang mata yang tak henti-henti menganguminya. Ada banyak orang yang mengenalnya karena sebagai pengusaha yang sangat muda tentu dia sangat terkenal. Namun berbeda dengan gadis yang ada di samping nya. Tak seorangpun mengenalnya karena baru kali ini Erlangga terlihat membawa seorang gadis ke sebuah pesta. Tentu banyak yang penasaran ingin mengetahui siapa sosok wanita cantik yang datang bersamanya. Erlangga pemperkenalkan kekasihnya kepada rekan-rekan kerjanya. Pendangan mata semua orang sedang tertuju pada sepasang kekasih yang tampak serasi itu. Prianya tampan wanitanya cantik, riuh, beberapa orang berdecak kagum melihat Vielonica dan Erlangga. Beberapa wanita memandang penuh rasa iri atas keberuntungan Vielonica yang dapat bersanding dengan Erlangga. Erlangga tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Vielonica, seolah-olah takut kehilangannya. Waktu terus berlalu Erlangga terus di datangi rekan bisnisnya yang hendak menyapanya. Hal itu membuat Vielonica bosan sebab tidak mengerti kemana arah pembicaraan orang-orang yang bersetelan jas itu. Erlangga yang menyadari kebosanan kekasihnya, menyuruhnya untuk istirahat di sebuah ruangan. Tak fikir panjang Vielonica langsung pergi ketempat yang dimaksud dengan di antar seorang pelayan. Disana ada kursi yang berderet rapi mengapit sebuah meja panjang yang di atasnya sudah tertata rapi bermacam hidangan makanan dan minuman. Tubuhnya ambruk di salah satu kursi dengan menyilangkan kakinya sambil memijat-mijat pergelangan kakinya. " Aduh,,, heels ini membuat kakiku sakit. Jika bukan karena menghargai Aruna yang sudah mendandaninya ku sedemikian cantik. Aku tidak sudi memakai beginian" Vielonica berbicara pada dirinya sendiri. "Hingga akhirnya dia memutuskan untuk berjalan-jalan mengitari hotel yang di adakan ya sebuah pesta. "bosan sekali ya. Lebih baik aku jalan-jalan mencari udara segar" gumannya dalam hati. Tak terasa dia melangkah cukup lama dan memutuskan untuk kembali ketempat pesta. Belum sempat Vielonica melangkah jauh. Dia harus menghentikan langkahnya karena mendengar ada langkah kaki lain mendekatinya. Dengan cepat Vielonica membalikkan tubuhnya. Dan tiba-tiba sebuah tangan menariknya kesebuah ruangan gelap dan menguncinya sendirian disana. Vielonica berteriak-teriak sambil menggedor-gedor pintu itu. Namun tak seorangpun dapat mendengarnya. Lokasi yang cukup jauh dari inti yang diadakannya pesta dan berbagai kebisingan di tempat itu membuat suara Vielonica tenggelam meski berteriak sekuat tenaga. Vielonica menangis tersedu sedu sambil memanggil-manggil nama Erlangga. Berharap kekasihnya itu segera datang dan menyelamatkannya. "Angga, Angga, Angga … tolong aku" disela sela isakannya yang memilukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN